
"Sayang, kamu yakin mau tetap berangkat kerja? Kalau tidak enak badan, istirahat saja. Biar Tomi yang meng-handle pekerjaanmu sementara." Ruby memasangkan dasi di leher suaminya.
Jelang subuh Melvin sempat mengeluh perutnya kembung dan ulu hatinya sakit. Ia juga muntah-muntah sampai keluar cairan bening. Asam lambungnya naik. Setelah meminum obat, kondisinya sudah membaik. Akan tetapi, Ruby masih khawatir dengan Melvin. Lelaki itu tetap ngeyel mau berangkat kerja.
"Hari ini ada rapat penting, aku tidak bisa melewatkannya." Melvin mencium kening istrinya.
Keduanya telah siap berdandan rapi untuk berangkat ke kantor. Sebelum berangkat, mereka menyempatkan diri untuk sarapan. Ruby harus mendisiplinkan lagi jadwal makan suaminya agar asam lambungnya tidak kumat. Sejak kembali bekerja, Melvin lebih sibuk mengurusi pekerjaan sampai terkadang telat makan. Padahal, penyakit asam lambungnya sudah cukup parah.
"Biar aku saja yang menyetir, ya!" Ruby masih khawatir dengan kondisi suaminya.
Melvin justru terkekeh mendengar ucapan Ruby. Ia membantu istrinya memasangkan sabuk pengaman. "Kamu pikir suamimu kakek-kakek jompo yang tidak kuat hanya untuk menyetir? Aku sudah tidak apa-apa."
Memang, Melvin sudah terlihat lebih baik daripada pagi tadi. Ruby sangat panik karena pertama kali melihat suaminya sakit. Kata Melvin, ia sudah sering mengalaminya saat tinggal di luar negeri.
Seperti biasa, mereka harus berpisah setelah sampai di kantor. Melvin mengurusi kewajibannya sebagai seorang presdir begitu pula dengan Ruby yang melaksanakan tanggung jawabnya sebagai seorang GM.
Pagi itu Ruby pergi bersama Imel dan Ryan untuk melihat proses pembuatan iklan produk terbaru dari perusahaan mereka. Bintang iklan yang didapuk sebagai brand ambassador produk teh instan adalah seorang atlit basket yang sedang naik daun.
"Ya ampun, Bu ... ganteng banget Si Emir. Pegang minuman gitu bikin aku jadi haus." Imel sejak tadi tidak bisa diam mengagumi sesi pemotretan yang dilakukan Emir Abdullah, bintang iklan mereka.
"Dasar wanita jomlo satu ini ganjen banget, nggak bisa lihat orang ganteng sedikit pasti histeris. Harusnya jangan ajak dia, Bu. Berisik soalnya!" protes Ryan.
"Apa sih? Orang jelek dilarang komentar!" Imel memukul lengan Ryan dengan kesal.
"Aku sumpahin kamu dapat jodoh lebih jelek dari aku, loh!" ancam Ryan.
__ADS_1
"Hihh ... enak saja! Jodohku pasti setampan Emir, dong!"
"Jodohmu jelek baru tahu rasa!"
"Sudah, sudah ... kasihan ribut terus nanti jadi jodoh, loh!" Ruby ikut pusing membawa dua orang yang ternyata hanya bisa ribut etika disatukan.
"Amit-amit!" seru Imel dan Ryan kompak.
Mereka menghentikan perdebatan dan memilih saling menjauh untuk melakukan tugas masing-masing. Ruby masih berdiri di tempatnya, mengamati jalannya syuting. Ia senang sekali produk yang dihasilkan perusahaan semakin berkembang dan mampu bersaing di pasaran. Dengan meningkatnya angka penjualan dan permintaan pasar, akhirnya perusahaan bisa menggaet seorang Emir menjadi brand ambassador mereka.
"Sepertinya kita memang ditakdirkan untuk bertemu lagi, Bu GM." sapaan dari belakang mengagetkan Ruby. Ia menoleh ke samping, lagi-lagi Ruby harus bertemu dengan mantan dosen me*sumnya yang dulu, Alben.
Lelaki itu tersenyum ke arah Ruby, seakan sangat senang dengan perjumpaan mereka di sana. "Setelah menikah kamu jadi kelihatan semakin cantik," pujinya.
"Kenapa Anda ada di sini?" tanya Ruby ketus. Padahal ia berharap agar tak pernah bertemu dengan manusia sejenis Alben lagi.
Ruby tidak mengurusi talent yang terlibat dalam pengerjaan iklan produk baru. Ia hanya tahu Emir altit yang sedang naik daun, tapi tidak mencari tahu siapa manajemen yang menauinginya.
"Kamu semakin menarik apalagi ternyata wanita cantik ini putri dari pengusaha sukses Haidar Wijaya. Seharusnya dulu aku langsung saja menemui ayahmu agar menikahkan kita."
"Sepertinya Pak Ben semakin tidak waras dari waktu ke waktu." Ruby melemparkan lirikan tajam. Ia bukan lagi seorang mahasiswi yang harus menghormati dosennya apalagi dosen semacam Ben.
"Hahaha ... mungkin juga. Buktinya sampai sekarang aku belum menikah karena tidak bisa menemukan wanita yang cocok selain dirimu. Sejak dulu bayanganmu tidak pernah bisa hilang dari otakku. Sekalipun kamu sudah menikah, aku masih tetap menginginkanmu." Alben sangat berani mengutarakan perasaannya secara langsung di depan Ruby. Dari cara bicaranya dan tatapan matanya menyiratkan bahwa apa yang diucapkannya adalah serius.
"Sadar, Pak. Anda orang yang sangat berpendidikan. Seharusnya Anda malu mengatakan hal itu secara gamblang. Saya bukan mahasiswi Anda yang dulu. Jangan harap bisa memperlakukan saya seenaknya." Ruby menahan rasa geramnya. Ia tak ingin orang-orang di sekitarnya mengetahui bahwa di antara mereka ada masalah.
__ADS_1
"Aku semakin suka sifatmu yang sekarang. Kamu lebih menawan." Ben tak henti-hentinya menggoda Ruby.
Rasanya Ruby ingin sekali menjebloskan lelaki di hadapannya itu ke penjara. Baik dulu maupun sekarang kelakuannya masih sama. Bahkan setelah mengetahui ia telah menikah, Ben tidak juga menyerah. Kalau saja Melvin ada di sana, sudah pasti Ben akan dihajar habis-habisan.
"Bu Ruby!" Suara seruan Imel mengalihkan perhatian Ruby. Tanpa menghiraukan Ben, Ruby langsung berjalan menghampiri Imel yang melambai-lambaikan tangan memanggil dirinya.
"Bu, ada telepon dari Pak Tomi." Imel menyerahkan ponselnya kepada Ruby. Karena terburu-buru, Ruby memang tidak sempat membawa ponselnya.
"Kenapa, Tom?" tanya Ruby.
"Bu, Pak Melvin masuk rumah sakit."
Hati Ruby bagaikan dihantam batu besar mendengar suaminya masuk rumah sakit. Pikirannya langsung kalut apalagi mengingat kejadian pagi tadi. "Pak Melvin kenapa, Tom?" Ruby sampai gemetar menanyakannya. Ia takut hal buruk terjadi pada Melvin.
"Pak Melvin tadi muntah-muntah dan pingsan. Sekarang masih di rumah sakit belum sadarkan diri." Suara Tomi di seberang sana juga terdengar bergetar. Sepertinya dia juga sangat khawatir dengan kondisi bosnya.
Mendengar penjelasan Tomi, pikirab Ruby semakin kalut. Ia sudah memperingatkan suaminya agar beristirahat dan tidak perlu berangkat kerja, tapi Melvin tetap ngeyel. Ingin rasanya ia memarahi suaminya nanti kalau dia sudah sembuh. "Di rumah sakit mana?"
"Rumah Sakit XXX."
"Tolong jaga Pak Melvin, aku akan segera menyusul ke sana." Ruby mematikan ponselnya lalu menyerahkan kembali pada Imel.
"Pak Melvin pingsan, aku akan ke rumah sakit sekarang. Kalian tetap di sini sampai proses syuting selesai!" perintah Ruby.
"Saya antar, Bu." Ryan menawarkan bantuan.
__ADS_1
"Tidak usah, Ryan. Saya naik taksi saja. Kamu temani Imel, bekerjasama yang baik dan laporkan hasilnya besok!"
Setelah mengatakannya, Ruby buru-buru pergi meninggalkan tempat syuting itu. Ia bahkan melewati Pak Ben begitu saja. Sesampainya di luar gedung, Ruby mencegat salah satu taksi yang kebetulan lewat dan menyuruh sopir taksi itu mengantarnya ke rumah sakit.