PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
PERTEMUAN DUA KELUARGA


__ADS_3

Ruby berada di kamarnya bersama beberapa orang yang membantunya bersiap-siap. Meskipun pernikahan yang akan dijalaninya hanya ijab qabul saja, sang ayah memintanya untuk mengenakan gaun pengantin. Karena Ruby tidak terlalu suka dengan pakaian yang ribet seperti gaun pengantin, ia memilih mengenakan dress panjang berwarna putih dengan lengan model lonceng yang ia beli di sebuah butik. Tatanan rambut serta make up juga dibuat sesederhana mungkin.


Sesekali ia menghela nafas. Rasanya masih tidak percaya jika sebentar lagi ia akan menikah, menjadi istri dari Melvin Andre Adinata. Saat momen yang paling dinantikan tiba, ia justru merasa gelisah.


"Cie ... yang mau nikah ... dandanannya menor banget. Yakin, Melvin bakalan datang?"


Ruby memasang wajah kesalnya. Si tukang nyinyir sudah datang di kamarnya. Rei memakai setelan kemeja dan jas rapi.


"Percuma dandan cantik, aku rasa Melvin tidak akan datang." Rei tertawa meledek Ruby.


"Rei, kalau aku belum berdandan seperti ini, aku pasti sudah menghajarmu." Ruby mencebikkan bibir seraya melemparkan tatapan tajam.


Ruby memberi kode kepada orang-orang yang membantunya bersiap untuk keluar lebih dulu. Ia ingin berbicara dengan Rei berdua.


"Hubungan kalian sangat mengejutkan. Akhirnya dipaksa cepat menikah gara-gara ketahuan sedang ciuman. Hahaha ... aku tidak bisa berhenti tertawa saat papa menceritakannya."


"Kenapa, mau meniru caraku? Sayangnya Livy masih kabur, kamu tidak bisa meniruku."


"Livy sudah ketemu."


Ruby mengarahkan pandangannya kepada Rei. "Serius? Dia dimana?" tanya Ruby penasaran.


"Di rumah omanya."


"Oh ...." Ruby mangguk-mangguk. "Kamu nggak jemput dia?"


"Sudah ... aku diusir omanya."


"Pfft ... hahaha ... kasihan." Ruby tak bisa menahan tawa mendengar cerita Rei. "Makanya kalau mendoakan orang itu yang baik-baik."


"Neng Ruby, Keluarga Adinata sudah datang." Bi Minah berbicara dari arah luar pintu.


Ruby dan Rei menghentikan percakapan. Mereka menghampiri arah pintu dan melihat Bi Minah masih ada di sana.


"Neng Ruby disuruh turun," ucap Bi Minah.

__ADS_1


"Ayo!" Rei menawarkan lengannya.


Ruby memegangi lengan Rei. Mereka berjalan bersama menuruni tangga menuju ruang tengah. Perasaan Ruby semakin risau. Ia masih saja takut akan terjadi hal yang di luar keinginannya.


Saat menuruni tangga, pandangannya bertemu dengan Melvin. Lelaki itu tampil rapi mengenakan jas berwarna abu-abu tampak sedang tersenyum ke arahnya. Rasa gelisah Ruby terobati melihatnya.


Di samping Melvin, ada Om Ken dan Tante Kania yang menemani. Sementara, ayahnya duduk didampingi oleh petugas KUA, Pak RT, Pak RW, dan Pak Lurah. Ruby juga tidak tahu mengapa ayahnya lebih memilih mengundang orang-orwng sekitar daripada rekan bisnisnya. Mungkin supaya Ruby dan Melvin tidak digrebeg jika terlihat tinggal bersama.


Para pelayan berjajar di bawah tangga menyambut kedatangan Ruby seperti sedang menantikan kehadiran seorang putri. Ruby jadi merasa malu sendiri. Padahal acara itu hanya acara privat, tapi tetap saja ia malu menjadi pusat perhatian.


Sesampainya di ruang tengah, ia langsung menyalami kedua orang tua Melvin dan para tamu lainnya. Rei juga ikut menyalami mereka. Saat tiba giliran menyapa Kania, wanita itu memeluk Rei lebih dulu. Rasanya sangat senang bisa bertemu dengan anak yang belasan tahun sudah ia rawat hingga sebesar sekarang. Sayang, waktunya tidak pas untuk melepas rindu. Acara malam ini adalah untuk pernikahan Ruby dan Melvin.


Pandangan mata Melvin tak bisa lepas dari sosok bidadari yang ada di hadapannya. Penantian selama sehari saja membuatnya merasa telah dipisahkan selama puluhan tahun. Seandainya hanya ada mereka berdua, Melvin pasti sudah memeluk dan menciuminya.


"Bagaimana, apa acaranya sudah bisa segera dimulai?" tanya Pak Wijaya kepada semua orang yang ada di sana.


"Silakan, Pak Wijaya," ucap Pak Kennedy.


"Baiklah, sebelum kalian menikah, saya akan bertanya terlebih dahulu kepada Melvin. Melvin, apa kamu yakin dan sudah mantap ingin menikah dengan putri semata wayang saya?" Pak Wijaya menatap serius ke arah Melvin.


"Apa kamu yakin bisa menjaga dan membahagiakan anak saya?" tanya Pak Wijaya lagi.


"Insya Allah, saya akan berusaha membuat Ruby bahagia." Melvin kembali menatap Ruby yang tsmpak malu-malu menunduk.


"Ruby, sekarang giliran papa bertanya kepadamu. Apa kamu yakin akan menerima Melvi sebagai suamimu kelak?"


"Insya Allah yakin, Pa." Ruby menjawabnya lirih dan malu-malu.


"Apa kamu mencintainya?"


Ruby mengangkat wajahnya, menatap nata sang ayah lekat. "Iya, Pa. Aku mencintai Kak Melvin."


Pak Wijaya menghela nafas. Semakin dekat ia akan melepaskan putrinya kepada lelaki lain, di hatinya menjadi ada rasa haru dan bahagia yang bercampur. Ia mengulurkan tangannya yang segera di jabat erat oleh Melvin. Acara sakral ijab qabul pernikahan akan segera dilaksanakan.


"Ananda Melvin Andrea Adinata Bin Kennedy Adinata, saya nikahkan dan kawinkan Engkau dengan putri saya, Trisia Ruby Wijaya Binti Haidar Wijaya dengan mas kawin 1 kg emas batangan dan satu unit penthouse distrik 7 senilai 75 miliar dibayar tunai."

__ADS_1


"Saya terima nikah dan kawinnya Trisia Ruby Wijaya binti Haidar Wijaya dengan maskawin tersebut tunai!" Melvin menjawab dengan sangat jelas dan lancar.


"Bagaimana para saksi? Apakah sudah sah?"


"Sah ... sah ... sah ...."


"Alhamdulillah."


Semua orang yang ada di sana mengembangkan senyum setelah proses ijab qobul yang cukup menegangkan telah selesai dengan lancar. Ruby bernafas lega. Kekhawatiran yang dia takutnya ternyata tidak terjadi.


Setelah ijab qobul selesai, kedua mempelai melakukan sungkeman sebagai simbol meminta restu kepada kedua pihsk orang tua.


"Papa, terima kasih atas kasih sayang yang telah diberikan kepada putrimu selama ini. Tugas Papa menjagaku akan digantikan oleh Kak Melvin, lelaki yang sangat Ruby cintai. Terima kasih Papa sudah memberikan restu kepada kami."


Ruby tak kuasa menahan air mata ketika bersimpuh di hadapan ayahnya. Pak Wijaya, sebagai seorang ayah yang tegar membesarkan anaknya sendiri, matanya ikut berkaca-kaca melepaskan putri kesayangannya. Ia memeluk Ruby dengan erat, meskipun terasa berat ia akan mengikhlaskan putrinya menuju kehidupan yang lebih mandiri.


Petugas KUA yang diundang telah mencatat pernikahan yang terjadi. Untuk sementara buku nikah dan kartu nikah mereka belum bisa diberikan menunggu berkas-berkas pernikahan terkumpul. Melvin datang ke rumah Ruby sekalian membawa berkas-berkas yang diperlukan untuk mengurus pernikahan mereka.


Fotografer keluarga sibuk mengabadikan momen penting penyatuan Keluarga Wijaya dan Keluarga Adinata. Sesekali ia juga memotret momen lucu yang dilakukan pasukan pelayan rumah. Mereka tampak lebih antusias daripada orang yang mengalami pernikahan itu sendiri.


Melvin menyerahkan maharnya kepada Ruby berupa 1kg emas batangan yang sudah diabadikan dalam kota kaca yang cantik. Ia juga memberikan figura berisi sertifikat kepemilikan penthouse kepada Ruby.


Penthouse itu sebenarnya merupakan milik Pak Kennedy yang ia serahkan kepada Melvin agar diberikan kepada Ruby. Meskipun terkadang Pak Kennedy terlihat kesal terhadap Melvin, tapi rasa sayang terhadap putranya itu juga sebenarnya besar.


Melvin dan Ruby saling berpandangan. Setelah melewati tahun-tahun yang berat serta permasalahan yang datang silih berganti, akhirnya mereka bisa menjadi pasangan hidup yang direstui kedua belah pihak orang tua.


*****


Sambil menunggu update selanjutnya, bisa mampir ke sini 😘


Judul : Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-Bar


Penulis : Oktavia Hamda Zakhia


__ADS_1


__ADS_2