PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
MENGENDALIKAN SITUASI


__ADS_3

Sudah satu bulan berlalu sejak isu tentang skandal hubungan antara atasan dan bawahan merebak. Situasi yang dikira akan membaik ternyata tidak sesuai harapan. Mereka kira berita semacam itu hanya akan bertahan selama beberapa hari saja. Akan tetapi, semakin lama berita yang beredar membuat situasi semakin memanas dan menyimpang dari fokus utama berita.


Saham perusahaan GoodFood mengalami kemerosotan saham yang cukup signifikat dalam kurun waktu satu bulan. Beberapa investor menarik diri dari perusahaan, perusahaan yang telah menandatangani kerjasama juga membatalkan kesepakatan mereka.


Melvin tetap bersikap tenang, ia tak menyalahkan situasi atau siapapun. Bahkan, Jonathan ia biarkan mengundurkan diri secara baik-baik dari perusahaan. Dia berharap kemampuannya yang baik dalam bekerja bisa diterapkan di perusahaan yang tepat untuknya.


Akan tetapi, keluarnya Jonathan menambah semakin keruh situasi. Dia benar-benar menyebarkan berita tentang salah satu karyawan PT GoodFood yang menurutnya tidak bermoral karena memiliki anak di luar pernikahan. Untung saja Meka sudah lebih dulu keluar dari pekerjaan sebelum berita itu merebak.


Sampai saat ini, karyawan masih memperbincangkan tentang mereka, skandal atasan dan skandal karyawan. Melvin sudah tidak mengizinkan ruby bekerja. Posisinya sementara digantikan oleh Tomi.


"Pak, di luar ada wartawan yang menunggu untuk mewawancarai Anda," ujar Tomi setelah kembali dari area lobi. Terpaksa ia menambah jumlah keamanan agar para wartawan tidak bisa seenaknya sendiri mengambil gambar.


Melvin masih sibuk mengecek dokumen-dokumen di mejanya. "Usir saja mereka seperti biasa," jawabnya santai tanpa melepaskan pandangan dari pekerjaan di hadapannya.


"Sampai kapan Anda akan menghindar, Pak?" Tomi sudah sangat bosan mondar-mandir mengusir para wartawan yang nekad.


"Sampai mereka bosan."


Tomi menghela nafas. Ia harus bersabar karena salah satu tugasnya menjadi sekertaris Melvin adalah untuk menguji kesabaran. "Bukankah akan lebih baik jika dihadapi saja? Menghindar tidak akan menyelesaikan masalah."


Melvin menghentikan aktivitas menulisnya sejenak. Tujuannya tetap diam karena mengira berita itu akan segera hilang. Ia juga tidak ingin membuat perasaan Ruby menjadi tertekan setelah menikah dengannya.


"Bagaimana caranya?" tanya Melvin.


"Anda bisa mengadakan konferensi pers, Pak. Itu cara tercepat untuk menanggapi gosip."

__ADS_1


Melvin berpikir sejenak. "Aku takut akan semakin terkenal. Wajahku lebih tampan dari para artis tanah air. Bagaimana kalau nanti ada yang mengidolakanku?"


Tomi ternganga dengan kenarsisan bosnya. "Maaf, Pak. Di internet Anda terkenal sebagai Pebinor, perebut calon bini orang."


"Iyakah?" Melvin tidak terlalu yakin karena kurang mengikuti perkembangan berita terkini. Hanya berita seputar bisnis saja yang ia tonton.


"Banyak emak-emak yang menghujat Anda. Bahkan sepertinya tidak ada yang mengindolakan Anda. Penjualan produk kita sampai turun akibat mereka mogok untuk membeli barang-barang keluaran perusahaan kita."


Melvin keheranan CEO seperti dirinya bisa menjadi musuh bagi emak-emak. Kalau di drama, CEO kaya dan tampan seperti dirinya pasti akan banyak penggemar. "Aku sedang menjadi musuh ibu-ibu?" Melvin menunjuk dirinya sendiri dengan terbengong-bengong.


"Iya, Pak. Hati-hati di tempat umum, takutnya salah satu dari mereka akan memukuli Anda dan memarahi Anda berjam-jam."


"Kira-kira apa yang akan terjadi kalau aku bilang di konferensi pers nanti bahwa kami sudah menikah? Apa mereka akan memberi selamat?" Melvin santai saja menghadapi berita itu. Ia hanya tidak mau Ruby kenapa-napa akibat berita itu. Makanya ia menyuruh Ruby berhenti kerja dan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.


"Anda akan semakin dilaknat, Pak. Kebanyakan perempuan tidak suka dengan pelakor seganteng apapun orangnya."


"Karena mengomentari kehidupan orang lebih menyenangkan, Pak daripada berkaca tentang kehidupan sendiri."


"Oh, iya. Aku sampai lupa. Apa Jonathan masuk ke perusahaan baru?"


Setelah Jonathan keluar, Melvin tak melepaskannya begitu saja. Ia menyuruh Tomi untuk tetap mengawasi gerak-geriknya.


"Saya dengar dia baru direkrut perusahaan makanan milik Pak Ferdian."


Melvin menarik sudut bibirnya. "Sudah lama aku tak mendengar nama orang itu." Ia merasa aneh karena Jonathan mudah sekali mendapatkan kembali pekerjaan. Untuk seukuran perusahaan milik Ferdian, rasanya tidak mungkin jika asal memasukkan orang tanpa mempertimbangkan rekam jejaknya.

__ADS_1


"Jonathan sangat cerdas, Pak. Tidak seharusnya Anda memecat dia." Tomi menyayangkan keputusan Melvin saat itu.


"Aku hanya ingin melihat dia seperti apa ketika di tempat lain. Ternyata dia memang belum berubah." Melvin sedikit kecewa mengetahui hal itu.


"Sepertinya dia memang sengaja menjalin relasi dengan perusahaan-perusahaan yang diuntungkan dengan kondisi perusahaan kira saat ini."


"Penjualan produk dari perusahaan Pak ferdian sedang melejit, begitu pula dengan perusahaan jasa pengiklanan milik Pak Alben juga meningkat."


Melvin ingin tertawa. Seakan kini semua musuhnya bersatu untuk menjatuhkannya. Para barisan sakit hati karena Melvin juga barisan patah hati dari orang-orang yang pernah mencintai Ruby.


Melvin menghela nafas. Memang lebih baik rasanya membiarkan istrinya di dalam rumah saja. Jika dia keluar sebentar, mata lelaki sudah sibuk meliriknya. Ia tidak suka istrinya diperhatikan orang lain.


Melvin jadi memikirkan konferensi pers yang akan dilakukan, apakah ia akan mengajak Ruby atau tidak.


*****


Meka tampil cantik dan anggun memasuki ballroom hotel mewah yang telah dipenuhi pengunjung. Ia tersenyum kepada setiap orang yang memandangnya. Mulai sekarang, ia bisa berjalan dengan penuh percaya diri.


Malam ini Ferdian membuat acara pesta untuk memperkenalkan Davin dan Callista sebagai putra putri mereka. Tentu saja hal itu membuat Meka merasa bahagia. Keluarga Ferdian yang dulu tidak akan setuju dengan hubungan mereka, kini berbalik sangat menyayanginya berkat keberadaan Davin.


Kalau saja Renata tidak koma dan bisa melahirkan seorang putra, mungkin ceritanya akan berbeda. Anak yang Renata lahirkan seorang perempuan. Di mata keluarga Ferdian, anak laki-laki lebih berharga daripada anak perempuan. Bagi Meka sendiri, anak laki-laki dan perempuan sama berharganya.


Ibu dua anak itu semakin mempesona di mata lelaki. Didukung dengan sikap percaya dirinya di depan orang lain, semakin membuatnya terlihat tidak mudah goyah dan dijatuhkan oleh orang lain. Bahkan, Ferdian seakan kembali jatuh cinta kepada wanita yang dulu telah lama menemaninya. Terkadang ia lupa kalau masih ada Renata di sisinya.


Meka mampu membuatnya mabuk kepayang. Dalam urusan bercinta, Meka berbeda dengan yang dulu. Jika dulu selalu didominasi, sekarang berubah mendominasi. Tapi Ferdian sangat menyukai hal itu. Dia suka wanita yang tangguh dan terlihat kuat, bukan wanita yang suka menangis hanya karena gertakan saja.

__ADS_1


"Oh, ternyata kamu ada juga di tempat ini."


Langkah kaki Meka terhenti kerika mendengar kalimat dari orang yang sangat familiar di telinnganya.


__ADS_2