PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
UPIK ABU MENJADI RATU


__ADS_3

Bugh!


Ferdian melayangkan pukulan keras di wajah Jonathan hingga Jonathan jatuh tersungkur ke lantai. Tak puas memberikan satu pukulan, ia kembali membangunkan Jonathan, menarik kerahnya lalu menghajarnya kembali. Pukulan demi pukulan terus ia berikan untuk melampiaskan kekesalannya.


Para bodyguard berjaga di sekitar mereka. Jonathan tak berani melawan, ia hanya pasrah dijadikan objek untuk dipukuli.


"Apa benar kamu sudah menyusahkan Meka selama ini?" Ferdian mencengkeram kuat kerah leher Jonathan. Matanya menatap tajam serta urat-urat lehernya menegang.


Jonathan berusaha mengatur nafas, Wajahnya sudah habis babak belur dihajar sampai untuk membuka mulut saja terasa sakit. "Maafkan saya. Ini hanya salah paham." Jonathan masih tak sepenuhnya mengakui kesalahannya.


"Salah paham? Kamu bilang istriku wanita murahan dan putraku anak haram!" Ferdian membentaknya.


"Saya tidak tahu jika dia istri Anda, Pak. Saat bekerja di GoodFood, statusnya belum menikah."


"Apa kamu harus tahu tentang kehidupan pribadi orang lain? Sebagus apapun isi otakmu jika tidak bisa memisahkan masalah pribadi dengan bisnis, aku rasa kamu hanya sampah yang harus disingkirkan!" Ferdian kembali mendorong Jonathan. Ia berdiri setelah membuat lelaki itu terkapar tak berdaya. "Yoga!" teriaknya.


Asisten Ferdian yang ikut berdiri di sana segera berlari menghampiri.


Bugh!


Ferdian memberikan tinjunya juga kepada Yoga. "Bisa-bisanya kamu memasukkan orang seperti dia ke perusahaan."


Yoga menunduk sambil memegangi pipinya yang terluka. "Maafkan saya, Pak. Tapi, penjualan perusahaan kita meningkat setelah berita yang dia buat."


"Dia juga mau memberitakan tentang istriku yang memiliki anak tanpa menikah!" Ferdian berkata dengan emosi.


"Benarkah?" Yoga memasang wajah polosnya.


"Aku tidak mau tahu. Pecat dia dari perusahaan dan buat dia tidak bisa mendapatkan pekerjaan di negeri ini! Kalau dia masih berani memberitakan tentang Meka dan Davin, seret dia ke penjara apapun alasannya!"


"Baik, Pak. Akan saya lakukan."

__ADS_1


"Singkirkan dia dari sini! Aku akan kembali lagi ke dalam."


Ferdian meninggalkan kekacauan yang baru dibuatnya begitu saja. Ia merapikan kembali jas yang dikenakannya. "Dasar pengacau!" umpatnya.


Sementara itu, di area dalam ruang pesta, Meka beserta anak-anak dan mertuanya berdiri di tengah panggung utama. Dua orang pembawa acara memperkenalkan secara resmi anggota baru di keluarga besar Gumalang Grup. Meka resmi menyandang gelar nama Ferdian Gumalang di belakang namanya. Begitu pula dengan Davin dan Callista.


Malam itu keluarga Meka tidak hadir atas permintaannya sendiri. Setelah ayahnya menikahkan dirinya dengan Ferdian, Meka tidak ingin keluarganya tidak terlalu ikut campur lagi dengan kehidupannya. Meskipun mereka tiba-tiba menjadi peduli dan menyayanginya, Meka tidak lagi merasa membutuhkan mereka. Keluarganya sudah kembali mendapatkan banyak harta dari Ferdian setelah mempersuntingnya.


Meka tidak ingin menjadi sapi perah lagi bagi keluarganya. Ia akan menjalani hidupnya sebagai seorang istri. Sekalipun nanti Ferdian mencampakannya lagi, setidaknya ia sudah memiliki bekal yang cukup untuk melanjutkan hidup tanpa perlu mengandalkan orang lain.


Jika mengingat kembali masa lalu, ia merasa dirinya sangat bodoh, kenapa tidak melakukan hal seperti itu sejak dulu. Ia selalu menuruti Ferdian karena kepentingan orang tuanya. Tapi, setelah berkorban demi mereka, ternyata tak ada yang benar-benar peduli padanya.


"Meka, kamu saja yang memotong pitanya untuk peresmian hotel baru keluarga kita." Pak Yon, ayah mertua Meka menyerahkan gunting kepadanya.


Meka mengarahkan pandangan kepada ayah dan ibu mertuanya. Mereka berdua terlihat mengangguk memberi tanda mempersilakannya untuk memotong pita. Senyuman yang dulu ia sendiri tidak berani mengharapkannya, kini terlihat begitu tulus diberikan kepadanya.


"Baiklah, mari kita sambut Ibu Meka untuk meresmikan Fantacy Hotel kita malam ini."


"Satu ... dua ... tiga!"


Meka memotong pita sebagai simbol peresmian hotel diiringi oleh suara tepuk tangan yang meriah. Setelah sekian lama menjadi tokoh figuran, kini Meka merasakan menjadi peran utama dalam kehidupannya. Hera Gumalang, ibu mertuanya, memberikan pelukan hangat kepadanya.


Hera merasa bangga memiliki menantu seperti Meka. Dia telah membesarkan Davin dengan baik, juga bisa menjadi ibu sambung yang baik untuk Callista. Meskipun ia tahu putranya masih mencintai Renata, ia harap putranya juga bisa memberikan cinta yang sama kepada Meka. Bagaimanapun juga, Meka telah melahirkan Davin yang kelak akan menjadi penerus bisnis keluarga.


"Apa acaranya sudah selesai?" tanya Ferdian ketika mereka telah turun dari panggung utama.


Meka memasang wajah kesal ketika Ferdian datang mendekat dan memeluk pinggangnya posesif. Ia memilih untuk menghindar.


"Kenapa? Tadi kamu masih memanggilku 'sayang', kenapa jadi berubah dingin lagi seperti ini." Ferdian protes dengan perlakuan yang diterimanya.


"Kapan kita pernah sedekat itu? Katanya kamu hanya mau menyentuhku saat di ranjang." Meka tampak angkuh saat mengatakannya.

__ADS_1


Ferdian mati kutu tak bisa menimpali perkataannya. Ia juga tidak mengerti dengan dirinya sendiri, kenapa sekarang ia menjadi begitu tertarik kepada wanita itu? Bahkan seharusnya ia marah karena Meka berani membantah. Ia bagaikan seekor singa yang berubah menjadi kucing.


"Kalau begitu, ayo kita langsung masuk ke kamar!" Ferdian tak mau mengalah.


"Aku tidak bisa, aku mau menyusui Callista dulu." Meka mengabaikan keberadaan Ferdian. Ia mengambil Callista dari gendongan pengasuhnya lalu membawanya ke dalam kamar.


Ferdian mengikutinya. Ia turut masuk ke dalam kamar yang sama dengan Meka lalu menutupnya kembali. Ia memperhatikan wanita itu yang mengeluarkan sebelah payu*daranya untuk Callista. Wanita yang awalnya hanya sekedar ingin dijadikan sebagai pengasuh anak-anaknya, entah bagaimana kini ia semakin ingin menguasainya. Ia ingin Meka berada di sisinya selamanya.


Ferdian duduk di sebelah Meka, memeluk pinggangnya seraya memperhatikan betapa tenangnya Callista menyusu kepada ibu sambungnya. Anak perempuannya begitu mudah dekat sengan Meka. Ferdian yang awalnya berpikir akan cepat bosan dengan Meka, ternyata perkiraannya salah. Sepertinya ia mulai mencintai keberadaan Meka.


"Apa kamu masih marah?" tanya Ferdian.


"Segala yang kamu lakukan dan berikan padaku tidak akan sanggup mengganti beratnya waktu yang sudah aku dan Davin lewati." Meka berbicara dengan nada datar. Ia sedang tidak ingin bercanda. Kali ini ia bicara serius.


"Aku tahu, aku minta maaf."


Sangat tidak mungkin bagi Meka untuk mendengar kata maaf dari mulut Ferdian. "Sepertinya kamu sedang tidak sehat sampai bisa meminta maaf kepadaku," sindirnya.


"Entahlah! Aku merasa bersalah kepadamu. Aku janji akan menjadikanmu ratu seumur hidupku agar bisa menebus kesalahanku yang dulu."


Meka tertawa kecil. "Apa kamu sudah lupa dengan Renata?"


Ferdian menghela nafas. "Tidak bisakah wanita percaya kalau lelaki bisa memberikan cinta yang sama besar kepada beberapa wanita? Aku juga mencintaimu seperti aku mencintai Renata. Bahkan sekarang, sepertinya aku lebih mencintaimu karena jasa dan perjuanganmu yang sungguh besar untuk kedua anakku."


"Apa aku harus meninggalkan Renata agar kamu mempercayainya?"


Meka terdiam. Rasanya sangat jahat kalau ia tega melakukan hal semacam itu. Renata sudah mendapatkan penderitaannya, sementara ia mendapat limpahan kasih sayang yang begitu besar dari banyak pihak. Bukan waktu untuknya merasa iri dengan Renata.


*****


Halo.... terima kasih untuk kalian yang masih mau membaca novel ini sampai sejauh ini. Author tidak menyangka masih bisa bertahan menulis cerita yang sebenarnya hanya ditulis untuk kepentingan lomba. Tidak terasa sudah sampai di 2/3 cerita yang sebentar lagi akan tamat. Sekali lagi, terima masih sudah membaca, like, komen, dan favorit 😘

__ADS_1


__ADS_2