
"Pak, saya sudah mendapatkan informasi tentang Gita Ayunda."
Perhatian Rei langsung teralih kepada Mila. Ia hentikan pekerjaannya untuk fokus kepada Mila yang sedang berbicara dengannya. Sekertarisnya menatap layar tablet miliknya sembari membacakan profil tentang wanita yang membuat Rei penasaran.
Beberapa hari ini Rei selalu curi-curi perhatian kepada sosok tenaga kebersihan baru yang ada di perusahaannya. Dari cara kerjanya, sudah jelas kalau wanita bernama Gita itu memang tidak terbiasa melakukan pekerjaan kasar. Meskipun demikian, wanita keras kepala seperti dia tetap ngotot bertahan dengan pekerjaannya.
Di sela-sela waktu istirahat atau saat ada kesempatan jeda meeting, Rei selalu mencari wanita itu, memperhatikan dari jauh saat dia bekerja. Tingkahnya yang konyol selalu berhasil membuatnya tersenyum-senyum. Baru kali ini ia sepenasaran itu kepada seorang wanita.
"Jadi benar, kalau dia pernah bekerja di Perusahaan XXX?" tanya Rei memastikan.
"Benar, Pak. Jabatannya di sana sebagai Manajer Konstruksi."
Rei berpikir sejenak. Berarti apa yang dikatakan oleh Gita waktu itu memang benar, ucapannya bukan kebohongan ataupun mengada-ada. Tidak bisa dipercaya seseorang yang pernah menduduki jabatan cukup penting di perusahaan besar itu kini hanya menjadi seorang tukang bersih-bersih di perusahaannya. Tukang bersih-bersih yang tidak becus kerja sedikitpun, bahkan lebih membuat rekan kerjanya jadi kerepotan.
"Dia pernah terlibat dalam proyek besar pembangunan Rumah Susun Sentosa yang ada di daerah XXX dan pembangunan Hotel Horray."
Rei hanya mangguk-mangguk mendengarkan penjelasan dari Mila. Inti dari informasi yang didapatkannya, bahwa sebenarnya posisi Gita di perusahaan bagus, hasil kerjanya juga sudah tidak perlu ditanyakan lagi.
"Kenapa dia bisa dipecat?" tanya Rei penasaran. Jika memang ada karyawan yang baik, tidak seharusnya ia dipecat. Gita tampak seperti karyawan yang bertanggung jawab. Terlihat dari cara bekerjanya, meskipun di awal tidak menguasai sama sekali, namun ia tetal berusaha untuk menyelesaikan pekerjaannya.
"Sebentar ...." Mila kembali mencari informasi melalui layar di hadalannya. "Tidak ada catatan di bagian alasan pemecatan, Pak. Hanya ada keterangan wanita itu diberhentikan kerja beberapa waktu yang lalu. Mereka tidak menyebutkan apa alasannya."
Rei memegangi dagu dengan jarinya. Cukup aneh jika perusahaan besar tidak memberikan alasan apapun untuk melakukan pemutusan hubungan kerja secara sepihak dengan karyawannya. Apalagi dia adalah karyawan tetap, seharusnya lebih sulit untuk memecatnya.
"Apa ada catatan perbuatan buruk dalam resume pengalaman kerjanya? Atau semacam pernah terjadi perselisihan dengan teman kantornya?"
__ADS_1
Mila kembali mencari informasi yang diinginkan bosnya. "Tidak ada catatan apapun tentang dia, Pak. Saya jadi curiga kalau dia memang sengaja disingkirkan dari perusahaan." Otak analisis Mila mulai bekerja. Dia dan bosnya memang sangat kompak. Untuk urusan bisnis saja sangat nyambung apalagi untuk berakting sebagaj detektif yang mencari sumber berita.
"Coba kamu kumpulkan segala rumor-rumor tentang perusahaan itu. Apakah kira-kira ada kasus berat yang ikut menjerat Gita?"
Mila semangat untuk urusan mencari data seseorang. Ia dengan tekun menggali informasi tentang Gita. Sementara, Rei sedang memikirkan hal lain. Gita terlalu tenang untuk seseorang yang sudah terbiasa hidup berkecukupan.
Gaji yang diterima sebagai seorang manajer konstruksi, bagi pemula saja mencapai dua digit. Apalagi kalau proyek besar dan sudah berpengalaman, pasti gajinya tiga digit ke atas. Sekarang, dia harus menjadi seorang tenaga kebersihan yang setiap hari harus terbiasa dengan tempat-tempat kotor.
Wanita normal pasti akan menangis tanpa henti setiap hari setelah kehilangan pacarnya, apartemennya, apalagi pekerjaannya. Gita masih bisa bermain-main dan bernyanyi ria di sela-sela menyelesaikan pekerjaannya. Seakan hidup yang dijalaninya biasa saja, tanpa beban. Padahal Rei yang melihat saja mau kasihan dengan nasibnya.
"Pak ...."
Mila menampakkan wajah terkejutnya sembari membelalakkan mata ke arah Rei. Sepertinya dia akan menyampaikan sesuatu yang membuat orang lain juga akan berpikir ulang untuk belanja di sana.
"Ternyata Gita Ayunda putri dari Pradita Kusuma, pengusaha yang dulu terkenal dengan bisnis ekspor impor."
Rei mengerutkan dahinya, "Bukankah Pak Pradita sudah meninggal?"
"Benar, Pak. Beliau sudah meninggal sekitar 6 tahun yang lalu."
Rei semakin tidak mengerti. Gita berasal dari keluarga kaya raya. Ia jadi berpikir mungkin wanita itu sedang pura-pura miskin. Lalu, kenapa dia ada di perusahaannya? Apakah dia menjadi seorang mata-mata? Jika benar, Rei akan menertawakan orang yang menugaskan Gita di sana. Wanita itu terlalu bodoh untuk menjadi seorang mata-mata.
"Kenapa dia ada di tempat kita sebagai cleaning service? Bagaimana dengan perusahaan milik ayahnya?"
"Menurut informasi, usaha milik ayahnya yang dulu diambil alih oleh istri kedua dari Pak Pradita atau ibu tiri dari Gita."
__ADS_1
Rei terlihat berpikir. Otaknya sedang membuat hipotesi-hipotesis seputar kehidupan Gita. "Apa mungkin dia dibuang oleh keluarganya?" tanya Rei.
"Kalau masalah itu saya kurang tahu. Sepertinya tidak akan ada data yang membahas masalah pribadi seseorang. Jika Anda menginginkan jawabannya, Anda perlu bertanya secara langsung kepada orang yang bersangkutan."
Rei kembali tertegun. "Mila, aku mau makan siang di luar dulu, ya!" pamitnya.
Ia bergegas pergi dari ruangannya meninggalkan Mila yang kaget melihat bosnya pergi begitu saja. Rei ingin menemui Gita saat jam makan siang tiba. Ia pergi ke kantin kantor sendiri, ikut antre memesan makanan. Kehadirannya di sana cukup menarik perhatian bagi banyak orang. Jarang sekali mereka mendapat kesempatan untuk bertemu langsung dengan bos tertinggi perusahaan.
"Nasi ayamnya dua bungkus, minumnya 2 Cappucino Ice. Tambah kentang goreng dan nugget juga." Rei menyerahkan sebuah kartu untuk pembayaran makanannya. Tak berselang lama, pesanan yang ia minta telah diberikan.
Rei membawa kantong berisi makanan ke arah tangga darurat. Ia tahu di jam-jam seperti itu Gita biasanya ada di sana. Saat ia sampai di sana, Gita sedang fokus memandang pemandangan kota sembari menikmati sepotong roti di tangannya.
"Kenapa ada orang yang menghabiskan waktu istirahat sendirian di sini?" Perkataan Rei membuat Gita kaget.
"Eh, Pak Reino!" Gita langsung bangkit dan memberi salam kepada presdirnya.
"Duduklah!" pinta Rei. Ia juga duduk di sebelah Gita. "Aku membeli terlalu banyak makanan. Kamu bisa membantuku menghabiskan makanan ini sendiri, kan?"
Gita mengintip ke arah makanan yang Rei bawa. Aromanya sangat menggugah selera. Entah sudah berapa bulan ia tidak merasakan makanann enak demi penghematan. "Anda tidak akan memecat saya kan, Pak?" tanya Gita. Akal sehatnya masih digunakan untuk berpikir.
"Kenapa aku harus memecatmu? Aku justru datang mengapresiasi hasil pekerjaanmu. Kamu tipe pekerja yang gigih dan pantang menyerah." Rei memberika cup nasi ayam dan minuman dingin kepada Gita. Tentu saja Gita sangat senang menerimanya.
"Tidak beracun kan, Pak?" Sekali lagi wanita itu bertanya-tanya.
"Kalau beracun kita akan mati berdua di sini, tenang saja," ucap Rei bercanda.
__ADS_1