PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
TRAGEDI MEMILUKAN


__ADS_3

Gita terus mengikuti arah jalan Ruby. Sesampainya di depan salah satu pintu apartemen, Ruby tampak berhenti dan menekan bel pintu. Tak berapa lama kemudian, Ruby masuk dan pintu kembali terkunci. Gita mengamati pintu itu setelah situasi sepi. Ia bingung karena akses masuk ke dalam harus menggunakan kartu. Dia hanya bisa mondar-mandir sambil berpikir di depan pintu.


Saat ia menemukan ide cemerlang, segera ia berlari ke arah lift turun ke lantai 5 menuju ruangan pengelola apartemen.


"Pak tolong, Pak ...." teriak Gita dengan nafas yang masih tersengal-sengal. Wajahnya tampak sangat panik dan ketakutan.


"Ada apa?" orang-orang yang ada di ruangan itu langsung berkerumun mendapati kunjungan mendadak dari wanita asing itu.


"Pak ... di lantai XX Apartemen nomor XXX ada orang jahat masuk! Dia membawa pistol dan saat pintu tertutup kembali, saya dengar suara orang berteriak! Tolong, Pak! Sepertinya di apartemen ini akan ada pembunuhan ...." Gita asal mengarang cerita. Ia memang sangat jago akting.


Omongannya begitu meyakinkan sampai para staff kebingungan. "Cepat beberapa orang langsung naik saja! Ayo, kalian berdua ikut aku!" Salah seorang staff menyuruh dua orang sekuriti ikut dengannya. Mereka bertiga mengikuti arah yang Gita maksud.Langkah kaki mereka terburu-buru menyusuri koridor lantai XX apartemen.


"Di sini tempatnya, Pak!" ucap Gita.


"Kamu yakin?" tanya staff itu memastikan. Jika Gita memberikan informasi yang salah, maka dirinya harus siap-siap dipecat. Apalagi saat mereka datang, suasana kelihatan tenang. Sepertinya tidak ada keributan apa-apa.


"Masa saya mau bermain-main dengan nyawa orang, Pak! Serius, saya tidak bohong. Cepat buka, Pak! Kalau penghuni di dalam mati, apartemen ini jadi angker, loh! Nanti tidak laku lagi." Gita terus memberikan kata-kata provokatif sembari melakukan aktingnya.


"Dobrak pintunya!" pertintah staff itu pada salah seorang sekuriti berbadan kekar itu. Beberapa kali sekuriti itu berusaha merusak pintu dengan tenaga maksimalnya. Pada dorongan ketiga, akhirnya pintu apartemen itu berhasil dibuka.


Brak!


Mereka bisa menyaksikan kondisi di dalam apartemen. Tampak seorang lelaki dan wanita berada tak jauh dari arah pintu. Kelihatannya mereka kaget dengan kedatangan mereka.


"Apa-apaan kalian!" bentak Ben. Ia sangat marah ada sekelompok orang yang mengganggu kesenangannya bersama Ruby. Belati yang ia selipkan di pinggang kembali ia ambil lalu ia arahkan ke leher Ruby. "Berani kalian mendekat, aku akan membunuh wanita ini!" ancamnya.


Ruby hanya bisa berusaha mengatur napas agar tidak gugup. Ujung belati itu sudah menyentuh kulitnya. Dilihatnya Gita merupakan salah satu dari orang yang ada di luar pintu. Melihat wajah yang ia kenali, ada sedikit ketenangan di dalam hatinya.

__ADS_1


Gita, staff, dan sekuriti tak berani berbuat apa-apa mendapatkan ancaman dari Ben. Ia khawatir wanita yang dijadikan sandera itu akan terluka. Mereka memilih berjalan mundur, membiarkan Ben perlahan berjalan keluar bersama Ruby.


Saat Ben telah berhasil membawa Ruby keluar dari apartemen, di kedua sisi lorong ia sudah dikepung oleh polisi. Ia lihat ada Ardi bersama polisi-polisi itu. Ben merasa dibodohi.


"Dasar wanita licik! Apa kamu belum tahu siapa aku, hah! Berani-beraninya kamu membantah perintahku!"


"Ah!" pekik Ruby saat Ben menjambak kasar rambutnya.


"Jangan macam-macam denganku! Aku bisa membunuh kalian semua!" teriak Ben. "Wanita ini yang akan mati lebih dulu."


Ben yang merasa terpojok, sudah sangat putus asa. Jika dia tidak bisa mendapatkan Ruby, makanorang lain juga tidak boleh mendapatkannya. Ia tidak bisa membiarkan Ruby hidup. Ruby harus mati agar tidak ada orang yang bisa memilikinya.


Polisi sudah bersiap dengan senjata masing-masing. Mereka sangat berhati-hati mengamati pergeraian pelaku dan sandra. Kesalahan sedikit akan berakibat fatal.


Ardi dan Elen yang berada di sana ikut merasa tegang. Keduanya yang sempat bertengkar sepanjang jalan, kini terlihat saling berpegangan tangan, sama-sama mengkhawatirkan kondisi Ruby. Gita menggigiti kukunya sendiri saking takutnya. Ia tidak menyangka cerita karangannya akan menjadi kenyataan. Ruby bisa saja terbunuh oleh lelaki yang pernah ia hajar itu.


"Wanita sialan!" teriak Ben.


Saat Ruby berusaha berlari menjauh, Alben berhasil menusuk pinggang kanan Ruby. Ruby tetap berusaha melawan. Ia kembali mendorong Alben dan berlari mendekat ke arah Gita dengan posisi pisau yang masih menancap di pinggangnya.


Dor! Dor! Dor!


Polisi melepaskan beberapa tembakan untuk melumpuhkan Alben yang terus berusaha mengejar Ruby. Awalnya satu tembakkan di kaki, ia masih tidak peduli. Dilanjutkan dengan tembakkan mengenai lengannya, ia masih berusaha menyerang. Akhirnya satu peluru berhasil bersarang di dada Ben dan akhirnya lelaki itu tumbang bersimbah darah di lantai.


Gita menerima Ruby yang jatuh di pelukannya. Ardi dan Elen juga berlari ke arahnya. "Oh, Ya Tuhan, Ruby ... kamu harus bertahan ...." Gita sampai gemetaran melihat darah yang mengucur dari tubuh Ruby. Ia sampai menangis melihat kejadian yang sangat membuat dirinya syok.


"Ruby ... kamu harus tetap sadar! Aku akan mrmbawamu ke rumah sakit!" Ardi sangat panik. Ia menggantikan Gita memapah tubuh Ruby yang semakin melemas. Matanya berkaca-kaca melihat kondisi Ruby seperti itu. Rasanya ia ingin memarahi Ruby yang tidak mau mendengarkan nasihatnya.

__ADS_1


Ruby tersenyum kepada Ardi. "Kak, terima kasih sudah datang. Tolong Kak Melvin di dalam. Ia juga terluka."


"Iya, aku akan membawa kalian ke rumah sakit."


Pandangan mata Ruby semakin memudar, ia akhirnya pingsan.


"Ruby ... Ruby ... Ruby!" Ardi semakin panik melihat kondisi Ruby yang tidak sadarkan diri. Ia berdiri memapah Ruby. "Kalian cepat masuk ke dalam! Di sana masih ada yang terluka!" perintah Ardi. Ia segera berjalan cepat membawa Ruby dalam gendongannya. Elen dan Gita mengikutinya di belakang.


Staff apartemen, sekuriti, dan beberapa polisi masuk ke dalam apartemen, sementara polisi yang lain melakukan pengamanan di area TKP. Mereka mengecek kondisi apartemen yang cukup teelihat normal. Hanya saja, terlihat banyak foto wanita yang baru saja menjadi korban penusukkan. Polisi bisa menjadikan TKP sebagai alat bukti di persidangan.


Dari ruang tamu, berlanjut ke ruang tengah, akhirnya mereka sampai di kamar. Mereka menemukan seorang lelaki dalam kondisi terikat yang terbaring di atas ranjang. Dari lehernya terlihat leluar darah. Segera mereka melepaskan ikatan yang melilit di kaki dan tangannya, lalu lakban yang menutupi mulutnya.


"Anda baik-baik saja?" tanya salah seorang polisi.


"Saya baik-baik saja." Meskipun lehernya berdarah, Melvin tak memperdulikannya. Dalam pikirannya, ia hanya mengkhawatirkan istrinya. "Dimana istri saya?" tanyanya.


"Apa wanita yang fotonya ada di dinding?" tanya si polisi sambil menunjuk ke arah dinding.


"Benar."


"Dia sedang dibawa ke rumah sakit karena mengalami luka tusukkan."


"Ah, sial!" pekik Melvin.


"Saya juga akan mengantar Anda ke rumah sakit."


*****

__ADS_1


Author kadang salah nulis saking ngantuknya. Di desa susah sinyal, harap maklum 😁


__ADS_2