PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
PUKULAN YANG MENGGENAI PUTRI.


__ADS_3

Aku memang tidak tahu siapa kamu sebenarnya karena aku yakin dari tatapan itu sudah menunjukkan kalau kita memang saling bermusuhan, aku tidak tahu permusuhan apa yang terjadi diantara kita. Tapi aku yakin suatu saat nanti dendam itu pasti akan segera terkuak. Aku bakal tahu siapa kalian yang sebenarnya.


Dalam ruangan terdapat lah pelajar yang pada bercanda ria lantaran menunggu guru pembimbing mereka untuk segera datang. Candaan mereka akhirnya telah usai lantaran mereka yang melihat langkah kaki seseorang yang menuju kearah ke kelas ini, benar tidak menunggu waktu lebih lama akhirnya guru pembimbing itupun akhirnya datang.


"Selamat pagi anak-anak?"sapa Guru wanita pada anak didiknya.


"Selamat pagi buk!"jawab semua anak didiknya


"Hari ini ibu gak mau berbincang-bincang lebih panjang, dan ujian akhir semester yang hanya menghitung hari maka ibu mau kalian semua mempersiapkan diri kalian masing-masing untuk menyambut hari itu telah tiba."


Dan karena ujian yang semakin mendekat, kami pun sudah memutuskan untuk pelajaran minggu ini untuk sementara diberhentikan. Dan ibu mau kalian fokus pada tugas-tugas dan materi yang akan ibu berikan nanti. Sekarang disini ibu sudah membawa beberapa materi pelajaran.


dan nanti ibu akan bagikan satu persatu buat kalian agar materi ini bisa kalian buat belajar di Rumah. Ibu mau kalian kerja kelompok mulai sekarang, karena dengan melakukan kerja kelompok ibu yakin pasti kalian bisa bekerja sama dalam tim, dan nilai kalian pasti akan sangat memuaskan nanti, tanpa adanya kasus percontek'kan apa kalian mengerti!"


"Iya buk kita mengerti!"


"Baguslah, dan ini materi yang harus kalian kerjakan, kalian ulurkan belakang teman kalian ya!"


"Baik buk!"


Satu persatu pelajar kelas ini pun sudah mendapatkan buku materi itu masing-masing, buku yang berjumlah beberapa jenis itu pun sudah berhasil berada di tangan semua pelajar kelas IPA Xll.


"Apa kalian sudah mendapatkan semua buku materi masing-masing?"


"Iya buk, kita sudah mendapatkannya!"


"Ya sudah kalau gitu kerjakan dan belajarlah yang giat. Pahami satu persatu soal-soal itu. Ingat tinggalkan main gadget kalian untuk sementara waktu ini.


"Baik buk!"


"Ya sudah kalau gitu ibu pergi dulu!"


"Baik buk!!"


Setelah memberitahukan arahan dari guru pembimbing tadi, mereka semua pun akhirnya mulai membuka lembaran demi lembaran materi yang sudah berada di tangan mereka masing-masing.


Kerja kelompok yang sudah di pertugaskan membuat mereka semua pun terlebih dulu membahas kemana, dimana tim akan melakukan kerja kelompok tersebut.


"Gibran, Putri enaknya nanti malam kita belajar kelompok dimana? Apa kalian setuju kalian kita kumpul di Rumah Gibran saja, lo gak lagi keberatan kan Gib?"


"Iya gue gak keberatan, kalian bisa datang ke Rumahku nanti malam!"


"Baiklah kalau gitu!"


"Revi berhubung ingatan Putri belum pulih, apa kamu gak keberatan kalau nanti malam setelah menjemputmu, kita sekalian menjemput Putri?"ujar Gibran.


"Iya aku gak masalah kok, kan arah rumah kita juga gak terlalu jauh jadi gak papa!"


"Baiklah kalau itu memang keputusan kamu, aku akan tunggu jam 18:30 nanti!"


"Baiklah nanti aku akan menjemputmu jam 18:30 malam nanti!"


Malam harinya jam yang sudah menunjukkan pukul 18:30 malam dimana Gibran yang habis selesai menjemput Putri dan juga Revi. Tak lama mereka pun akhirnya tiba juga dikediaman Gibran, sesampainya mereka, mereka sudah disambut dengan kehadiran kedua orang tua Gibran yang sedari tadi telah menunggunya.


"Selama malam Tante, Om,"ucap Revi dengan berlagak seperti anak yang sopan.


"Iya selamat malam juga Rev, senang bisa bertemu dengan kamu?"

__ADS_1


Baru aja Mamanya Gibran menatap dan berbicara pada Revi. Tiba-tiba pandangannya pun seketika teralihkan setelah Mamanya melihat Putri yang baru turun dari Mobil.


"Putri, ini kamu kan?" tanya Mamanya Gibran yang langsung menghampiri Putri.


"Iya saya Putri tante, kok tante bisa kenal ya sama saya?"tanya balik Putri.


"Astaga Putri, dimana tante tidak kenal sama kamu, kamu kan anak baik yang dulunya pernah menginap di Rumah tante?"


"Menginap, jadi dulu Putri pernah menginap disini kok bisa?"batin Revi dengan wajah penasarannya.


"Iya Putri, Om saja masih ingat sama kamu, masak kamu sudah lupa sih sama Om dan juga Tante?"


"Pa...Ma...sebenarnya beberapa hari yang lalu, Putri baru aja mengalami kecelakaan yang parah. Akibat dari kecelakaan itu, dia kehilangan semua ingatannya termasuk orang tuanya sendiri, bahkan namanya sendiri ia juga tidak mengingatnya?"cela Gibran yang mencoba memberi penjelasan.


"Astaga kenapa kamu gak pernah bilang sama Mama Gibran, kasihan sekali kamu, ya sudah tunggu apalagi ayo kamu ajak mereka masuk. Disana sudah ada berbagai macam hidangan jadi nikmatilah!"


"Baik tante!"


"Ya sudah kalau gitu kita masuk ya Put!"


"Baik tante!"


Dengan berbagai hidangan cemilan dan juga minuman membuat suasana lebih nyaman.


Awalnya Revi yang bermaksud inggin membuat Putri bisa merasakan cemburu lantaran aksi yang akan dia lakukan nanti. Tapi ternyata tidak semua rencana akan berhasil semulus yang dia mau. Apalagi menyadari jika orang tua Gibran lebih peduli terhadap orang lain dibanding dengan dirinya sendiri yang sudah dalam status kekasihnya Gibran. Hal itu membuat luka tersendiri bagi Revi.


"Jim*t apa sih yang dikasih Putri pada orang tuanya Gibran, kenapa mereka terlihat terbuka dan dekat seperti itu. Apa mereka gak mikir aku ini calon menantunya jadi harusnya aku yang ada diposisi Putri sekarang bukan dia!" batin Revi yang merasa sangat geram.


"Hanya melihat pemandangan seperti ini aja aku sudah sangat senang dibuatnya, walaupun ini hanyalah sesaat tapi aku mau pemandangan seperti ini akan berjumpa lagi pada suatu hari nanti?"batin Gibran dengan senyumannya yang tidak bisa ia hindari lagi.


Setelah hampir dua jam mereka berdiskusi mengerjakan tugas dan materi-materi dari Sekolah. Jam yang sudah menunjukkan hampir pukul sembilan malam mereka pun putuskan untuk mengakhiri kerja kelompok ini, Revi yang memaksa Gibran untuk mengantarnya pergi ke suatu tempat membuat Gibran dengan pasrah mengijinkannya permintaan Revi dengan berat hati iya tidak bisa mengantar Putri untuk pulang.


"Tidak bisa Gib, ini itu udah malam dan toko itu jika sudah pukul jam sembilan malam bakal tutup jadi aku gak bisa mengulur waktu lebih lama. Putri kamu gak Papa kan kalau kamu pulang sendiri malam ini?"


"Iya aku gak papa kok kalian pergilah, kan ada ada supir Papa nanti aku kan bisa memanggilnya. Jadi gak papa pergilah kalian!"


"Putri tapi ini udah malam, kalau supir kamu gak bisa dihubungi gimana?"cemas Gibran.


"Sudah biar Papa aja yang mengantarnya?"


"Gak usah Om, nanti yang ada aku malah bakal merepotkan Om, jadi aku gak Papa nanti aku bisa pulang sendiri."


"Apa kamu serius Putri ini udah malam, nanti kalau ada apa-apa gimana dijalan, jadi lebih baik kamu diantar sama Om ya?"


"Gak tante, aku takut malah akan merepotkan kalian, lagian aku juga bisa jaga diri dan aku jamin gak bakal ada apa-apa, ya sudah karena ini udah malam aku pamit pulang dulu ya Om...Tante..."


"Iya Putri kamu hati-hati ya, segera kabari Gibran kalau ada apa-apa nanti?"


"Iya Tante dengan segera aku bakal mengabari kalian nanti, ya sudah saya pamit dulu Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!"


Sembari mencium telapak tangan orang tuanya Gibran satu persatu, kemudian Putri pun akhirnya mulai pergi meninggalkan kediaman Gibran.


Langkahnya secara perlahan sembari mengamati suasana yang sangat sepi membuat diri Putri merasa cemas sendiri, berusaha menghubungi sang supir akhirnya dia mengurung niatnya lantaran dia juga tahu pasti Pak Supir akan sangat kecapean karena seharian sudah mengantar bolak-balik jemput, pulang Papanya dan juga dirinya membuat ia tidak tega jika harus menggangunya diwaktu seperti ini.


Jadi akhirnya dia pun lebih memilih berjalan kaki sampai menuju ke Rumah. Apalagi jaraknya yang tidak terlalu jauh membuat dirinya tidak terlalu kesal jika harus berjalan kaki sampai Rumah.

__ADS_1


Dalam perjalanannya yang tadinya tentram, damai dan juga sunyi kini pun berubah setelah ada tiga preman yang kebetulan melintas dijalankan sama yang hendak Putri lewati.


Tetap berusaha tenang dan tidak takut agar para preman muda itu tidak sampai berfikir kalau dirinya sedang ketakutan sekarang.


"Hayy cantik sendirian aja, mau gak abang temenin?"


"Maaf mas, saya lagi buru-buru jadi jangan ganggu saya!"


"Ya elah cantik-cantik kok jutek sih, sini abang temenin!"


"Aku bilang jangan membuat saya marah, kenapa kalian maksa sih!"


"Cie yang lagi marah?"


"Sudah bro tunggu apa lagi, cepat sikat dia!" tegas salah satu preman


"Baik bro!"timpal Preman satunya lagi.


Baru aja para Preman itu yang hendak inggin menghampiri Putri, Putri yang sudah siaga ia pun dengan segera langsung menendang barang berharga salah satu milik preman itu. Setelah dapat tendangan itu, satu preman pun seketika terjatuh dengan merasakan rintihan yang amat sakit.


"Ahhhh....


"Rasakan siapa suruh cari gara-gara sama aku!"


"Wah berani kamu sama kita?"


"Iya kenapa, memangnya kalian pikir aku takut apa sama kalian, sini maju kalau berani?"


"Wah nantangin nih anak!"


"Kenapa diam cepat tunggu apa lagi, serang dia!"


Baru aja satu premannya lagi hendak memukul Putri, Putri pun mencoba mengalihkan pandangan si preman dengan mengatakan.


"Tunggu, apa itu diatas sana?" ujarnya sambil menunjuk kearah atas.


"Jangan bohong kamu anak kecil!"


"Siapa yang bohong, itu bukannya seperti....


Karena terkecoh dengan ide Putri. Preman itu pun akhirnya mengalihkan pandangannya keatas.


"Mana gak ada apa-apa?"tegas preman.


"Rasakan ini!"ujar Putri yang tanpa berfikir lagi, ia pun langsung mendorong tubuh dua preman itu sampai terjatuh tersungkur dijalan yang beraspal.


"Bruk!"


"Ah!"rintihan si preman.


"Dasar gadis bedeb*h berani sekali kamu mengerjai kita seperti ini?"tegas preman dengan mata melototnya.


JEDUK.


Suara pukulan benda tumpul pun tiba-tiba terdengar, baru aja Putri bisa tertawa lepas melihat rencananya yang berhasil mengerjai ketiga preman tadi. Tapi ia yang hendak akan pergi meninggalkan tempat imi, tiba-tiba ada seseorang yang sengaja memukulnya dari arah belakang.


Akibat pukulan benda kayu itu, tubuh Putri pun seketika melemah, tersungkur ke aspal dan membuatnya tidak berdaya dalam keadaan tengkurap, pada saat itu juga benturan keras yang ia alami membuat ia tidak bisa menghindari lagi akan terjadinya benturan pada kepalanya yang tepat mengenai jalan beraspal dengan menggeluarkan suara cukup keras.

__ADS_1


Bayangan demi bayangan pun telah bermunculan didalam pikiran, yang akhirnya membuatnya seketika memejamkan kedua matanya.


BERSAMBUNG...


__ADS_2