PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
MALAM INI


__ADS_3

Wajah Ruby memerah memperhatikan Melvin menanggalkan satu per satu pakaiannya. Ia dimanjakan oleh pemandangan tubuh kekar dengan otot-otot yang terbentuk indah melambangkan maskulinitas seorang lelaki. Semakin diperhatikan lelaki yang kini telah menjadi suaminya itu terlihat semakin tampan. Rasanya tidak percaya dulu ia pernah sangat membenci lelaki itu.


Hanya tersisa selembar boxer hitam bertuliskan Calv*n Kle*n yang melekat di tubuh Melvin. Ketika lelaki itu hendak melepaskannya, reflek Ruby menutupkan mata. Debaran jantungnya semakin kencang, ia menjadi gugup. Malam ini rasanya ia belum siap untuk menyaksikan tubuh polos suaminya.


"Ciluk ba ...." Melvin membuka paksa tangkupan tangan Ruby. Wajah mereka saling berhadapan dalam jarak yang sangat dekat.


"Kak ...." Ruby membalas tatapannya sembari tersipu malu.


"Gantian, aku ingin juga melihatmu melepas pakaian," godanya.


"Mes*um!"


"Kamu juga tadi begitu. Akui saja kalau kamu kagum padaku. Suamimu ganteng, 'kan?" Melvin menyunggingkan senyumnya.


"Apa tidak bisa besok saja kita melakukannya?" ucap Ruby sembari meringis.


Melvin melontarkan tatapan tajamnya. "Kamu mau menyiksaku, ya? Aku sudah lama menunggu momen ini selama lima tahun."


"Ih, Kak Melvin bicaranya seperti orang naf*suan!"


"Memang. Aku sangat bernaf*su padamu. Sebelum menikah, mati-matian aku menahannya karena kamu pasti akan marah kalau aku kebablasan."


"Kalau kali ini tidak dituruti, sepertinya aku bisa mati."

__ADS_1


Ruby terdiam sejenak. Ia mengingat kembali momen-momen kebersamaan yang mereka lalui. Melihat sifatnya yang terlalu jujur dan cukup agresif, Melvin termasuk masih kuat iman selama menjalin hubungan dengannya. Meskipun memang sesekali dia khilaf, memaksa memalukan sesuatu yang lebih dari sekedar ciuman, Melvin masih punya batasan.


Pernah sekali lelaki itu bertindak di luar batas, tapi itu kesalahan Ruby sendiri. Saat ia mabuk dan dipengaruhi obat perang*sang yang Jonathan berikan kepadanya. Akan tetapi, ia tak terlalu mengingat apa yang dulu mereka lakukan. Malam ini, ia akan melakukannya dalam kondisi sadar.


"Menyingkir dulu, Kak."


Melvin keheranan dengan permintaan Ruby.


"Aku susah lepas baju kalau Kakak ada di atasku."


Mendengar kata-kata seperti itu, Melvin langsung semangat '45. Ia bangkit dari atas tubuh Ruby, memberikan ruang kepadanya agar bisa duduk.


Melvin menatap lekat istrinya yang malu-malu namum memaksakan diri untuk berani memenuhi kemauannya. Ruby duduk bersila di hadapannya. Dari raut wajahnya ia terlihat ragu untuk menanggalkan pakaiannya. Ia memberikan senyuman sebagai isyarat bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Ruby mulai mengangkat atasannya hingga lolos melewati kepala. Pemandangan indah terlihat di depan mata. Dua bukit kembar dengan puncak yang telah mencuat seakan mengundang untuk segera membelainya.


Melvin merasa bangga kepada Ruby yang sudah berhasil melakukannya. Segera ia maju memeluk istrinya dan berbisik mesra, "I love you, Sayang." Kata-kata sederhana namun terdengar romantis di telinga Ruby.


Melvin kembali merebahkan Ruby di atas ranjang, mendaratkan ciuman-ciuman mesra sembari membelai wajah istri kesayangannya. Perlakuan lembut yang Melvin berikan memberikan ketenangan di hati Ruby. Ia mulai bisa menikamati apa yang sedang mereka lakukan. Bahkan, dengan berani ia lebih dulu memainkan lidahnya menelusuri rongga mulut suaminya. Saat lidah mereka saling bertaut, ada kenikmatan yang menuntutnya menginginkan lebih.


Puas dengan area bibir, Melvin mengarahkan ciumannya ke sisi wajah menyasar area telinga.


"Ah, Kak ...." Suara manja yang Ruby keluarkan ketika ia menji*lat dan menggit kecil telinganya, membuat Melvin semakin bersemangat.

__ADS_1


Sesekali Ruby memejamkan matanya menikmati ciuman yang menyentuh permukaan kulitnya. Ciuman Melvin semakin menurun dari telinga menelusuri area leher, lebih turun ke area tulang selangka hingga sampai pada area bukit kembar yang indah.


Melvin memandanginya beberapa saat, membuat pemiliknya malu dan berusaha menutupi dengan tangannya. Ia singkirkan tangan yang menutupi area indah itu lalu melahap salah satu puncaknya seperti orang yang kehausan.


Tubuh Ruby menegang menerima rang*sangan yang baru pertama ia rasakan. Sensasi permukaan kasar lidah yang memainkan pu*ting, remasan, pilinan, dan gigitan nakal membuatnya tak berhenti mende*sah. Tubuhnya bergetar menikmati puncak kepuasan pertamanya.


Melvin menyunggingkan senyum melihat istrinya mencapai kli*maks. Ia melanjutkan aksinya menurunkan ciumannya menyusuri area perut dan semakin turun ke bawah hingga sampai pada **** *************.


Mata Ruby melebar saat menyadari suaminya melabuhkan bibir di sana. "Kak ... ah!" ia kembali mende*sah saat Melvin memainkan lidah di sana. Rasanya sungguh luar biasa tak bisa dideskripsikan dengan kata-kata. Apalagi saat daging kecilnya dimainkan, ia hanya bisa mere*mas seprei sembari menikmati surga yang diciptakan suaminya. Tubuhnya kembali bergetar hebat dan nafasnya tersengal-sengal.


Melvin tak berhenti begitu saja. Ia kembali memainkan lidahnya memasuki area dalam serta sesekali menyedotnya. Membuat sang istri menjadi berkali-kali berteriak penuh kenikmatan diiringi kli*maks.


Tubuh Ruby melemas seakan tak ada daya. Ia pasrah di bawah kungkungan suaminya.


"Sayang, aku masukkan, ya!"


Ruby hanya mengangguk pasrah ketika sang suami meminta izin untuk memasukinnya. Sekilas matanya memandang milik sang suami yang sudah sangat tegak sedang diarahkan ke bawah tubuhnya.


"Euh, Kak ...." Tangannya memegang erat pinggang Melvin ketika miliknya mulai dimasuki.


"Kamu harus tenang, tidak akan apa-apa. Aku mencintaimu."


Ruby berusaha menenangkan dirinya. Ia memandangi sang suami yang masih berusaha memasukkan miliknya dengan gerakan perlahan. Setiap kali benda itu terdorong masuk, miliknya terasa panas seperti sedang diiris oleh sesuatu. Semakin lama semakin terasa sakit hingga bulir-bulir air matanya jatuh.

__ADS_1


"Apa sakit?" Melvin menghentikan gerakannya.


Ruby mengangguk pelan.


__ADS_2