
Rei membuka pintu apartemennya. Aroma masakan sudah tercium ketika ia memasuki area ruang tamu. Ia mengernyitkan dahi, rasanya agak mengherankan kalau wanita yang sekarang tinggal di sana sedang memasak. Meskipun jarang pulang ke apartemen, ia tahu betul jika Gita selalu makan di luar atau memesan makanan lewat aplikasi pengantaran.
"Pak Rei ...." Gita tersenyum lebar menyadari kehadiran Rei di sana.
"Sedang apa di dapur? Kamu sedang tidak berencana untuk membakar apartemenku, kan?" Rei berjalan mendekat ke arah dapur.
Gita berdecih. Padahal dia sudah mengorbankan waktu berharganya setelah pulang kantor sengaja menyiapkan makan malam karena Rei bilang akan datang ke apartemen. Kalau tahu akan diremehkan, ia tak akan menyia-nyiakan waktunya untuk memasak.
"Memangnya kamu bisa masak?" Rei mengintip makanan yang baru dibuat Gita di meja makan.
"Nggak, Pak. Saya bisanya melawak." Gita membawa sayur sop yang baru dibuatnya dan meletakkan di atas meja dengan hati-hati. Ia tak memasak banyak makanan, hanya sayur sop ayam, perkedel, udang goreng, dan tempe bacem. "Ayo, Pak. Kita makan bareng," ajaknya.
Rei terlebih dahulu mencuci tangannya sebelum bergabung di meja makan dengan Gita. Tanpa ia minta, wanita itu mengambilkan piring dan menyendokkan nasi untuknya. Ia merasa aneh dilayani oleh orang lain. Bahkan di rumahnya sendiri, ia tidak pernah dilayani makan oleh pelayan rumah. Seketika otaknya berkelana membayangkan sedang dilayani istrinya sendiri.
Buru-buru ia menepis pikiran yang tidak-tidak di dalam otaknya. Bisa-bisanya ia membayangkan memiliki seorang istri di rumah. Apakah dia terlalu kesepian mengingat kebanyakan orang di sekitarnya sudah menikah sedangkan dirinya masih saja jomlo?
"Mau saya ambilkan lauknya sekalian?"
"Tidak usah. Biar aku sendiri saja."
Gita meletakkan piring berisi nasi di depan Rei. Ia mengambil sendiri nasi untuknya dengan lauk sebagai pelengkap. "Pak Rei tidak suka udang?" tanya Gita melihat Rei hanya mengambil lauk lain dan melewatkan udang goreng buatannya.
__ADS_1
"Aku alergi punya udang."
Gita mangguk-mangguk. "Maaf ya, Pak. Saya tidak tahu kalau Bapak alergi udang."
"Tidak apa-apa. Masakanmu yang lainnya juga enak."
Mendengar pujian yang Rei ucapkan membuat Gita senyum-senyum sendiri. Ia tidak menyangka atasan yang selalu galak itu bisa berkata manis kepadanya.
"Aku sudah menghubungi pengacara. Katanya dia bisa membantu mendapatkan kembali warisan dari ayahmu."
Gita tertegun. "Pak, Anda tidak perlu melakukan sejauh itu. Sudah mengeluarkan saya dari sana saja saya sudah sangat berterima kasih." Ia tidak enak sendiri banyak merepotkan atasannya. Gita mendapatkan tempat tinggal gratis, pekerjaan yang bagus, bahkan biaya hidupnya juga sudah dicukupi.
"Kalau kamu sudah mendapatkan hakmu, tidak ada yang akan mengganggumu lagi."
Rei menyunggingkan senyum. "Aku sudah terlanjur terlibat. Perusahaan yang dipimpin ibu tirimu dalam proses akuisisi oleh perusahaanku. Sepertinya karena perjodohanmu gagal, dia kehilangan investor terpentingnya."
Kalau mengingat tentang hal itu Gita jadi geram. Hampir saja ia dinikahkan dengan lelaki yang umurnya jauh lebih tua darinya. "Aku dukung, Pak! Semangat sampai ibu tiriku jatuh miskin." Gita menjadi penyemangat utama untuk Rei. "Tapi, lindungi aku ya, Pak. Takut dibunuh soalnya Teresa orangnya nekad," ucapnya sembari meringis.
"Hm, berapa kira-kira aku harus menagih untuk membayar asuransi keselamatan jiwamu?"
"Potong saja gajiku 1% setiap bulan, Pak." Meskipun sudah berhutang budi, Gita masih sangat perhitungan dengan uang.
__ADS_1
"Ck! Memalukan sekali putra dari Pradita Kusuma kelihatan seperti orang susah."
"Memang saya sedang susah, Pak. Kan semua harta saya habis dirampok."
"Ambil kembali, aku akan membantumu mendapatkan apa yang akan menjadi hakmu."
"Pak Rei kenapa baik banget ... kalau aku sampai jatuh cinta sama Bapak tanggung jawab, loh ...," ucap Gita dengan nada genit. Ia mengambil piring kotor Rei lalu dibawa ke tempat cuci piring bersama miliknya.
Rei hanya geleng-geleng kepala dengan kelakuan aneh wanita itu. Ia beralih ke sofa ruang tengah menyalakan layar televisi. Kebetulan film yang tayang malam itu bergenre horor thriller kesukaannya.
"Mau minum, Pak? Ini jus yang diberikan oleh Ririn, katanya oleh-oleh suaminya." Gita duduk di sebelah Rei menyodorkan sebotol minuman berwarna orange. Sembari menonton, mereka menikmati minuman segar yang baru diambil dari kulkas itu.
"Rasanya agak aneh, ya. Beda dari rasa jus jeruk yang biasanya." Rei memandang heran pada minuman yang menurutnya memiliki rasa yang unik itu.
"Namanya juga pelayaran luar negeri, Pak. Oleh-oleh yang biasa suami Ririn bawa rasanya memang aneh-aneh." Gita menyukai minuman yang Ririn berikan kepadanya.
"Tanggal kadaluarsanya mana? Aku curiga ini sudah basi, rasanya seperti jeruk busuk." Rei meneliti botol minuman itu. Tak ada informasi apapun yang tertulis di sana. Bahkan, nama merk juga tidak ada.
"Jangan meremehkan teman saya, Pak, tidak mungkin dia memberikan makanan basi. Ini enak, kok." Gita menghabiskan botol minumannya dalam sekali tegukan.
*****
__ADS_1
Sambil menunggu up date selanjutnya, bisa mampir ke sini 😘