
Memutuskan untuk berlari kearah tengah hutan untuk menghindari kejaran dari para Pria jahat itu, tanpa Putri sadari ternyata dia malah mendekatkan sendiri dirinya pada arah dimana letak jebakan yang sudah disediakan oleh Revi, berlari dengan sangat kencang menghindari kejaran ketiga Preman yang terus mengejarnya. Dirinya yang tanpa melihat jelas arah depannya, dirinya tak melihat jika didepan ada lubang sumur tanpa adanya pembatasan. Tubuh Putri akhirnya terjungkal ke bawah dengan kedalaman antara 2 setengah meter sampai tiga meter yang membuat kaki kanannya pun mengalami keseleo akibat terjungkal dari kedalaman tersebut.
"Aw kakiku?" Rintihan sakit Putri ia lontarkan, sembari mengurut kakinya yang menjadi memerah akibat keseleo tadi.
Melihat sasaran sudah berhasil masuk ketempat yang diinginkan ketiga Pria nampak tertawa terbahak-bahak melihat rencananya berhasil sesuai diinginkannya.
"Apa yang kalian inginkan kenapa kalian malah menjebak-ku kesini tolong aku ... Tolong aku ...
"Lihat Wanita ini berteriak meminta tolong, tapi sadarkah jika disini tidak ada siapa-siapa selain kita apa mungkin ada seseorang yang akan menolongnya?"
"Sudahlah alangkah baiknya kita pergi dari sini, disini sangatlah sepi belum lagi awan mendung akan segera turun jadi cepat pergilah biarkan Wanita ini bermalam disini ayo pergi!"
"Kalian mau kemana tolong aku ... Tolong aku ...
Tak memperdulikan teriakan yang dilontarkan oleh Putri sejak sedari tadi, kedua Preman itu pun pergi meninggalkannya tanpa ada rasa kasihan sedikit pun.
"Kita sudah berhasil menjebak Wanita itu untuk masuk kedalam sumur itu jadi sekarang giliran rencana Nyonya selanjutnya." Pesan yang telah terkirim kedalam nomor WhatsApp Revi, Revi yang spontan melihatnya ia nampak puas akan rencananya.
"Baguslah cepat-lah pergi agar tidak ada seorang pun yang tau, sekarang giliran-ku selanjutnya,"balas Revi kemudian.
"Baik Nyonya,"balas salah satu anak buahnya.
"Akhirnya Wanita itu bisa aku manfaatkan juga, setelah ini apa yang harus aku lakukan kak Revan duluan pergi dan sekarang belumlah kembali jadi gimana caranya aku bisa menjebaknya juga?"batinnya.
Melihat Revi yang nampak senyum-senyum sendiri, Gibran yang tak sengaja melihatnya ia pun langsung menghampirinya.
__ADS_1
"Revi kamu kenapa? Kenapa kamu senyum-senyum sendiri siapa seseorang yang kamu ajak chat'an?"timpal Gibran yang spontan Revi pun menyembunyikan ponselnya.
"Gibran kamu sejak kapan ada disini?"
"Tidak perduli sejak kapan aku disini? Yang perlu kamu jawab siapa seseorang yang barusan kamu kirimkan pesan coba lihat!"
"Gak! Aku gak mau!"ucapnya yang tak memberikannya.
"Apa kamu berani membantahku sekarang?"timpal Gibran.
"Aku bukannya membantah aku hanya tidak ingin ribut apa kamu tidak bisa sekali jangan cari masalah?"
Tak tahan lagi Gibran yang secara langsung berniat merebut ponsel milik Revi. Dan belum juga niatnya berhasil, Revi dengan segera menghalanginya yang membuat saling rebut merebut pun terjadi diantara keduanya.
Dan belum juga Gibran berhasil mendapatkannya, Nina datang dan membuat pertikaian keduanya pun mereda.
"Ini Gibran kamu tau dimana Putri berada?"
"Putri? Bukannya dia ada sama kamu?"tanya balik Gibran.
"Tidak, sedari tadi aku bersama Putraku, aku berniat ingin meminjam sesuatu padanya tapi setelah aku akan masuk kedalam kamar hotelnya kamarnya kosong? Aku cari kemana-mana dia juga gak ada aku takut Putri kenapa-kenapa?"
"Astaga kamu itu terlalu memanjakan dia atau gimana? Dia juga udah dewasa apalagi dia juga sudah punya calon Suami apa mungkin dia sudah pindah kelain hati atau mungkin dia sudah cari penggantinya?"
"Rev? Kamu itu bisa gak sih dalam masalah ini jangan malah menambah masalah baru, jika tidak tau cukup diam dan tutup mulutmu apa kamu tidak bisa!"bentak Gibran.
__ADS_1
"Sudah-sudah kalian jangan berantem terus dong, ini lagi gawat kenapa kalian malah ribut
"Ya sudah aku akan tanya Bimo mungkin dia tau dimana Putri berada atau mungkin Putri bersamanya?"
"Baiklah cepat kita ke-kamarnya
"Baiklah!"
"Cari aja kesana aku rasa kalian juga tidak akan menemukannya,"batin Revi.
Mengetuk pintu kamar Bimo secara bertubi-tubi, sedangkan Bimo terlihat fokus dihadapan laptopnya, mendengar akan suara ketukan ia lantas membukanya dan keluar dari kamarnya tersebut.
"Gibran ada apa?"tanya Bimo setibanya ia keluar.
"Bim kamu tau dimana Putri sekarang dia pasti bersama kamu kan dimana dia?"
"Putri? Maaf kenapa kamu malah tanya sama aku, aku tadi lagi sibuk soalnya ada rapat secara daring jadi dari tadi aku tidak keluar kamar sekali pun ada apa? Memangnya apa yang terjadi apa Putri hilang?"
"Jadi kamu sama sekali tidak tau dimana Putri sekarang?"
"Iya sama seperti yang aku katakan aku tidak tau dimana dia apa yang terjadi?"
"Bagus? Jadi seperti maksud kamu? Pacar kamu hilang kamu tidak tau apa-apa, apa segitu sibuknya kamu pada pekerjaan kamu sampai-sampai pacar kamu hilang entah kemana kamu malah berlagak sok tidak tau kamu itu memacari Putri hanya untuk kesenangan kamu atau memang kamu benar-benar mencintainya?"
"Gibran! Apa maksud kamu? Kenapa kamu malah marah dan berkata seperti itu, aku akui aku salah karena tidak mempedulikan Putri tapi aku juga sibuk dengan pekerjaan aku. Apa kamu pikir dengan memperhatikannya setiap hari akan bisa membuatku kaya tidak! Jadi apa maksud kamu malah marah gini?"timpal Bimo yang sedikit heran dengan perilaku Gibran saat ini.
__ADS_1
"Sudahlah dengan berdebat tidak akan menyelesaikan masalah yang ada hanya akan menambah masalah baru, Nin kamu coba hubungi Revan siapa tau Putri Ada bersamanya aku akan mencarinya kearah sana, kita lebih baik berpencar untuk mencarinya jadi aku pergi dulu!"
BERSAMBUNG.