PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
MENIKMATI MALAM ROMANTIS 2


__ADS_3

21+


"Sudahlah! Lupakan. Kakak sendiri kenapa tidak mengancingkan pakaian dengan benar?" Ruby mengintip suaminya dari balik selimut. Baju tidur yang dikenakan sama sekali tidak dikancingkan sehingga bagian dada bidangnya yang sek*si terekpose begitu saja. "Apa perlu aku bantu mengancingkannya?"


Melvin melirik pakaiannya sendiri, lalu ia tersenyum ternyata istrinya memperhatikan dirinya. "Aku kira kamu pasti kelelahan hari ini. Makanya aku sengaja tidak mengancingkannya supaya lebih mudah untukmu melepaskan," ucapnya dengan nada menggoda.


"Hahaha ...." Ruby jadi salah tingkah dengan perkataan suaminya. Sudah bisa ditebak dari tipe suami agresif seperti dia. Ruby jadi malu sendiri sudah bertanya.


Srak!


"Astaga!" Ruby terkejut.


Selimut yang menutupi tubuh Ruby ditarik paksa oleh Melvin. Terpampanglah pemandangan langka yang bisa dinikmati oleh Melvin untuk pertama kali. Meskipun sudah sering melihat tubuh polos istrinya, penampilannya kali ini dengan berbalut pakaian tipis itu menurutnya lebih menggoda. Istrinya terlihat sangat sek*si dan menggairahkan. Pandangannya seakan terpaku tak bisa lepas dari sana.


Ruby merasakan hal yang berbeda. Ia malu dengan penampilannya. Apalagi mendapatkan tatapan intens dari sang suami. "Kembalikan selimutnya." pintanya.


"Untuk apa? Aku lebih suka seperti ini." Melvin terus memperhatikan istrinya yang masih malu-malu.


"Berhenti menatapku, aku jadi malu." Ruby mencoba menutupi wajahnya.


"Sepertinya aku tidak sanggup lagi." Melvin menarik Ruby ke dalam pelukannya secara cepat sampai Ruby terkejut. "Padahal malam ini aku tidak berniat untuk mengajakmu bermesraan. Tapi, melihat penampilanmu seperti ini, aku jadi tidak tahan," katanya.


"Kak ...." Ruby merasakan pelukannya semakin erat serta bunyi debaran jantung suaminya terdengar semakin jelas.

__ADS_1


"Rasanya malu untuk mengakui ini. Tapi aku selalu bernaf*su saat melihatmu. Kamu pakai pelet apa sih sampai aku tidak bisa jauh-jauh darimu?"


"Aku kan nggak ngapa-ngapain," jawab Ruby datar.


"Itu yang lebih bahaya. Kamu nggak ngapa-ngapain aja aku jadi ingin ngapa-ngapain kamu." Melvin melepaskan pelukannya. Ditatapnya wajah cantik yang ada di hadapannya, wajah datar yang bahkan tidak paham dengan desiran hasrat yang kini menguasainya. Ia rebahkan perlahan wanitanya di atas ranjang. Wajahnya semakin memerah pertanda keinginannya sudah semakin tak terbendung lagi.


"Aku tahu, selama dua minggu ini kamu hanya menahan diri dari rasa ketidaknyamanan saat kita bercinta hanya untuk menyenangkanku. Malam ini masih sama, aku ingin kembali merengkuhmu, memuaskan hasratku terhadapmu. Mungkin aku tidak bisa sepenuhnya memuaskanmu. Tapi, aku akan berusaha untuk melakukannya selembut mungkin agar ...."


Ruby menaruh jari telunjuk di depan bibir Melvin. "Kak, kamu tidak perlu merasa bersalah. Mendengarkanmu menginginkanku saja sudah membuat aku merasa begitu dicintai. Aku sangat bahagia bisa menikah denganmu."


Melvin menciumi tangan istrinya. Tanganya menyibakkan helaian rambut yang menutupi wajah seraya mendaratkan kecupan di dahinya. "Istriku sangat cantik," pujinya. Belaian tangannya turun ke arah pipi lalu berhenti memegangi dagu. Ia labuhkan ciuman mendalam pada bibir merona istrinya. Ruby mengalungkan kedua tangannya ke belakang leher Melvin sembari membalas ciuman yang diterimanya.


Ciuman intens penuh cinta semakin memperbesar hasrat di antara keduanya. Permulaan yang mereka lakukan dengan santai, tenang dan tidak terburu-buru. Satu persatu pakaian yang melekat berhasil ditanggalkan tanpa menyisakan sehelai benangpun yang menutupi.


Kecupannya dilabuhkan pada puncak bukit kembar yang menjadi favoritnya. Mulutnya sibuk meny*usu sementara tangannya mere*mas perlahan bukit satunya. Sesekali ia pipin puncaknya membuat sang istri tak henti-hentinya mengeluarkan suara kenikmatan.


Tangan kanannya yang masih menganggur perlahan diturunkan ke bawah membelai area perut lebih turun lagi ke area paha lalu berlabuh pada area rahasia istrinya. Jemarinya menari-nari di sana membuat pemiliknya semakin menggila. Tubuh Ruby sampai melengkung ke atas diiringi suara era*ngan keras. Perlahan tubuhnya terkulai lemas setelah mencapai puncak kenikmatan pertamanya.


Tanpa menunggu lama, Melvin sudah berpindah ke area bawah, mengecupi kepemilikan istrinya yang pasrah setelah ia buat lemas. Sebelum bisa mengatur napasnya kembali, suami nakalnya sudah memberikan kenikmatan kembali.


Sentuhan lidah serta kecupan kecil yang Ruby rasakan membuatnya semakin tidak berdaya. "Kak, ampun, ah...." ia mengencangkan pegangan pada sprei ketikan merasakan gerakan lidah suaminya semakin menggila, membuat dirinya seakan bisa meledak. Ia menge*rang saking nikmatnya apa yang ia rasakan. Sampai akhirnya, ia harus kembali lunglai dengan nafas yang tak teratur.


"Masih sakit?"

__ADS_1


Ruby menggeleng. Saat milik suaminya perlahan masuk, kali ini bisa berlangsung dengan mulus tanpa ia harus merasakan perih. Kebahagiaan yang ia rasakan malam itu seperti telah berhasil lulus dari ujian nasional.


Ruby tersenyum lega sembari memandangi suaminya. Aktivitas yang selama dua minggu ini tidak terlalu menyenangkan untuknya, akhirnya ia bisa merasakan kenyamanannya. Melvin memeluk istrinya. Ia turut bahagia Ruby bisa menikmati aktivitas bersamanya.


Perlahan ia mulai menggerakkan miliknya sembari memperhatikan respon sang istri yang ada di bawahnya. Ruby tampak lebih menikmati dari hari-hari sebelumnya.


"Ini gawat. Aku bisa kecanduan melihat kecantikanmu sepanjang malam," gumam Melvin.


Melvin dan Ruby saling menyatukan tangan mereka. Kedua bibir berpagutan sembari memacu hasrat yang telah menyatu di antara mereka. Hingga akhirnya puncak kenikmatan yang diharapkan bisa diraih.


"Terima kasih, Sayang. Malam ini sangat menyenangkan." Melvin mengelus pipi Ruby setelah memasangkan selimut di tubuh mereka.


"Kenapa kesannya seperti kita baru saja melakukan malam pertama?" Ruby menatap heran kepada suaminya.


"Setiap malam bersamamu memang serasa bagaikan malam pertama, Sayang. Pokoknya aku sudah sangat terhipnotis olehmu." Melvin masih mengelus-elus pipi Ruby sembari menatapnya dengan penuh cinta. "Bagaimana kalau kita segera membuat pesta pernikahan kita? Aku tidak ingin nanti anak kita lahir tanpa bisa melihat foto pernikahan kita di gedung dan suasana yang mewah."


"Aku menurut saja kepada Kakak. Tidak membuat pesta besarpun semuanya akan tetap sama, aku sangat mencintaimu." Ruby memajukan tubuhnya beringsut mendekat ke arah sang suami, minta dipeluk. Dengan manja ia sandarkan kepalanya pada sang suami.


"Apa ini kode untuk lanjut lagi?" tanya Melvin kegirangan. Keduanya memang belum berpakaian, mudah untuk kembali melanjutkan.


"Iihhh ... Kakak." Ruby memukul ringan dada kakaknya.


"Hahaha ... bercanda kok, Sayang. Kasihan kamu seharian sudah lelah. Terima kasih masih mau meladeni keinginan suamimu yang seperti binatang buas ini." Melvin memeluk lembut sang istri. Rasa cintanya kepada sang istri kian bertwmbah hari demi hari. Ia harap kehidupan rumah tangganya akan tetap terjaga selamanya.

__ADS_1


__ADS_2