PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
PERTEMUAN MENDEBARKAN


__ADS_3

Yang belum follow author atau favoritkan novel ini, ayo dong jarinya digerakkan untuk dukung author 😘


 


"Aku tanya sekali lagi, Elen, apa kamu yakin mau melakukannya?" tanya seorang wanita berpakaian sek*si yang sedang mengapit sebatang rokok menyala di sela jarinya. Wanita itu menghisap pangkal rokok itu lalu menghembuskan asapnya lewat mulut dan hidungnya.


"Aku yakin," jawab wanita yang bernama Elen itu.


Penampilan Elen tak kalah menggoda seperti temannya. Ia mengenakan lingerie berbahan transparan yang memperlihatkan setiap lekukan tubuhnya. Dari gerak-geriknya, wanita itu tampak tidak nyaman dengan pakaian yang dikenakan. Sesekali ia memegangi lengannya sendiri dengan kedua tangannya seakan ingin menyembunyikan bagian tubuh yang seharusnya tertutup.


"Aku tidak menyarankanmu untuk tetap melakukan ini jika memang tidak mau. Kamu boleh langsung pulang," ucap wanita yang sedang merokok itu.


"Tidak, aku yakin aku pasti bisa." Elen telah mantap pada keputusannya, ia sudah tidak bisa mundur lagi.


"Kalau begitu, kamu harus kembali ke kamar itu dan mencoba mengambil hati lelaki yang sudah membayarmu dengan harga tinggi."


Elen memikirkan lagi tentang lelaki yang sebelumnya telah mendatanginya di kamar. Karena ia terlalu takut dan grogi, lelaki itu hilang minat dan meninggalkannya begitu saja. Padahal ia sendiri yang telah mengambil keputusan, tapi ia juga yang takut dengan keputusannya.


"Kamu masih ragu, kan?" sekali lagi wanita itu bertanya."


"Tidak, aku yakin bisa melakukannya. Aku akan kembali ke kamar itu," tegas Elen.


Wanita perokok itu mangguk-mangguk, "Cepatlah kembali ke sana! Aku yakin lelaki itu sudah kembali ke kamarnya dan sedang menantimu."


"Baik, Tante." Elen menjawab dengan nada datar.


"Sebelum pergi ke sana, minum dulu ini, supaya rasa percaya diri dan keberanianmu meningkat." Wanita itu memberikan segelas minuman berwarna kecoklatan seperti teh kepada Elen. Tanpa memikirkan apapun, Elen tetap menerima minuman itu dan meneguknya habis.

__ADS_1


"Tante, aku pergi dulu ke kamar yang tadi," pamit Elen.


"Iya, Elen. Semoga kali ini kamu berhasil."


Elen mengangguk. Ia berbalik badan berjalan ke arah pintu keluar meninggalkan ruangan wanita yang ia panggil 'tante' itu. Nama asli wanita itu Sania, adik dari ayahnya. Setelah ayah Elen bangkrut, kehidupan Sania juga turut berubah.


Terbiasa dimanjakan oleh kakaknya, kehidupan glamor, membuat Sania terjerumus ke dalam dunia gelap agar bisa mempertahankan gaya hidupnya. Kelakuan buruknya itu kini segera menular kepada Elen, keponakannya.


Sebenarnya Sania juga tidak tega membiarkan Elen mengikuti jejaknya. Akan tetapi, Elen bilang sedang membutuhkan banyak uang dalam waktu yang cepat. Tentu saja Sania tidak bisa membantu. Jika Elen ingin mendapatkan uang, ia harus bekerja seperti dirinya, menjadi penggoda para lelaki kaya nan royal.


Elen berjalan menelurusi lorong klab dengan penerangan yang temaram. Setiap kali berpapasan dengan orang lain, ia berusaha menutupi dirinya. Jika ada yang mau menggodanya, ia memilih menghindar. Padahal pekerjaannya untuk menggoda lelaki, tapi ia malah takut untuk digoda.


Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya ia sampai di kamar yang sebelumnya ia tinggalkan. Sangat memalukan karena ia takut ketika ada lelaki yang hendak menyentuhnya. Lelaki calon langganannya itu otomatis marah dan langsung meninggalkannya begitu saja. Elen berniat akan meminta maaf nanti.


Pintu kamar tak terkunci, ruangan terasa sunyi seperti tidak ada orang. Namun, saat Elen sudah memasuki ke dalam, sayup-sayup terdengar suara kran air yang menyala dari arah kamar mandi.


Srek!


Pintu kamar mandi terbuka. Seorang lelaki keluar dari balik pintu itu hanya mengenakan selembar handuk yang menutupi bagian bawah pusarnya. Lekukan dada bidang yang atletis ditambah tetesan air yang masih membasahi, membuat lelaki itu tampak sek*si. Hanya saja, lelaki yang Elen lihat kali ini berbeda dengan yang sebelumnya ia temui.


Keduanya tampak canggung ketika saling menyadari keberadaan masing-masing di kamar itu. Elen merasa seperti pernah melihat lelaki yang ada di hadapannya saat ini. Ia mencoba menutupi dirinya dengan kedua telapak tangan.


"Bukankah kamu Dietisien yang pernah menangani ibuku di rumah sakit xxx?"


Mata Elen melebar. Ia mencoba mengingat-ingat kembali wajah lelaki yang ada di hadapannya.


"Anda ... Pak Ardi, putra Ibu Sukma?" Elen beberapa kali bertemu dengan pasien bernama Ibu Sukma. Ia juga pernah bertemu dengan Ardi.

__ADS_1


Seketika pikirannya menjadi kalut, mengingat Ardi adalah calon suami Ruby, temannya. Ibu Sukma sering menceritakan dengan bangga bahwa ia akan segera memiliki seorang menantu yang cantik.


"Mmm ... maaf, sepertinya aku salah kamar!" Elen buru-buru bangkit dari duduknya dan berniat meninggalkan kamar itu.


Sebelum pintu berhasil ia buka, Ardi sudah menghentikannya dengan menahan pintu. "Apa benar kamu wanita yang telah disewa oleh Rafael?" tanya Ardi.


Elen membeku. Jarak tubuhnya begitu dekat dengan lelaki itu. Ia bahkan bisa mencium aroma shampo dan sabun mandi yang dikenakannya. Lengan kekar yang menahan pintu itu, serta hawa hangat dari tubuh yang ada di belakangnya, membuat Elen semakin grogi.


"Aku yang menggantikan Rafael untuk menemuimu malam ini."


Elen meneguk ludahnya. Ia memang sangat membutuhkan uang itu. Tapi, ia tidak sampai tega untuk tidur dengan lelaki yang merupakan calon suami dari temannya.


Elen bingung, tidak mungkin rasanya Ruby akan memilih lelaki untuk dijadikan suami. Bisa-bisanya lelaki itu berniat tidur dengan wanita lain sementara pernikahan sudah dipersiapkan di depan mata. Namun, jika malam ini ia gagal, ia tidak akan mendapatkan uang yang sangat dibutuhkannya.


Elen menghela nafas. Dengan segenap keberanian, ia membalikkan badan menatap lelaki tanpa busana di depannya. Sekujur tubuhnya terasa merinding mengingat jarak mereka yang sangat dekat.


"Aku heran, kenapa pegawai rumah sakit ada di tempat seperti ini? Apakah gaji di rumah sakit elit itu sangat kurang?" sindir Ardi.


Elen sedikit tersinggung dengan perkataan Ardi yang menghubungkan antara profesi dengan pekerjaan sampingannya saat ini.


"Maaf, Pak. Saya rasa setiap orang memiliki alasan tersendiri untuk berada di sini. Bukan hanya saya, tetapi juga Anda." Elen berkata dengan nada tegas kepada Ardi. Ia tak mau menjadi wanita yang diremehkan.


"Bukankah Anda sebentar lagi akan menikah dengan Ruby? Kenapa Anda ada di tempat seperti ini sekarang? Apa Anda tidak memikirkan perasaan Ruby jika mengetahui calon suaminya ada di tempat seperti ini? Terus terang aku temannya Ruby sejak SMA." Elen sedang berusaha mengancam Ardi dengan kata-katanya.


Ardi sedikit terkejut mendengar fakta tersebut, "Sepertinya Ruby juga akan kecewa jika tahu temannya bekerja di tempat seperti ini," balasnya.


Elen menunduk karena ucapan Ardi sangat tepat. Ia sendiri merasa jijik terhadap dirinya sendiri. Seandainya bukan suatu keterpaksaan, ia tidak akan pernah menginjakkan kaki di tempat semacam itu.

__ADS_1


__ADS_2