
Nyenengin pembaca susah juga 🤧
...-----------...
21+
"Oh, Ya Tuhan ... aku kira kamu bercanda ngajakin bercinta malam ini, Kak," guman Ruby yang terbaring di atas ranjang membiarkan satu persatu pakaiannya dilepaskan oleh sang suami.
Ia kira tadi saat di luar Melvin hanya bercanda untuk menggoda Rei dan Gita. Suaminya mengajak masuk kamar untuk tidur lebih awal. Perilakunya sok mesra, menggunakan bahasa rayuan untuk mengajaknya bermesraan. Sesampainya di dalam kamar, bukannya tidur betulan malah membuka-buka baju tidur istrinya.
"Kapan aku pernah bercanda untuk hal yang satu ini. Mumpung dibolehkan dokter, harus ambil kesempatan. Nanti kalau mereka sudah lahir, mungkin aku yang akan tersisih."
"Ah ... siapa sih yang bakalan tega menyisihkan calon papa seganteng ini. Sisi-sini aku peluk ...." Ruby merentangkan tangannya. Melvin segera melepaskan pakaianya sendiri kemudian masuk ke dalam pelukan istrinya. Mereka berpelukan dalam posisi miring agar tidak menindih perut Ruby yang semakin besar. Keduanya saling berciuman. Hubungan mesra di antara mereka sedikitpun tak ada yang berubah meskipun Ruby dalam kondisi hamil.
Melvin memperhatikan Ruby secara cermat. Tubuh istrinya semakin banyak mengalami perubahan. Termasuk di area dadanya yang kini menjadi dua kali lebih besar dari ukuran normal. Tangannya tidak tahan untuk menyentuh area itu. Saat tangannya mulai menyentuh permukaan gundukan indah itu, Ruby tampak memejamkan matanya dan mendes4h pelan. Melihat respon yang diberikan, mulutnya men*yusu pada salah satu puncak bukit sementara tangannya memijat perlahan sisi yang lain.
Ruby hanya bisa mendes4h menikmati gelayar kenikmatan yang menjalar di sekujur tubuhnya. Selama hamil, tubuhnya menjadi lebih sensitif. sedikit sentuhan saja seakan bisa membuatnya melayang ke awan.
"Uhh ... Kak, rasanya aneh. Geli sekali."
Ucapan Ruby membuat Melvin tersenyum. "Aku jadi ingin kamu hamil terus." Ia kembali memandangi tubuh istrinya yang s3ksi.
"Aku kira Kakak akan membenci tubuhku yang semakin gendut." Ruby merasa sedikit malu dipandangi dengan intens oleh Melvin. Ia merasa tubuhnya sedang dalam kondisi paling jelek. Setiap bagian tubuhnya melar.
"Gendut? Kamu itu s3ksi, Sayang ... setelah melahirkan kalau mau hamil lagi aku juga tidak akan keberatan. Tubuhmu saat hamil sangat indah." Melvin menyentuh kembali area p4yud4ranya. "Terutama yang ini. Kalau bisa tetap sebesar ini setelah bayi kita lahir. Kalaupun nanti mengecil, aku buat saja kamu hamil lagi."
Ucapan Melvin membuat ia malu sekaligus senang. Tidak ada wanita yang tidak senang mendapat pujian dari pasangannya.
"Apa ini?" Pandangan Melvin fokus pada garis vertikal berwarna kecoklatan yang ada diperut istrinya seolah memberi pembatas bagi perut bagian kanan dan kiri. Ia rasa belum pernah melihat garis itu sebelumnya.
"Itu namanya linea nigra, Kak. Setiap ibu hamil pasti mengalaminya."
"Oh ... aku baru tahu." Melvin mengelus lembut perut istrinya yang membuncit. Ternyata ada hal yang baru ia ketahui setelah menikah hampir satu tahun.
__ADS_1
"Kenapa, Kak? Jelek, ya?"
"Tidak. Sudah aku bilang kamu tetap cantik mau sedang hamil atau tidak. Aku hanya ingin lebih mengenal dirimu, termasuk juga kondisi tubuhmu yang berubah selama hamil. Aku ingin tahu semuanya."
Melvin membuka kaki istrinya, memperhatikan liang surgawi yang selama ini sering dimasukinya. Melihat wajah malu-malu yang diperlihatkan sang istri, ia semakin ingin berniat menggodanya. Dibenamkan kepalanya pada kepemilikan sang istri, mereguk tetesan madu yang keluar dari dalamnya. Lidahnya digunakan untuk menyapu setiap sisi area itu, membuat pemiliknya meremang.
"Ah! Kak ... hentikan ... rasanya aneh ...." tangan Ruby merem4s rambut sang suami berusaha menjauhkan kepala itu darinya.
Melvin hanya menyunggingkan senyum. "Aku suka melihat tubuhmu memberikan respon yang nakal, Sayang." Ia meneruskan apa yang dilakukannya sampai akhirnya sang istri mendapatkan pelepasannya.
"Sayang, berbalik sebentar, ya ... pegangan di kepala ranjang."
Melvin membimbing Ruby agar berbalik membelakanginya dengan bertumpu pada lutut dan tangan yang berpegangan pada kepala ranjang. Ia peluk istrinya dari arah belang. Tangannya menjelajahi gundukan yang bergelantungan. Ia berikan ciuman di sekitaran tengkuk sembari mengarahkan miliknya pada kepemilikan sang istri dengan gerakan pelan namun konsisten. Hingga akhirnya tubuh mereka terhubung.
Bibir keduanya bertemu, saling mengecup menambah kein*timan di antara mereka. Ping9ul mereka bergerak seirama diiringi des4han yang bersahutan dari mulut keduanya. Saat luapan cinta seakan ingin meledak, gerakan mereka semakin cepat dan akhirnya mencapai puncak kepuasan bersama. Tubuh mereka limbung lemas setelah aktivitas yang begitu bersemangat. Dalam balutan selimut, keduanya saling berpelukan.
"Aku bahagia sekali bisa menikah denganmu, Sayang. I love you to the moon." Melvin mencium pipi istrinya.
"I love you too." Ruby menampilkan seulas senyum.
Ruby mengernyitkan dahinya. "Bukankah sudah terlalu terlambat untuk berbulan madu? Aku sudah hamil besar dan sebentar lagi akan melahirkan."
"Memangnya kenapa? Kita masih bisa bermesraan seperti ini walaupun kamu sedang hamil. Ada kan istilahnya yang sedang populer itu ... bulan madu untuk wanita hamil."
"Babymoon?"
"Nah, iya, benar. Lebih baik kita jalan-jalan sebelum kamu melahirkan. Kalau mereka sudah lahir, sepertinya kita akan kerepotan kalau pergi-pergi. Aku yakin orang tua kita tak akan rela membiarkan cucu-cucunya dibawa pergi jauh dalam waktu yang lama."
Ruby tersenyum-senyum. Ia teringat lagi dengan perdebatan antara mertua dan ayahnya. Mereka sama-sama ingin dekat dengan calon cucu pertama. "Kira-kira, apa ayah dan ibu benar-benar akan membeli tanah di sebelah?"
"Hm, kalau ayah dan ibu sudah berkata begitu, berarti mereka akan melakukannya. Kenapa? Apa kamu terganggu jika orang tuaku tinggal dekat denganmu?" Melvin mengeratkan pelukannya.
"Tidak. Aku justru senang jika kita tinggal berdekatan, jadi bisa merasakan punya banyak saudara."
__ADS_1
"Tapi nggak tahu kalau itu papa dan ayahku. Sepertinya mereka akan ribut setiap waktu."
"Kalau ada cucu-cucunya mungkin mereka akan akur."
"Aku harap begitu. Semakin banyak yang mengurusi anak-anak kita nanti, kesempatanku untuk berduaan bersamamu akan semakin banyak." Melvin kembali mencium istrinya. "Jadi, kamu mau aku ajak liburan kemana? Turki, Dubai, Perancis, atau New Zealand?"
"Eum, aku ingin ke Dubai."
"Boleh. Nanti aku persiapkan keberangkatan kita untuk bulan depan."
"Rei dan Gita diajak nggak?" tanya Ruby.
"Untuk apa mengajak mereka?" Melvin sungguh tak ingin membagi momen kebersamaan mereka dengan orang lain. Ia benar-benar hanya ingin jalan-jalan berdua saja.
"Supaya lebih ramai. Sebagai hadiah pernikahan mereka juga."
"Sekalian saja kamu ajak Ardi, Elen, Meka, dan Ferdian!" kesal Melvin.
"Itu ide yang bagus, Kak. Makin banyak orang pasti makin seru."
Melvin tercengang, sepertinya sang istri tak memahami isyarat yang diberikan. "Kamu menyuruhku liburan bareng Ferdian, Sayang?"
"Kan Kakak sendiri yang mengusulkan tadi."
"Aku tidak mau! Aku hanya mau kita jalan-jalan berdua saja!" Melvin langsung memanja dan memeluk istrinya.
*****
Sambil menunggu update selanjutnya, bisa mampir ke sini 😘
Judul : Terjerat Cinta Duda Hot
Author: Ummi Asya
__ADS_1