
Aku sadar kehidupan yang kita jalani terus berjalan tanpa adanya halangan yang akan menghalangi akan hadirnya kebahagiaan itu sendiri.
Aku bahagia akhirnya sekian lama aku berfikir kebahagiaan tidak akan berpihak padaku, kali ini aku percaya jika setiap kebahagiaan seseorang sangatlah ada, hanya butuh kesabaran lah bagi setiap orang untuk berhasil melewati tahap sulit dalam badai yang dilaluinya.
Memandang langit yang amat cerah tanpa adanya awan mendukung yang berseliweran mendukung akan suasana ini. Pandangan Putri nampak takjub akan adanya dua bintang yang saling berdekatan dengan indahnya. Sinaran yang dihasilkannya membuatnya serasa ikut terjatuh dalam suasana yang amat membahagiakan ini.
Sebuah tangan kemudian mulai melilit tubuhnya dari belakang, seorang pria yang tiba-tiba datang kemudian menenggelamkan kepalanya pada leher jenjang sang istri, bersamaan dengan belaian dan kecupan manis yang ditunjukkan pria tampan tersebut pada sang Istri. Sadar siapa yang datang dirinya nampak pasrah merasakan bel4i4n hangat yang ditunjukkan suaminya sendiri.
"Apa kamu menyukai dengan kecup4n yang aku berikan ini?"ledeknya yang tetap saja membel4inya.
"Apa kamu akan terus melakukan hal ini? Jika tiba-tiba saja ada seseorang yang datang dan memergoki kita apa yang akan kamu lakukan?"tanyanya dengan nada meledek.
"Aku rasa selain kita tidak akan ada lagi seseorang yang akan menganggu suasana indah ini. bukankah kamu juga tau kalau dikediaman ini hanya ada kita berdua? Ataukah kamu sengaja menggodaku karena kamu takut jika aku akan terus bertindak kelewatan lebih dari ini?"
"Aku sadar dengan siapa aku berhadapan saat ini,"ledeknya.
"Oh iya berhubung suasana kali ini sangat mendukung ada sesuatu yang ingin aku tanyakan sama kamu? Aku berharap mendengar pertanyaan ku ini kamu mampu membalasnya dengan jujur, jadi katakanlah apa yang membuatmu sulit untuk melupakan diriku?"tanyanya dengan lingkaran tangannya yang masih melilit tubuh istrinya.
"Apa aku harus menjawab semua pertanyaan kamu?" tanya Putri dengan air matanya yang tidak bisa berhenti mengalir.
"Iya kamu memang perlu menjawabnya?"
"Entahlah aku sendiri masih tidak menyadari kenapa aku bisa sekuat ini menghadapi laki-laki seperti dirimu? Bahkan kalau aku mampu aku juga bisa menikah dengan Pria lain, tapi sayangnya hanya mulut yang mampu terucap, sedangkan hati? Nyatanya hati-ku tidak semudah itu untuk melakukannya.
Bagiku mencintai dan memiliki-mu itu sudah jadi hal istimewa yang aku impikan dan ingin aku dapatkan selama ini. Jodoh? Kita tidak tahu siapa jodoh kita sama halnya dengan kita.
Walaupun sejak sedari awal kita tidak saling memiliki hati satu sama lain, berpisah karena adanya sebuah paksaan tapi sekarang dengan bisa berdiri langsung dihadapan-mu. Bahkan bisa berpelukan seperti ini aku sudah sangat yakin jika kamulah jodoh-ku kamulah jodoh yang selama dikirim Tuhan untuk menjaga-ku.
Jadi mulai sekarang jangan lagi bertanya alasan kenapa aku bisa mencintai-mu karena aku sendiri tidak tahu kenapa aku bisa mencintai-mu sampai sejauh ini, bahkan masih mau menerimamu aku masih tidak tau apa alasannya jadi kamu paham kan?"
Dekapan hangat telah diberikan Gibran untuk Wanita yang sangat ia cintai. Memeluknya dengan sangat erat, bahkan hampir membuat Putri sesak nafas lantaran sangking eratnya Gibran mendekap tubuh mungil itu tapi semua itu tidak menyurutkan rasa bahagia dari keduanya.
Terlihat dari raut wajah mereka terlihat sangatlah bahagia melihat semua ini, senyum bahagia yang terpancar lepas tanpa beban atau pun ketakutan yang mereka takutkan selama ini
Beberapa menit mereka berpelukan, Gibran mengakhiri pelukan itu ketika ingat dirinya masih punya satu tanggungan lagi.
Gibran yang kemudian dia pun membalikkan badan Putri menghadap kearahnya. Karena terlalu mendalami perasaannya, Gibran pun akhirnya memberanikan diri mendekati b1b1r mungil Putri yang memakai lipstik minyak tersebut. Perlahan-lahan dirinya rasanya inggin sekali mengigit bibir mungil tersebut, hanya berjarak sekitar lima senti Gibran sudah hampir berhasil menguasai b1b1r tersebut.
__ADS_1
Niat Gibran yang inggin sekali m*ngec*p bibir Putri sekali saja. Akan tetapi belum juga Gibran berhasil menyentuh bibir mungil tersebut, ia sudah keduluan dengan telunjuk jari Putri yang menghalangi dengan menyentuh bibir Gibran secara balik.
"Aku lupa kalau kamu belumlah mandi jadi cepat mandilah,"ucapnya dengan tersenyum puas melihat sang suami menciutkan bibirnya dirinya nampak puas bisa mengerjainya.
"Sial! Gagal lagi,gagal lagi!"kesalnya dengan memanyunkan bibirnya. Berlalu ia pun masuk kedalam kamar mandi untuk melakukan ritualnya. Sedangkan Putri sesekali pandangannya melirik kearah kamar dengan wajah senyumnya. Langkahnya mulai mendekati kamar itu hendak akan melakukan sesuatu yang sudah seharusnya ia lakukan.
Sehabis melakukan ritualnya, Gibran yang masih mengenakan handuk berwarna putih dirinya berjalan kedalam kamar serba putih. Melihat Putri yang sudah bersiaga diatas ranjang dengan balutan piyama yang terlihat seksi jika dipandangnya.
Meneguk sekali air lud4hnya, dirinya serasa puas dan bergairah melihat sang Istri yang sudah berpose dengan membaringkan tubuhnya diatas ranjang.
"Apa kamu sudah berani menggodaku?"ledek Gibran dengan kedua tangannya yang ia lipatkan ke depan. Mendengar akan ucapan Gibran yang ditunjukkan hanyalah sebuah senyuman.
Perlahan-lahan langkah kaki Gibran pun mulai mendekati kearah Putri. Tatapannya yang semakin menjadi sesaat ia memperhatikan bibir mungil yang dimiliki Gadis cantik yang sudah berada dihadapannya.
Ditambah memandang kaki putih mulus yang terdapat pada istrinya tidak tahu perasaan apa yang dirasakan Gibran saat ini, panas dingin mungkin perasaan itulah yang tepat ia gambarkan saat ini, ia tambah semakin mendekat lagi dan lagi.
Ikut merebahkan tubuhnya diatas ranjang dan menindihnya tepat diatasnya. Gibran merasa sangat puas jika tingal menghitung waktu ia akan bisa menguasai Istri tercinta dengan sepenuhnya.
Melihat Gibran yang berniat inggin menc1umnya, lantas Putri dengan sigap ia langsung melingkari pundak Gibran dengan pandangannya yang sudah bersiap.
Tak sampai disitu tangannya mulai nakal hingga melepaskan satu persatu tali piyama yang berada dalam ikatan pakaian yang dikenakan sang istri. Memandang sebuah pemandangan yang jarang ia lihat, ia nampak hanya tersenyum manis, bersamaan ia melepas handuk yang tadinya dikenakannya.
Gibran yang melihat lekuk tubuh Putri yang begitu indah, Gibran hanya bisa men99i9it bawah b*birnya seakan-akan g41rahnya tambah semakin terpancar.
Perlahan-lahan Gibran yang mulai mendekati wajah Putri. Putri pun akhirnya memejamkan matanya.
"Apa kamu sudah siap sayang?" bisik Gibran mencoba meyakinkannya.
"Iya aku sudah siap tapi bisakah kamu pelan-pelan," balasnya yang sedikit malu.
"Kamu tenang saja aku tidak akan menyakitimu sayang. Aku janji," balas Gibran yang kemudian ia pun mematikan lampu meja yang berada diatas nakas sampingnya.
Menarik selimut hingga menutupi sekujur tubuh mereka. Sedangkan keduanya hanya mengenakan pakaian d4l4mnya. Sedangkan Gibran g4ir4hnya seketika memuncak. Bahkan keringatnya yang mulai keluar ia akhirnya hilang kendali dan seketika langsung menikam b1b1r mungil Putri yang sudah sedari tadi telah berada dihadapannya.
Suasana semakin memanas tak ingin sama-sama melepaskan dua bibir manis yang sama-sama bermain. Keduanya malah semakin menjadi dan terus ******* bibir satu sama lain hinga hampir tak terlihat. Semakin terbawa akan suasana masing-masing, Gibran yang semakin menggila, Putri malah ikut menikmati ci*man hangat tersebut.
Tangan Gibran yang mulai meraba kemana-mana, bersamaan tangan itu mulai melepaskan tali B*a yang masih terpasang rapi pada tubuh wanitanya.
__ADS_1
Dirinya kemudian langsung melepaskan tanpa adanya larangan dari wanita yang sudah nampak pasrah. Sebuah gumpalan dua gundukan besar putih mulus lan kenyal ia mainkan, bersamaan tangannya mulai meremas sesuka hatinya, memainkan secara memb4b1 buta seakan-akan anak kecil yang sedang bermain dengan puasnya.
Dirinya terus saja memainkannya sehingga Wanita dari pemilik barang itu hanya bisa mengerang kepuasan, mengigit bibirnya sendiri. Tak kalah tangan nakal Putri mulai menggerayangi tubuh polos yang dimiliki sang Suami, tepat pada pucuk benda panjang lan menonjol ia mainkan dengan leluasa.
Suara des4h tambah semakin memancing Pria itu setelah si-pria yang mencoba menikmati dan mengisap cairan putih kental yang keluar dengan agak derasnya dari gundukan tersebut. Dan si Pria menikmatinya secara memb4b1 buta tanpa memberinya ampun.
Sang Wanita tangannya yang melingkari leher pria membuat des4h4n keduanya semakin menjadi sesaat sesuatu dari bawah berbentuk panjang menonjol mulai ia masukkan pada gua indah bertabur rimbunnya sesuatu seakan-akan berada dalam hutan yang sangat indah.
Keduanya lantas memulainya saling adu tarik menarik dalam hawa yang amat kepanasan, Gibran meng1g1t leher kanan Putri yang membuatnya rintihan des*han pun terdengar sangat berdes4h dari mulut keduanya lagi. Keringat basah yang ikut hadir pada keduanya tambah menambah suasana akan malam hangat ini. Sama-sama saling *****4* bibir satu sama lain membuat suasana ruangan ini sangatlah panas bagaikan adanya gempa yang terjadi.
Selesai melakukan ritual keduanya, satu pelukan lan kecupan akhirnya Gibran berikan pada Wanita yang sudah ada dihadapannya. Tak percaya dengan apa yang ia rasakan saat ini, Gibran yang merasakannya ia hanya bisa mengucapkan rasa syukur dan terima kasih atas apa yang telah ia dapatkan sekarang ini.
"Terima kasih, terima kasih kamu sudah mau menunggu-ku sampai hampir tujuh tahun lamanya terima kasih," ucapnya dengan memeluk dengan sangat Putri yang hanya mampu menangis, dirinya hanya mampu membalas pelukan hangat sang suami.
Aku sadar setiap manusia pasti ditakdirkan untuk bahagia. Entah bahagia karena apa tapi aku sangat yakin, setiap luka yang tertanam pasti akan tiba waktunya luka itu akan berubah menjadi kebahagiaan yang akan sulit untuk dilupakannya.
Dan kita berdua telah berjuang dengan keras apa yang harus kita miliki, suka duka sudah sama-sama kami lewati dengan rintangan yang sangat besar karena kita yakin takdir tidak akan pernah mengkhianati hasil setelah bersusah payah kita berjuang melawan rintangan terbesar kami.
"Aku sangat mencintaimu Gibran ... Aku sangat mencintaimu."
"Aku juga sangat-sangat mencintai kamu Put."
Terima kasih Tuhan. Terima kasih.
Wajah bahagia telah terpancar dari keduanya. Suka duka telah mereka rasakan selama ini. Dan cinta sejati? Mereka telah membuktikan jika cinta sejati akan tahu kemana dan dimana hati itu akan pulang pada tempat asalnya.
Memeluk erat, mencium kening dengan lembut. Keduanya yang sama-sama memberikan tatapan satu sama lain, dari raut wajahnya terlihat sangatlah bahagia hingga tidak tersirat seperti apa mereka harus menunjukkan rasa bahagianya itu.
Siapa sangka kehancuran yang selama ini terjadi pada mereka akan berbalik menjadi hubungan yang mengerti akan perjuangan dan kehilangan satu sama lain. Menunggu hinga 6 tahun lamanya ternyata telah membukakan dan memperlihatkan hubungan sepasang Suami-istri yang telah lama berpisah.
Bahkan bisa dibilang hubungan yang sudah berada dititik kehancuran itu pun berbalik menjadi satu ikatan yang akhirnya membuat keduanya memilih untuk menjalin hubungan kembali
TAMAT.
SEBAGAI PENULIS SAYA MINTA MAAF SEBESAR-BESARNYA JIKA ADA KONTEN YANG SEDIKIT TIDAK MENGENAKKAN SELAMA BERLANGSUNGNYA CERITA INI. SEBAGAI PENULIS YANG BERTANGGUNG JAWAB DALAM JUDUL INI, AKU UCAPKAN TERIMA KASIH SEBANYAK-BANYAKNYA KARENA KALIAN SUDAH BERSEDIA MENUNGGU CERITA INI SAMPAI TAMAT. DAN MENUNGGU DARI PROSES LANJUT SAMPAI TAHAP TAMAT SEKARANG INI. TIDAK BISA BANYAK KATA-KATA YANG MAMPU SAYA UCAPKAN, SEKALI LAGI TERIMA KASIH ATAS DUKUNGAN SEMUANYA TERIMA KASIH 🥰🥰🥰🥰
SAMPAI JUMPA LAGI DILAIN JUDUL SELANJUTNYA
__ADS_1