
Ruby masih berada di dalam ruang kerja Melvin. Seharian ini dia mondar mandir ke ruangan itu memenuhi keisengan CEO baru di kantornya. Ada saja alasan yang dibuat supaya dia bisa masuk ke dalam sana.
Ruby menjadi kasihan setiap kali melihat Tomi berdiri di depan pintu masuk ketika ia datang. Dia sekertaris yang perannya seperti satpam. Melvin memang kelewatan menggunakan jabatannya untuk bertindak sewenang-wenang terhadap bawahannya.
"Kenapa penampilan Anda masih rapi? Anda tidak berkeringat?" itu pertanyaan yang terlontar dari mulut Tomi ketika Ruby keluar dari ruangan Melvin.
"Memangnya di dalam kami bertanding basket sampai harus berkeringat? Dasar aneh!" gumam Ruby merespon pertanyaan Tomi.
Saat jam istirahat tiba, Ruby kembali dipanggil. Ia diajak makan siang bersama di dalam ruangan Melvin. Tomi yang disuruh membelikan makanan untuk keduanya. Dia serasa menjadi sekertaris merangkap pelayan yang serbaguna.
"Apa ada hal penting yang terjadi selama aku pergi?" tanya Melvin sembari meneguk sekaleng minuman dingin.
Ruby terdiam sejenak. "Bisa tidak jangan tanyakan hal seperti itu dulu? Aku tidak mau membuat perasaanmu buruk di hari pertama masuk kerja?"
Melvin semakin penasaran. Ketika Ruby berkata demikian, artinya ada sesuatu hal yang serius terjadi.
"Katakan ... aku mau mendengarnya." katanya.
"Tidak, kita bahas yang lain dulu." Ruby mencoba mengalihkan pembicaraan. "Pertama, kenapa kamu pulang dan masuk ke perusahaan ini tanpa memberitahuku dulu? Lalu, apa yang terjadi di sana sampai kamu harus kembali ke sini sebelum waktunya?"
Melvin tersenyum lebar mendengar pertanyaan yang begitu panjang darinya. "Jawabannya hanya satu, sih. Aku dengan di sini ada GM yang cantik, makanya aku buru-buru pulang."
Ruby menepuk dahinya.
"Aku serius .... " sambung Melvin.
"Kamu sudah bekerja keras selama beberapa tahun terakhir, Kak. Saat tiba waktunya menikmati hasil dari jerih payahmu, kenapa malah ditinggalkan?" Ruby serasa ikut lemas. Ia merebahkan kepalanya pada sandaran sofa. Ruby sangat tahu, betapa susahnya berusaha mulai daei bawah. Ia sampai pada jabatannya saat ini saja butuh dedikasi yang tinggi terhadap pekerjaan sampai dipercaya memegang jabatan yang lebih tinggi.
Melvin mengelus lembut sisi pipinya, "Memangnya kenapa? Aku rasa perusahaan ini juga tidak terlalu buruk."
"Itu karena kamu belum melihat langsung. Aku rasa Kakak nanti akan menyesal setelah beberapa lama di sini." Ruby berbicara dengan tatapan mata yang serius.
Melvin hanya bisa tersenyum. Wanita itu pakaian dan penampilannya saja yang kelihatan dewasa, tapi kelakuannya masih seperti seorang junior di kampusnya. Sesaat ia jadi merindukan masa mudanya.
"Sepertinya aku tidak perlu khawatir karena memiliki seorang GM yang cantik dan bisa diandalkan." pujinya.
"Aku serius, Kak .... " ucap Ruby.
Melvin membalas tatapannya. "Aku juga serius."
__ADS_1
"Ya sudah, aku mau keluar dulu. Jam istirahat hampir selesai."
Baru saja Ruby akan berdiri, tapi sudah ditarik lagi oleh Melvin. Dia disuruh tetap duduk di sana.
"Orang akan bertanya-tanya kalau aku di ruanganmu seharian."
"Mereka akan maklum, ada bos baru yang sedang banyak tanya kepada GM-nya." bantah Melvin.
"Kasihan sekertarismu masih berada di luar."
"Biarkan saja, dia memang dibayar untuk itu." Melvin menarik Ruby ke dalam pelukannya. "Aku masih ingin seperti ini. Tujuanku rapat pagi juga supaya bisa lebih lama bersamamu."
"Ternyata menyenangkan punya pacar di kantor. Apalagi kalau kita sudah menikah, kamar di sebelah sana sepertinya akan berantakan setiap hari." Pikiran Melvin mulai traveling membayangkan hal yang tidak-tidak.
"Aku akan menikah dengan Kak Ardi."
Ucapan Ruby membuat khayalannya seketika buyar. Ia melepaskan pelukannya dan menatap tajam wanita di hadapannya. "Ruby .... " Lidahnya serasa kaku untuk berucap. Ia mempercepat urusannya demi dirinya, tapi ....
"Kondisi Tante Sukma semakin memburuk. Pihak keluarga Ardi meminta untuk dipercepat rencana pernikahannya. Papaku juga menginginkan seperti itu."
"Aku tahu ini berita yang tidak enak untuk didengar, tapi aku rasa kamu harus tetap mendengarnya langsung dariku. Orang-orang kantor sudah tahu kalau aku sebentar lagi akan menikah."
"Apa Kakak bisa menerima keadaan seperti ini?"
Melvin tertawa. "Kenapa aku merasa kalau kamu sedang membalasku?"
Ia kembali mengingat masa lalu. Keadaannya kini berbalik, dia ada di posisi Ruby yang dulu. Seharusnya sangat mengesalkan, tapi ia justru ingin menertawakan keadaannya.
Ruby tersenyum. "Setidaknya papaku tidak mendatangimu dan memberikan sekoper uang agar mau meninggalkan aku." ledek Ruby.
Melvin tertarik mendengarnya. "Memangnya ayahku pernah melakukan itu?"
"Dulu ibumu pernah menawariku uang beberapa ratus juta. Tapi setelah tahu siapa papaku, Beliau langsung minta maaf."
Melvin terkekeh. "Ibuku pasti sangat malu." gumamnya. "Aku juga pernah merasa begitu."
Ia malu mengingat masa lalu. Dulu ia pernah berusaha menjadikan Ruby sebagai wanita simpanannya. "Apa sekarang giliranku jadi lelaki simpananmu?" tanyanya.
"Sepertinya aku tidak akan kuat membiayai kehidupan CEO untuk menjadi simpanan karyawan sepertiku." Ruby menjawabnya sambil tertawa.
__ADS_1
"Kamu tenang saja, aku tipe simpanan yang mandiri, tidak butuh diberi kartu kredit, tapi aku yang akan memberikan benda itu untukmu." Melvin mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam dan memamerkannya kepada Ruby.
"Oho! Baru kali ini ada orang yang memohon-mohon untuk dijadikan simpanan."
"Tapi kartu ini tetap aku ambil, ya!" Ruby merebut kartu dari tangan Melvin. "Daripada kamu memberikannya untuk sembarang wanita, lebih baik aku yang simpan."
"Ya, pakailah sesukamu. Aku mendapatkannya memang untukmu." Melvin mengusap puncak kepala Ruby. "Nanti belikan pakaian yang lebih bagus, jangan model terbuka seperti ini." Melvin kembali mengkritik rok Ruby yang menurutnya terlalu pendek.
Drrtt ... drrtt ... drrtt ....
"Tunggu sebentar!"
Ruby meminta izin untuk mengambil ponsel dari dalam tasnya. Ternyata ada nomor Ardi yang terpampang di layar ponselnya.
"Siapa?" tanya Melvin.
"Ini Kak Ardi." ucapnya seraya mengangkat telepon tersebut. "Halo, Kak?"
"Kamu masih di kantor?" tanyanya.
Ruby terdiam seketika. Ia memijat keningnya karena lupa hari ini ada janji dengan Ardi dan Tante Sukma.
"Ah, iya, Kak. Aku masih di kantor. Maaf, aku lupa karena ada banyak kerjaan hari ini." ia sambil melirik ke arah sampingnya. Lelaki di sebelahnya juga sedang melirik tajam ke arahnya.
"Kalau begitu aku jemput sekarang, ya. Mama sudah lama sekali menunggu."
"Iya, Kak. Maafkan aku sekali lagi." Ruby jadi merasa bersalah terutama kepada Tante Sukma karena kedatangan Melvin mendadak, ia jadi melupakan mereka.
"Kamu bersiap-siaplah, 15 menit lagi aku sampai di sana."
Ruby menutup kembali teleponnya. Ia menghela nafas sejenak.
"Kalian membicarakan apa?" wajah Melvin tampak masam.
"Hari ini aku ada janji bertemu Tante Sukma."
*****
Terima kasih sudah membaca 🙏🏻
__ADS_1