PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
MIRISNYA NASIB GITA


__ADS_3

Gita berjalan lunglai menaiki satu per satu anak tangga rumah susun yang saat ini menjadi tempatnya tinggal. Setiap kali pulang kerja, dia seperti mobil yang kehabisan bensin. Rasanya berat untuk dibawa berjalan. Sudah kelelahan di kantor, masih harus berjuang menaiki tangga rumah susun sampai di lantai tiga.


"Assalamu'alaikum!" serunya sembari menutup kembali pintu yang baru ia buka.


"Wa'alaikum salam," jawab Ririn, teman baik Gita. Ririn sedang mencuci piring mengalihkan pandangannya ke arah Gita yang baru datang. "Kenapa lagi, Git?" tanya Ririn.


"Capek!" keluhnya. Ia merebahkan diri di atas sofa sembari menghela napas panjang.


"Setiap hari ngeluh capek terus. Namanya kerja ya capek lah, Git!" Ririn menyudahi aktivitas mencuci piring. Ia berjalan menghampiri Gita.


"Suamimu kan pelayaran, Rin. Kenapa sih tinggal di rumah susun seperti ini. Mana tinggal di lantai tiga, nggak ada lift pula. Sama aja kayak neraka."


"Ee ... dasar tidak tahu terima kasih! Sudah untung diizinkan numpang tinggal pakai menghina pula. Aku usir tahu rasa kamu!" ancam Ririn.


"Aduh, punya teman satu juga jahat banget mau usir aku. Sungguh malang memang nasibku ini." Gita memasang wajah memelas dan teraniaya.


"Pulang sana ke rumahmu!"


"Aku mana punya rumah, sih, Rin ... aku kan gelandangan." Gita jadi ingat perkataan bosnya tadi siang. Dia memang gelandangan yang tidak punya apa-apa.


"Sudahlah, pulang saja ke rumahmu. Memangnya ibu tirimu bisa apa kalau kamu masih mau tinggal di sana? Itu juga rumahmu." Ririn sudah lama mengenal Gita. Mereka sudah bersahabat sejak SMA. Apa yang terjadi dengan Gita, dia sudah sangat tahu.


"Aku sudah disuruh pergi, Rin. Kalau aku tetap di sana, aku bisa gila. Biarkanlah dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Toh tujuan utamanya menikahi papaku juga karena uang." Gita membayangkan kembali wajah ibu tirinya. Mungkin secara fisik dia tidak tersakiti, tapi secara mental, ibu tirinya benar-benar meyakitinya.


Gita pernah diberi asupan obat batuk anjing jenis dextro yang diam-diam dimasukkan dalam minumannya selama berbulan-bulan sampai ia hampir gila. Dia hampir membunuh ibu tirinya karena di luar kesadarannya. Hal itu yang dijadikan alasan untuk mengusir Gita dari rumahnya.


Gita memilih pergi dari rumah atas saran pembantunya yang bernama Bi Tanti. Pelayan setia yang sudah mengikutinya sejak kecil itulah yang memberitahu Gita agar berhenti meminum minuman sehat yang diberikan oleh ibu tirinya.


Ia menemukan bungkusan obat aneh yang tak sengaja dijatuhkan oleh ibu tirinya setelah membuatkan minuman untuk Gita. Ketika Gita mengecek obat tersebut ke rumah sakit, ia sangat terkejut karena ternyata obat itu adalah obat batuk anjing.

__ADS_1


Gita memeriksakan diri ke dokter. Untung saja syarafnya belum mengalami kerusakan. Ia harus menjalani serangkaian pengobatan untuk menetralisir obat yang terlanjur masuk ke dalam tubuhnya. Mulai saat itu Gita menjalani kehidupannya sendiri di luar rumah.


Gita menyelesaikannya kuliahnya dengan baik. Awalnya ia ikut menangani proyek-proyek kecil milik temannya sebelum akhirnya diterima di perusahaan yang cukup ternama. Selama beberapa tahun bekerja di perusahaan ternama, ia memperoleh gaji yang lumayan tinggi sampai bisa membeli sebuah apartemen yang cukup bagus.


Gita kira kehidupannya akan baik-baik saja, apalagi ia memiliki kekasih yang sangat menyayanginya. Mereka saling berjuang berusaha keras dan menabung dengan tujuan untuk menikah suatu saat.


Mimpi tak selamanya terwujud. Pada akhirnya Gita harus berpisah dengan kekasihnya karena perselingkuhan. Tidak cukup sampai di situ, semua tabungan dan apartemen yang diperolehnya dengan susah payah harus ikut raib. Pekerjaan juga hilang. Gita kembali ke titik nol.


"Apa kataku dulu, kamu terlalu cinta dengan Jimmy akhirnya jadi seperti ini."


"Iya, Rin. Aku menyesal tidak mensengarkan kata-katamu yang dulu." Saat masih dekat dengan Jimmy, Ririn bilang lelaki itu suka tebar pesona dan memiliki ambisi yang tinggi. Dia tidak setuju jika Gita pacaran dengan Jimmy. Sepertinya akan berat mengikuti pemikiran Jimmy. Akhirnya terbukti. Bukan hanya selingkuh, tapi dia juga sampai menipu Gita.


"Ya sudahlah, aku anggap semua yang terjadi padaku sebagai pelajaran mahal untuk lebih hati-hati ke depannya."


"Pelajaran yang sangat mahal ya, Git. sampai ngalahin biaya kuliahmu."


"Hahaha ... kalau hidupku termasuk kuliah, aku akan mendapatkan gelar cumlaude sarjana mudah ditipu orang."


"Heh! Sialan! Kamu pikir aku semenyedihakn itu, apa? Aku masih hidup, itu patut untuk sangat disyukuri." Gita menganggap santai masalah yang dihadapinya.


"Kamu itu aneh, Git! Bisa-bisanya nggak sedih atau depresi menghadapi masalah sebesar itu." Ririn selalu tercengang dengan ketegaran temannya.


"Aku kan sudah pernah gila sekali, Rin, gara-gara minum obat anjing. Masa aku harus gila lagi hanya gara-gara ini. Toh harta bisa dicari lagi. Lebih mengerikan kehilangan akal daripada kehilangan harta."


"Iya sih, ucapanmu ada benarnya juga." Ririn mengiyakan ucapan Gita.


"Kamu kapan pindah sih, Rin? Betah banget tinggal di sini?" Gita kembali mengeluh dengan kondisi rumah Ririn.


"Suamiku kan baru tiga tahun ini kerja di pelayaran, Git. Masa aku harus langsung beli rumah baru? Habis dong nanti tidak ada yang ditabung. Aku harus berhemat."

__ADS_1


"Bisa tremor setiap hari kakiku naik turun tangga terus."


"Besok ngesot saja jangan jalan." Ririn melemparkan bantal ke wajah Gita.


"Hahaha ... bercanda, Git! Janga emosi lah. Aku juga sangat berterima kasih kamu sudah mau menampungku di sini. Terima kasih, Bestie." Gita memeluk lengan Ririn dan menyandarkan kepalanya di bahu Ririn dengan manja.


"Tidak perlu berterima kasih, Git. Kamu sudah aku anggap seperti saudara sendiri."


"Uuhh ... senangnya ... aku jadi merasa memiliki keluarga." Gita bahagia dengan perkataan Ririn. Hubungan mereka memangsudah sangat dekat bahkan seperti saudara kandung.


"Bagaimana dengan pekerjaanmu, Git? Kalau kamu kelelahan, mending berhenti saja. Coba cari pekerjaan lain yang tidak terlalu memuntut kerja fisik."


"Sudah, tidak apa-apa, Rin. Itu juga untuk sementara. Kalau aku dapat panggilan dari perusahaan lain, aku akan meninggalkan pekerjaan itu."


"Oh, iya. Aku mau cerita tentang presdir di perusahaanku."


Ririb langsung antusias untuk mendengarkan cerita Gita. Gita pernah bercerita kalau lelaki tampan yang pernah ditemui di klab malam ternyata adalah presiden direktur di perusahaan tempat Gita bekerja. Lebih gilanya lagi, Gita pernah mengajak bosnya itu tidur dengannya. Ia kira Gita akan langsung dipecat hari itu juga.


Ternyata, Gita masih bisa bertahan di perusahaan meskipun setiap hari mengeluh.


"Tadi siang dia memberikan kupon makan di kantin selama 2 minggu," ucap Gita sembari memperlihatkan kupon yang dimilikinya.


"Wah, royal juga dia, ya? Apa berarti kemarahannya padamu sudah hilang?"


"Aku tidak tahu. Meskipun dia cukup menyebalkan, tapi aku rasa dia punya sisi yang baik juga."


*****


Judul : Mr. Arrogant

__ADS_1


Author : Rahayu Ningtiyas



__ADS_2