
"Aku sudah ada di parkiran rusun." ucap Rei melalui sambungan telepon.
"Tunggu sebentar, aku akan turun." jawab Gita dari seberang telepon.
Rei datang menjemput Gita di kawasan rumah susun. Malam ini, ia akan mengajaknya datang ke pernikahan Livy seperti kesepakatan yang telah mereka buat. Rei agak ragu juga membiarkan Gita berpakaian menurut seleranya. Makanya dia datang lebih awal agar bisa langsung menariknya masuk salon jika wanita itu tidak memiliki selera fashion yang bagus.
Orang pasti akan menertawakan jika wanita yang akan ia bawa hanyalah seorang petugas kebersihan. Wajahnya memang lumayan cantik, tqpi jika tidak ditunjang dengan penampilan yang menonjol, maka kecantikannya tidak akan terpancar.
Setidaknya Livy harus merasa lega saat ia menggandeng seorang wanita yang tampak cocok untuknya. Kalau boleh terus terang, Rei masih belum bisa melepaskan Livy. Meskipun begitu, tetap ia lakukan untuk kebaikan bersama dan kebaikan dua keluarga besar. Bagi manusia yang ber-Tuhan, maka cinta bukanlah hal besar ketika dihadapkan pada perbedaan keyakinan.
"Selamat malam, Pak ...." sapa Gita yang sudah berdiri di sisi jendela mobilnya.
Rei sampai tercengang melihat penampilan Gita malam itu. Dia sangat berbeda dengan kesehariannya saat bekerja di perusahaan. Ibaratnya ia seorang Upik Abu yang berubah menjadi Cinderella dalam semalam. Pakaian yang dikenakan tampak elegan ditunjang oleh tatanan rambut dan riasan wajah yang sesuai, membuatnya cantik paripurna.
"Kenapa, Pak? Penampilan saya masih kurang bagus?" Gita keheranan dengan respon bosnya. Padahal ia berharap mendapat pujian setelah seharian berusaha merias wajah sebagus mungkin dibantu oleh Ririn.
"Masuklah!" Rei tak memberi komentar apapun. Ia hanya menyuruh Gita masuk ke mobilnya. Dengan perasaab agak kesal, Gita berjalan memutari mobil menuju pintu sebelah sopir.
"Kamu cantik sekali malam ini."
Pujian Rei membuat Gita tertegun. Kekesalan yang tadinya bercongkol di hati langsung hilang. Ia hanya tersenyum tipis. Padahal, di dalam pikirannya ia sudah berteriak-teriak penuh semangat sembari jungkir balik saking senangnya.
Rei melajukan mobilnya. Suasana sepanjang perjalanan hening, keduanya sama-sama malu untuk memulai pembicaraan. Sesekali Gita mencuri pandang ke arah lelaki di sebelahnya. Penampilannya sangat keren dan Rei terlihat tampan. Mungkin Gita telah menggunakan keberuntungannya selama sepuluh tahun hanya untuk jalan berdua dengan bos terkerennya.
"Aku kira kamu tidak bisa dandan. Aku sengaja datang lebih awal karena khawatir nanti aku dikira datang dengan pelayan."
Sepertinya Gita harus menyimpan lagi pujian untuk bosnya. Setelah memuji, sekarang pandai sekali ia menghinanya. Kejujuran Rei membuatnya kesal.
"Walaupun sekarang miskin, saya pernah kaya, Pak! Jangan meremehkan saya. Pakaian bagus, perhiasan, aksesoris, semua masih saya miliki. Table manner juga saya masih ingat. Petugas kebersihan yang bekerja di perusahaan Anda ini bukan kaleng-kaleng, ijazahnya saja sarjana. Jangan lupa imbalan yang setimpal misi kali ini selesai!" gerutu Gita.
Rei senyum-senyum sendiri mendengar keluhan Gita. "Sarjana tapi tidak kompeten, sampai sekarang juga tidak ada yang merekrutmu. Belum ada panggilan kerja kan, dari perusahaan lain?"
Sindiran Rei memang kenyataan. Gita banyak mengirimkan lamaran ke berbagai perusahaan. Anehnya, tidak ada satupun yang memberikan kabar. Ia sendiri semakin pesimis, rasanya sudah lelah terus-menerus menjadi petugas kebersihan yang gajinya kecil tidak sebanding dengan tenaga yang harus dikeluarkannya.
__ADS_1
"Makanya bantu, Pak! Anda tahu kompetensi saya, tolong berikan pekerjaan yang pantas. Saya kan sudah banyak membantu Bapak!"
"Kamu meminta imbalan atas jasamu? Nggak dapat pahala, loh ...."
"Saya juga butuh uang, Pak. Kalau orang yang tahu diri pasti mau membalas budi."
Rei selalu suka sikap blak-blakan yang Gita tunjukkan. Mungkin sisi itu yang membuat wanita itu menjadi menarik.
"Make up, pakaian, dan perhiasan yang saya gunakan mahal loh, Pak!" tambah Gita.
"Hahaha ...." Rei tidak bisa menahan tawanya. Sebagai lelaki yang meminta bantuannya, ia jadi merasa tidak enak hati sudah merepotkan wanitanya. "Baiklah, kalau aku puas dengan aktingmu malam ini, nanti akan aku pikirkan untuk menempatkanmu di posisi yang sesuai dengan keahlianmu."
"Pegang ucapan Bapak, ya!" Gita semangat sekali dengan imbalan yang Rei janjikan.
"Tentu, aku orang yang pantang ingkar janji. Makanya berusahalah sebaik mungkin berperan sebagai wanita yang terlihat sangat aku cintai."
"Akting keahlian saya, Pak! Jangan khawatir!" Gita semakin bersemangat untuk menjalankan misi mereka malam ini.
"Oh, iya, ya ... Bapak mau dipanggil apa?"
"Kenapa malah tanya saya? Itu kan tugas kamu untuk berpikir!" Rei memilih fokus pada kemudinya.
"Ck!" Gita berdecak kesal. "Saya panggil Honey, ya ...?"
"Aneh!"
'Katanya suruh mikir. Aku juga merinding tahu harus memanggil orang songong ini honey.' gerutu Gita dalam hati.
"Terus, saya harus panggil apa? Sayang? Mas? Kakak? Cinta? Oppa? Yeobo?"
"Panggil nama saja! Panggil aku Rei."
Ternyata pilihan yang Gita ajukan tidak ada yang diterima. "Baiklah, saya akan menanggil Anda Rei. Jangan kaget kalau saya menggunakan bahasa yang tidak formal dengan Anda, ya ...."
__ADS_1
"Sebentar lagi kita sampai."
Rmembelokkan mobilnya ke sebuah hotel menuju area parkir yang terletak di basement. Sudah Gita duga, pernikahan yang akan mereka hadiri pasti untuk kalangan atas. Tidak mungkin orang biasa menyelenggarakan pernikahan di hotel semewah itu.
Rei mengajaknya Gita masuk ke dalam lift. Tampak Rei menekan angka 20. Beberapa saat kemudian, mereka sampai pada lantai yang di tuju.
Baru keluar dari lift saja sudah banyak karangan bunga ucapan selamat yang terpajang di sepanjang lorong. Wanita-wanita cantik berseragam gaun warna salem berjajar menyambut tamu di area pintu masuk. Tamu-tamu lain yang datang juga mengenakan pakaian formal mereka.
Gita menggandeng lengan Rei. Perbuatannya malah membuat Rei kaget. "Kenapa kamu kaku begini, Rei ... kita kan sedang akting." Gita terkekeh. Ia serasa punya kesempatan untuk menggoda bosnya yang menyebalkan. Tanpa ragu, kepalanya disenderkan pada lengan Rei dengan mesra.
Rei membiarkan saja Gita melakukan apa yang ia suka. Mereka berjalan beriringan memasuki area dilaksanakannya pesta pernikahan. Karena datang cukup awal, acara belum dimulai. Akan tetapi, tamu undangan sudah cukup banyak yang hadir san memenuhi bangku sesuai nama mereka.
Rei tidak lantas ikut duduk di salah satu bangku yang ada di sana. Ia membawa Gita masuk ke area dalam gedung.
"Kita mau ke mana?" tanya Gita penasaran.
"Menemui calon pengantin wanita."
"Mantanmu itu, kan?"
Rei mengangguk. "Namanya Livy. Kamu harus mengingatnya."
Tak berapa lama, Rei membuka pintu sebuah kamar yang didominasi warna putih. Ada seorang pengantin yang dikelilingi oleh beberapa orang yang membantunya bersiap-siap. Gita sampai tak bisa melihat wajah pengantinnya.
*****
Sambil menunggu update, bisa mampir dulu ke sini ya ... yang suka dengan hal-hal kocak 😅
Judul : Gairah Duda Perjaka
Author : Mphoon
__ADS_1