
Livy merasakan kedatangan seseorang di ruangannya. Ia menyuruh orang yang yang sedang merapikan gaunnya untuk menyingkir sedikit. Livy tersenyum ketika melihat ada Rei berada di sana.
"Kalian keluar sebentar, ya. Aku mau menemui temanku dulu," pinta Livy kepada orang-orang yang melayaninya. Segera mereka menghentikan aktivitas, lalu keluar ruangan sesuai dengan permintaan sang pengantin.
Livy kembali menyunggingkan senyumannya. Ia berdiri sambil memegangi gaun putih mengembang bak putri lalu berjalan menghampiri arah Rei. Senyumnya berubah canggung ketika menyadari wanita yang sedang menggandeng mesra lengan Rei. Wanita cantik yang belum pernah ia lihat sebelumnya, tapi karena Rei membawa dia datang, sepertinya Livy tahu siapa wanita itu untuk Rei.
"Kak Rei, terima kasih ya, sudah datang." Livy mengulurkan tangannya.
Rei menjabat uluran tangan Livy. "Selamat atas pernikahanmu, Livy." Ia berusaha bersikap biasa meskipun sebenarnya jauh di dalam lubuk hati ada perasaan sedih melihat wanita yang pernah ia cintai akan menikah dengan lelaki lain.
Gita yang turut berdiri di sana seakan menjadi saksi antara dua orang yang saling mencintai namun tidak bisa bersatu. Awalnya Gita mengira Rei mengajak dirinya datang ke sana untuk balas dendam karena mantan pacarnya yang lebih memilih lelaki lain. Ternyata, perpisahan mereka bukan karena manusia, melainkan karena Tuhan. Gita baru sadar saat melihat tanda salib di altar pernikahan. Melihat sosok Livy dari dekat, Gita merasa iri. Pantas saja wanita secantik itu tidak mudah dilupakan oleh bosnya.
"Siapa dia, Rei?" Livy bertanya tentang wanita yang berada di sebelah Rei.
Gita mengeratkan pelukannya, menyenderkan kepala pada lengan Rei. "Selamat atas pernikahanmu, Livy. Terima kasih sudah melepaskan lelaki sebaik ini. Perkenalkan, namaku Gita, calon istri Rei. Semoga kita sama-sama bahagia," ucap Gita dengan penuh percaya diri. Ia seakan tidak rela jika auranya kalah dari calon pengantin di hadapannya.
Livy sampai tercengang dengan sikap wanita itu. "Apa dia benar calon istrimu, Rei?" ia agak tidak percaya melihat Rei sudah bisa melupakan dirinya.
Rei terasa berat mengakui perasaannya saat ini. Ia menarik pinggang Gita untuk mendekat padanya seolah mereka pasangan yang saling mencintai. "Seperti halnya dirimu yang sudah memantapkan hati dengan pasanganmu, begitupun aku yang akhirnya menemukan keyakinan bahwa Gita akan menjadi cinta terakhirku." Rei mengatakannya tanpa terbata-bata.
Meskipun ucapan itu hanya akting belaka, entah mengapa hati Gita tersentuh seakan kata-kwta Rei memang ditujukan untuknya.
"Seperti yang Gita katakan, aku harap kita berdua sama-sama bahagia dengan pilihan kita."
Livy tersenyum kaku. Ingin rasanya saat itu ia menumpahkan air matanya menyadari bahwa lelaki yang masih ia cintai telah menemukan tambatan hatinya. Tidak ada yang salah dalam hubungan mereka. Terkadang, hidup berjalan tak seperti yang manusia inginkan. "Iya, Kak. Kalau kalian menikah, jangan lupa untuk mengundangku juga," ucapnya.
__ADS_1
"Pasti."
"Kalau begitu, kalian keluar dulu, ya. Aku mau lanjut bersiap-siap."
"Iya. Kami permisi dulu."
Rei membawa Gita meninggalkan ruangan Livy. Mereka menuju ballroom bergabung bersama tamu undangan lainnya. Sebelum pengantin memasuki area pesta, mereka terlebih dahulu menikmati jamuan yang telah disediakan.
Rei mengambil segelas minuman sirup untuk melegakan dahaganya. Gita masih setia menemani sembari mencicipi kue-kue cantik yang tersaji di meja. Datang ke acara pesta menjadi kesempatan baginya untuk mengisi perut yang kosong. Ia belum sempat makan malam sebelum datang ke sana.
"Pak, Anda tidak minum alkohol?" tanya Gita setelah melihat Rei menghabiskan gelas kedua minuman sirupnya.
"Kenapa saya harus minum alkohol?" tanya Rei penasaran.
Rei terkekeh dengan ucapan Gita. Dia jadi kembali teringat dengan momen pertemuan pertama mereka. Niat hati Gita datang ke klab untuk mabuk dan tidur dengan sembarang lelaki, malah berakhir dengan sesi curhat bersama Rei.
"Aku tidak patah hati, aku hanya haus," kilah Rei.
"Jadi, bagaimana dengan akting saya hari ini?" Gita penasaran dengan penilaian Rei. Jika dinilai aktingnya bagus, artinya Gita akan mengucapkan selamat tinggal pada pekerjaannya. Rei akan mengangkatnya sebagai manager konstruksi di perusahaan. Dia akan bisa kembali menjadi kaya.
"Buruk sekali aktingmu." Bukanya dipuji, Rei malah mencela Gita. "Hari ini sepertinya aku yang lebih banyak akting daripada kamu. Seharusnya kamu yang membayarku."
Gita mengerutkan dahi, "Kalau sampai Bapak berani mengatakan sia-sia mengajak saya datang ke sini, yakin, lebih baik kita duel, Pak! Saya siap babak belur menghadapi Bapak. Saya sudah semaksimal mungkin berusaha, datang dengan perut kosong, mengenakan pakaian terbaik, serta repot merias wajah, bisa-bisanya disebut akting jelek?" omel Gita.
Rei menutupi mulutnya saking tidak kuat ingin tertawa melihat wanita emosi di hadapannya.
__ADS_1
"Saya serius, Pak! Saya pulang harus bawa hasil."
Rei menepuk kepala Gita tiga kali. " Sudah, sudah ... terima kasih atas bantuanmu malam ini, ya. Aku senang sekali." Ia menyunggingkan senyum.
Gita yang awalnya marah seketika menjadi penurut seperti seekor kucing. Ia tak berani marah lagi kalau bosnya sudah mengeluarkan kebaikannya.
"Mulai minggu depan, kamu saya tempatkan bersama manajer konstruksi di kantor. Kebetulan dia akan resign, makanya kamu harus banyak belajar dari dia supaya nanti siap menggantikannya. Jangan kecewakan saya, ya!"
Gita terdiam sesaat, seakan masih mengolah informasi yang baru ia dapatkan. "Ini serius kan, Pak?" tanyanya meyakinkan.
Rei mengangguk. Gita tersenyum lebar. Rasanya tidak sia-sia perjuangannya malam ini menemani Rei ke pesta.
Tak berapa lama berselang, MC mengumumkan bahwa pengantin akan memasuki tempat acara. Seluruh tamu undangan kembali duduk di tempat yang telah disediakan. Rei dan Gita turut duduk di sana.
Gita awalnya mengira bahwa Rei akan langsung pergi setelah menemui pengantin wanita. Akan tetapi lelaki itu tetap bertahan di sana bahkan menempati barisan tempat terdepan. Gita tak melepaskan pandangan mata darinya. Rei bertepuk tangan ketika mempelai wanita keluar digandeng oleh ayahnya menuju ke altar pernikahan.
Terkadang Gita ingin memahami apa isi hati Rei yang sesungguhnya. Apakah lelaki itu memang benar-benar kuat atau hanya berpura-pura tegar menerima kenyataan di depan mata. Jika Rei benar-benar cinta kepada Livy, seharusnya ia tak akan sanggup menghadiri pernikahan itu.
"Pak, Anda tidak sedih, ya?" tanya Gita penasaran.
"Kenapa aku harus sedih. Melihat orang yang aku cintai telah menemukan kebahagiaannya, tentu saja aku turut bahagia untuknya."
"Kalau begitu, Anda juga harus menemukan kebahagiaan Bapak, supaya Livy juga bisa turut bahagia dengan kehidupan Bapak."
Rei hanya tersenyum tanpa memberikan jawaban. Fokusnya kembali teralih pada Livy yang berdiri di depan altar bersama calon suaminya. Sebentar lagi mereka akan menjadi pasangan suami istri yang sah di dalam agama mereka.
__ADS_1