PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
PULANG KE RUMAH


__ADS_3

Meka menggandeng tangan Davin sembari memandangi rumah kecil miliknya yang sudah cukup lama ia tinggalkan. Rumah kecil penuh kenangan bersama putranya serta perjuangan kerasnya bertahan hidup berdua tanpa bantuan sanak saudara. Memang, ia punya cukup banyak tabungan, apartemen, bahkan penthouse yang dibelikan Ferdian atas nama dirinya. Akan tetapi, ia lebih memilih kembali ke rumah kecil penuh harapan.


"Meka ...."


Meka tersenyum melihat sosok wanita paruh baya yang menghampirinya. Bu Dhe Sumi, tetangga yang sering membantunya menjaga Davin saat ia sibuk kerja. Selama ini, Bu Dhe Sumi juga merawat rumahnya selama Meka meninggalkannya. Meka menitipkan rumah serta memberikan biaya perawatan setiap bulan agar rumah hasil kerja kerasnya tidak terbengkalai.


"Bu Dhe ... akhirnya kita bisa ketemu lagi." Meka langsung memeluk Bu Dhe Sumi dengan hangat. Keduanya tersenyum bahagia bisa berjumpa lagi.


"Bu Dhe Sumi ...." Davin ikut-ikutan memeluk wanita itu.


"Oh, Davin ... lama tidak bertemu kamu kamu sudsh semakin tinggi, ya!" Bu Dhe Sumi mengangkat Davin dan menggendongnya. Ia ciumi pipi Davin dengan gemas.


"Terima kasih ya, Bu Dhe. Sudah membantu menjaga rumah selama aku pergi."


"Membantu dari mana? Setiap bulan kamu bayar begitu!"


Meka tersenyum. "Jang itu tidak sebanding dengan bantuan yang selama ini Bu Dhe berikan kepada kami."


"Bantuan apa? Kamu sudah aku anggap sebagai saudara, saling membantu itu hal biasa dan memang sudah kewajibannya."


Meka sangat bersyukur dalam kehidupannya dipertemukan fengan orang-orang baik. Jika tidqk ada mereka, entah apa yang akan terjadi pada dirinya dan Davin. Di dunia ini orang asing bisa menjadi saudara sedangkan keluarga sendiri bisa seperti orang asing.


Bu Dhe Sumi tidak bisa berlama-lama menemani Meka dan Davin. Ia harus mempersiapkan makan malam sebelum suaminya pulang. Meka dan Davin kini sudah berada kembali di rumah yang masih tertata rapi seperti saat terakhir kali mereka tinggalkan.


"Ma, kita akan tinggal di sini lagi, ya?" tanya Davin dengan raut wajah yang terlihat murung.


"Iya, Sayang ... apa kamu tidak suka?" Meka mengelus kepala putranya dengan penuh kasih sayang.


Davin terdiam sejenak. "Di rumah Papa lebih seru, Ma. Ada banyak orang yang mengajak Davin main. Juga ada adek Callista. Oma dan Opa baik, suka memberi hadiah Davin." Memang cukup disayangkan saat Davin mulai diterima di keluarga Ferdian, Meka harus mengajaknya keluar dari rumah itu.

__ADS_1


"Mama minta maaf ya, Sayang ... Mama harus mengajakmu keluar dari rumah Papa. Tapi, kalau Davin memang mau tinggal dengan Papa, Mama akan mengantarmu ke sana." Posisi Davin sebagai cucu laki-laki pertama di keluarga Ferdian sangat penting. Sekalipun Meka akan diceraikan, Davin akan tetap dianggap sebagai bagian dari keluarga Ferdian, calon pewaris perusahaan dan bisnis keluarga.


"Tidak mau! Aku maunya tinggal dengan Mama. Hanya saja, kalau kita di sini pasti Mama akan jarang lagi bisa menemani Davin main. Mama pasti sibuk kerja seperti dulu."


Meka tersenyum. Ia tahu, Davin pasti punya kenangan buruk saat harus ditinggal kerja olehnya setiap hari. "Sekarang tidak lagi, Sayang. Mama akan lebih sering di rumah dan mengantarmu ke sekolah setiap hari. Kamu juga tidak perlu pindah sekolah."


"Mama serius, kan?" tanya Davin.


"Tentu saja. Mama kan tidak pernah bohong."


Tabungan Meka lebih dari cukup untuk membiayai kehidupannya dan Davin sampai anak itu dewasa. Meka tak lagi harus pusing memikirkan cicilan maupun biaya makan sehari-hari. Ia rasa kehidupannya ke depan akan lebih ringan daripada yang dulu.


*****


Gita meregangkan tubuhnya sembari bersandar pada kursi empuk yang kini menjadi teman kerjanya. Ia senyum-senyum sendiri. Sudah satu minggu ia memiliki ruang kerja sendiri sebagai wakil dari manajer konstruksi. Terbiasa kerja berat sebagai petugas kebersihan, kemudian bisa menikmati kembali pekerjaan nyaman hanya perlu duduk di depan layar monitor sudah membuatnya merasa masuk surga. Rei benar-benar bos terbaik di seluruh alam semesta. Lelaki itu menepati janjinya untuk memberikan pekerjaan yang lebih layak untuk Gita.


Jam sudah menunjukkan pukul rmpat sore, waktunya ia bersiap pulang. Ia simpan data yang baru saja diketik, lalu mematikan layar monitor di depannya dengan benar. Tak lupa ia bereskan meja kerjanya agar tidak tampak berantakan.


Sesampainya di jalanan yang agak sepi, langkahnya terhenti. Ada lima orang berpakaian rapi mengenakan jas hitam menghadang jalannya. Gita tahu mereka adalah anak buah ibu tirinya.


"Kalian mau apa?" tanya Gita ketus.


"Nyonya menyuruh Anda pulang, Nona Gita," jawab salah seorang di antara mereka.


Gita tertawa kecil. Dia kira ibu tirinya sudah tidak mau mengurusi dirinya lagi setelah berhasil mengusir dia dari rumahnya sendiri. Pasti ada sesuatu yang membuat wanita ular itu memanggil dirinya untuk kembali. Meskipun hidupnya di luar cukup berat, Gita lebih memilih keluar dari rumah. Tinggal di rumah mewah juga tidak membuatnya bahagia.


"Aku tidak mau!" tolak Gita dengan tegas.


"Kami tetap akan menggunakan cara paksa jika Anda menolak."

__ADS_1


Gita memasang kuda-kudanya nekad melawan lima orang yang pasti bukan tandingannya. Kelima orang berpakaian rapi itu terpaksa maju menghadapi nona muda yang tidak mau disuruh pulang secara baik-baik. Melawan langsung tentu tidak akan Gita. Ia memilih lari menghindar. Kelima orang itu turut berlari mengejarnya.


"Hah ... baru selesai kerja bukannya bisa beristirahat dengan santai malah harus olahraga sore," keluh Gita sembari terus berlari.


Setibanya di area taman yang lapang, ia terkepung dan tidak ada kesempatan lari lagi. Dua orang memegangi tangannya sampai ia tak bisa berkutik. Dengan mudahnya mereka berdua mengangkat tubuh Gita dan memasukkannya ke dalam mobil.


Gita duduk di bagian tengah diapit oleh dua bodyguard yang khawatir dia akan kabur lagi. Gita mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. "Aku mau pamit dulu dengan temanku, namanya Ririn. Kalian tahu, kan?" ucapnya karena dia dipelototi oleh para bodyguard.


"Halo, Gita? Kamu mau lembur atau bagaimana? Kok belum pulang?" Ririn di ujung telepon sudah memberondongnya dengan pertanyaan.


"Aku dipaksa kembali ke rumah oleh nenek lampir, Rin."


"Hah, apa? Kamu disuruh pulang ibu tirimu?"


"Ya ...." jawab Gita malas.


"Kok mau?"


"Dipaksa, Rin ... dipaksa ... di sampingku ada pengawalnya ini sedang melirik ke arahku karena meneleponmu." Gita menelepon sembari menyindir mereka. "Pokoknya kalau aku tidak pulang-pulang dan tidak ada kabar, cek ke rumahku, ya. Siapa tahu mereka membunuhku."


"Heh! Santai banget ngomong bunuh-bunuh."


"Nenek lampir kan memang ingin aku mati. Pokoknya, jadikan percakapan kita ini nanti sebagai bukti kalau aku tidak kembali."


"Iya, iya ... aku harap kamu akan baik-baik saja."


"Sudah dulu, ya ... mereka terus melotot padaku, takutnya aku dimakan hidup-hidup. Bye, Rin."


"Bye, Git."

__ADS_1


Gita mematikan teleponnya. Ia membalas tatapan pada bodyguard yang sejak tadi memperhatikannya. Ia julurkan lidah untuk meledeknya.


__ADS_2