
Kedua mempelai telah duduk berdampingan di depan penghulu. Para saksi dan pendamping pengantin turut menyaksikan prosesi sakral yang akan dilangsungkan. Acara dilakukan secara privat dengan pengamanan cukup ketat. Di area depan sengaja ditempatkan banyak penjaga untuk memantau kondisi sekitar. Mereka yang hadir juga tidak diperkenankan untuk mendokumentasikan momen sakral tersebut. Sebelum ijab qabul dilaksanakan, mereka mendengarkan khutbah nikah serta nasihat pernikahan yang disampaikan oleh penghulu.
"Baiklah, kita mulai saja ijab qabulnya." Pak penghulu menjabat tangan Rei. "Ya Tristan Russel Wijaya bin Haidar Wijaya, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Gita Putri Kusuma binti Pradita Kusuma dengan maskawin 2.000 lot saham BBCA dibayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Gita Putri Kusuma binti Pradita Kusuma dengan maskawin yang tersebut tunai!"
"Bagaimana para saksi? Sah?"
"Sah ... sah ...."
Terdengar suara tamu undangan yang ikut mengucapkan sah. Akhirnya, Rei dan Gita resmi menjadi pasangan suami istri. Mereka saling berpandangan dan tersenyum. Rasanya masih aneh kalau mereka sekarang sudah menikah.
Selesai acara ijab qabul, kedua mempelai bersalaman dengan keluarga dan tamu undangan. Ririn memeluk Gita sembari menangis haru. Perjalanan hidup Gita yang penuh liku berakhir bahagia di sisi Rei. Ia turut senang sahabatnya memperoleh pasangan yang baik seperti Rei. Harapannya mereka bisa melewati kehidupan rumah tangga dengan langgeng.
"Masih aneh rasanya melihatmu memakai pakaian pengantin. Tidak cocok banget tahu!" Ledek Ririn sembali mengusap air matanya.
"Cengeng banget, sih! Aku menikah loh, bukan meninggal ... kenapa kamu menangis?" Gita mencubit pipi Ririn dengan gemas.
"Aku menangisi Pak Rei, kasihan dia punya istri sepertimu. Mudah-mudahan dia kuat menghadapi wanita tipe tarzan."
Gita tersenyum mendengar perkataan Ririn. Candaan seperti itu bukan berarti apa-apa untuk keduanya. Mereka memang terkadang suka mengejek saat bercanda.
"Terima kasih ya, Rin. Sudah banyak membantuku selama ini. Mungkin aku sudah mati kalau tidak punya teman sepertimu." Gita kembali memeluk Ririn.
"Aku sudah menghitung biaya hidup selama kamu tinggal menumpang di tempatku. Totalnya 200 juta."
Ucapan Ririn membuat Gita melotot. Ia melepaskan pelukannya dan memanyunkan bibirnya kepada Ririn. "Dasar teman perhitungan!"
"Tidak apa-apa, sekarang kamu kan sudah kembali kaya. Itu tagihannya termasuk murah ya, karena belum termasuk biaya bersih-bersih karena kamu orangnya suka jorok kalau di rumahku."
"Bayarnya jangan pakai uang lah, gajiku sudah habis."
"Pakai saham saja bayarnya. Dapat berapa lot BBCA kalau 200 juta?"
"Sekitar 250 lot lebih."
"Gila sih, Rei memberimu 2.000 lot. Auto sultan jadi pengantin baru."
"Alhamdulillah, rezeki anak yatim piatu dan sebatangkara. Kenapa? Kamu mau juga? Jadi yatim piatu dulu ...."
__ADS_1
"Amit-amit, Git!" Ririn memukul lengan Gita.
"Kata Ibnu kamu sedang hamil?" tanya Gita. Ia ingin memasrikan ucspan suami Ririn benar atau tidak.
"Belum pasti. Aku baru telat haid beberapa hari. Doakan saja aku cepat hamil. Sudah tiga tahun menikah belum juga hamil, pusing ditanya orang tua dan mertua."
"Iya, Rin. Mudah-mudahan kamu hamil."
"Pak Rei sudah kasih marah besar, Git. Nanti malam jangan lupa berikan service yang terbaik...," goda Ririn. "Apa perlu aku mengirimmu minuman yang waktu itu?" bisiknya.
Mata Gita membulat. "Boleh, Rin! Kamu masih punya stoknya? Kasih ke aku, ya ...." Ia tampak bersemangat membahas hal itu.
"Masih satu pack. Nanti aku berikan sebagai kado pernikahan kalian. Supaya bulan madunya semakin hot, kan ...."
"Iya, Suhu ... terima kasih ajarannya ...."
Keduanya tertawa cekikikan. Mereka memang paling kompak kalau membahas hal-hal random seperti itu. Gita dan Ririn sama-sama gilanya.
"Oh, iya. Kenapa nama Pak Rei itu beda? Bukannya nama Pak Rei itu Reino Ahmad?" Ririn akhirnya bertanya karena saat prosesi ijab qabul dia merasa aneh mendengarkan nama yang disebutkan.
"Tristan Russel Wijaya?"
"Itu nama asli Mas Rei. Katanya waktu masih bayi pernah hilang dan ditemukan oleh keluarga Adinata. Namanya diganti menjadi Reino Ahmad Adinata."
Ririn hanya mangguk-mangguk. "Jadi, Pak Rei pernah saudaraan dengan Pak Melvin, ya? Sekarang mereka juga jadi saudaraan lagi, saudara ipar."
"Yang aku tahu seperti itu."
"Lucu kalau dibuat sinetron, judulnya Istriku ternyata kembaran adik angkatku. Hahaha ...." Ririn dan Gita kembali tertawa dengan lelucon kecil seperti itu.
"Gita ... foto-foto dulu sebentar!" panggil Ruby yang sudah berdiri di area pemotretan.
"Ayo kesana, Rin. Kita juga harus foto bersama."
Fotografer mengarahkan tamu dan keluarga yang ingin berfoto dengan pengantin. Para pelayan rumah juga turut ikut berfoto dan membuat suasana semakin meriah. Tangan Gita terus memeluk lengan Rei tak mau dilepaskan. Sesekali ia berpose menyandarkan kepalanya pada lengan Rei.
Selesai sesi foto-foto, dilanjutkan acara makan-makan. Gita merasa senang dengan situasi keramaian yang ada. Sudah sangat lama ia tak merasakan kebahagiaan semacam itu. Kali ini ia benar-benar merasakan memiliki keluarga.
Satu per satu tamu mulai berpamitan pulang. Tak terkecuali Pak Kennedy dan Ibu Kania. Mereka memberikan hadiah perhiasan sebagai kado pernikahan kepada Gita. Rei sudah mereka anggap anak sendiri, maka Gita juga menjadi menantu mereka.
__ADS_1
"Ayah ibu pulang dulu, Rei. Kalian baik-baik dan jangan suka bertengkar," Kania memberikan pesan bijak kepada Rei.
"Iya, Bu. Terima kasih sudah datang dan juga untuk hadiahnya."
Kania tersenyum. Ia memeluk Rei dengan penuh perasaan sayang. Bayi kecil yang dulu dirawatnya kini sudah resmi menikah. Waktu terasa berjalan begitu cepat tanpa ia sadari.
"Gita, tolong dampingi Rei sepenuh hati. Entah dalam kondisi susah ataupun senang, jangan menyerah untuk mendampinginya."
"Iya. Nasihat Ibu pasti akan saya ingat." Gita mencium punggung tangan Kania. Keduanya saling berpelukan.
Rei dan Gita mengantar kepergian mereka sampai di halaman depan. Kania dan Kennedy menjadi tamu terakhir yang pulang. Suasana yang semula ramai telah kembali sepi. Para pelayan mulai sibuk membereskan tempat acara. Mereka menjadi pihak yang paling sibuk setelah acara selesai.
"Kamarmu sudah dibereskan oleh Bi Minah, Rei. Bisa kalian gunakan untuk istirahat." Ruby tampak masih asyik menikmati makanan di piringnya. Saudara kembar Rei itu terlihat lebih berisi, bukan hanya karena kehamilan kembar, tetapi juga porsi makannya yang semakin bertambah.
"Ranjangnya juga sudah diganti dengan bahan yang kuat. Pokoknya aman untuk pengantin baru," Goda Melvin sembari menemani istrinya makan.
"Kamu jangan begitu, Sayang. Nanti mereka jadi malu dan pergi dari rumah." Ruby berusaha mengingatkan Melvin.
"Memangnya kenapa? Masa bercanda saja tidak boleh. Rei juga dulu mengomentari cara jalanmu waktu kita awal-awal menikah."
"Stt ...." Ruby langsung menutup mulut Melvin agar tidak melanjutkan bicaranya. "Ayo kita masuk kamar, aku sudah mengantuk," ajaknya.
"Kita juga main di kamar ya, biar tidak kalah seperti pengantin baru. Masih boleh, kan?"
"Kata dokter tidak boleh sering-sering, takutnya bayi kita lahir duluan sebelum waktunya."
"Aku bakalan hati-hati, kok ...."
Keduanya berjalan meninggalkan pengantin baru itu menuju kamar mereka yang baru. Sejak Ruby hamil, kamar mereka di pindah ke bawah agar ibu hamil itu tidak kelelahan.
*****
Sambil menunggu update selanjutnya, jangan lupa mampir 😘
Judul: Tante Love You
Author: MomPutt
__ADS_1