PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
OOO ... KAMU KETAHUAN


__ADS_3

Melvin terduduk di ruang kerjanya sembari mengingat-ingat obrolannya dengan Ardi semalam. Ardi menemuinya dan mengatakan bahwa ia sudah menyelesaikan pembatalan perjodohan dengan Ruby.


"Jaga Ruby, ya! Kalau sampai kamu meninggalkannya, ingat bahwa aku masih ada di belakangnya."


"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi." Melvin menjawab dengan penuh keyakinan.


Ardi menyunggingkan senyum. "Ruby itu cantik dan menarik. Meskipun aku mundur, masih banyak yang akan menginginkannya."


"Aku akan membuatnya hanya menginginkan aku."


"Hahaha ... keahlianmu sepertinya memang begitu. Wajar Ruby sampai tak bisa move on meskipun sudah pernah kamu tinggalkan."


"Aku tidak pernah meninggalkannya." kilah Melvin.


Melvin bangkit dari kursinya. Ia berjalan keluar dari ruangannya. Di depan pintu, ia berpapasan dengan Tomi.


"Anda mau kemana, Pak?" tanya Tomi dengan membawa setumpuk berkas di tangannya.


"Ke ruangan Ruby sebentar."


"Ada perlu apa? Biar saya yang menyampaikannya." Tomi menawarkan bantuannya.


Melvin meliriknya tajam.


"Anda mau pergi sendiri, ya. Silakan kalau begitu .... " Tomi tersenyum kikuk. Ia tak berani berkomentar jika sudah diintimidasi dengan tatapan seperti itu.


Melvin melanjutkan langkahnya. Ia harus melewati koridor kantor sepanjang 10 meter untuk sampai di ruangan Ruby. Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya memberikan sapaan.


Saat ia masuk, Ruby tampak sedang menerima telepon sambil tertawa-tawa di dekat jendela. Bahkan kehadiran Melvin di sana sampai tidak disadari. Ia jadi kecewa.


"Oh, Pak Presdir." Ruby segera mematikan teleponnya ketika melihat Melvin ada di sana.


Meskipun di luar kantor mereka memiliki hubungan dekat, saat bekerja ia berusaha untuk bersikap profesional. Melvin sendiri yang sering melanggar batasan antara pekerjaan dan hubungan pribadi.


"Telepon dengan siapa? Sepertinya sangat seru." Melvin bertanya dengan nada curiga.


"Hanya teman, Pak."


"Teman wanita atau lelaki?"

__ADS_1


Senyuman yang sempat merekah jadi pudar. "Maaf, Pak. Ada perlu apa Anda menemui saya?"


"Keperluan apa lagi kalau bukan untuk ini." Melvin berjalan maju mendekati Ruby. Tanpa basa-basi, ia langsung memeluk pinggangnya dan mendaratkan ciuman.


"Kak, ini kantor loh." Ruby menahan Melvin agar tidak terlalu jauh.


"Sebentar saja." Tanpa meminta persetujuan lebih dulu, Melvin menarik Ruby ke arah sofa lalu merebahkannya dan menciumnya kembali.


"Setidaknya tunggu sampai pulang." Ruby berusaha untuk menghindar dari ciumannya.


"Kapan? Beberapa minggu aku tidak diperbolehkan menemuimu." Melvin tetap kekeh ingin mencium.


"Kemarin kan ada banyak kerjaan, siapa coba bosnya yang tega melimpahkan setumpuk pekerjaan padaku?"


"Itu kan alasan supaya kamu datang terus ke ruanganku. Kita bisa mengerjakannya bersama-sama." Ciuman Melvin mulai turun ke arah leher karena Ruby menolak bibirnya.


"Kalau seperti itu, aku yakin tidak akan dikerjakan karena Kakak pasti mengajak untuk melakukan hal lain."


Melvin memandang lekat wanita yang ada di bawahnya. "Urusanmu dengan Ardi sudah selesai, kan? Kapan aku boleh menemui Pak Wijaya untuk melamar putrinya?"


"Kalau sekarang, sepertinya terlalu dekat waktunya. Papaku baru tahu kalau aku dan Kak Ardi putus."


Melvin mengernyitkan dahi, "Memangnya kenapa? Lebih cepat lebih baik, kan?"


Melvin memeluk erat tubuh Ruby. "Kenapa rasanya lama sekali. Kalau seperti ini terus, aku rasa akan melampaui batas."


Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang memperhatikan mereka dari balik pintu. Melvin memang ceroboh. Setelah masuk ke dalam, ia lupa untuk mengunci pintu.


*****


Malam ini Melvin mengantar Ruby pulang ke apartemen. Mereka membawa mobil masing-masing untuk menghindari isu yang tidak benar tentang mereka. Apalagi Melvin seorang pengusaha yang terbilang baru, sehingga menjaga nama baik adalah sesuatu yang tidak perlu.


Sesampainya di basement apartemen, barulah Ruby dan Melvin kembali berani bergandengan tangan. Setelah sekian lama, ini pertama kali mereka bersama lagi. Beberapa minggu yang lalu, mereka menghormati meninggalnya Tante Sukma. Ruby juga memilih fokus pada pekerjaan.


Ruby menempelkan kartu akses apartemennya, lalu menyalakan lampu ruangan yang masih dalam kondisi mati ketika ia tinggalkan.


Baru saja masuk, Melvin sudah memeluknya kembali. Mengangkat tubuh wanita yang menurutnya ringan tanpa tanpa rasa sabar. Ia tidak bisa menunggu lagi sampai mengganti pakaian atau mandi untuk bermesraan dengannya.


Tubuh Ruby direbahkan ke atas sofa, keduanya saling bercumbu mesra seakan dunia hanya milik mereka berdua. Kehidupan di luar kantor bagaikan surga yang dirindukan, dimana mereka tidak perlu lagi menahan diri untuk saling mengungkapkan rasa cinta satu sama lain.

__ADS_1


Sentuhan dua benda lunak yang licin itu meskipun sudah berulang kali dilakukan tetap menjadi sebuah candu yang membuat ketagihan.


"Astaga ... apa yang sedang kalian lakukan!?"


Suara bentakan membuat keduanya berhenti berciuman. Melvin langsung menyingkir dari atas Ruby. Sementara, Ruby segera bangkit duduk seraya menetralkan nafasnya.


Ayah Ruby tiba-tiba sudah ada di sana. Dengan wajah marahnya, ia menatap dua orang yang baru saja melakukan hal tidak sewajarnya di depan mata. Jantung Pak Wijaya serasa mau lepas melihat putrinya sedang berciuman dengan seorang lelaki yang tak lain adalah Melvin, putra dari Pak Kennedy.


Baik Melvin dan Ruby sama-sama menunduk malu. Mereka kira di sana tidak ada orang lain selain mereka berdua.


"Ruby, apa ini alasanmu meminta tinggal sendiri di apartemen? Supaya mudah membawa masuk laki-laki ke sini?" Pak Wijaya berkata dengan nada marah. Ia sangat kecewa melihat kelakuan putrinya.


"Dan kamu, Melvin ... apa yang sudah kamu lakukan terhadap anak saya?" Pada dasarnya Lak Wijaya menyukai Melvin. Akan tetapi, melihatnya berbuat seperti itu kepada putrinya, pandangannya jadi berbeda.


Melvin memberanikan diri maju mendekati Pak Wijaya. Ia akan menghadapi ayah Ruby dengan berani sebagai seorang lelaki.


"Maafkan saya, Om, karena sudah mencium Ruby," ucap Melvin dengan nada menyesal. Bukan menyesal sudah mencium, tapi menyesal karena perbuatannya ketahuan. Sekarang ini ia merasa sangat malu.


Plak!


Bukan omelan yang Pak Wijaya berikan, melainkan satu tamparan keras di wajah Melvin.


"Papa!" Ruby ikut bangkit dan berlari ke arah ayahnya. Ia memeluk ayahnya agar tidak mengulangi perbuatannya.


"Kamu juga, Ruby. Seharusnya kamu sadar sudah melakukan hal yang tidak pantas sebagai seirang wanita. Apa kami tidak malu kepada papa?"


"Melihat kelakuan kalian, papa jadi ragu kalau alasan Ardi membatalkan pernikahan karena dia punya wanita lain. Jangan-jangan Ardi melakukan itu karena kelakuan kalian."


"Pa ... maafkan aku!" Ruby tak bisa mengelak atau menimpali perkataan ayahnya.


"Sudah berapa lama kalian seperti ini? Sepertinya kalian sudah melakukan hal yang lebih jauh daripada sekedar ciuman."


Ruby memejamkan matanya. Akhirnya Pak Wijaya tahu apa yang selama ini ia lakukan di luar rumah. Ayahnya pasti akan marah-marah dan mengurungnya di rumah. Hal yang lebih ia takutkan, ayahnya akan membenci Melvin dan mereka akan lebih sulit untuk bersama. Bahkan mungkin ayahnya akan memaksa dia menikah dengan orang lain.


*****


Sambil menunggu update selanjutnya, mampir dulu ke sini ya 😘


Judul : Kembali Cantik Si Gadis Cacat

__ADS_1


Author : Emy



__ADS_2