
Rei duduk bersandar pada kepala ranjang sembari memeluk Gita. Wanita itu masih menangis sesenggukan. Ia mencoba menenangkan istrinya yang masih merasakan trauma dengan malam pertama mereka.
Rei bingung sendiri harus melakukan apa. Sejak awal, Gita sendiri yang menggebu-gebu tidak sabaran mengajaknya untuk melakukan ritual sebagai pengantin baru. Ia sudah berusaha melakukan selembut mungkin meskipun Gita seakan tak sabar merasakan pengalaman pertamanya.
Saat Rei baru mulai mencoba melakukan pen3tr4si, Gita sudah mengeluh kesakitan. Padahal mereka sudah melakukan pemanasan cukup lama dan beberapa kali Gita sudah dibuat pelepasan. Rei juga merasa Gita sudah cukup bisa menerima miliknya. Namun, saat eksekusi, semuanya terjadi tak sesuai ekspektasi. Malam pertama yang mereka jalani gagal romantis.
"Mau dilanjut?" goda Rei.
"Huaa ...." Gita menyembunyikan wajahnya di dada Rei. Tangisan manjanya belum juga terhenti.
Seperti yang Gita pernah ceritakan, Gita berpikir bahwa aktivitas *3** antara suami istri adalah sesuatu yang menyenangkan. Baru merasakan sentuhan dari seorang suami saja sudah membuatnya mabuk kepayang, apalagi jika melakukannya sampai bagian tusuk-tusukan. Nyatanya, apa yang dialami Gita sangat jauh dari bayangannya.
Sebagai wanita yang sudah sok berani mengajak pertama, Gita harus menanggung malu sekaligus rasa sakit. Di awal-awal ia ingin cepat-cepat Rei melakukannya. Pada akhirnya, ia sendiri yang memohon dan merajuk agar Rei menghentikan apa yang dilakukannya.
"Tadi paling semangat ... kenapa sekarang jadi takut?" Rei seakan tak berhenti ingin terus meledek istrinya. Gita terlihat lucu saat kehilangan rasa percaya dirinya yang terlalu tinggi.
"Mas Rei ... aku jadi malu ...." rengek Gita.
"Daritadi minta cepat-cepat. Sekarang mau berhenti? Punyaku tidak mau tidur kalau tidak diselesaikan, Gita ...." Rei mencubit pipi Gita.
"Sakit, Mas ... rasanya ngilu."
Gita tak menyangka akan sesakit itu. Ketika miliknya untuk pertama kali dimasuki benda asing berbentuk lonjong milik Rei, ada sensasi perih dan terbakar yang ia rasakan. Seakan bagian tubuhnya tersayat sampai sakitnya tak tertahan. Gita menyerah saat Rei baru memasukkan setengahnya.
"Apa sekarang masih sakit?"
"Tidak."
"Kalau begitu, kita coba masukkan lagi."
__ADS_1
Gita menggeleng. Ia kembali meringkuk menyembunyikan wajahnya dalam pelukan Rei.
"Kalau tidak dicoba, nanti sakit terus. Wajar kok jika terasa sakit untuk pertama kali. Setelah terbiasa, nanti tidak sakit lagi."
"Kata Ririn tidak sakit, tapi menyenangkan."
Rei menghela napas. Istrinya terlalu banyak bergaul dengan Ririn yang pemikirannya sama-sama somplak seperti Gita. Ririn sudah berpengalaman, sementara Gita seperti anak polos yang hanya ikut-ikutan dan gampang percaya dengan temannya.
"Gita, kamu sekarang sudah menikah. Artinya, orang yang harus lebih banyak kamu ajak cerita dan berbagi adalah suamimu, bukan lagi teman atau sahabatmu. Ada banyak hal-hal yang Harus dijaga, tidak boleh diketahui orang lain dalam urusan rumah tangga, termasuk hal ini juga. Hanya kita yang boleh tahu, sekalipun itu Gita. Aku juga akan mrlakukan hal yang sama."
Gita seperti sedang mendengarkan tausiyah dari seorang ustadz. Ia memang terlalu banyak mempercayai Ririn. Terkadang apa yang temannya itu katakan hanya sekedar bercanda tapi malah dianggap serius oleh Gita.
"Sepertinya orang lain sangat hobi melakukan hal semacam ini karena menyenangkan, terkecuali aku." Ia terkenang kembali saat memergoki Jimmy sedang bercinta dengan Glenka. Ia kira semudah itu melakukan percintaan sampai semua orang tergila-gila melakukannya.
"Setiap pasangan punya rahasianya masing-masing, Gita. Setelah kita terbiasa, kamu juga pasti akan menyukainya. Jangan takut, ya ...." Rei masih berusaha merayu-rayu Gita. Sejak tadi miliknya tak turun, sepertinya akan seperti itu terus sepanjang malam. Baru setengah mencoba bersarang sudah harus ia cabut ulang. Rasanya kepala langsung sakit memikirkannya.
"Apa tidak boleh kalau tidak usah dimasukkan, Mas? Yang seperti tadi dilakukan juga sudah enak ...." Gita kembali merajuk.
"Kecilin dulu biar mudah masuk ...."
Rei ingin tertawa mendengar saran dari Gita. Wanita polos menggemaskan itu suka berbicara mengada-ada. "Kalau sedang kecil malah susah masuk."
"Nanti sakit lagi ...." Gita memasang wajah memelas.
"Sejak kapan Gita takut sakit?" Rei terkekeh.
"Ini serius sakit banget seperti diiris-iris." Gita sedikit kesal karena Rei terus menggodanya.
"Siapa yang mengiris? Tadi cuma ditusuk ...." Rei terkekeh mengatakannya. Apalagi hal itu makin membuat Gita kesal.
__ADS_1
"Mas!" rengek Gita.
"Maaf, ya ... kamu lucu kalau sedang kesal begini." Rei mengelus rambit Gita. "Kamu jangan fokus ke rasa sakitnya, tapi coba fokus dengan rasa cinta dan sayang yang ada di antara kita. Kali ini aku akan membuatmu menikmatinya." Rei kembali meyakinkan Gita. "Mau mencobanya lagi, kan?" rayunya.
Melihat tatapan mata serius yang Rei berikan, Gita seakan terhipnotis untuk menganggukkan kepalanya.
"Tunggu sebentar!" ucap Rei.
Ia beranjak turun dari atas ranjang, berjalan ke arah meja yang ada di seberang tempat tidur. Tampaknya ia mengambil sesuatu dari dalam laci. Sebuah botol berwarna biru yang entah Gita sendiri tidak tahu itu apa.
Rei naik kembali ke atas ranjang. Ia tekan botol biru itu dan keluarlah seperti cairan kental berwarna transparan. Dioleskannya cairan itu pada miliknya. Gita masih memandangi apa yang Rei lakukan. Milik Rei yang semula sangat ia kagumi sedikit menjadi ia takuti. Ternyata benda itu bisa membuatnya kesakitan saat dimasukkan.
Rei kembali membaringkan Gita. "Rileks, ya ... jangan terlalu fokus pada rasanya."
Gita hanya mengangguk saja. Ia menerima ciuman yang diberikan Rei padanya. Mereka memulai kembali dari pemanasan. Dengan sabar Rei mer4ngsang tubuh istrinya melalui rabaan dan rem4san mesra.
"Aku masukkan sekarang, ya?" Rei meminta izin kepada Gita.
Gita mengangguk. "Pelan-pelan," pintanya.
"Iya." Rei mengiyakan permintaan Gita. Ia kembali memagut bibir Gita agar wanita itu fokus pada ciumannya. Salah satu tangannya digunakan untuk merem4s gundukan indah milik Gita sementara tangan yang lain menuntun miliknya menuju liang kenikmatan istrinya.
Pelumas yang ia pakai sebelumnya cukup mempermudah proses masuk paku bumi miliknya. Perlahan tapi pasti benda itu terus melesat masuk. Gita mencengkeram erat lengan Rei saat merasakan miliknya mulai terasa sakit kembali. Namun kali ini tak sesakit yang pertama. Ia membiarkan benda itu terus melesak masuk dengan buliran air mata yang menetes di pipinya. Pada akhirnya, benda itu bisa masuk seluruhnya ke dalam liang surgawi.
Rei membiarkan sejenak miliknya di dalam sana. Memandangi wajah cantik yang ada di bawahnya, berusaha memberikan kecupan agar sang istri tak terlalu merasakan kesakitan. Setelah dirasa kondisi sang istri lebih tenang, barulah ia menjalankan tugasnya, menggerakkan panggulnya naik turun dangan gerakan perlahan dan konstan. Gita yang awalnya terlihat tak terlalu menikmati lambat laun mulai tampak nyaman.
Keduanya kembari berciuman sembari menikmati penyatuan mereka yang mulai terasa menyenangkan. Gita lebih dulu mendapatkan pelepasannya, disusul kemudian dengan Rei yang menyebarkan benihnya pada ladang halal miliknya. Malam pertama yang sempat gagal akhirnya berjalan lancar. Keduanya saling berpelukan dan tidur setelah kelelahan.
*****
__ADS_1
Sambil menunggu update selanjutnya, bisa mampir ke sini ya 😘