
"Terima kasih ya, Pak. Sudah mengantar saya," ucap Gita sambil bersandar pada jendela kaca mobil yang terbuka.
"Masuklah! Sampai jumpa besok di kantor." Rei memberikan senyumannya sebagai salam perpisahan.
"Hati-hati di jalan, Pak. Saya masuk dulu." Gita menjauhkan badannya dari mobil Rei. Ia melambaikan tangannya ketika mobil Rei mulai dijalankan.
Setelah menghadiri acara pernikahan Livy, Rei kembali mengantar Gita pulang. Berbicara bersama Gita membuat perasaan Rei cukup terhibur saat di pesta. Kini, ketika ia sendirian mengendarai mobilnya, perasaan hampa itu kembali hadir. Padahal ia sudah berusaha untuk mengikhlaskan, akan tetapi hatinya masih terasa sakit setiap kali mengingat tentang Livy, wanita yang beberapa tahun ini sangat spesial di hatinya.
Sesekali ia menghela napas sembari fokus pada jalanan yang mulai lengang saat malam semakin larut. Ingin rasanya ia berteriak sekencang mungkin untuk menyingkirkan ganjalan di dalam hatinya. Ia ingin kembali menata hatinya dengan baik.
Melewati daerah yang cukup sepi, Rei mulai merasa aneh. Ada sebuah mobil yang sejak tadi membuntutinya dari belakang. Saat ia memelankan laju mobilnya, mobil di belakangnya juga tak mau mendahului. Ia memutuskan untuk menambah kecepatan mobil karena merasa semakin tidak nyaman.
Mobil yang mrmbuntutinya turut menambah kecepatan. Kedua mobil mrnjadi saling beradu cepat seolah sedang mengadakan balapan. Rei tidak mengerti, siapa orang di balik kemudi mobil di belakangnya. Sepertinya ada dendam yang ingin dibalaskan padanya.
Semakin lama, mobil yang ada di belakang itu semakin mendekat dan mensejajarkan mobil mereka dengan mobil Rei. Tampak dua orang berpakaian serba hitam seperti preman duduk di kursi depan. Salah satunya mengeluarkan pistol dan mengarahkan ke mobil milik Rei. Rei yang panik berusaha mempercepat laju mobilnya.
Dor! Dor! Dor!
Beberapa kali tembakan dilayangkan. Salah satunya mengenai ban mobil yang Rei kendarai. Otomatis gerakan mobilnya jadi tidak seimbang. Rei berusaha menguasai mobilnya, namun naas, mobilnya hilang kendali dan akhirnya menabrak keras pohon besar di pinggir jalan. Rei mengalami benturan keras hingga pingsan.
*****
"Kenapa, Melvin?" tanya Pak Wijaya melalui ponselnya. Ia sedang berada di rumah sakit menemani Ruby. Sudah selarut ini Melvin belum kembali ke rumah sakit untuk menjaga putrinya, makanya Pak Wijaya belum mau pulang meskipun di sana sudah ada Bi Minah.
"Pa, Rei kecelakaan." Terdengar suara dari ujung telepon yang membuat Pak Wijaya mematung.
"Apa katamu?" Pak Wijaya tidak mau percaya dengan apa yang Melvin katakan. Tadinya ia akan memarahi menantunya karena tega meninggalkan istrinya sendirian sampai larut malam. Melvin justru memberinya kabar yang membuat jantungnya seakan mau copot.
"Rei kecelakaan di jalan, Pa! Mobilnya menabrak pohon. Kondisinya cukup parah. Aku sudah bersama tim medis untuk mengevakuasi Rei ke rumah sakit."
Keterangan dari Melvin membuat wajah Pak Wijaya berubah pucat. "Cepat bawa Rei ke rumah sakit yang sama dengan Ruby, Vin! Bawa segera dia ke sini! Papa masih bersama Ruby." Pak Wijaya berbicara dengan nada sedikit meninggi.
"Iya, Pa. Aku akan mendampingi Rei ke rumah sakit."
__ADS_1
Pak Wijaya menutup kembali teleponnya. Ia mondar-mandir seperti orang cemas dan kebingungan.
"Kenapa, Pa?" Ruby penasaran dengan tingkah aneh ayahnya.
"Rei kecelakaan."
"Apa!" Ruby sampai terduduk di ranjangnya saking kaget. "Kok bisa, Pa ... lalu, bagaimana keadaannya?" Ruby ikut khawatir.
"Papa juga belum tahu. Tadi Melvin yang mengabari. Katanya dia sedang dalam perjalanan membawa Rei ke sini."
Ruby tidak menyangka dalam kondisinya yang masih dalam masa pemulihan harus mendengar berita yang cukup mengejutkan. Setahu Ruby, hari ini Rei menghadiri pernikahan Livy. Ia tidak bisa datang karena kondisinya yang tidak memungkinkan, sehingga hanya menitipkan kafo untuk Livy pada Rei.
*****
Klek!
Pintu ruangan Ruby terbuka. Melvin masuk dengan penampilan yang sangat lusuh dan ada bercak darah di bajunya. Pak Wijaya dan Ruby terlihat khawatir melihat kedatangan Melvin.
Pikiran Melvin juga cukup kalut setelah ikut membawa Rei ke rumah sakit dalam kondisi pingsan. Awalnya ia sedang dalam perjalanan ke rumah sakit setelah menyelesaikan pertemuan dengan calon investor baru. Ia menepikan kendaraannya melihat keramaian orang di jalan, ada mobil yang ringsek menabrak pohon.
Betapa kagetnya Melvin saat mengetahui bahwa orang yang ternyata berada dalam mobil itu ada Rei, iparnya sendiri. Untung saja ambulans segera datang ke lokasi dan tenaga medis membantu proses evakuasi korban.
"Rei masih belum sadar, Pa. Sedang ditangani dokter di IGD. Aku ke sini untuk mengajak Papa ke sana."
"Aku ikut, Kak!" sahut Ruby. Ia juga mengkhawatirkan kondisi Rei.
"Sayang, ingat kamu harus bed rest. Lebih baik kamu tetap istirahat ditemani Bi Minah. Biar aku dan Papa yang menangani Rei."
Ruby cemberut karena permintaannya tidak dituruti. Melvin dan ayahnya tetap keluar tanpa dirinya.
"Bagaimana kronologinya? Kenapa Rei bisa kecelakaan?" tanya Pak Wijaya saat mereka berada di dalam lift hendak turun ke lantai bawah menuju IGD.
"Aku juga tidak tahu, Pa. Masih dalam penyelidikan polisi. Mobil Rei menabrak pohon besar di tepi jalan."
__ADS_1
"Aneh. Apa anak itu mabuk?"
"Rei tidak suka minum, Pa. Tidak mungkin dia mabuk."
"Kamu benar. Dia kalau kelelahan juga lebih memilih memanggil sopir daripada mengendarai mobilnya sendiri."
Beberapa saat kemudian, mereka tiba di IGD. Dokter tampaknya sudah selesai menangani Rei dengan memasang selang infus serta membalut luka di kepala Rei.
"Bagaimana kondisi putra saya, Dokter?" tanya Pak Wijaya.
"Kondisi putra Bapak baik-baik saja. Hanya saja, dia masih pingsan. Mudah-mudahan besok sudah bisa sadar."
"Apa kondisinya serius?"
"Tidak, memang ada cedera di kepala dan kaki kirinya, namun tidak terlalu parah. Dengan perawatan yang baik, dalam waktu beberapa minggu sepertinya sudah bisa pulih kembali. Kami akan menempatkannya di kamar perawatan biasa."
"Tempatkan dia di kamar sebelah putri saya, Dokter," pinta Pak Wijaya.
"Oh, di sebelah kamar Nona Ruby, ya?"
"Iya."
"Baik, nanti saya beritahukan kepada perawat untuk memindahkan putra Bapak ke sana."
"Terima kasih, Dokter."
Dokter itu kembali menjumpai asisten dan perawat yang membantunya. Ia mengatakan permintaan Pak Wijaya kepada mereka. Segera tiga orang perawat mendorong ranjang Rei untuk memindahkannya ke ruang perawatan biasa. Pak Wijaya dan Melvin turut mengikuti mereka.
"Maaf, Pak. Anda tidak boleh ikut masuk lift khusus pasien." Salah satu perawat melarang mereka ikut naik ke dalam lift. Akhirnya Melvin mengajak ayah mertuanya menaiki lift untuk pengunjung. Mereka sama-sama bertemu di lantai atas.
Pak Wijaya memandangi putranya yang terbaring tak sadarkan diri di ranjang pasien. Para perawat yang mengantar Rei ke ruangannya sudah keluar. Tersisa Melvin dan Pak Wijaya di sana.
"Kamu harus menyelidiki kasus ini sampai tuntas, Vin. Paap rasa ini bukan sebuah kecelakaan biasa."
__ADS_1