PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
TANTE SUKMA MASUK RUMAH SAKIT 2


__ADS_3

"Meka, sebaiknya kamu pulang saja dulu. Hari semakin larut dan Davin pasti sangat lelah setelah seharian jalan-jalan," ucap Melvin.


"Iya, Vin."


"Kamu juga perlu istirahat di rumah, Ruby. Pulanglah bersama Meka dan Davin." Melvin menepuk pundak Ruby yang masih duduk di samping Gante Sukma.


"Aku masih mau di sini, kamu saja yang pulang, Kak," tolaknya. Ruby ingin menunggu sampai Tante Sukma sadar.


"Ya sudah, Vin. Aku pulang duluan," pamit Meka.


"Aku antar sampai ke depan, ya."


"Tidak usah, kamu temani Ruby saja."


Meka berjalan ke arah pintu keluar. Kini tersisa Melvin, Ruby dan Tante Sukma di dalam sana. Pelayan yang tadi juga ikut mengantar Tante Sukma masih belum kembali mengambilkan barang-barang dari rumah.


"Kenapa ya, Kak. Sepertinya hubungan kita hanya menyakiti orang lain. Apa sebenarnya kita memang tidak seharusnya bersama?"


Melvin terkejut mendengarkan pemikiran Ruby. Menurutnya, Ruby terlalu cepat mengambil kesimpulan.


"Apa kamu berpikir untuk meninggalkan aku lagi?" nada bicara Melvin terdengar frustasi.


"Kalau menuruti kata hatiku, aku ingin terus bersamamu. Tapi ... jika memilih bersamamu membuat banyak orang tersakiti, aku rasa tidak akan sanggup." Ruby menghapus air mata yang mulai menetes kembali di pipinya.


"Aku sudah sekali merasakan penyesalan telah meninggalkanmu. Apa kamu mau ikut merasakan penyesalan yang pernah aku alami?"


Melvin berjalan ke arah jendela, menyibakkan tirai untuk melihat suasana malam dari balik kaca ruang perawatan. Langit telah berubah warna menjadi gelap. Cahaya matahari tergantikan oleh pancaran sinar lampu yang menyala di setiap sudut kota.


Ruby terdiam. Sekali lagi ia memandangi wajah Tante Sukma yang masih pucat. Tubuhnya terlihat semakin kurus dari waktu ke waktu. Padahal waktu itu kondisinya sudah terlihat sangat baik. Kata dokter, operasinya berhasil. Hanya karena melihat dia bersama Melvin, apakah itu yang membuat kondisinya langsung memburuk?


"Aku tahu, kamu memiliki rasa peduli yang besar kepada orang-orang terdekatmu. Tapi, sesekali saja ... apa kamu pernah peduli dengan keberadaanku?"


"Apa kita tidak berhak bahagia? Apa hanya orang lain yang berhak bahagia?"

__ADS_1


"Segala usahaku untuk memperbaiki penyesalanku yang dulu, apa artinya untukmu?"


Kata-kata Melvin sangat mengena di hati Ruby.


"Aku sangat bangga dengan semua perjuanganmu, Kak. Bahkan aku merasa sebagai wanita yang paling beruntung diperjuangkan sebegitu keras olehmu. Aku juga ingin kita segera bersama."


Suasana kembali hening. Melvin dan Ruby sama-sama terdiam, menikmati perang batin dalam diri sendiri.


Malam kian larut, tapj belum ada tanda-tanda Tante Sukma akan bangun. Ardi dan ayahnya sedang berada di luar kota, butuh sekitar tiga sampai empat jam untuk bisa sampai ke sana.


"Aku membawakan makanan untukmu." Melvin menyempatkan diri keluar sebentar membeli makanan. Ia membeli dua porsi kwetiau yang dijual di area depan rumah sakit.


"Kamu harus makan, ya! Jangan sampai kamu juga tumbang, nanti orang-orang akan semakin repot." Melvin membukakan bungkusan makanan lalu menaruhnya di atas piring. "Mau aku suapi?"


Ruby yang merasa malas makan hanya mengangguk.


Melvin mengambil garpu, menggulung-gulung kwetiauw di atas piring lalu menyuapkannya ke mulut Ruby. Ia juga melakukan hal yang sama untuk menyuapi dirinya sendiri.


"Aku juga pernah miskin di negara orang. Aku dan Tomi sering makan mie instan untuk penghematan." Melvin kembali menyuapkan makanan untuk Ruby. Akhirnya ia bisa melihat lagi senyumannya.


"Aku takut saja kalau perut Kakak sakit gara-gara makan makanan pinggir jalan."


"Sekarang sudah kebal."


Suapan demi suapan mereka nikmati bersama. Ruby sedikit merasa senang untuk pertama kalinya disuapi makan oleh Melvin. Hingga tak terasa dua bungkusan kwetiau itu habis tak bersisa.


Melvin membersihkan bekas-bekas makan mereka. Ia juga mencuci piring dan sendok yang digunakan. Beberapa tahun menjalani kehidupan di luar negeri benar-benar mengubah kebiasaan hidupnya.


Melvin yang dulunya tidak bisa apa-apa selain mengandalkan harta orang tua, kini telah bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil di rumah. Saking kurang kerjaannya, ia juga sampai mengelap dapur dan mencuci ulang perabot yang tergeletak di sana. Takutnya petugas kebersihan tidak mengganti peralatan tersebut saat mempersiapkan kamar.


Selesai berbenah, ia lihat ternyata Ruby telah tertidur di samping ranjang Tante Sukma. Melvin hanya bisa memandangi wajahnya yang tampak kelelahan itu akhirnya terlelap juga. Bunyi nafasnya terdengar teratur.


Klek!

__ADS_1


Pintu ruangan terbuka, akhirnya Ardi telah sampai. Masih dengan setelan kemeja dan jasnya, sepertinya ia langsung pergi tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu.


"Mama bagaimana?" tanyanya kepada Melvin.


"Kata dokter kondisinya sudah stabil. Kemungkinan besok baru sadar."


Ardi berjalan mendekat ke arah ranjang perawatan mamanya. Ia mencium kening wanita yang telah melahirkannya itu. Pandangannya beralih pada Ruby yang tertidur di samping mamanya. Tangannya hendak mengusap kepala Ruby namun ia urungkan mengingat ada Melvin di sana.


"Terima kasih sudah membawa mamaku ke rumah sakit dan menjaganya," ucap Ardi.


"Aku seharusnya minta maaf, Ar. Mamamu seperti ini karena melihat aku dan Ruby sedang bersama." Melvin mencoba berkata jujur. Ia tak mau nantinya Ruby memiliki beban untuk menjelaskan semuanya kepada Ardi.


Ardi memijit keningnya. Tiga jam perjalanan lebih ia tempuh dengan perasaan yang tak menentu. Ia sangat mengkhawatirkan kondisi mamanya. "Ruby pasti sangat cemas," ujarnya.


"Iya, sangat. Dia terus menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian yang menimpa Tante Sukma."


"Seharian tadi aku dan Ruby mengajak Davin jalan-jalan. Meka ada urusan jadi kami membantu menjagakan anaknya. Saat pulang dari tempat wisata Dunia Air, kami tidak menyangka jika akan berpapasan dengan Tante Sukma."


Ardi tak bisa menyalahkan mereka. Hubungan antara dia dan Ruby saja sebenarnya dilakukan Ruby dengan sukarela untuk membuat mamanya bahagia.


Meskipun penyakitnya tak kunjung sembuh dan kondisinya semakin menurun, ada satu motivasi bagi mamanya untuk terus bertahan, karena menginginkan dirinya segera menikah dengan Ruby.


Ardi menghela nafas, "Ya sudah, Vin. Kamu pulang saja. Aku yang akan menjaga mama selanjutnya. Ajak Ruby untuk pulang juga supaya dia bisa beristirahat dengan nyaman."


"Sebentar lagi papaku juga akan datang."


"Yakin, tidak perlu kami temani?" Melvin mencoba memastikan.


"Iya, Vin. Pulanglah! Kalau kalian ada di sini, aku malah akan semakin bingung memberi penjelasan kalau tiba-tiba mama bangun." Ardi duduk di samping mamanya, menggenggam tangan lemas tak berdaya itu.


Pandangannya sekilas mengarah ke hadapannya, menatap Ruby yang sedang tidur. Seandainya Melvin tak ada di sana, mungkin ia sudah menciumnya.


Ingin sekali ia menertawakan dirinya sendiri, kenapa kisah cintanya tak pernah berjalan dengan mulus. Saat rasa cinta mulai tumbuh untuk wanita yang sedang tertidur itu, Melvin justru kembali datang dalam kehidupan mereka. Pukulan yang ia dapatkan waktu itu masih bisa ia rasakan sensasinya. Melvin begitu berambisi jika itu menyangkut dengan Ruby.

__ADS_1


__ADS_2