
"Aku cukup terkejut melihatmu datang bersama Kak Ardi hari ini." Ruby mengajak Elen berbicara berdua di tempat terpisah dengan Melvin dan Ardi.
"Aku juga tidak tahu, dia tiba-tiba menghubungiku untuk pergi dengannya. Ternyata dia membawaku ke tempat kalian." Elen terlihat canggung berada di sebelah Ruby. Perasaannya sulit untuk dijelaskan.
"Kalian serius mau menikah?" Ruby tampak antusias menanyakannya.
Elen hanya tersenyum dan mengangguk.
"Kalian kapan mulai dekat?"
Elen terdiam sejenak. Dua minggu lalu mereka menjadi dekat setelah tidur bersama. Elen mau menikah dengan Ardi karena akan dibiayai kuliah sampai lulus. Ia juga tahu kalau sebenarnya Ardi hanya merasa bersalah saja telah mengambil kepe*rawananya. Ardi tidak mencintainya. Lelaki itu mencintai wanita yang saat ini ada di sebelahnya.
"Kami dekat sejak di rumah sakit waktu itu. Akhir-akhir ini kita juga sering bertemu dan berbicara, sepertinya kami satu frekuensi dan bisa nyambung satu sama lain. Makanya dia mengajakku untuk menikah," jawab Elen.
"Aku lega sekali karena Kak Ardi mendapatkanmu, Elen. Kak Ardi orang baik, kamu juga orang baik. Aku yakin kalian akan bisa hidup bahagia."
Elen menatap binar bahagia di mata Ruby. Ia tersenyum kaku membayangkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi. "Terima kasih," ucapnya.
"Kapan kalian akan menikah?"
"Sekitar satu bulan lagi. Dia sudah menghubungi WO yang dulu sempat akan merancang pernikahan kalian. Baju pengantin yang seharusnya kamu kenakan juga nanti aku yang akan mengenakannya."
Ucapan Elen membuat Ruby menjadi tidak enak hati. "Kenapa tidak membuat lagi saja? Kak Ardi bukan tipe orang yang pelit seperti itu."
"Tidak, itu bukan karena pelit, melainkah ada nilai historis dari ibunya. Makanya dia ingin menggunakan semua konsep yang sudah diatur oleh ibunya dulu." Elen menerangkannya dengan tutur kata yang biasa saja seakan hal itu tidak berpengaruh baginya. Padahal, dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia merasa sakit harus menjadi seorang wanita pengganti. Ardi belum bisa melepaskan bayang-bayang Ruby sekalipun Ruby telah menikah.
Elen tidak tahu pasti apakah dirinya nanti akan sanggup bertahan. Kenangan malam itu sangat membekas di benaknya. Awalnya, ia merasa bagaikan seorang wanita yang dihujani oleh banyak cinta. Ardi memperlakukannya dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang. Di akhir, ia harus merasakan kekecewaan. Perlakuan manis itu ternyata ditujukan untuk wanita lain yang ia salurkan melalui dirinya.
__ADS_1
Elen mulai menaruh hati kepada Ardi. Sebuah perasaan yang seharusnya tidak tumbuh. Akan tetapi, ia tidak bisa mengendalikan perasaannya sendiri.
"Aku akan mendoakan semua yang terbaik untuk kalian." Ruby menggenggam tangan Elen. "Jika ada kesulitan, jangan sungkan menghubungiku."
"Aku akan mengingatnya. Kamu sendiri, kenapa cepat sekali kalian telah menikah? Apa kamu hamil duluan atau semacamnya?" Elen berusaha memakai bahasa yang tidak menyinggung.
Ruby cengar-cengir malu. "Aku belum hamil, kok. Semua itu karena kemauan ayahku untuk cepat menikah saja." Sangat memalukan kalau semua orang tahu alasannya menikah karena dipergoki sedang ciuman oleh ayahnya.
"Senangnya mendapat dukungan dari keluarga." Elen merasa iri.
"Memangnya keluargamu tidak mendukung atau merestui hubungan kalian?"
"Orang tuaku sudah merestui. Hanya saja, keluarga besar Kak Ardi sepertinya tidak suka karena aku anak mantan seorang terduga koruptor." Elen memasang wajah sedih.
"Alasan apa itu? Ayahmu kan tidak terbukti bersalah. Beliau juga sudah melakukan tanggung jawabnya sebagai seorang pimpinan yang baik, mau bertanggung jawab dengan merelakan perusahaan demi membayarkan pesangon para karyawannya."
"Kamu mengikuti berita tentang ayahku?" Elen merasa terkesima mendengar Ruby tahu banyak hal tentang ayahnya.
"Tentu saja tahu. Dia salah satu pengusaha terbaik pada masanya. Memang, kurang beruntung saja ayahmu bertemu dengan orang yang tidak baik. Aku yakin suatu saat keluargamu akan bangkit kembali." Ruby pernah beberapa kali bertemu dengan ayah Elen, tentunya di acara pesta yang rutin diadakan oleh para pengusaha. Ruby bisa berteman dengan Elen karena mereka hidup di dunia yang sama, dunianya anak-anak pengusaha.
Meskipun Elen dulu anak orang kaya, dia tidak seperti orang yang suka pamer kepada orang lain. Dandanan dan aksesoris yang ia gunakan tidak pernah berlebihan. Makanya, Ruby suka berteman dengan Elen.
"Aku harap juga begitu." Elen memikirkan ayahnya yang sekarang hanya mampu membuka usaha jasa laundry kecil-kecilan di wilayah perumahannya. Tidak heran jika keluarga Ardi berpikir-pikir untuk mau menerimanya.
"Sayang, apa kamu sudah selesai bicaranya?" Tiba-tiba Melvin melongok dari balik pintu menyapa mereka. Ruby sampai hampir lupa kalau sekarang sudah punya suami. Di sana juga sudah ada Ardi. Sepertinya kedua lelaki itu sudah cukup jengah untuk menunggu mereka mengobrol.
"Iya, Kak. Kita pulang sekarang," jawab Ruby. "Elen, aku pamit dulu, ya. Maklum, sudah punya suami jadi tidak bisa bebas bertemu sembarang orang."
__ADS_1
"Hahaha ... kalau ada waktu kita harus bertemu lagi. Aku senang bisa berbicara denganmu."
"Aku juga, Elen." Keduanya saling berpelukan sebelum akhirnya berpisah kembali kepada pasangan dan rumah masing-masing.
Melvin terus memeluk Ruby di sepanjang perjalanan pulang ke apartemen. Tomi yang berperan sebagai sopir hanya bisa pasrah menikmati kejombloannya. Orang di belakangnya seakan tak memiliki rasa peka yang tinggi. Mereka asyik bermesraan di hadapan manusia jomblo tahun 2022.
Sesampainya di apartemen, Tomi disuruh pergi begitu saja. Sementara, kedua pengantin baru itu masih saja terlihat mesra hingga memasuki apartemen milik mereka.
"Sayang, apa kita juga perlu membuat pesta pernikahan kita?" Melvin memeluk posesif istrinya di atas sofa. Sebagai pasangan pengantin baru, keduanya seakan tidak cukup dengan kemesraan yang mereka lakukan setiap hari.
"Untuk apa, Kak? Tanpa pesta kita juga sudah resmi menikah dan diakui oleh negara."
"Tapi, aku ingin semua orang tahu kalau wanita secantik dirimu sudah menjadi milikku." Melvin mengeratkan pelukannya. Bibirnya berkali-kali ia ciumkan di area leher Ruby untuk menggodanya.
"Aku yakin Kakak hanya tidak mau kalah dengan Kak Ardi." Ruby sesekali mengangkat-angkat bahunya karena kegelian.
"Hm, aku memang tidak mau kalah dengan siapapun. Ayo kita usaha buat bayi lagi. Kira-kira di sini sudah ada bayi atau belum, ya?" Melvin meraba-raba perut Rubu yang masih kempes.
"Aku rasa belum, Kak."
"Kalau begitu, kira harus lebih rajin lagi membuatnya. Akan aku semburkan banyak benih supaya salah satunya akan menjadi bayi kita." rabaan tangannya mulai naik ke atas. Ia susupkan tangannya ke dalam baju, mencari kehangatan di antara kedua bukit.
"Kata dokter cukup dua sampai tiga kali seminggu, Kak."
"Halah! Mana bisa dua tiga kali seminggu. Kalau dua tiga kali sehari baru masuk akal."
"Kenapa seperti aturan minum obat?"
__ADS_1
"Ya, karena kamu memang obat untuk kebahagiaanku."