PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
KELUARGA SELENA


__ADS_3

Flashback


Brak! Bruk! Klang!


Elen sedang berada di dapur ketika tiba-tiba mendengar bunyi kegaduhan yang berasal dari arah depan. Sepertinya bunyi barang dibanting dan dilempar itu berasal dari ruangan yang digunakan untuk menerima jasa laundry. Segera ia mematikan kompor dan melepas celemek lalu berlari kecil menuju arah sumber suara.


Prang!


Sebuah guci hancur berkeping-keping setelah dibanting oleh seorang pria berpakaian besar dan kekar. Elen sendiri langsung membeku ketika menghadapi situasi secam itu. Ruangan yang biasanya rapi seketika berubah menjadi kapal pecah.


"Kalau tidak mau membayar, jangan meminta pinjaman! Dasar sialan! Memperberat pekerjaan kami saja!" salah satu di antaranya memaki-maki ayahnya.


"Saya bukanya tidak mau membayar, hanya saja mau meminta perpanjangan waktu karena usaha akhir-akhir ini agak sepi." Ayah Elen mencoba untuk tetap tenang.


"Alasan terus! Waktu pinjam saja bilangnya manis, mau konsisten membayar. Setelah cicilan berjalan, banyak alasan! Bagaimana kalau aku hancurkan saja tokomu ini, hah!"


"Jangan! Kalau tempat ini hancur, bagaimana lagi saya harus mencari uang demi melunasi hutang kepada kalian?"


Elen tercengang. Ternyata ayahnya membuat bisnis laudry dengan uang pinjaman dari rentenir. Ayahnya dulu bilang kalau usahanya dibuat dengan sisa uang tabuangannya yang tidak digunakan. Ternyata ayahnya membohongi putrinya sendiri.


Elen tidak berani berbuat apa-apa. Di rumah hanya ada dirinya dan ayahnya, menghadapi lima preman berbadan besar dan garang.


"Bos! Lihat ini! Sepertinya dia memiliki anak perempuan yang cantik!" salah seorang di antarnya menyadari kehadiran Elen.


Segera Elen berusaha untuk kabur, namun sebelum sempat ia lari, tangannya lebih dulu tertangkap oleh salah satu dari mereka. "Lepaskan!" Elen berusaha memberontak. Tenaga Elen tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan lelaki itu. Terpaksa ia harus terima diseret-seret ke depan.


"Jangan ganggu anak saya!" teriak ayah Elen.


"Hah! Putrimu ternyata cantik juga." orang yang disebur bos itu memandang seksama paras Elen yang tampak lugu dan mempesona.


"Urusan kalian denganku, putriku tidak tahu menahu!" Ayah Elen berusaha membantu melepaskan Elen, namum dua orang lainnya mencegahnya.


"Kalau kamu tidak bisa melunasi hutangmu, aku rasa putrimu cukup untuk melunasinya." bos tersenyum menyeringai.


"Jangan gila! Kalian tidak boleh melakukan apapun terhadap putriku!" sekuat tenaga ayah Elen mencoba berontak.

__ADS_1


"Kenapa? Seharusnya kamu bersyukur memiliki putri secantik ini. Kalau dia bekerja di klab malam, pasti akan banyak yang ingin membayarnya. Hutangmu akan cepat selesai. Kamu seharusnya senang."


"Aku akan melaporkan perbuatan kalian ke polisi!" ancamnya.


Bugh!


Satu pukulan mendarat di hidung ayah Elen sampai hidungnya berdarah. "Sebelum kamu melapor, aku pastikan seluruh keluargamu akan mati." ancaman bos preman itu lebih kejam, tak ada yang berani melawannya.


"Dengar, Nona cantik ... aku meminta maaf atas sambutan kami yang kurang elegan." preman itu bersikap sok lembut. "Sebenarnya urusan kamu hanya dengan ayahmu. Tapi, sepertinya ayahmu sudah terlalu tua sampai lupa kalau dia memiliki hutang yang besar."


"Memang, berapa hutang ayahku kepada kalian?" Elen juga mencoba melepaskan diri. Akan tetapi, ia masih gagal.


"Lima ratus juta."


"Apa!" Elen sangat terkejut mendengarnya. Ia tidak menyangka bahwa hanya untuk membangun tempat laundry ayahnya sampai meminjam banyak uang.


"Lihat ini! Putrimu sampai kaget mendentar nominal hutang dari ayah laknat seperti dirimu." preman itu menatap ke arah ayah.


"Aku akan melunasinya dalam bulan ini, jangan khawatir! Lepaskan putriku!"


"Permisi, sedang ada apa ini?"


Semua orang terdiam mendengar suara dari arah pintu depan. Ardi dengan pakaian rapinya berdiri di ambang pintu memandangi mereka dengan tatapan terkejut.


"Pak Ardi!" seru Elen.


"Siapa kamu? Jangan ikut campur dengan urusan kami!" tegas si bos preman itu.


"Kenapa kalian membuat berantakan rumah orang? Ini termasuk tindakan kriminal."


"Hahaha ... kalau orang ini tidak mangkir untuk membayar hutangnya, kami tidak akan perlu repot-repot datang kemari." si bos menunjuk ke arah ayah Elen.


Ardi menghela napas. Ia tidak menyangka akan datang di waktu yang tidak tepat. Tujuannya ia datang untuk menjemput Elen agar pergi bersamanya. "Berapa hutangnya?"


Mata bos preman itu tampak sumringah. Orang berpakaian rapi di depannya pastilah memiliki banyak uang. Ia tidak perlu bersusah payah menagihnya kepada keluarga miskin itu. "Hahaha ... sepertinya kamu orang baik hati yang akan melunasi hutang keluarga sialan ini. Total hutang dengan bunganya lima ratus juta! Apa kamu punya uang sebanyak itu?"

__ADS_1


Ardi mengeluarkan lembaran kertas dari dalam saku jasnya. Ia menuliskan sejumlah nominal pada kertas cek miliknya. "Ambil cek ini dan segera pergi dari sini!" Ardi menyodorkan selembar cek yang sudah ditandatanganinya kepada bos preman itu.


Elen membelalak. "Pak, jangan!" Elen tidak mau merepotkan lagi orang yang telah sepakat untuk membiayai kuliahnya.


Bos preman itu cepat mengambil cek dari tangan Ardi. "Hahaha ... akhirnya lunas juga hutang kalian. Lain kali jangan coba-coba berurusan dengan kami." Ia mengisyaratkan kepada anak buahnya untuk pergi meninggalkan tempat itu.


Suasana sejenak hening setelah para preman itu pergi. Ketiganya kikuk dengan situasi yang baru saja mereka alami.


"Terima kasih atas bantuannya, Pak Ardi." ayah Elen bangkit berdiri mendekat ke arah Ardi.


"Anda tidak perlu berterima kasih. Lagipula saya juga calon menantu Bapak."


"Pak Ardi kenapa datang kemari? Katanya kita ketemuan saja di taman kota," sahut Elen.


"Aku berubah pikiran makanya sekarang datang untuk menjemputmu."


"Tapi, saya belum bersiap-siap, Pak."


"Tidak apa-apa. Begini saja sudah cantik."


Perkataan Ardi membuat wajah Elen memerah. Padahal penampilannya cukup berantakan gara-gara ulah para preman itu.


"Pak, saya izin mengajak Elen pergi sebentar, ya. Ada urusan mendesak yang harus kami selesaikan." Ardi meminta izin kepada ayah Elen.


"Ah, iya. Silakan saja kalian pergi." ayah Elen masih tampak canggung menghadapi Ardi.


"Saya ke kamar dulu, Pak." Buru-buru Elen lari ke kamarnya.


"Sambil menunggu Elen, kita duduk dulu saja. Maaf, tempatnya sangat berantakan." ayah Elen mengajak Ardi untuk duduk di sudut ruang tamu kecil laundry-nya.


"Kalau Anda membutuhkan bantuan, entah itu uang atau yang lainnya, jangan segan meminta bantuan kepada saya. Tolong, jangan anggap saya sebagai orang asing."


Ayah Elen merasa malu di hadapan calon menantunya. Ardi datang saat dirinya berurusan dengan para penagih hutang.


Beberapa waktu yang lalu, Ardi datang ke rumah melamar putrinya. Ia cukup terkejut putrinya memiliki hubungan dengan seorang pengusaha muda. Biasanya, lelaki yang dekat dengan putrinya akan mundur ketika tahu siapa dirinya, mantan pengusaha yang hampir dipenjara karena tuduhan korupsi. Semua relasi bisnisnya terputus, teman-temannya menghilang begitu saja saat ia terpuruk.

__ADS_1


__ADS_2