
Dokter dan perawat akhirnya keluar setelah selesai menangani Ruby. Mereka tampak kelelahan mendapatkan kasus serius yang perlu penanganan segera. Ruby terluka, kehabisan banyak darah dan kondisinya sedang hamil anak kembar.
Salah seorang dokter melepaskan pakaian hamzat, penutup kepala, masker, serta sarung tangan yang menyelubungi tubuhnya. Ia berjalan ke arah Melvin. Dokter wanita itu memang yang merawat Ruby selama di rumah sakit.
“Bagaimana, dokter?” tanya Melvin khawatir.
“Untunglah lukanya tidak begitu dalam meskipun dia sampai kehilangan cukup banyak darah. Kandungannya baik-baik saja. Hanya, kali ini, benar-benar dia harus menjaga diri dengan baik. Saya tidak tahu jika hal ini berulang, apakah kandungannya akan bermasalah atau tidak.” Dokter Santi juga terlihat khawatir dengan kondisi Ruby.
“Saya akan menjaganya dengan lebih baik lagi, Dokter.” Melvin bertekad sebisa mungkin tidak akan melepaskan pandangan dari Ruby mulai hari ini.
“Dia akan dipindahkan ke ruangannya semula. Saya pamit dulu mau istirahat,” pamit Dokter Santi.
“Iya, Dok. Terima kasih atas pertolongannya.”
Dokter Santi hanya menyunggingkan senyum lalu berlalu menuju ruangannya sendiri. Melvin, Ardi, Elen, dan Gita naik lift menuju ruang perawatan Ruby. Tidak ada lagi perbincangan di antara mereka sampai tiba di ruang perawatan. Alat bantu pernapasan terpasang di hidung Ruby.
Kantong infus dan transfusi darah menggantung dan terpasang pada punggung tangannya. Ruby terlihat seperti orang yang sedang tertidur lelap. Luka tusukan di area pinggang telah dijahit dan ditutup perban dengan rapi.
“Vin, aku dan Elen pulang dulu, ya ... titip salam untuk Ruby jika dia sudah bangun,” pamit Ardi.
Melvin mengangguk. “Terima kasih, Ar. Kalau ada waktu, mampir-mampir ke sini.”
“Pasti.” Ardi menggandeng tangan Elen dan membawanya keluar dari ruangan Ruby.
“Saya juga mau pamit ya, Pak.” Gita merasa canggung berada di sana sendiri.
“Iya, Gita. Terima kasih sudah membantu Ruby.”
Gita tersenyum. “Permisi, saya keluar dulu.” Setelah mengucapkan kata pamit, ia langsung keluar.
Kini hanya tinggal Melvin yang berada di ruangan Ruby. Ia duduk di sisi ranjang Ruby sembari mengelus-elus kepala istrinya. “Kamu berani sekali, Sayang. Terima kasih sudah menolong suamimu ini.” Melvin merebahkan kepalanya di atas ranjang sembari memandangi istrinya. “Ruby telah berjuang untuk menyelamatkan dirinya. Kini, gilirannya untuk menyelamatkan istri dan anak-anaknya.
__ADS_1
Mengingat sesuatu, Melvin bangkit dari kursinya. Ia berjalan ke luar ruangan. Di bagian luar ada dua orang bodyguard yang berjaga. Begitupula di depan pintu Rei dan ayah mertuanya, ada penjaga lain yang berjaga. Satu lorong perawatan itu sudah disewa oleh Melvin, sehingga orang asing tidak bisa seenaknya keluar masuk tanpa izin.
“Apa kalian berdua yang sejak pagi menjaga istriku?” tanya Melvin.
“Benar, Pak. Kami yang bertugas menjaga Nona,” jawab salah seorang bodyguard.
Plak! Plak!
Melvin menampar kedua penjaga yang dirasa tidak becus bekerja. “Apa kerja kalian sampai tidak tahu istriku pergi, hah?” ucapnya dengan nada setengah berteriak.
Kedua penjaga itu tertunduk.
“Nona bilang ingin ke kantin membeli makanan. Kami dilarang ikut karena dia hanya akan pergi sebentar.”
“Kenapa tidak lebih patuh pada perintahku atau Papa? Kalau Papa tahu kondisi putrinya memburuk, kalian tidak akan selamat!” ancam Melvin.
“Kami minta maaf, Pak.” Mereka tak bisa mengucapkan apa-apa lagi selain kata maaf.
Setelah mengatakan hal itu, Melvin kembali masuk ke dalam ruang perawatan Ruby. Ia benar-benar kecewa dengan para penjaga. Ia juga ingin marah kepada Ruby yang begitu nekad pergi tanpa membawa pengawal.
***
“Pak Rei ....”
Rei yang sedang fokus membaca majalah di atas tempat tidurnya sampai kaget mendengar suara yang tiba-tiba muncul. Ternyata Gita kembali lagi ke ruangannya. Setelah pamit ke toilet dan tidak kunjung kembali, Rei pikir wanita itu sudah pulang.
“Ketiduran atau pingsang di toilet? Berapa jam kamu pamit tapi tidak datang-datang,” sindir Rei.
“Hehehe ... ada urusan penting, Pak. Saya memang tadi ke toilet, tapi karena penasaran dengan Ruby, saya mengikutinya.”
Rei mengerutkan dahi. “Untuk apa kamu mengikuti adikku?”
__ADS_1
“Bapak pasti tidak tahu ... Pak Melvin sempat diculik orang yang bernama Alben.” Gita memulai ceritanya.
“Alben?” Rei keheranan.
“Iya, Alben. Lelaki yang pernah saya dan Ruby keroyok. Sepertinya dia dendam, makanya sampai menculik Pak Melvin.”
Tidak disangka Alben sudah kembali melancarkan aksinya. Rei merasa geregetan sendiri, ia baru saja menemukan saksi yang bisa menjebloskan Alben ke penjara. Ia sudah meminta bantuan kepada Ardi. Sayang saja kondisinya tidak memungkinkan untuk melanjutkan usahanya menjebloskan Alben ke penjara.
“Ruby mau menyelamatkan Pak Melvin sendiri, jadi saya buntuti diam-diam. Saya naik taksi dan habis biaya lima puluh ribu.”
Rei mulai tidak enak mendengar Gita membahas biaya perjalanannya menolong Ruby. Ia rasa wanita itu akan memanfaatkan kepahlawanannya untuk kepentingan dirinya sendiri. Wanita itu memang aneh sekaligus cerdas, bisa mengambil kesempatan dalam berbagai situasi.
“Saya juga sampai akting untuk menarik perhatian staff apartemen. Saya berhasil sampai mereka rela membantu saya mendobrak pintu apartemen Alben. Saya hebat, kan?” Gita memuji dirinya sendiri.
Rei hanya bisa terkekeh mendengar perkataan Gita. “Kamu akting apa tadi?”
“Saya bilang di apartemen Alben ada orang bawa senjata masuk lalu terdengar suara teriakan. Saya bilang mau ada pembunuhan. Tapi, ternyata akting saya memang beneran, Pak. Alben psikopat itu hampir membunuh Ruby.”
“Lalu, bagaimana kondisi Ruby? Apa dia baik-baik saja?” Rei jadi khawatir.
“Dia baik-baik saja. Ruby ada di kamar sebelah bersama Pak Melvin.”
“Syukurlah kalau begitu.” Rei masih sangat kesulitan untuk meninggalkan ranjangnya. Saat ia perlu ke toilet, ia juga butuh memanggil penjaga untuk membantunya.
“Pak ... tadi saya juga yang menyetir membawa Ruby ke rumah sakit. Padahal saya sedang lapar sekali, tapi saya berusaha fokus supaya tidak nabrak.”
Rei membuang muka. Ia sudah tahu arah tujuan pembicaraan Gita.
“Untung saja saya bisa membawa Ruby tepat waktu dan mendapat bantuan segera. Setelah itu, saya langsung lari ke kantin karena hampir pingsan. Alhamdulillah, sebungkus nasi padang sepuluh ribu menjadi penyelamat jiwa saya, Pak.”
Rei mengambil dompet dari meja di samping ranjangnya. Ia membukanya dan mengambil beberapa lembar uang pecahan seratus ribu lalu memberikannya kepada Gita. “Ini untuk mengganti uangmu yang tadi, ya ... sekalian untuk membayar taksi kamu pulang nanti.”
__ADS_1
Gita senyum-senyum sembari menerima sepuluh lembar uang ratusan ribu itu. “Padahal saya tidak minta, Pak. Tapi, terima kasih, ya ... Pak Rei memang yang terbaik.” Gita pura-pura sungkan menerimanya, padahal ia sangat kegirangan. Di dalam otaknya dia sedang menari-nari bahagia mendapat uang yang cukup untuk makan selama satu atau dua minggu ke depan.