
"Papa .... " Ruby berlari memeluk ayahnya setelah Melvin pergi. Tingkah kekanak-kanakkan yang sudah lama ia tinggalkan kini muncul lagi di depan ayahnya. Ada rasa terkejut, takut, dan bahagia yang berbaur di hatinya. Ruby masih tidak menyangka sang ayah akhirnya merestui hubungan mereka.
Pak Wijaya mengelus lembut kepala Ruby yang masih menangis sesenggukan sambil memeluknya. Awalnya ia datang ke apartemen Ruby karena mengkhawatirkan kondisi putrinya. Ia takut Ruby menangis sendirian di sana karena pernikahannya dengan Ardi dibatalkan. Sejak bekerja Ruby memang jadi jarang tinggal di rumah.
Akan tetapi, hal yang terjadi di luar perkiraannya. Pak Wijaya justru memergoki putrinya sedang bersama Melvin, putra dari salah satu rekan bisnisnya. Dia tidak menyangka jika keduanya sudah menjalin hubungan sejak lama.
Pak Wijaya mengajak anaknya untuk duduk kembali di sofa. "Kenapa masih menangis? Papa kan sudah menyetujui hubungan kalian."
Ruby mengusap air matanya. Ia menatap ayahnya dengan wajah sembab, "Aku kira Papa akan marah dan melarang hubungan kami."
"Hah ... melihat putrinya menangis, ayah mana yang akan tega memarahinya?" Pak Wijaya mengusap puncak kepala Ruby.
"Tadi Papa sudah marah-marah. Bahkan sampai menampar Kak Melvin."
"Itu karena kalian sudah mengecewakan papa. Kalau papa tidak datang, kalian pasti akan lanjut yang aneh-aneh."
"Nggak kok, Pa," jawab Ruby.
Pak Wijaya bisa membaca gerak mata putrinya. Mana mungkin ia percaya dengan ucapan anak muda yang sedang dimabuk cinta. Dia sendiri juga pernah mengalami masa muda.
"Kamu yakin mau menikah dengan Melvin? Dia itu sudah duda. Putri papa kan cantik, banyak lelaki single dan belum pernah menikah yang pastinya mau dengan kamu."
"Tapi Ruby sudah suka Kak Melvin sejak lama, bahkan sebelum dia menikah dan bercerai."
"Jangan-jangan dulu kamu memutuskan pulang ke rumah dan menangis setiap hari gara-gara ditinggal nikah?" ledek Pak Wijaya.
"Papa ... jangan bahas lagi!" keluh Ruby. Ia malu sendiri dengan dirinya saat itu.
"Hm, waktu kamu bilang sedang suka dengan suami orang, papa kira kamu bercanda. Masa anak papa yang cantik suka dengan lelaki beristri? Memangnya anak papa tidak laku?" Pak Wijaya kembali mengingat saat-saat Ruby bercerita bercerita padanya.
Ruby menunduk, "Kak Melvin juga menikah karena terpaksa, Pa. Dia tidak bisa melawan keinginan orang tuanya saat itu."
"Lalu, kenapa kamu tidak berkata jujur kepada papa saat itu? Malah memilih menangis sendirian."
"Kalau aku cerita Papa bakal bantu menggagalkan pernikahan itu, ya?" Ruby menatap ayahnya dengan pandangan berbinar. Ia tidak menyangka ayahnya sesayang itu kepadanya.
"Tentu saja tidak."
Jawaban ayahnya di luar ekspektasi Ruby yang terlalu tinggi.
"Untuk apa papa ikut campur dengan urusan anak muda? Papa hanya bisa menjadi teman curhatmu dan menemani kamu menangis."
__ADS_1
"Yah, Papa .... " Ruby memonyongkan bibirnya. Air matanya sudah berhenti mengalir setelah berbicara dari hati ke hati dengan ayahnya.
"Jadi, dulu kalian kenal saat kamu tinggal dengan Bi Minah?"
Ruby mengangguk.
"Melvin suka waktu kamu pura-pura jadi orang miskin itu?"
"Suka, Pa. Orangtuanya saja yang tidak suka." Ruby jadi teringat lagi saat ditawari uang oleh Kania.
"Kalau orangtua Melvin kali ini juga tidak merestui kalian bagaimana?"
Ruby langsung cemberut, "Papa .... "
"Dulu mereka kan tidak menyukai anak papa, mungkin juga sekarang mereka masih tidak menyukaimu." Pak wijaya semakin senang membuat anaknya gelisah dan ketakutan.
"Haah .... " tubuh Ruby langsung lemas. Pikiran yang tadinya positif jadi negatif. "Papa tolong, Pa.... " rengek Ruby seraya bergelanjut manja pada ayahnya.
"Papa harus apa?" Pak Wijaya keheranan melihat kelakuan putrinya.
"Tolong bujuk Om Ken dan Tante Rania. Papa kan dekat dengan mereka .... "
"Kenapa harus papa? Kamu sendiri yang usaha supaya mereka mau merestui."
"Papa sudah memberikan restu."
Ruby semakin mengeratkan pelukannya. Dalam hati, ia benar-benar khawatir jika pernikahannya kali ini juga akan gagal.
Pak Wijaya yang tahu suasana hati putrinya, mengelus puncak kepalanya. "Sudah, jangan khawatir. Papa akan berusaha agar kalian bisa bahagia."
"Terima kasih ya, Pa." ucapan sang ayah menenangkan hatinya.
"Malam ini kita pulang ke rumah. Besok akan ada tamu yang datang, jadi ada banyak hal yang perlu kita persiapkan."
"Kamu tidak masalah kan, papa nikahkan tanpa pesta yang mewah?"
"Tidak apa-apa, Pa. Restu dari Papa saja sudah cukup untuk Ruby."
"Terus terang papa khawatir dengan pergaulanmu. Jadi, lebih baik kalian langsung menikah saja daripada berlama-lama pacaran. Apalagi sekarang banyak yang hamil duluan sebelum menikah. Papa tidak mau hal itu terjadi padamu."
Ruby serasa sedang disindir secara langsung oleh sang ayah. "Sudah cukup, Pa. Aku sangat malu kalau Papa terus menyindirku."
__ADS_1
"Pasti Melvin yang mengajari anak papa yang baik jadi nakal. Ingin papa hajar lagi dia."
"Dia calon menantu Papa ... masa mau dipukul lagi?"
"Siapapun itu kalau berani membuat anak kesayangan papa sedih, akan papa hajar."
"Papa tidak perlu repot-repot, Ruby bisa menghajarnya sendiri kalau dia macam-macam lagi."
"Halah ... kamu digombali sedikit saja oleh duda paling sudah luluh."
Ruby membulatkan mata, pipinya dikembungkan. "Papa ya .... " kata-kata ayahnya semakin membuatnya malu.
"Alasan Papa ingin menikahkan kalian secara sederhana dan tertutup juga untuk menghormati keluarga Ardi. Belum lama kalian batal menikah, beritanya juga sudah menyebar di area kota."
Ruby tidak berpikir sampai di sana. Memang kedengarannya akan aneh jika pernikahan itu batal tapi dia malah menikah dengan lelaki lain. Pasti akan menjadi berita viral jika sampai tersebar.
"Papa harap nanti kamu bisa menahan diri untuk tidak mengumbar dulu hubungan kalian di publik. Untuk kebaikan kalian dan juga Ardi tentunya."
"Iya, Pa. Ruby tahu, kok."
Ardi orang yang baik. Selama mereka menjalin hubungan, ayahnya cukup dekat dengan Ardi sebagaimana Ruby dekat dengan Tante Sukma. Meskipun hubungan merek tidak berakhir dengan baik, namun ia berharap hubungan baik yang telah terjalin tidak akan berubah.
"Kalau begitu, kita pulang sekarang saja."
"Aku ganti baju dulu, Pa."
"Di rumah saja sekalian. Tadi papa hanya diantar sopir, jadi papa akan numpang di mobilmu."
"Baiklah, ayo, Pa!"
Ruby merangkul tangan ayahnya. Mereka keluar meninggalkan apartemen untuk pulang ke rumah.
Ruby sudah tidak sabar menantikan besok malam, dimana keluarga Melvin akan datang ke rumah dan mereka akan menikah. Ruby menyandarkan kepalanya di lengan sang ayah. Rasanya ia jadi sangat menyayangi ayahnya.
Ruby beruntung memiliki ayah sebaik dan seperhatian Pak Wijaya. Apalagi setelah ayahnya memutuskan untuk berhenti bekerja, perhatian yang diberikan untuknya menjadi lebih besar.
*****
Sambil menunggu update selanjutnya, mampir dulu kesini 😘
Judul : Kugoda Lagi Suamiku
__ADS_1
Author : Khodijah Rahman