
Melihat Putri yang seketika terdiam, Nina pun lantas bertanya.
"Kamu kenapa Put kok tiba-tiba jadi melamun, apa kamu ada masalah, apa kamu sedang merahasiakan sesuatu dariku?" tanya Nina.
"Apa aku harus jujur saja sama Nina kalau aku sebenarnya sudah ingat semuanya termasuk ingat siapa dia sebenarnya?"batin Putri sambil menatap kearah Nina.
"Put, aku sedang bertanya padamu apa kamu sedang memikirkan sesuatu?"tanya Nina lagi.
"Akan lebih baik aku kirimkan aja vidio ini pada Nina, sekalian aku juga minta bantuan kepadanya,"batinnya lagi
"Aku tidak bisa menjelaskan semuanya sama kamu, aku akan mengirimkan videonya lewat WhatsApp jadi kamu lihat nanti ya?"
"Memangnya apa yang inggin kamu kirimkan kepadaku?"
"Sudahlah nanti kamu juga akan tahu!"timpal Putri.
Awalnya Putri yang berniat inggin mengirimkan video itu pada Nina, akan tetapi sesaat ia melihat Gibran dan Revi berjalan sambil bergandengan membuat fokusnya seketika pudar. Pandangan yang gak harusnya ia lihat, kini telah terpampang nyata didepan matanya.
"Dulu pada saat ingatanku belum pulih aku selalu berharap agar ingatanku secepatnya agar kembali, pada saat itu juga aku tidak merasakan rasa sakit ini ketika melihat kalian. Tapi kenapa giliran amnesia ku sudah kembali pulih, kenapa aku harus merasakan kembali rasa sakit seperti ini?"batin Putri dengan tatapan yang sedihnya.
"Woy Put kamu kenapa melihat kearah Gibran dan Revi tatapan kamu sampai segitunya, ada apa?"tanya Nina yang membuyarkan lamunannya.
"Gak aku gak ada masalah kok! Oh iya btw kamu udah lihat belum isi video tadi?"
"Isi video, memangnya kamu sudah mengirimnya padaku?"tanya Nina nampak heran.
"Iya aku tadi sudah mengirimkannya bahkan udah berhasil masuk, coba aku periksa lagi ya,"ucapnya lagi.
Sesaat ia memeriksa kembali betapa terkejutnya dia, bahkan perasaan sedih yang tadinya telah menimpanya seketika perasaan itu menjadi kecemasan sesaat ia melihat pada siapa dia telah mengirimkan vidio barusan.
" Astaga kenapa aku malah mengirimnya ke whatsapp no kontak Gibran, astaga Putri kenapa kamu bisa se'ceroboh ini sih gimana dong ini sekarang, kalau dia sampai lihat dan tahu semuanya gimana?"batin Putri yang mulai was-was.
"Put, kamu kenapa- kenapa wajah kamu jadi tegang seperti itu ada apa?"
"Ini Nin, aku...aku...harus pergi, ada sesuatu yang harus aku lakukan sekarang maaf ya dah,"
"Kenapa dengan Putri, kenapa dia bisa aneh gitu sifatnya dan video apa yang dia maksud tadi?"gumam Nina yang terlihat bingung.
Berlari keluar dari kantin pandangan pun ber'bolak-balik melihat kearah kanan maupun kiri.
"Gibran..Gibran...dimana dia sekarang, tadi aku melihat dia jalan bersama Revi keluar dari depan kantin ini, tapi kenapa dia sekarang dia sudah menghilang, aku harus segera menghapus vidio itu sekarang sebelum ia melihatnya terlebih dahulu, tapi dimana dia sekarang?"batin Putri sesekali ia pun mengacak-acak rambutnya.
"Maaf aku mau tanya, apa kamu lihat Gibran dimana?" tanya Putri pada salah satu temannya yang kebetulan lewat.
"Gibran, tidak aku tidak tahu dia dimana."
"Ya sudah makasih!"
"Astaga Putri kamu bodoh sekali sih kamu kan bisa menghapus pesan lewat ponsel kamu sendiri, kenapa kamu gak kepikiran sedari tadi.
Bergegas ia pun mengecek WhatsApp dan melihat jika centang dua yang tadinya berwarna abu-abu, kini pun telah berubah menjadi warna biru yang artinya pesan sudah terbaca.
"Ha!" teriak Putri dengan membungkam mulutnya.
"Putri ada apa kenapa kamu teriak?"tanya salah satu temannya.
__ADS_1
"Tidak! Aku tidak apa-apa maaf ya?"
"Kamu ngagetin aja!"
"Sudah centang biru yang artinya pesan baru aja terbaca. Apa mungkin Gibran sudah melihat video yang aku kirimkan barusan, astaga gimana dong ini apa yang harus aku lakukan sekarang?"batin Putri yang makin terlihat bingung.
"Kamu kenapa? Kenapa wajah kamu jadi setegang seperti itu?" tanya seseorang dari belakang.
"Gi...Gibran."
"Kenapa apa yang membuatmu jadi setegang ini, apa kamu takut akan video yang barusan kamu kirimkan padaku?"
"Jadi kamu beneran sudah melihat video itu?"
"Iya aku sudah melihatnya, tapi yang bikin aku penasaran kenapa didalam video itu ada Papanya Sally apa yang telah terjadi sebenarnya?"
"Aku..aku ...."
"Ayo ikut aku!"ajak Gibran sembari mengandeng tangan Putri.
"Kamu mau ajak aku kemana?" tanya Putri.
"Sudah ikut aja!"
Sesaat Gibran membawa pergi Putri. Gibran pun membawanya ketempat yang agak sepi dan tidak mungkin bakalan ada orang yang akan melihat mereka.
"Kamu kenapa membawaku ketempat sampah seperti ini, apa tidak ada tempat lain, apa?"
"Sudah jangan berisik cepat kasih tahu aku, apa maksud dari video yang kamu kirimkan tadi? Ada hubungan apa Papanya Sally pada video yang kamu kirimkan barusan, jangan bilang kalau sekarang ingatan kamu sudahlah pulih?"
"Astaga jadi benar kalau ingatan kamu sudah pulih, terus apa maksud kamu menyembunyikan semua ini apa kamu sengaja inggin membohongi kita semua?"
"Kamu itu kalau bicara jangan keras-keras kenapa, kalau ada orang yang dengar dimana!"
"Cepat kasih tahu aku apa maksud kamu membohongi kita semua, jika kamu tidak mau ngasih tahu aku jangan salahkan aku kalau aku bakal teriak?"ancam Gibran.
"Jangan! Aku mohon jangan, baiklah aku bakal memberitahumu."
"Ya sudah cepat katakan sekarang!"
"Baiklah aku bakal kasih tahu kamu. Alasan kenapa aku melakukan semua ini karena satu hal. Aku hanya inggin menjebak orang yang sudah menabrak ku dan membuatku terluka kemaren."
"Maksud kamu? Jadi kamu tahu orang yang sudah menabrak kamu kemaren?"timpal Gibran.
"Iya aku tahu siapa orang itu, dia yang tak lain orang itu adalah Sally."
"Apa...Sally?"
"Iya, dia lah orang yang sudah menabrak ku, bahkan dengan teganya setelah ia menabrak ku dan membuatku terluka parah, ia meninggalkanku tanpa ada rasa kasihan sama sekali. Bahkan Papanya yang mengetahui hal ini dia malah ikut bersekongkol dengan Putrinya, berusaha menghilangkan jejak sekaligus bukti yaitu dengan merenovasi kaca mobil depan yang nampak seperti semula dan tanpa ada bekas goresan sama sekali."
"Dasar bedeb*h, penjahat seperti dia gak cocok berada di SMA ini, aku harus kasih pelajaran ke dia, aku harus beri perhitungan ke dia!"
"Tunggu Gibran, tahan emosi kamu, kamu gak akan bisa menyelesaikan masalah dengan perasaan marah seperti ini, Sally dan Papanya bukanlah orang bodoh jika kita melabrak mereka sekarang dengan tanpa adanya bukti yang jelas, yang ada kita yang bakal kena masalah?"
"Terus sekarang apa aku harus aku lakukan, apa aku harus pura-pura diam seperti tidak ada masalah yang terjadi? Dia hampir saja menghilangkan nyawa kamu, bahkan melihat kondisimu yang sekar*t terbaring lemas diatas brangkar Rumah sakit! Apa aku harus tetap diam, tidak! Apa yang sudah dia lakukan ini sudah sangatlah keterlaluan jika kamu gak mampu memasukkannya ke penjara baiklah biar aku sendiri yang menyeretnya ke Kantor Polisi sekarang!"gertak Gibran yang terlihat sangat emosi. Putri yang melihatnya ia pun kemudian memberikan pelukannya.
__ADS_1
"Aku tahu kalau kamu sedang marah, tapi aku mohon jangan gagalkan rencana yang sudah aku rencanakan, jangan gagalkan rencana yang sudah aku atur selama ini, aku sengaja merahasiakan kondisiku ini karena masih ada tugas yang belum selesai untuk aku tuntaskan. Jadi aku mohon tahan emosi kamu, aku mohon!"ucap Putri dengan memohon.
"Baiklah karena kamu yang minta, aku akan menahan emosiku ini, dan aku akan membantu kamu menyelesaikan masalah ini, tapi kita perlu memberi perhitungan terlebih dulu padanya, dan sekarang giliran aku yang harus mengerjainya karena aku inggin dia sendiri yang mengakuinya didepan banyak orang.
"Baiklah jika itu yang kamu inginkan aku tidak masalah. Sudah jangan bersedih lagi kamu tidak sendirian sekarang!" Setelah melepas pelukannya Gibran pun mengelus kepala Putri dengan lembut. Putri yang melihatnya ia hanya bisa tersipu malu.
"Kenapa kamu tersenyum seperti itu kepadaku? Apa kamu lupa aku ini sudahlah punya pacar apa kamu gak inggin dianggap orang berselingkuh denganku?"tanya Gibran sembari sedikit meledeknya.
"Apa sih siapa juga yang mau jadi selingkuhan kamu yang benar saja, gini-gini aku juga masih punya hati baik lagi dan gak mungkin aku bakal menikung sahabat terbaikku sendiri, apalagi Revi dia juga sangat baik kepadaku.
"Oooo baiklah aku mengerti sekarang!"
"Apanya yang mengerti?"timpal Putri.
Mereka yang lagi bergurau, tiba-tiba langkah kaki seseorang pun terdengar, Putri dan Gibran yang menyadarinya dengan spontan Putri pun mendorong tubuh Gibran hingga terjungkal ke dalam tempat sampah. Bergegas Putri pun berlari meninggalkan tempat ini.
"Aw astaga Putri kasar amat sih kamu, kenapa kamu pake acara dorong aku ke tempat sampah segala. Aw punggungku!"
rintih Gibran sembari memegang punggung belakangnya.
"Kamu, apa yang kamu lakukan disini?"tanya seseorang yang tak lain adalah petugas sampah.
"Anu pak, aku..aku..gak lagi apa-apa hanya cari angin saja.
"Cari angin?"balasnya sembari mikir.
"Iya. Ya sudah kalau gitu saya permisi dulu ya pak?"balasnya yang kemudian ia pun bergegas pergi meninggalkan tempat ini.
"Ada apa dengan anak itu, kenapa dia bisa nyungsep di sampah seperti ini?"gumamnya yang agak terheran.
Berjalan melewati koridor sekolah semua pelajar pun pada memperhatikannya dengan tatapan sangat serius, Gibran yang menyadarinya ia tidak memperdulikan apa tanggapan mereka dan dengan segera ia pun memasuki ruangan kelasnya.
Akan tetapi sesampainya Gibran masuk dan hendak akan duduk ditempat duduknya seseorang pun bertanya padanya.
"Gibran apa yang barusan kamu lakukan kenapa tubuhmu bau sekali.
"Bau..masak sih?"ujarnya yang langsung mencium lengannya.
"Hm pantesan orang-orang pada melihatku seperti itu, ternyata ini permasalahannya?"
"Gibran apa yang terjadi, kenapa tubuhmu bisa bau seperti ini jangan bilang kalau lo tadi gak mandi?"ledek Verrel.
"Enak aja lo bilang, gue ini bukannya tidak mandi, tapi tadi gue itu baru aja nyungsep ditempat sampah makanya jadi bau seperti ini?"balas Gibran.
"Astaga lo itu ada-ada aja ya pake acara nyungsep di tempat sampah segala, memangnya apa yang lo cari sih?" tanya Verrel.
"Ehh itu..aku..nyungsep disana karena lagi mencari sesuatu.
"Sesuatu, sesuatu apa?"
"Sudahlah jangan bahas itu lagi!"
"Baiklah!"
BERSAMBUNG...
__ADS_1