
Tatapan mereka yang belum juga teralihkan hingga lima menit kemudian kesadaran mereka pun akhirnya telah tersadar setelah terdengar suara langkahan kaki dan juga ketokan pintu yang seketika membuat mereka pun akhirnya berpaling.
DOK....DOK...DOK..
Suara ketukan pintu terdengar.
"Suara ketukan pintu!.
Seketika tatapan mereka pun teralihkan, bergegas mereka pun berlari kearah pintu.
"Heyy buka pintunya siapapun kalian, cepat buka pintunya!"teriak Gibran sembari mengedor-ngedor pintu sekuat tenaganya.
"Gibran ini gue Verrel! Maaf kalau gue baru datang, gue baru aja mengisi pulsa, dan baru sadar akan pesan yang lo kirim tadi.
"Verrel. Alhamdulillah akhirnya lo baca pesan gue juga, cepat tunggu apa lagi dobrak pintunya sekarang juga, kita sudah sangat lapar nih cepat buka pintunya!"perintah Gibran.
"Iya...iya...aku bakal buka pintunya sekarang, mendingan kamu mundur terlebih dulu!"
"Apa disana tidak ada kunci yang masih tertempel?"tanya Gibran.
"Disini tidak ada kuncinya, apa perlu aku mencarinya?"tanya Verrel.
"Gak perlu, mendingan sekarang kamu cepat dobrak pintunya saja,"titah Gibran.
"Baiklah, aku bakal mendobraknya, kamu minggir ya!"
"Baiklah!"
Tidak membutuhkan waktu lebih lama, Verrel yang tenaganya cukup berisi ia pun hanya membutuhkan satu dobrakan pintu tersebut pun akhirnya langsung terbuka.
DYAR...
"Putri...jadi kamu ikut terkunci didalam sini?" tanya Verrel yang begitu terkejut melihat Putri yang ikut berada ditempat ini.
"Iya kita memang tidak sengaja terkurung berdua disini, ada seseorang yang sengaja mengunci kita?"timpal Putri.
"Dan jangan bilang kalau kalian sudah?" sahut Verrel, tapi Putri langsung menyangkalnya.
"Stop jangan mikir yang tidak-tidak kita sama sekali tidak melakukan hal seperti itu, makasih ya karena kamu udah mau menolong kita..terima kasih. Sekarang aku harus segera pergi karena ada urusan yang harus aku lakukan sekarang, terima kasih ya?"
"Baiklah sama-sama, apa kamu butuh tumpangan untuk pulang?" tawar Verrel.
"Tidak, makasih aku bisa pulang sendiri kok ya sudah aku cabut dulu dah!"balas Putri yang tanpa berkata lagi, ia langsung berlari meninggalkan mereka dengan gerak-gerik yang agak mencurigakan.
"Ada apa dengan Putri, kenapa dia terlihat agak panik kaya gitu, lo gak lagi habis berbuat yang macam-macam kan?"tanya Verrel dengan tatapan penasarannya.
"Apa yang kamu pikirkan sekarang, gila kali ya enggaklah dia terburu-buru karena mungkin dia sudah sangat lapar?"timpal Gibran yang mencoba menyangkal pembicaraannya.
"Iya, mungkin kali?"timpal Verrel lagi.
__ADS_1
"Ya sudah sekarang kita pergi aja dari sini. Dan Syukurlah kamu datang tepat waktu , ya walaupun telat sedikit tapi gue tetap berterima kasih sama lo, thank ya?"
"Iya sama-sama, ya sudah kalau gitu kita sekarang pergi dari sini?"
"Baiklah, ayo!"balas Gibran yang kemudian mereka pun pergi meninggalkan gudang ini.
"Hu untung saja Verrel dengan segera langsung datang tadi, jadi adegan yang gak seharusnya terjadi gak akan pernah terjadi. Huhu syukurlah aman sekarang, tapi kalau dipikir-pikir si pria itu cukup mesum ya ternyata masih sekolah juga?"kesal Putri yang akhirnya ia pun berlari meninggalkan Sekolah ini.
19:30 malam.
Disebuah kamar yang terhiasi oleh wallpaper dinding cantik lan indah terdapat lah seseorang yang sedang terduduk termenung diatas ranjang bermotif warna biru muda yang menghiasi ruangan ini.
Sembari melamun memikirkan sesuatu, seseorang itu pun berbaring diatas kasur dan membalikkan tubuhnya kearah kanan sembari berkata.
" Sebenarnya siapa aku ini, kenapa aku sama sekali tidak bisa mengingat semuanya. Jika setiap hari aku harus hidup dengan bayang-bayang seperti ini, apa mungkin aku akan sanggup menahan semua ini.
Tidak aku tidak bisa tinggal diam seperti ini, dengan aku berdiam diri yang ada aku bakal memperlambat keadaan. Jadi yang harus aku lakukan sekarang, aku harus mencari petunjuk. Karena aku yakin pasti ada petunjuk yang tersimpan di kamarku ini, jadi yang harus aku lakukan sekarang aku harus menggeledah seluruh isi kamar ini. Iya itu harus, ayo Putri kita mulai geledah semua ini.
Lantas ia pun bangkit dari tempat tidur. Bak seperti preman yang menggeledah rumah seseorang untuk mencari barang berharga yang inggin mereka curi. Putri pun akhirnya mulai mengeledah satu persatu barang-barang yang pada tertata rapi di kamarnya. Mulai dari Almari, tempat buku maupun nakas.
Tapi semua usahanya ternyata sia-sia saja ia tidak juga menemukan barang yang ia cari. Hingga pandangannya pun tiba-tiba teralihkan setelah sekilas ia melihat buku tebal bersampul biru muda yang agak tebal.
Tanpa berfikir ia pun lantas menggambil buku yang tertata rapi dimeja tersebut. Dan ternyata memang benar buku tersebut bersampul dengan tulisan " DIARY KU".
"Buku Diary ku jika kebanyakan orang pasti akan menuliskan curhatan hatinya lewat buku diary, apa mungkin aku juga melakukan hal yang sama. Ini memang benar tulisan tanganku, jadi pastinya ini buku Diary ku sendiri. Mendingan sekarang aku baca aja buku ini, siapa tahu didalam sini aku menemukan petunjuk.
⭐ Lembaran satu ⭐
Jika kebanyakan orang di dunia ini pasti akan sangat bahagia mendapat kekayaan yang sangat berlimpah, tapi kenapa semua itu sama sekali gak berhati bagiku. Karena pada kenyataanya orang yang paling aku sayang ternyata sama sekali gak pernah sayang kepadaku. Ma..Pa..kapan kalian akan sadar jika kekayaan yang kalian miliki sama sekali tidak akan berarti pada saat kita sudah berada diakhirat nanti.
"Apa maksud dari perkataan yang aku tulis ini. Dan ada apa dengan Mama dan Papa sebenarnya?"gumam Putri yang merasa bingung, dan kemudian iya pun melanjutkan lagi baca lembaran selanjutnya.
💔 Lembaran kedua 💔.
Memang pada dasarnya yang namanya perasaan memang harus dikatakan dengan sejujurnya pada seseorang yang kita cintai, agar cinta itu bisa bersemi dan kita bisa bersatu dalam suatu ikatan yang pasti, tapi kenapa aku sangat sulit untuk mengungkapkan isi hatiku pada seseorang itu. Apalagi dengan adanya orang ketiga aku rasa perasaan ku ini hanya akan jadi cinta dalam diam yang tidak mungkin untuk aku mampu ungkapin padanya. Walaupun aku hanya mampu mencintaimu secara diam-diam aku rasa aku akan kuat untuk menahan perasaan itu, walaupun rasa sakit dan cemburu tidak bisa aku hindari nanti.
"CINTA DALAM DIAM. Ungkapan isi hati siapa ini, apa mungkin memang aku yang menulisnya sendiri. Tapi siapa maksud laki-laki yang ada didalam ungkapan ini. Apa mungkin aku mencintai seseorang, tapi aku tidak mampu untuk mengungkapkannya?".
Astaga apalagi lagi ini, kenapa aku sudah mulai menemukan titik terang tapi kenapa teka-teki nya harus sesulit ini. Dan siapa orang yang aku kagumi. Sudahlah Putri mendingan kamu lanjutkan lagi membacanya.
Dan lembaran terakhir pun akhirnya Putri membukanya. Tapi belum juga ia membaca lembaran itu, ia sudah terlebih dulu menemukan sebuah foto seorang bapak-bapak bersama dengan seseorang gadis yang tak lain gadis itu adalah Sally.
Spontan Putri yang melihatnya ia pun membuka matanya dengan sangat lebar.
"Tunggu. Ini kan foto gadis tadi yang mengunciku di gudang, kenapa foto dia ada di buku diary ku, dan siapa laki-laki ini. Mendingan aku baca dulu lembaran ini.
😠 Lembaran ketiga 😠.
Dasar penjahat. Sejahat itukah kalian kepada keluargaku, sampai-sampai kalian berani meneror ku dengan secara seperti itu. Dan racun apa yang dikasih om Herland sampai-sampai Papa bisa begitu dipercaya itu sama mereka. Tapi ingat Putri bukanlah gadis bodoh yang hanya akan diam melihat keluargaku dipermainkan seperti ini, lihat saja nanti jika sekali lagi kalian berani berulah, maka jangan salahkan aku kalau aku juga akan pakai cara kasar sama kalian.
__ADS_1
"Maksudnya, apa Gadis ini adalah musuhku, pantesan dia tega berbuat jahat seperti itu kepadaku. Tapi dendam apa yang terjadi diantara kita kenapa aku terlihat sangat marah dan benci banget sama dia. Kayaknya aku harus menyelidiki ini, aku harus tahu ada motif apa yang tersembunyi sesungguhnya.
Pagi yang cerah telah menampakkan sinarnya didalam ruangan yang terbilang besar dengan adanya berbagai menu banyak makanan yang sudah tertata rapi diatas meja makan seperti nasi goreng, roti, selai coklat maupun selai strawberry, berbagai macam buah-buahan segar dan juga susu putih yang membuat sarapan menjadi nikmati.
Dan disana sudah ada tiga seseorang yang sudah duduk rapi sembari menikmati menu sarapan.
"Pa?"tanya seseorang gadis kepada Papanya.
"Iya sayang ada apa?"balas Papanya kemudian
"Putri hanya inggin bertanya, apa Papa kenal dengan orang yang ada difoto ini?"tanya Putri sembari mengulurkan sebuah foto pada Papanya.
"Ini kan foto om Herland sama Putrinya yaitu Sally, apa kamu mulai mengingat mereka sayang?"timpal Mamanya.
"Iya sayang, apa kamu sudah mulai mengingatnya?"tanya Papanya lagi.
"Putri belum bisa mengingat apa-apa, tapi entah kenapa Putri seperti merasa ada yang aneh pada mereka. Apa kalian juga kenal pada mereka?"
"Iya kita mengenalnya sayang, mereka itu teman Papa dan Mama, memang kamu itu tidak terlalu dekat sama mereka karena kamu itu agak benci sama mereka!
"Benci, tapi apa kalian tahu apa alasannya?" tanya Putri tapi seketika orang tuanya malah terdiam, dan mencoba menyangkal pembicaraan tadi.
"Maaf sayang kita tidak bisa berlama-lama, Papa lupa kalau Papa ada janji sama om herland jadi Papa dan Mama berangkat dulu ya!"
"Baik Pa, kalian berhati-hati ya!"
"Baik sayang, Pak nanti anterin Putri ya?"ujar Papanya pada supir.
"Baik tuan saya akan mengantarnya nanti!"
"Baiklah kalau gitu, ya sudah kalau gitu kita berangkat dulu ya datang?""
"Baik Pa."
"Ada apa dengan Papa dan Mama, kenapa mereka seperti menyembunyikan sesuatu padaku?". Gumam Putri yang agak bingung.
"Non Putri, apa berangkat sekarang?". Tanya Pak supir pribadi.
"Iya Pak sekarang, tapi saya ambil dulu tasku ya Pak?".
"Baik, Non silahkan!"
Dan hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit kurang. Akhirnya Putri telah sampai juga di Sma Cenderawasih. Berjalan melewati koridor sekolah, pandangannya pun tiba-tiba teralihkan sesaat ia melihat tiga perempuan yang berjalan tepat saling berhadapan dengan dirinya.
Tidak terdengar ada suara yang terucap dari dua mulut mereka masing-masing, yang ada hanyalah terpaan angin yang membuat suasana hawa menjadi sejuk dan suara langkahan kaki yang terdengar tidak terlalu keras bunyinya.
Tatapan demi tatapan telah mereka lewati, hingga tubuh seseorang itu yang akhirnya hilang dari pandangannya setelah pergi dan berbelok pada salah satu pintu keluar.
BERSAMBUNG...
__ADS_1