
Keluar dari halaman rumah mengantar Gibran yang hendak akan berangkat kerja, dirinya memperhatikan dengan tatapan serius akan ekpresi Gibran yang terlihat memanyunkan bibirnya.
"Kamu kenapa cemberut seperti itu? Apa ekpresi yang kamu tunjukkan saat ini ada hubungannya sama permintaan yang aku tolak tadi malam?"tanyanya yang beralih pandangan Gibran menatapnya.
"Tidak! Aku cemberut bukan soal itu. Aku juga sadar melakukan hubungan itu semua orang juga bisa tidak sembarang orang mengambil keputusan yang tepat. Aku tau kamu menundanya karena kamu belumlah siap aku bisa pahami itu. Oh iya apa kamu juga akan mulai melanjutkan kerja lagi? Apa kamu tidak bisa mengambil libur 1 hari lagi?"
"Tidak bisa Gib, aku sudah mengambil cuti 2 hari aku sungkan jika libur banyak-banyak, belum lagi aku termasuk pekerjaan baru jadi takutnya mereka akan berfikir yang tidak-tidak mengenai diriku jadi tidak apa-apa aku masih mampu kok."
"Baiklah kalau itu memang sudah jadi keputusan kamu, aku akan meminta Lee untuk mengantar kamu jadi jika dia belumlah datang kamu janganlah datang dulu!"
"Kamu tidak perlu menyuruh Lee untuk mengantarku. Aku tidak apa-apa jika harus berangkat seorang diri lagian aku juga ada mobil pribadi jadi tenanglah jangan cemas!"
"Kamu serius tidak masalah berangkat sendiri?"
"Iya aku tidak masalah, belum lagi ship aku nanti agak siangan jadi gak papa
"Baiklah jika itu sudah jadi keputusan kamu aku berangkat dulu jaga diri kamu baik-baik
"Baiklah!"
Terlihat dari raut wajah Gibran berniat ingin memberikan kecupan pada kening sang Istri, tapi rasa canggung yang terdapat dari keduanya membuat niatnya lagi-lagi pun gagal. Putri yang hanya memberikan kecupan pada telapak tangan suami, Gibran yang nampak canggung dirinya lantas bergegas masuk kedalam mobil, menjalankannya disaat Putri masih menunggu biar pun pandangan mobil itu terlihat mulai menghilang.
"Dia memang Suamiku tapi kenapa untuk memandang wajahnya bahkan memberikan kecupan nyatanya masihlah canggung?"ucapnya dengan tersenyum tipis.
Langkahnya hendak akan masuk kedalam kediamannya. Belum juga Putri sepenuhnya masuk menutup pintu, pukulan dari balok kayu seketika ia dapat alhasil dirinya tersungkur kelantai.
Akibat pukulan benda tumpul itu, tubuh Putri pun seketika melemah, tersungkur ke lantai dan membuatnya tidak berdaya dalam keadaan tengkurap.
Seseorang yang berhasil memukul pun lantas menunjukkan wajahnya.
"Cepat masukkan dia kedalam mobil!"
"Baiklah!"
Beberapa saat kemudian kedua kelopak matanya mulai terbuka lebar, menyadari jika dirinya sudah ada didalam mobil entah mobil siapa, ia melihat supir yang sedang mengemudi dengan seriusnya. Mengenakan masker penutup wajah membuat Putri tidak mengenali dengan jelas siapa seseorang itu.
"Siapa anda?"tanya Putri dengan paniknya.
"Maaf Nyonya saya hanya menjalankan perintah dari tuan Gibran! Tuan meminta saya untuk membawa Nyonya ke perusahaan! "balasnya dengan datar.
"Tuan Gibran? Jadi dia yang merencana semua ini?"
"Iya Nyonya, beliau menyuruh saya untuk mengantar anda ke-suatu tepat!"
"Tidak mungkin, jika ini semua ulah Gibran untuk apa dia memakai cara sampai-sampai pakai ide gila dengan memukulku mengunakan balok kayu tadi. Ini semua pasti ada apa-apa aku harus menghubunginya?"batinnya.
Menekan kamera rekaman suara pada sambungan teleponnya, lalu ia menekan kode senyap agar suara yang dihasilkan dari sambungan Gibran tidaklah terdengar.
Merasa perasannya tidaklah tenang, akhirnya apa yang ia curigai benar-benar terjadi pandangannya teralihkan setelah ia sadar bukan kearah mobil ini membawanya pergi tapi berbeda jauh dari arah yang ingin ia tuju.
"Maaf Pak ini bukan arah menuju ke perusahaan tuan Gibran, siapa anda? Katakan!" ucap Putri tapi tak dihiraukannya oleh sang supir.
Sepatah kata mulut Putri terucap
Akan tetapi sang supir yang mendengarnya ia akhirnya memperhentikkan laju kendaraannya dengan berbarengan seseorang pria yang wajahnya sengaja ditutupi dengan kain masker berwarna hitam yang berada dibelakangnya.
Putri yang akhirnya menyadari lewat cermin depan Mobil tersebut, ia yang baru aja hendak akan berteriak seseorang lain muncul yang spontan membuat pandangan Putri seketika teralihkan pada seseorang tersebut.
"Revi jadi semua ini rencana kamu? Kamu dalang dibalik semua ini dan orang-orang ini kamu yang sudah menyuruh mereka untuk menculik-ku?"tanya Putri dengan wajah tidak percayanya.
__ADS_1
"Iya memang aku dalang dibalik semua ini. Apa kamu tahu kenapa aku melakukan semua ini?"tanya balik Revi dengan wajah sinisnya.
"Apa mau kamu sebenarnya dan apa alasan kenapa kamu sampai nekat menculik-ku dengan cara seperti ini, lepaskan aku' aku ingin pergi," ucapnya yang berniat akan pergi, tapi langkahnya terhenti setelah Revi yang menghalanginya dengan kasar.
Kedua anak buahnya menarik tangan Putri dengan cukup keras. Dan mencengkram kedua pergelangan tangan Putri, Revi tidak akan pernah membiarkan jika Putri sampai berhasil kabur sebelum ia berhasil menyelesaikan sebuah rencana licik yang sudah ia siapkan sejak sedari awal.
"Apa mau kamu Rev kenapa kamu menghalangiku, lepaskan aku! Lepaskan aku!" gertak Putri tapi tak dihiraukannya.
Berbeda dari situasi lain. Gibran yang terbilang fokus pada pekerjaannya memandang laptop sekaligus beberapa laporan yang bertumpuk. Dirinya yang hendak ingin mengambil bolpoin, tangannya tak sengaja menyenggol gelas yang akhirnya terjatuh pecah tidak karuan.
Sekejab setelah gelas tersebut hancur berserakan, dirinya memegang jantungnya yang tiba-tiba entah kenapa berdebar dengan sangat kencang. Bersamaan dengan perasaan yang tiba-tiba kacau tidak karuan.
"Perasaan apa ini? Kenapa perasaan ku tiba-tiba tidak enak kaya gini?"
Mengambil ponsel yang tadinya berniat ingin menghubungi Putri, tapi tapi berbalik pandangannya dikejutkan dengan sepuluh rekaman suara yang berhasil Putri kirimkan.
Bagikan tersambar, setelah mengecek satu persatu rekaman itu langkahnya seketika berlari tidak menghiraukan akan tugas yang masih pada berserakan.
"Gak, aku gak mau masuk, ini adalah tempat terkutuk dan aku tidak mau masuk ketempat haram seperti ini, aku tidak mau!"Berniat akan pergi tapi keduluan kedua penjahat itu menghalanginya.
"Hey mau kemana kamu, kamu itu sekarang sudah jadi milik kita jadi jangan harap kalau kamu akan bisa pergi dari sini, karena kita gak akan pernah membiarkan itu sampai terjadi paham!"
"Aku mohon tolong lepaskan aku, aku mohon lepaskan aku, aku janji aku bakal melakukan permintaan kalian apapun itu asal kalian melepaskan aku, aku mohon lepaskan aku!"
"Kamu tenang saja gadis cantik, kita akan bebaskan kamu nanti tapi setelah kami merasa puas akan tubuhmu paham!"
"Gak aku gak mau, lepaskan aku! Lepaskan aku."
Dua pergelangan tangan Putri yang dipegang dengan kasar oleh kedua penjahat itu. Putri berusaha melakukan pemberontakan tapi belum juga ia bisa melepaskan diri dari cengkraman mereka, sebuah pukulan kasar tepat mengenai perut, bahkan wajah hinga membuat sudut bibir kanannya terdapat bercak darah.
Sesaat melayangkan pukulannya pada Putri dirinya seketika meringis sakit, Putri berusaha kuat walau pun tubuhnya serasa ambruk sesaat mendapatkan pukulan tadi.
Tubuhnya yang ambruk, membuat Putri yang tambah merasa sakit ia hanya bisa tertunduk terdiam tak berkutik. Tak lama suara seseorang sekejap mengalihkan pandangannya.
" Apa kamu sadar dengan apa yang akan terjadi jika kamu berani menantang-ku? Aku akui sekarang kamu menang karena kamu telah berhasil merebut Gibran dariku. Dan membuatku yang akhirnya tersingkir tapi kamu lupa dengan siapa kamu berhadapan.
Aku pastikan aku tidak akan pernah membiarkan kalian untuk bisa bahagia, kalau pun kalian bersama akulah orang yang akan membuat rumah tangga kalian akan hancur lebur. Dan hari ini aku rasa hari ini hari yang tepat untuk memulai pertengkaran kalian. Dan mereka berdua apa kamu tau apa yang akan mereka lakukan pada tubuhmu ini?"ucap Revi bersamaan dengan senyum sinisnya.
"Kamu sudah gila Rev! Kamu sudah sangat gila lepaskan aku! Lepaskan aku!"
"Melepaskan kamu, kamu bilang!" ucap Revi yang akhirnya ia pun berlutut dihadapan Putri dengan raut wajah Putri yang terlihat sangat kesakitan di-bagian perutnya.
"Apa maumu sebenarnya jika kamu ingin memb*n*hku ayo b*n*hlah aku tapi aku mohon jangan sakiti aku atau pun Gibran lagi aku mohon!"
"Sadarlah, sekarang ini sasaran ku bukanlah Gibran tapi sasaran pertamaku adalah kamu sendiri! Hari ini akan menjadi hari yang paling sempurna untukmu karena kedua laki-laki inilah yang akan memuaskan kamu jadi silahkan nikmatilah!"
"Jangan gila Rev, lepaskan aku! Lepaskan aku!"
"Kalian terserah ingin melakukan apa padanya. Kalau lun kalian ingin terus memuaskannya sampai lemas itu hak kalian nikmatilah, keinginanku jika dia akhirnya ma*i buanglah jasadnya yang tidak akan pernah ditemukan oleh seseorang paham!"
"Tenang nyonya kali ini kita tidak akan membiarkan wanita cantik ini lolos dari kami. Siang ini akan menjadi siang yang sangat melelahkan untuk kita jadi mari kita nikmatilah. Setelah wanita cantik ini ma*i nyonya tenang saja kita akan membuang jasadnya ke sungai yang dipenuhi buaya dengan begitu aku rasa kematiannya tidak akan ada yang mencurigainya,"ucap penjahat satunya dengan senyum sinis.
"Baiklah nikmatilah tubuh wanita ini aku pergi dulu!"
"Revi kamu jangan gila! Revi lepaskan aku! Lepaskan aku!"
"Lihatlah cantik disini tidak ada siapa-siapa jadi dengan siapa kamu akan meminta bantuan? Bahkan aku rasa suami yang sangat kamu cintai pun tidak akan bisa menyelamatkan istrinya ini, jadi sudahlah kita nikmati siang yang panas ini paham kan!"
"Pergi! Aku bilang pergi!"
__ADS_1
Berusaha Putri melemparkan beberapa barang yang ada, tapi nyatanya semua usaha yang telah dilakukan tidak kunjung membuahkan hasil. Kedua pria menatapnya dengan tatapan sinis.
Secara paksa laki-laki itu pun mulai memaksa Putri dan mendorongnya hingga tubuh Putri pun jatuh terpental diatas ranjang yang motif putih tersebut, Putri yang mulai tertekan melihat ekpresi wajah kedua laki-laki itu ia pun lantas menggambil sebuah botol alcohol yang berada diatas nakas, sesaat ia mengambilnya ia pun langsung memukul salah satu Laki-laki itu hinga darah pun keluar deras dari kepala laki-laki tersebut.
Merasa tak terima, pria yang satunya lantas memberikan satu tamparan yang tepat mengenai pipi Putri, bersamaan dengan tubuh Putri yang ikut tersungkur terbentur tembok dengan keadaan keningnya yang terluka. Merasa tenaganya sudah cukup tak tahan untuk terbebas dari jeratan pria kejam ini, darah segar lagi-lagi terdapat dari kedua sudut bibirnya sekejap airnya pun mengalir dengan derasnya.
Mendorongnya hinga benar-benar terjatuh diatas ranjang, mencengkram kedua pergelangan tangan membuat Putri yang tidak bisa berbuat banyak hanya bisa menangis sejadi-jadinya.
"Inilah akibatnya karena kamu sudah berani melukai temanku. Jika kamu berani melukainya maka itu artinya kamu bersedia tubuhmu ini akan jadi milikku seutuhnya jadi mari kita nikmatilah masa-masa panas ini sayang."
"Jangan harap anda akan bisa menguasai semuanya, lebih baik aku mati ketimbang aku harus mengorbankan kesuciannya ini untuk anda rebut, paham!"
"Jadi anda masih berani menentang ku? Apa wajah babak belur anda saat ini belum juga membuat anda merasa putus asa? Apa anda lebih memilih mati ketimbang harus memuaskan ku? Baiklah jika ini yang anda mau hari ini anda akan tau siapa yang menang dan siapa yang akan kalah anda mengerti!"
Lagi-lagi mencengkramnya kasar pergelangan tangan Putri. Berusaha pria itu hendak meng*cup paksa leher jenjang yang dimiliki wanita cantik dihadapannya. Lagi-lagi usahanya telah gagal lantaran Putri dengan berusaha terus memberontak biarpun beberapa kali dirinya mendapatkan pukulan tersebut. Tubuhnya serasa tak mampu untuk melawannya lagi, kedua kelopak matanya mulai terpejam pria yang sudah hampir berhasil menindihnya wajah puasnya seketika hadir.
"Anda sudah kalah jadi mari kita nikmati suasana indah ini."
Sedetik pria itu hendak akan kurang ajar dengan berniat merobek pakaian yang dikenakan Putri, tapi belum juga dirinya berhasil menggapai apa yang diinginkannya sebuah dobrakan lan pukulan keras lagi-lagi ia dapatkan.
Tubuhnya bahkan tersungkur jauh ketika sadar hadirnya pria dengan emosi yang menggebu-gebu telah masuk kedalam ruangan ini. Pandangan Pria itu nampak tak percaya melihat adanya seorang wanita sudah tidak berdaya dengan luka memar yang hampir didapat di sekujur wajahnya.
"Sial! Berani sekali kau mengganggu kesenanganku!"gertak penjahat itu.
"Jangan harap kamu akan bisa menguasai tubuh Istriku paham!"
Tangan yang sedari tadi mengepal untuk memendam amarahnya. Kini dalam hitungan detik amarahnya sudah tidak lagi ia pendam, dengan langkah seribu akhirnya ia menendangnya hingga membuat tubuh penjahat seketika tersungkur ketanah.
Niat penjahat yang ingin bangkit dengan sigap Gibran berbalik menendangnya dengan kasar. Satu benturan tepat mengenai penjahat tersebut lantaran dirinya yang hampir wanita yang sangat dicintainya.
Gibran terus menerus memberikan serangannya, menghajar sang lawan seperti kesetanan. Tidak memberikan lawannya untuk melawan sedikit pun.
Dan tanpa memedulikan apa-apa lagi, pemuda tersebut kembali menyerangnya dengan letupan emosi yang semakin bertambah.
Tentunya, kali ini penjahat yang sudah babak belur di beberapa bagian wajahnya tidak akan tinggal diam. Sehingga, perkelahian pun kembali terjadi dengan sengit, mendengar suara alarm mobil polisi merasa tak sanggup melawannya lagi ia berlari keluar menghindari amukan sang lawan sekaligus takut akan tertangkap.
Berniat mengejar, pandangan Gibran sekejap melirik kearah Putri.
Wajah cemasnya seketika tidak bisa ia hindari lagi. Melihat wajah wanita yang sangat dicintainya babak belur hampir seluruh wajah air matanya tak henti-hentinya mengalir. Segera membopong tubuh istrinya tanpa banyak berkata. Ia langsung melarikannya kerumah sakit.
"Gimana Dok keadaan istri saya dia baik-baik saja kan? Dia tidak sampai berhasil dinodai oleh para pria itu kan? Katakan pada saya Dok dengan resiko apapun saya siap mendengarnya jadi katakan cepat katakan Dok!"
"Jujur kami cukup prihatin dengan kasus yang dialami istri anda. Seluruh wajahnya menggalami luka babak belur cukup parah dan semua itu tidak akan terjadi jika dia tidak berusaha melawan mereka untuk mempertahankan kesuciannya yang tidak akan bisa direbut oleh siapapun termasuk anda sendiri suaminya.
Dia masih perawan Alhamdulillah pelaku itu tidak sempat berhasil menodainya hanya saja saat ini kondisi istri anda cukup memprihatinkan rasa traumanya akan kejadian itu pasti terngiang-ngiang dalam bayang-bayang mimpinya jadi andalah sebagai suaminya yang mampu menghapus dan menyembuhkan rasa trauma itu Baiklah saya permisi jagalah dia!"
Menghampiri istrinya yang masih belumlah sadar. Tangannya mulai membelai wajah cantik yang dimilikinya.
"Aku suami yang sangat tidak berguna! Aku sangat tidak berguna bagaimana bisa aku membuat istriku dalam keadaan seperti ini aku sangat tidak berguna! Maafkan aku, maafkan aku!" Berderai air mata bersamaan dengan air matanya yang terus saja terjatuh dari kedua sudut matanya.
Melihat ada pergerakan dari jari manisnya, raut wajah Putri terlihat bersitegang, beralih mencengkram kasar pada genggaman yang Gibran sedari tadi lakukan.
Raut wajah Gibran seketika panik melihat Putri serasa ikut terbawa mimpi.
"Putri sadar ini aku! Ini aku suami kamu sadarlah ini aku tenanglah Putri sadarlah ini aku! Ini aku!"spontan Putri pun membuka matanya dengan sekejab, menatap wajah Gibran sesaat air matanya mulai berjatuhan memeluk erat Putri dalam dekapannya dirinya tak mampu membendung air mata yang terus saja menjatuhinya.
"Kamu aman sekarang kamu aman!"
"Gibran aku takut! Aku takut!"
__ADS_1
"Aku tau kamu pasti takut tapi tenanglah aku ada disini tidak akan ada seseorang yang akan berani untuk melukai kamu tenanglah! Tenanglah!"
BERSAMBUNG.