PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
MEMPERBAIKI KEADAAN


__ADS_3

"Aku minta Penthouse."


"Apa!?" Ferdian berseru cukup keras mendengar permintaan Meka.


"Sstt! Pelan-pelan bicaranya, Callista jadi kaget." Meka mengingatkan karena bayi kecil yang hampir tertidur itu kaget mendengar suara Ferdian. Ia kembali menggoyang-goyangkan Callista akar ia kembali tidur.


Ferdian menutup mulutnya sendiri. Ketika wanita itu berubah jadi galak, Ferdian menjadi kucing yang patuh.


"Daripada memaksamu meninggalkan Renata, aku lebih memilih meminta hadiah saja. Aku mau hadiah Penthouse kalau kamu ingin menyenangkan aku, Di. Bertemu Pak Jonathan membuat suasana hatiku buruk!"


Sembari menyusui, ia mengingat kembali perjalanan hidup yang sudah pernah ia lewati. Dari masa-masa bahagia saat kecil, bersahabat baik dengan Renata, merasakan cinta pertamanya dengan Ardi, sampai hidupnya terasa di neraka ketika terjebak di antara hubungan Renata dan Ferdian.


Saat ia memutuskan pergi, membawa bayi di dalam kandungannya, melewati kehidupan sendirian, semakin terasa bahwa hidup adalah neraka dunia. Orang lain akan tetap menganggapnya salah apapun alasannya.


"Aku sudah menghajarnya sampai babak belur. Aku juga sudah memecatnya dan mem-blacklist namanya dari berbagai perusahaan besar rekanan. Kalau sampai dia berani muncul kembali, aku akan menjebloskannya di dalam penjara."


"Kamu juga ikut bersalah dalam hal ini."


Ferdian terdiam. Ia hanya bisa memandangi Meka yang tampak sudah selesai menyusui Callista lalu ia memindahkannya ke dalam box bayi. Malam ini seluruh keluarga besar mereka menginap di hotel yang akan mulai beroperasi esok hari.


Ferdian meraih tangan Meka. "Oke, aku akan membelikan penthouse untukmu." Ia menarik Meka untuk duduk di sebelahnya.


Meka tampak tersenyum-senyum. "Yakin?" tanyanya memastikan. Padahal sebenarnya Meka hanya bercanda.


"Apa kamu senang?" Ferdian mencium tangan Meka sembari memberikan tatapan penuh cinta.

__ADS_1


"Tentu saja senang. Siapa yang tidak senang mendapatkan hadiah sebesar itu. Kamu tidak sedang merasa aku poroti, kan?"


"Diporoti? Apa itu? Kamu istriku, tugasku memang untuk membahagiakanmu. Apalagi kamu sudah menjaga kedua anak-anakku. Sekalipun kamu mau memorotiku sepanjang hidupku, itu tidak menjadi masalah bagiku."


"Kalau kamu bicara seperti itu, kedengarannya seperti seorang lelaki yang sedang mabuk cinta."


"Mungkin." Ferdian menyelipkan helaian rambut yang menutupi wajah Meka. Ia mendekatkan wajahnya, berniat ingin mencium wanita di hadapannya.


Meka menghentikan ciuman yang akan Ferdian lakukan. "Katanya cukup 3x seminggu. Kemarin kita baru melakukannya, artinya malam ini kita tidur sendiri-sendiri."


Ferdian tercengang. Setelah ia mengiyakan permintaannya untuk dibelikan penthouse, Meka masih berani menolaknya. Memang, Ferdian sendiri yang menentukan jadwal bercinta mereka. Kini, ia termakan oleh ucapannya sendiri.


"Aku batalkan aturan yang pernah kita sepakati. Aku mau kita memiliki hubungan layaknya pasangan suami istri pada umumnya."


"Kamu sudah diakui sebagai istriku yang sah di depan umum. Artinya, kamu memang sungguh-sungguh istriku."


Meka memandang lekat ke arah Ferdian."Apa harus malam ini?"


"Aku sudah menginginkannya sejak berada di pesta," jawab Ferdian spontan.


"Hahaha ... apa sekarang aku terlihat begitu menggoda di depanmu? Padahal dulu kamu meninggalkanku karena bosan."


"Benarkah? Aku malah sudah lupa. Intinya, aku sangat menyukaimu."


Ferdian meraih tengkuk Meka lalu mencium bibirnya dengan lembut. Satu tangannya turun ke area pinggang lalu mengangkat tubuh wanita itu tanpa melepaskan ciuman mereka. Perlahan ia baringkan wanitanya di atas ranjang sembari memperdalam ciumannya.

__ADS_1


Memandangi wajah wanita di bawahnya semakin membuat ia menginginkannya. Malam ini, mereka saling bercumbu mesra menyalurkan hasrat yang menggebu di dalam jiwa. Setiap sentuhan yang diberikan membuat serasa mabuk kepayang.


Satu per satu pakaian yang melekat terlepas hingga tak ada sehelai benangpun yang menutupi keduanya. Suara lengkuhan saling bersahutan ketika titik sensitif mereka dipegang. Keringat mulai membasahi tubuh seakan keduanya sedang melakukan kerja keras.


Ferdian begitu lembut memperlakukan Meka, sesuai janji yang pernah diucapkannya. Ia menggauli istrinya dengan cara yang baik dan tanpa memaksa. Hingga malam semakin larut, mereka masih terhanyut dalam panasnya kobaran cinta.


*****


Ruby dan Melvin turun dari dalam mobil yang dikemudikan oleh Tomi. Budyguard berbadan kekar dan besar menjaga di sekitar mereka. Jepretan kamera datang dari berbagai sudut berusaha mengambil sisi terbaik mendapatkan potret mereka. Wartawan sudah banyak berkumpul di tempat konferensi pers yang dijanjikan.


Ruby dan Melvin saling bergandengan tangan memasuki ruangan seperti pasangan selebriti yang tertangkap paparazi telah melakukan kencan secara sembunyi-sempunyi. Mereka harus memberikan klarifikasi kepada publik tentang hubungan yang mereka jalani. Sorotan kamera terus mengikuti mereka sampai duduk di deretan bangku yang telah dipersiapkan. Mereka juga didampingi seorang pengacara.


"Selamat siang, semuanya. Seperti yang telah kami janjikan, hari ini client kami akan meluruskan isu-isu yang sedang berkembang tanpa dasar akhir-akhir ini. Akibat dari beredarnya isu tak berdasar itu, terus terang client kami mengalami banyak kerugian baik dari segi materi, fisik, dan juga psikis." Pak Sultan, pengacara pilihan Melvin mulai berbicara di hadapan wartawan.


"Client kami merasa tersudut dengan pemberitaan yang dilakukan. Kami menegaskan, bahwa client kami tidak melakukan perselingkuhan atau merebut calon istri sahabatnya. Berita itu salah besar! Tolong, siapapun yang berani mengapload berita fitnah semacam ini, segera hentikan atau kami akan melakukan tindakan hukum."


"Saya rasa hanya itu yang ingin kami tegaskan. Jika ada rekan wartawan yang ingin bertanya dipersilahkan."


Banyak di antara para wartawan ingin bertanya. Akan tetapi, pembawa acara harus menunjuk salah satu dari mereka. "Silakan, Mba!" pembawa acara mempersilahkan seorang wartawan perempuan.


"Nama saya Nita dari kantor berita XXX. Hal yang ingin saya tanyakan, bukankah belum lama ini Ibu Ruby gagal menikah dengan pengusaha Ardi Syauqy, tapi kenapa kalian malah dikabarkan memiliki hubungan? Bukankah kalian memiliki hubungan dalam rentang waktu persiapan pernikahan itu atau bisa juga disebut sebagai selingkuh?"


"Terima kasih atas pertanyaannya. Kami akan mempersilahkan Bapak Melvin atau Ibu Ruby untuk menjawabnya."


"Kami pernah berpacaran saat kami kuliah. Lalu, kami berpisah untuk waktu yang cukup lama. Saat saya kembali, perasaan cinta itu masih ada dan Ruby sudah memutuskan pertunangannya dengan Ardi. Jadi, tidak ada istilahnya selingkuh," ujar Melvin.

__ADS_1


"Saya ingin menambahi," sahut Ruby. Ia berusaha tampil tenang meskipun di dalam hatinya sangat cemas. "Saya dan Ardi memutuskan rencana pernikahan kami dengan cara yang baik. Jadi, tolong berhenti membuat statement yang tidak berdasar."


__ADS_2