PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
KECEMBURUAN ELEN


__ADS_3

Pak Raharja tampak menahan amarah ketika Ardi datang menemuinya membawa seorang wanita yang katanya akan dijadikan sebagai istri. Melihat asal-usul wanita itu, tentu saja membuatnya geram. Tidak seharusnya Ardi memilih wanita yang tak bisa mengukuhkan kedudukannya sebagai salah satu pewarisnya. Keluarga Selena sudah terkenal buruk di kalangan para pengusaha. Bahkan namanya sudah dihapus dari pergaulan kalangan atas.


Setelah ibunya meninggal, Ardi bukannya lebih menurut justru semakin seenaknya sendiri. Ia menolak sebagai salah satu pengurus di jajaran petinggi bank milik keluarga besar. Ardi juga menolak mengelola perusahaan besar keluarga. Ia lebih memilih membesarkan bisnis yang ditinggalkan ayahnya karena dianggap tidak memiliki masa depan. Memang, di tangan Ardi kondisi perusahaan semakin membaik. Akan tetapi, masih jauh jika dibandingkan dengan kesuksesan saudara-saudara Ardi yang lain. Raharja sudah sangat bingung untuk mengatur anak bungsunya.


"Coba pikirkan kembali, Ardi." Raharja mencoba memberi nasihat.


"Aku sudah memikirkannya, Pa. Niatku untuk menikahinya sudah mantap."


Raharja menghela napas. "Kamu bisa kehilangan kesempatan, Ardi."


"Aku sudah mempertimbangkan segala resikonya, Pa. Aku siap menerimanya. Dicoret dari daftar pewaris atau tidak dianggap dalam keluarga besar, tidak jadi masalah. Aku tetap ingin menikah dengan Selena."


Selena merasa tidak nyaman berada dalam situasi yang cukup menegangkan. Ia tahu betul jika calon mertuanya tidak menyukainya. Namun, ia tidak bisa mundur. Ia butuh uang untuk melanjutkan kuliahnya.


"Perkataanmu di konferensi pers waktu itu sudah cukup membuat gempar keluarga besar. Kalau kamu tetap nekad melakukan pernikahan itu, papa sudah tidak bisa berkata-kata lagi." Pak Raharja menggeleng-gelengkan kepalanya.


Sebenarnya Pak Raharja masih mengharapkan Ardi menikah dengan Ruby. Ia tak menyangka Ardi memiliki wanita yang jadi pilihannya sampai harus membatalkan perjodohan. Ruby juga ternyata telah menikah dengan Melvin. Memang, jodoh tak ada yang bisa ditebak dan tak bisa dipaksakan.


Sebagai seorang ayah, dia ingin memastikan putranya hidup dengan mudah. Posisi Ardi sebagai anak dari istri keduanya, kurang mendapat tempat yang baik. Baru kemarin keluarga besar menyanjungnya karena akan berbesanan dengan keluarga Wijaya. Setelah Ardi mengatakan akan menikah dengan wanita lain, keluarga besar kembali menjauhi.


"Setidaknya kamu jangan terlalu terburu-buru untuk menikah. Semua butuh persiapan yang matang."


"Semua sudah aku persiapkan, Pa. Aku telah menghubungi kembali WO yang dulu Mama pilih. Semua barang yang telah Mama pilihkan untuk Ruby, akan dikenakan oleh Selena. Aku tidak perlu menyiapkan hal lain."


"Itu bisa diatur. Carilah bulan-bulan mendatang, menunggu keluarga besar bisa menerimanya."


Ardi terdiam. Tidak mungkin keluarga ayahnya mau berlapang dada menerima pilihannya kali ini. Sesuatu yang tidak memiliki keuntungan untuk mereka, tidak mungkin akan mereka pedulikan.


"Selena sedang hamil, Pa," ucap Ardi.


"Apa!" Pak Raharja terkejut.

__ADS_1


Elen juga kaget mendengar perkataan Ardi. Ia melirik ke arah lelaki di sebelahnya. Ardi tampak memasang wajah serius.


"Kalau kami tidak cepat menikah, kandungannya akan semakin besar."


Pak Raharja memegangi dahinya. Ia tidak menyangka anaknya bisa menghamili anak orang dengan semudah itu. "Kalau mamamu masih hidup, dia pasti akan sangat kecewa, Ardi."


"Mama selalu menginginkan cucu, Pa. Sebentar lagi kalian akan memiliki cucu," jawab Ardi enteng.


"Iya, tahu. Tapi caranya bukan begini juga ...." Pak Raharja pusing memikirkan anak bungsunya itu.


"Kalau tidak seperti ini, Papa susah memberikan restu soalnya."


"Hah! Kamu memang anak yang nakal! Papa sudah tidak tahu lagi harus bicara apa. Terserah kamu mau bagaimana, Papa ikut saja rencanamu." Pak Raharja menyerah. Ardi sudah tidak bisa lagi dinasihati.


"Terima kasih, Pa. Mungkin bukan sekarang aku bisa menjadi anak yang membanggakan. Tapi, aku akan terus bekerja keras agar Papa bisa bangga padaku suatu saat nanti."


"Papa akan berusaha percaya padamu."


"Papa usahakan datang."


"Sekali lagi terima kasih, Pa." Ardi memeluk ayahnya seraya berpamitan pulang Selena ikut mencium tangan calon ayah mertuanya dan ikut pulang dengan Ardi.


Selena menggandeng lengan Ardi, menunjukkan kedekatan hubungan di antara mereka. Ardi memang meminta agar mereka selalu terlihat mesra ketika bersama, agar orang-orang tahu kalau mereka berdua benar-benar pasangan yang saling mencintai.


"Pak, saya tidak sedang hamil," ucap Selena ketika mobil yang mereka naiki telah melaju meninggalkan kediaman ayah Ardi. Ardi fokus pada kemudinya. Belum lama ini Selena mendapatkan siklus menstruasinya setelah pertama kali melakukan hubungan in*tim dengan Ardi.


"Oh, kamu belum hamil, ya?" Ardi melirik sekilas ke samping. "Tidak apa-apa, nanti juga akan aku buat hamil."


Elen membulatkan mata. Ia menoleh ke arah Ardi dan menatapnya serius. "Pak ...."


"Kamu tidak mau hamil?"

__ADS_1


"Memangnya Bapak mau memiliki anak dari saya?" tanya Elen ragu.


"Kita akan menikah, menjadi pasangan suami istri, lalu melakukan hubungan suami istri. Bukankah hal yang wajar kalau kamu bisa hamil karena aku?"


"Tapi, kita hanya menikah sementara Pak, sampai saya lulus kuliah. Kalau kita memiliki anak ...."


"Aku akan bertanggung jawab terhadapnya." Kata-kata Elen sudah lebih dulu dipotong oleh Ardi. "Kalau kita memiliki anak, kamu bisa merawatnya atau aku juga mau merawatnya. Jika kamu yang merawatnya, aku yang akan membiayainya."


"Kamu tidak perlu terlalu terbebani dengan pemikiran yang berat. Aku akan menanggung semua kebutuhanmu selama menjadi istriku. Seperti apapun bentuk hubungan kita, tetap saja nanti kamu benar-benar istriku."


Elen tidak terlalu paham dengan maksud Ardi. Dia hanya tidak ingin anaknya lahir bukan dari buah cinta kedua orang tuanya.


"Apa Bapak bisa mencintai saya?"


Ardi terdiam sesaat mendengar pertanyaan itu. "Aku bisa memberikanmu cinta dan perhatian layaknya seorang suami. Kamu jangan khawatir."


Jawaban dari Ardi bisa Elen maknai bahwa lelaki itu hanya akan berpura-pura menjalani hubungan mereka. Elen merasa sedih tapi ia juga tidak punya pilihan. Ardi orang yang sangat baik meskipun bukan orang yang mencintainya. Ia rela mengeluarkan banyak uang untuk menebus Elen dari tempat pela*curan di klab malam itu


"Bapak masih mencintai Ruby, ya?"


Lagi-lagi pertanyaan Elen menjadi sesuatu yang sangat sulit untuk Ardi jawab. Jika ia mengatakan tidak, itu sangat munafik. Meskipun wanita itu kini telah menjadi istri sahabatnya, perasaan yang pernah tumbuh di hatinya tidak bisa dimusnahkan begitu saja.


"Mungkin kamu harus belajar untuk tidak menanyakannya lagi. Ku tidak nyaman mendengar pertanyaan semacam itu." Ardi tidak membantah ataupun membenarkan pertanyaan dari Elen. Namun, Elen sudah tahu jawaban yang sebenarnya.


"Baik, Pak."


"Satu hal lagi, jangan panggil aku pak. Panggil saja Kakak seperti malam itu. Aku suka mendengarnya."


Kini giliran Elen yang terdiam. Ia tidak menyukai panggilan itu. Saat ia mengingatnya, ada rasa cemburu yang hadir dalam hatinya.


"Saya tidak terlalu suka memanggil Bapak begitu. Apa boleh saya memanggil Bapak Mas Ardi?"

__ADS_1


Ardi berpikir sejenak. "Boleh, kalau itu maumu."


__ADS_2