
Ruby merasakan ada tangan yang sedang meraba-raba area dadanya. Sementara di bagian bawah ada yang mengeras menempel pada kulitnya. Ruby masih mengantuk, namun orang itu justru semakin mengganggunya.
"Kak Melvin ...." panggilnya dengan nada malas seperti orang masih mengantuk.
Ruby mengenali orang yang iseng menempel padanya adalah orang yang sama dengan semalam. Lelaki yang sudah berhasil mengambil kepe*rawanannya. Siapa lagi kalau bukan suaminya sendiri, Melvin Andrea Adinata.
"Akhirnya kamu bangun juga, Sayang." Melvin mengeratkan pelukannya. Sebagai seorang pengantin baru, ia sangat bahagia sampai sebentar-sebentar bangun untuk mengecek bahwa wanita yang tidur di sampingnya adalah istrinya, Trisia Ruby Wijaya.
"Euh ... jam berapa ini?" Ruby masih belum bisa membuka matanya dengan sempurna karena sangat mengantuk.
"Jam tiga pagi."
"Hm, aku masih mau tidur." Ruby berusaha menyingkirkan tangan Melvin dari tubuhnya. Ia bergeser menjauh dan dan memejamkan kembali matanya.
Akan tetapi, orang yang ada di belakang kembali merengkuhnya. Bahkan kali ini pelukannya lebih erat seakan tak ingin melepaskannya.
"Mau lagi," bisiknya.
"Apa?"
"Yang semalam." Melvin merayu-rayu sembari menyentuh setiap lekuk tubuh istrinya seakan memberi isyarat ajakan.
"Tidak mau, sakit!"
"Nggak, kok ... kan pelan-pelan."
Melvin tetap berusaha merayu istrinya. Semalam, ia tidak tega minta lagi melihat istrinya terlihat kelelahan. Saat pagi menjelang, keinginan untuk mengulanginya kembali muncul. Setelah semalam, ia jadi merasa ketagihan.
Ruby masih terlalu mengantuk dengan segala gangguan yang diberikan oleh suaminya. Ia hanya bisa pasrah membiarkan suaminya melakukan apa yang diinginkan, menciumnya serta membelai-belai tubuhnya.
Menolakpun Melvin akan tetap kekeh meminta. Apalagi dia tak punya cukup tenaga untuk kabur dari sana.
Pagi itu, bunga-bunga cinta kembali merekah. Mereka membali mereguk manisnya madu pengantin baru dengan penuh cinta dan kebahagiaan. Masa-masa sulit dan penuh perjuangan yang telah mereka lewati seakan terbayar indah ketika mereka akhirnya bisa bersama.
Tubuh Ruby kembali limbung setelah suaminya mengulang percintaan mereka sebanyak dua kali. Rasa perih masih bisa ia rasakan di area bawahnya. Ia sudah sangat kelelahan, sementara suaminya justru terlihat semakin bugar.
"Kak, kenapa rasanya sakit, ya? Padahal waktu itu tidak terasa apa-apa?" gumam Ruby sembari berbaring miring di atas ranjang. Di hadapannya ada Melvin yang sedang memandanginya sembari menyibakkan helaian rambut yang menutupi wajahnya.
Melvin mengerutkan dahi, "Maksudnya?"
"Kita kan sudah pernah begituan ... walaupun aku juga tidak terlalu ingat karena mabuk. Waktu kita pertama bertemu lagi. Tubuhku tidak terasa sakit-sakit seperti sekarang"
Ruby menceritakan tentang kejadian saat ada acara perusahaan di luar kita. Ia masuk klab malam dan mabuk karena ulah Jonathan. Melvin tersenyum-senyum mengingatnya.
"Waktu itu kamu kan minta dikembalikan malam pertamamu. Semalam sudah aku kabulkan, seharusnya kamu merasa sangat senang." Melvin memberikan ciuman singkat di bibir wanita yang tampak bengong itu.
"Semalam adalah malam pertama untukmu dan untukku juga." Melvin memberikan penjelasan karena tidak tega melihatnya kebingungan.
__ADS_1
"Jadi, yang dulu?" Ekspresi wajah Ruby seperti orang kebingungan.
"Cuma jari yang masuk, belum jari besar ini." Dengan nakalnya Melvin menarik tangan Ruby ke arah miliknya. Reflek Ruby membulatkan mata terkejut, benda itu masih terbangun.
"Kak!" bentaknya.
"Hahaha ...." Melvin kegirangan melihat respon istrinya.
"Kenapa juga ini dari semalam kayaknya belum tidur-tidur." Meskipun wajahnya memerah malu, Ruby tak menyingkirkan tangannya dari sana.
"Sepertinya dia mau lagi."
Ruby ternganga mendengarnya.
"Tidak, tidak ... kita lanjutkan nanti malam saja lagi." Melvin mencubit gemas ujung hidung Ruby. "Andai saja kita tidak di rumah ayahmu, mungkin aku akan mengurungmu seharian di kamar."
"Kalau begitu, sementara kita tinggal di sini saja." Ruby tidak bisa membayangka waktunya dihabiskan hanya di dalam kamar tanpa berpakaian.
Melvin memberikan lirikan tajam, "Pokoknya hari ini kita akan pindah ke apartemenku."
Melvin ingin lebih leluasa melakukan banyak hal bersama istrinya. Ia tidak bisa kalau masih bertahan di sana, apalagi ada Rei juga di rumah itu. Rasanya lebih baik untuk tinggal terpisah dari orang tua.
"Silakan saja kalau Kakak bisa merayu papa." Ruby menjulurkan lidahnya mengejek.
"Kalau tidak diizinkan, aku akan membuat putri kesayangannya kelelahan setiap malam."
"Kan kamu juga keenakan."
"Sakit iya!"
"Namanya juga masih baru, sabar dong ... lama-lama juga bakal ketagihan." Melvin kembali mendaratkan ciumannya.
Ruby melirik ke arah jam, sudah menunjukkan pukul lima. "Sudah masuk waktu subuh dan kita belum mandi."
"Ayo mandi bareng!" Melvin paling semangat mendengar kata-kata mandi.
"Mandi sendiri-sendiri saja! Kalau berdua malah nggak selesai-selesai!" Ruby menolak ajakan Melvin. Ia takut aktivitas pagi mereka masih akan berlanjut di kamar mandi.
"Ah!" Saat bangun, sekujur tubuh Ruby terasa sakit dan kaku.
"Makanya jangan ngeyel! Suamimu ini sangat pengertian mau membantu istrinya yang masih kesakitan malah ditolak."
Melvin mengangkat tubuh Ruby dengan mudah. Reflek Ruby mengalungkan tangan ke leher. Melvin membawa istrinya menuju kamar mandi. Ia baringkan perlahan istrinya di dalam bath tube lalu mulai mengalirkan air hangat ke dalamnya. Ia nyalakan 3 kran agar airnya cepat penuh.
"Astaga, apakah suamiku seganas ini?" Ruby memperhatikan sekujur tubuhnya yang dipenuhi oleh bekas cupangan terutama di area dada dan leher. Sebagai tersangka utama, Melvin hanya tertawa-tawa.
Setelah menyelesaikan ritual mandi, mereka melaksanakan shalat berjamaah dilanjutkan dengan membaca ayat-ayat suci bersama.
__ADS_1
"Kupikir Kakak tidak bisa membaca Al Qur'an." Ruby sempat kaget saat Melvin mengajaknya membaca bersama.
"Taunya aku tukang mabok ya?"
"Iya, sama cowok naf*suan."
"Gitu kok kamu sukai?"
"Kalau dipikir-pikir, iya juga, ya ... seharusnya aku pilih ustadz saja. Hahaha ...."
"Ck!" Melirik tidak suka.
"Aduh, ada yang ngambek." Ruby memeluk mesra suaminya."
"Naf*su-naf*suan lagi yuk! Mumpung sudah menikah, kan malah berpahala."
"Nggak! Nggak mau! Ini juga masih sakit buat jalan gara-gara Kakak!"
"Salah siapa tadi bilang suaminya cowok naf*suan? Kalau itu benar, harusnya kamu sudah lama jebol oleh cowok naf*suan ini."
"Soalnya hobi Kakak suka nyosor duluan."
"Mau disosor lagi?"
"No! Di rumah ini kalau sudah jam 6 pagi harus turun ke bawah sarapan bersama. Aneh kan, kalau kita tidak keluar-keluar kamar?"
"Papamu pasti paham kok kalau kita pengantin baru."
"Kak Melvin sih iya pasti nggak malu. Aku yang malu. Sudah, ah! Aku mau turun dulu."
Ruby melepaskan plukannya. Ia berjalan ke arah pintu sambil menahan rasa sakit yang masih terasa. Saat tiba di area luar, dia bertemu dengan Rei yang juga baru saja keluar dari kamarnya.
"Kenapa jalannya aneh begitu?" Pertanyaan Rei sungguh membuat Ruby kesal sekaligus malu.
Ruby mengabaikannya, ia tetap lanjut berjalan menuruni tangga meninggalkan Rei.
"Ck! Tidak ada peka-pekanya sih kamu sama pengantin baru. Yang penting kan dia sudah punya suami. Jadi marah kan, dia." celetuk Melvin yang menyusul keluar dari kamar.
*****
Sambil menunggu Update selanjutnya, mampir sini yuk 😘
Judul : Call Me Yura
Author : AG Sweetie
__ADS_1