PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
WANITA BERNAMA GITA


__ADS_3

SILAKAN GABUNG KE GRUP CHAT UNTUK BERKOMUNIKASI DENGAN AUTHOR. TERIMA KASIH 😘


*****


Rei berdiri di depan cermin sembari memasangkan dasi di lehernya. Semalam ia tidak bisa tidur. Pikirannya dipenuhi oleh wanita aneh yang ja temui di klab malam. Setelah bercerita panjang lebar mendengarkan ocebannya, pada akhirnya mereka harus berpisah. Wanita itu pergi meninggalkannya setelah ia menolak diajak tidur.


Wanita itu memang bukan siapa-siapa, tak seharusnya ia mengkhawatirkan dirinya. Akan tetapi, tetap ada rasa khawatir kalau terjadi sesuatu pada wanita itu. Dari sikap dan gaya bicaranya yang blak-blakan, kalau di jalan sembarangan mengajak orang tidur dengannya, bisa-bisa dia bertemu dengan lelaki breng*sek yang akan membuat kehidupannya semakin menderita.


Ia menggelengkan kepala, mencoba menghapuskan bayangan wanita yang bahkan tak ia kenal namanya. Masalah hubungannya sendiri dengan Livy saja sudah sangat runyam, ia malah ingin terlibat dalam urusan orang lain. Rei memilih mempercepat persiapannya lalu bergegas berangkat ke kantor.


Hari ini adalah hari sabtu seharusnya kantor memang libur. Akan tetapi, Rei harus menyelesaikan urusan pekerjaannya sehingga tetap masuk ke kantor. Tidak semua karyawan masuk, hanya beberapa orang saja yang memang Rei perintahkan untuk menyelesaikan pekerjaan berkenaan dengan proyek yang akan dikerjakan dalam waktu dekat.


"Selamat pagi, Pak," sapa Mila.


"Pagi, Mila."


Seperti biasa, sekertaris pribadi Rei sudah datang lebih dulu di ruangannya. Ia segera memberikan berkas-berkas yang perlu ditanda tangani. Rei duduk di kursi kerjanya, setumpuk berkas sudah menggunung menunggu ia periksa.


"Ini dokumen kesepakatan dengan pihak pengembang penginapan di daerah xxx serta hasil survey lokasi yang telah dilakukan oleh tim kita." Mila berdiri di sebelah Rei sembari menerangkan tentang dokumen yang akan diperiksa bosnya.


"Terima kasih Mila, sudah mau tetap bekerja di akhir pekan."


"Iya, Pak. Jika proyek ini berjalan dengan baik, perusahaan juga bisa maju. Saya bekerja mrmang demi kemajuan perusahaan ini."


Rei kembali fokus pada tumpukan dokumen yang ada di hadapannya. Ia cek satu persatu dengan teliti sebelum menandatanganinya. Mila dengan sabar memberikan penjelasan mengenai hal-hal yang belum dipahami oleh atasannya.


Sudah sekitar 3 tahun Mila mendampingi Rei. Usianya lebih tua 4 tahun darinya. Meskipun usianya sudah cukup matang, namun Mila belum berkeinginan untuk menikah. Ia masih menikmati kesendiriannya, bekerja dan menggunakan uang untuk menyenangkan diri sendiri.


Mila tipe sekertaris pribadi yang sangat profesional. Penampilannya selalu rapi dan jauh dari kata sek*si. Meskipun tidak berpakaian minim, tapi kharismanY sebagai seorang wanita terpelajar selalu terpancar saat berbicara dengan rekan bisnisnya. Mila sebagI penyambung lidah yang handal bagi Rei.

__ADS_1


Antara Mila dan Rei tidak pernah membahas urusan pribadi. Mereka hanya bertemu sebatas untuk urusan bisnis saja. Hubungan antara bos dan sekertarisnya tidak selamanya berakhir dengan hubungan romantis. Apalagi Mila orang yang sangat realistis.


Drrtt ... drrtt ...


Ponsel Rei bergetar. Ada telepon dari Fero. "Aku keluar dulu, Mila. Tolong kamu lanjutkan dulu pekerjaanku!" perintahnya.


"Baik, Pak."


Rei berjalan keluar dari ruangannya sembari mengangkat telepon dari sahabatnya itu. "Halo, Fer?"


"Aku sudah ada di restoran seberang kantormu." Terdengar suara jawaban dari seberang telepon.


"Oke, aku akan segera turun ke bawah." Rei masih mempertahankan ponsel di telingannya. "Kenapa tidak mau datang saja ke ruanganku?"


"Aku takut tergoda oleh sekertarismu. Bagaimana kalau dia malah pindah ke perusahaanku? Hahaha.... "


Sedang asyik bertelepon dengan Fero, tanpa Rei tahu jika lantai yang dilewatinya baru saja dipel oleh cleaning service.


Srak! Bruk! Pyar!


Rei terpeleset jatuh terlentang dan tangannya menggulingkan ember hingga tubuhnya basah kuyup terkena air. Seketika ia merasa nyawanya hampir melayang. Napasnya memburu karena terkejut. Ponselnya entah melayang kemana.


"Aduh, maaf, Pak!" teriak seorang wanita dari kejauhan. Suaranya semakin terdengar jelas karena mendekat ke arahnya. "Saya bantu berdiri, Pak ...." Wanita itu mengulurkan tangannya.


Matanya membelalak ketika melihat wajah orang yang meraih tangannya. Wajah bosnya yang tampak kesal benar-benar terpampang nyata di hadapannya. Wajah lelaki yang baru semalam ia jumpai di klab malam ternyata merupakan bos di perusahaan tempatnya bekerja.


"Kamu ...." Rei sangat geram karena tubuhnya bermandikan air kotor. Kondisinya sangat memalukan. Untung saja saat itu sepi, tidak ada yang berlalu lalang.


"Saya minta maaf, Pak. Biar saya bersihkan baju Bapak." Wanita itu nyengir kuda.

__ADS_1


Rei melirik ke arah papan nama yang tersemat di seragam wanita itu. Namanya Gita Ayunda. "Kamu yang semalam bertemu dengan saya di klab malam, kan?"


Gita mati kutu. Ia ketahuan. Tidak tahu ia harus memberikan penjelasan apa karena memang yang semalam adalah dirinya. Kalau saja dia tahu lelaki tampan yang ditemuinya di klab bukan bosnya, tidak mungkin dia akan bersikap gila mengajaknya One Night Stand.


"Saya minta maaf, Pak. Sepertinya semalam saya terlalu gila dan mabuk." Gita merasa canggung berbicara dengan lelaki itu.


"Kamu bilang semalam sangat waras?"


Gita kembali nyengir. "Pak, kita ke ruangan laundry, ya! Sepertinya di sana ada baju cadangan karyawan. Eum, itu ... kalau Bapak mau, sih ...."


"Cepat, antar saya ke sana!" Rei bangkit dari duduknya. Ia mengikuti Gita yang terlihat tergesa-gesa. Wanita itu memungut ponsel yang jatuh lalu memberikannya kembali kepada Rei.


Rei kembali menelepon Fero setelah sambungan teleponnya sempat terputus. Untung saja ponselnya tidak rusak atau terkena air. Masih bisa digunakan dengan baik.


"Fer, tunggu aku sekitar 30 menit lagi. Aku ada urusan penting.


"Woy! Gila, ya! Masa menyuruhku menunggu selama itu?" Suara dari seberang telepon terdengar memaki-maki dirinya.


"Kalau tidak mau ya sudah, aku tidak akan membantumu," ancamnya.


"Ah, sial! Baiklah, aku akan menunggumu."


Rei mematikan teleponnya. Ia menaruh ponsel di atas nakas. Gita menyerahkan bathrobe dan handuk kepadanya. "Silakan Anda mandi sekalian, Pak. Alat mandi sudah saya cek ada di dalam. Pakaian kotornya tolong di taruh di keranjang depan kamar mandi biar langsung saya cuci."


Rei menarik kasar benda yang gita berikan lalu pergi ke dalam kamar mandi tanpa mengatakan apa-apa. Gita sampai menghela napas. Bosnya itu pasti sangat marah karena ulahnya dan akan memecatnya.


Ini adalah hari pertama dia bekerja di sana, karena kebetulan menggantikan temannya yang memilih berhenti kerja karena sedang hamil. Ia terpaksa bekerja sebagai petugas kebersihan setelah menjadi miskin secara mendadak gara-gara ditipu pacarnya. Dia juga difitnah di tempat kerja sebelumnya sehingga dipecat dari pekerjaannya. Hidupnya selama seminggu ini benar-benar jungkir balik tidak karuan. Kalau bukan orang yang kuat mental mungkin ia sudah memutuskan untuk bunuh diri.


*****

__ADS_1


__ADS_2