
"Aku rasanya tidak bisa berkata-kata, Kak. Oh, Ya Tuhan ... apa ini sungguhan Kak Meka sudah menikah dengan Ferdian?" Ruby tercengang tidak percaya dengan cerita yang baru saja ia dengar.
Ruby secara kebetulan bertemu dengan Meka ketika sedang membeli tas baru di salah satu pusat perbelanjaan. Ia bertemu dengan Meka yang sedang menggendong seorang anak kecil dan Davin. Katanya dia sedang menunggu Ferdian menjemputnya.
Meka menceritakan alasannya berhenti kerja karena menikah dengan Ferdian, menjadi istri keduanya. Anak kecil yang ada dalam gendongannya adalah anak Renata. Ia kini menjadi ibu sambung anak itu. Anak kecil imut yang menggemaskan.
"Jadi, Renata selama ini koma, ya?" Ruby sangat ingin tahu tentang kehidupan Meka yang dirasa begitu mengusik rasa ingin tahunya.
Meka mengangguk. "Dia koma tak berselang lama setelah melahirkan Callista. Katanya terjadi komplikasi pasca melahirkan. Kasihan anak ini tidak bisa merasakan kasih sayang dari ibu kandungnya." Ia memandangi wajah Callista yang terlelap dalam gendongannya. Sementara, Davin sedang makan jajanannya bersama sang pengasuh di area bermain yang ada di tempat itu.
"Kamu nekad sekali, Kak. Melibatkan diri di kehidupan mereka."
"Awalnya aku juga tidak ada pilihan. Tapi, setelah beberapa lama merawat Callista, aku jadi merasa kasihan."
"Tapi, bukankah menyakitkan menjadi orang kedua?" Ruby tidak bisa membayangkan jika dia berada di posisi Meka. Dulu, Melvin juga pernah memintanya untuk menjadi wanita rahasianya. Ruby memilih berpisah daripada menuruti keegoisan Melvin.
"Itu tidak seburuk yang kamu bayangkan. Aku juga kasihan melihat kondisi Renata. Ferdian juga menyedihkan. Meskipun mereka pernah benar-benar menyakitiku, aku tidak bisa membenci mereka. Kehidupan yang mereka jalani sudah sangat berat."
"Untuk apa Kakak kasihan dengan orang seperti mereka. Kalau hidup mereka menderita bukankah giliran Kakak untuk menertawakannya? Jangan terlalu baik jadi orang!" Ruby berkata dengan nada kesal. Mengingat kenangan buruk dengan Ferdian saja sudah membuatnya geram. Padahal apa yang Ferdian lakukan padanya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang telah Meka terima.
Renata dan Ferdian. Dua orang yang sudah membuat hidup banyak orang jadi berantakan. Hubungan Meka dan Ardi hancur karen keduanya. Begitu pula dengan hubungan Melvin dan Ruby yang tidak bisa berjalan lancar.
Meka hanya tertawa kecil memperhatikan kemarahan Ruby. Ia sendiri benar-benar tidak bisa lagi marah kepada Ferdian dan Renata. Awalnya dia sangat dendam, ingin melampiasian rasa sakit hatinya, segala kesusahan yang pernah dialami, akan tetapi setelah menjalani sendiri hidup bersama mereka, rasa dendam dan sakit hati itu berubah menjadi rasa iba. Baik Ferdian dan Renata juga tidak bahagia dalam hidupnya, bukan hanya dirinya saja yang merasakan kesulitan hidup.
"Aku sudah bisa diterima dengan baik oleh keluarga Ferdian itu sudah sangat cukup, Ruby. Davin juga bahagia tinggal bersama ayahnya, bertemu dengan kakek neneknya setiap akhir pekan."
"Tapi, apa Ferdian memperlakukan Kak Meka dengan baik?" Ruby masih mengkhawatirkan soal itu.
"Iya. Sekarang dia sudah menjadi jauh lebih baik daripada yang dulu."
"Sulit dipercaya sih orang seperti Ferdian bisa berubah sikap."
"Aku sering melihatnya menangis saat malam tiba. Ketika sedang sendirian di ruang kerja atau saat menemani Renata. Tapi dia tidak pernah bercerita apapun kepadaku."
__ADS_1
"Kak Meka seharusnya bisa mendapatkan yang lebih baik dari Ferdian."
Meka tersenyum. "Aku juga bukan wanita yang sangat baik sampai pantas mendapatkan lelaki yang psling baik juga, Ruby. Mungkin memang takdirku seperti ini. Aku akan berusaha menjalani hidupku sebaik mungkin."
Ruby salut dengan keteguhan hati Meka. Hatinya begitu lapang sampai bisa menerima kesalahan dan kekurangan orang lain. Ruby juga beruntung bisa berteman dengan orang sepositif dia.
"Sayang, apa kamu sudah selesai belanja?"
Ferdian datang dengan menggendong Davin yang baru saja ia ambil dari tempat bermain dan menghampiri Meka. Ruby tertegun sebentar memperhatikan lelaki yang dulu pernah menculiknya itu. Apalagi mendengar Ferdian memanggil Meka dengan sebutan sayang.
"Oh! Kamu Ruby, ya?" Ferdian sepertinya agak lupa dengan Ruby setelah sekian tahun tidak pernah bertemu. "Dulu kamu masih kelihatan seperti anak-anak. Sekarang sudah sedewasa ini. Aku sampai hampir tidak mengenali."
Ruby mengernyitkan dahinya disebut sebagai anak-anak.
"Dulu kucel sekali sampai banyak yang percaya kalau kamu anak orang miskin. Tidak aku sangka ternyata Trisia Ruby itu putri anaknya Pak Wijaya."
"Kalau dulu aku bawa nama ayahku, mungkin kamu sudah masuk penjara." Ruby berkata dengan nada ketus.
"Didi, jangan berkata seperti itu kepada Ruby!" Meka mencoba mengingatkan.
"Aku hanya bercanda." Ferdian menepuk puncak kepala Meka. "Callista masih tidur, ya?" Ia melongok ke arah bayi mungil itu.
"Wah, ada siapa di sini? Sepertinya hanya seorang lelaki pengecut yang suka lari dari tanggung jawabnya," celetuk Melvin yang baru saja datang di sana. Raut wajahnya sangat kentara kalau ia tidak menyukai peejumpaannya dengan Ferdian.
"Sayang, kenapa kamu bersama dengan lelaki bajingan ini?" Melvin memeluk Ruby. Ia buru-buru datang menyusul Ruby setelah menyelesaikan urusannya.
"Aku tadi hanya kebetulan bertemu dengan Kak Meka."
"Seperti biasa mulutmu memang tidak pernah dijaga ya, Vin."
"Untuk orang sepertimu, aku tidak perlu menjaga ucapanku." Keduanya bersitatap.
"Mau cari ribut denganku?" Amarah dalam diri Ferdian juga ikut membuncah. Rasanya sangat cocok keduanya bertemu, bisa jadi tempat itu berubah layaknya sasana tinju.
__ADS_1
"Di, ingat ada Davin dan juga Callista! Jangan cari masalah, aku tidak suka!" ancam Meka. Ia sudah melemparkan lirikan tajam tanda ia tidak menyukainya.
"Meka, untuk apa kamu masih bertahan dengan orang seperti dia. Seharusnya kamu biarkan saja dia kesusahan sendiri supaya tahu rasanya apa yang sudah dia perbuat kepadamu. Kalau bisa jangan sampai dia bahagia seumur hidupnya," sindir Melvin.
Ferdian sudah hampir maju begitu pula dengan Melvin. Kalau kedua istri mereka tidak mencegah, sudah pasti mereka akan melakukan baku hantam.
"Ruby, kami pulang dulu, ya. Lain kali mari kita bertemu hanya berdua, jangan sampai membawa biang masalah. Hahaha ...." Meka berbicara sambil memegangi Ferdian.
"Iya, Kak. Terima kasih untuk hari ini. Sampai jumpa lagi." Ruby juga melakukan hal yang sama, memegangi Melvin.
Setelah Meka dan Ferdian pergi, barulah Ruby melepaskan Melvin. "Ini tempat umum, Kak! Masa mau ribut?"
"Ah, kalau bertemu dengan dia aku memang tidak tahan ingin menghajarnya." Melvin kecewa tidak bisa melampiaskan kekesalannya.
"Kenapa, Kak? Masih tidak terima mantan istrinya direbut, ya?" ledek Ruby. Bagaimanapun juga, Renata memang pernah menjadi istri Melvin meskipun hanya sebatas status.
Melvin jadi kesal mendengar ejekan Ruby. "Kalau untuk bagian itu aku sangat berterima kasih."
Ruby menahan tawanya. Terlihat sekali kalau suaminya sangat kesal. "Sudahlah, Sayang. Kita pulang sekarang," ucap Ruby seraya memeluk lengan Melvin.
"Eh, apa aku tidak salah dengar? Kamu memanggilku sayang ya, barusan?" tanya Melvin memastikan.
"Masa sih? Mungkin Kak Melvin salah dengar!" Ruby menyangkalnya. Ia menarik tangan Melvin agar berjalan mengikutinya pergi.
*****
Yang suka Fantasi Timur pasti suka cerita ini deh. Ayo mampir ya 😘
Judul: Legenda Giok Kembar
Author: Eet Wahyuni Sahndi
__ADS_1