
Suasana yang terlihat mencekam. Berlatar sedikit jauh dari permukiman warga, Gibran yang sedang fokus pada laju kendaraannya begitu juga Putri yang terlihat cemas lantaran jalanan yang sedang dilaluinya terbilang sangatlah sepi tanpa adanya seseorang atau pun para warga yang berkeliaran pada biasanya.
"Kamu merasa ada yang aneh gak?"tanya Putri beralih tatapan Gibran berpaling darinya.
"Aneh gimana maksud kamu?"tanya balik Gibran.
"Tempat ini sangatlah sepi apa tidak seharusnya kita putar balik saja?"
"Aku tau kamu memang takut, tapi kamu tenang aja ada aku disini dan tidak jauh dari beberapa meter ada perkampungan yang juga ramai padat penduduk jadi tenanglah!"
"Baiklah kamu berhati-hatilah dan jangan sampai lengah."
"Baiklah!"
Kembali fokus pada laju kendaraan yang sedang di pimpinnya. Tak lama pandangan keduanya nampak menatap serius arah depan yang sekilas seperti ada pohon tumbang yang menghalang akan laju kendaraannya saat ini.
"Tunggu! Didepan saja ada batang pohon tumbang sedangkan disini cuacanya seperti baik-baik saja tidak ada tanda seperti habis hujan lebat apa itu sungguhan tumbang ataukah ada seseorang yang sedang merencanakan sesuatu?"
"Jalanan ini aku rasa aman. Bahkan tidak ada pemberitaan atau pun berita yang lain mengenai tempat ini sebagai tempat pembegalan yang sering memakan korban, hanya saja yang membuatku sedikit aneh sejak sedari kita lewati jalan ini tidak ada satu pun kendaraan yang juga melintas disini apa yang sebenarnya terjadi?"
"Aku rasa ini sudah jelas jika ada seseorang yang sudah menjebak kita. Terus sekarang apa yang harus kita lakukan?"
"Turun dan mengangkat batang itu dengan begitu kita akan aman!"
"Aman gimana aku rasa ada seseorang yang sedang memperhatikan kita, jika kita keluar takutnya sesuatu yang tidak seharusnya terjadi akan terjadi pada kita jadi alangkah baiknya kita putar balik lewat jalan tikus dekat sana itu akan aman biarpun sedikit jatuh aku rasa itu ide yang paling tepat!"
"Baiklah aku akan putar balik, tetap waspadalah!"
Hendak akan memutar balik kendaraannya. Gibran mau pun Putri seketika dikejutkan dengan hadirnya tiga Pria yang sekejab menghadang tepat depan mobilnya.
"Gibran, mereka?"tanya Putri tak berkedip.
"Biar aku yang turun!" Melarangnya untuk jangan keluar, tapi Gibran yang sedikit tidak menggubrisnya dirinya tanpa mendengarkan ucapan Putri, dirinya berlalu keluar dari dalam mobil. Akan tetapi belum juga ia menghadapi atau pun melawan tiga penjahat itu, satu pukulan tepat mengenai punggung belakangnya.
Akibat pukulan dari balok kayu telah tepat mendarat tepat pada punggungnya yang akhirnya spontan membuat Gibran jatuh pingsan tidak sadarkan diri.
Mendengar ada suara jatuhan Putri yang mendengarnya ia memutuskan untuk melihat ke-depan. Akan tetapi belum juga ia berhasil mencapai ditempat yang ingin ia tuju sebuah pukulan lagi-lagi tepat mendarat mengenai punggungnya yang akhirnya membuat Putri ikut jatuh pingsan.
Berada dalam satu ruangan yang sama. Ditambah lagi Putri dan Gibran yang berada dalam satu alas yang sama, dalam kondisi Putri memeluk Revan yang masih sama-sama belum tak sadarkan diri.
Tak lama terdengar suara gemuruh layaknya ada seseorang yang sedang berdemo mulai menghampiri arah tempat dimana mereka berada saat ini. Suara kegaduhan dan teriakan semakin terdengar sangat kencang. Pintu terbuka dengan sangat keras hinga membuat suara itu tepat sampai ditelinga Gibran mau pun Putri yang terlihat masih nyenyak tertidur pulas.
Tiba-tiba datang beberapa orang yang masuk ruangan ini dengan menyiramkan seember air tepat mengenai wajah mereka.
Terkejut! Putri dan Revan seketika bangkit dari tempat mereka berada saat ini. Beribu-ribu pertanyaan ingin sekali mereka pertanyaan-kan akan apa yang terjadi pada mereka saat ini.
Setelah sadar nampak raut wajah mereka dipenuhi dengan wajah kebingungannya. Apalagi melihat orang-orang pada menunjukkan raut amarahnya membuat Gibran mau pun Putri ikut diselimuti rasa ketakutannya.
"Dasar tukang kumpul kebo apa yang kalian lakukan ditempat ini? Apa kalian habis bermalam indah tadi malam?"tanya Laki-laki yang hampir botak.
"Ini tidak bisa dibiarkan, mereka pasti orang-orang mesum yang sudah bermalam tadi malam," cela pria satunya.
"Tidak! Kita tidak seperti yang kalian pikirkan. Kami memang tadi malam sedang berteduh disini lantaran mobil-ku tiba-tiba mogok ditengah jalan dia sudah bersuami, dan aku sendiri juga sudah beristri kami tidak mungkin melakukan tindakan se'keji itu tidak mungkin," bela Gibran.
"Kalau kalian tidak mungkin bertindak macam-macam kenapa kalian tidur bersama disini apa itu masuk akal?"
__ADS_1
"Kami berani bersumpah kamu tidak pernah melakukan tindakan sebodoh itu, kami dijebak ada seseorang yang sudah menjebak kita dalam situasi ini jadi kami mohon percayalah pada kami, kami mohon," bela Putri lagi.
"Dimana-mana yang namanya penjahat tidak akan pernah mau mengaku akan kesalahannya, termasuk pada kalian juga, jadi untuk apa kita harus percaya dengan tipuan dan pembelaan kalian ini. Sudah kita nikahkan saja mereka biar tidak jadi aib dikampung ini ayo cepat kita nikahkan saja mereka!"
"Tidak aku tidak mau menikah dengannya. Apa yang dikatakan olehnya memang benar, ini sebuah penjebakan ada seseorang yang sengaja menjebak kita dalam permainan ini. Jadi kami mohon percayalah pada kami, kami pohon,"bela Gibran.
"Alah sudahlah untuk kenapa kalian masih melakukan pembelaan juga, cepat kita bawa mereka ke balai desa dan cepat panggil penghulu dan keluarganya biar mereka segera dinikahkan ayo cepat bawa mereka.
Berada di-balai desa semua orang yang sudah pada mengerubunginya. Sedangkan penghulu sudahlah hadir hanya tingal menunggu ijab kabul dimulai.
"Tunggu Pak kami mohon beri kami kesempatan untuk berbicara kami mohon, semua ini hanya kesalahpahaman kami mohon percayalah pada kami," mohon Gibran akan tetapi tak berarti lagi bagi mereka.
"Kesalahpahaman apa yang kamu maksud?"teriakan seseorang yang seketika mengejutkan mereka.
Satu suara yang mampu memalingkan pandangan semua orang tak terkecuali pada Gibran dan juga Putri.
Seseorang yang akhirnya telah berhasil mengalihkan perhatian keduanya. Putri mau pun Gibran yang terkejut akan kehadiran seseorang itu, Putri lantas langsung memeluknya.
"Nina? Tolonglah aku, aku tidak mau menikah dengannya aku tidak mau!"tangisannya pecah bersamaan dengan Nina yang mengusap air mata itu.
"Kamu tenang-lah kita akan menolong kamu!"
"Ini ada apa sebenarnya kenapa mereka bisa diarak seperti ini?"tanya Revan pada para warga.
"Mereka pasangan yang sudah melakukan kumpul kebo, mereka tertidur bersama didalam rumah kosong sana jadi apa mungkin mereka tidak melakukan apa-apa apa itu mustahil?"
"Cepat kita nikahkan mereka ayo cepat!"
"Tunggu! Kita berdua saudara mereka, kita akan membahas masalah ini secara empat mata jadi biarkan kami berunding memutuskan yang terbaik untuk masalah ini kamu mohon ijinkan kami!"
"Baiklah segeralah putuskan, kami akan memberikan kalian waktu 10 menit cepat!"
"Baik Pak sekali lagi terima kasih! Terima kasih atas pengertiannya.
Lantas mereka berempat pun memasuki ruangan dari balai desa tersebut. Hanya mereka berempat tanpa adanya seorang lain yang mendengar akan apa yang mereka bicarakan, Nina se'berusaha ia memberikan ketenangan pada Putri, dia tau masalah ini mungkin akan sangat mengejutkan dirinya.
"Nina ... Revan ... Kami mohon percayalah pada kami, kami sama sekali tidak pernah melakukan hubungan apa-apa kami mohon percayalah!"
"Putri ... Gibran ... Kalian tenanglah kami percaya apa yang terjadi saat ini semua ini sudah jadi rencana dari seseorang. Kami sangat percaya semua ini hanyalah taktik rencana seseorang karena kami sendirilah juga tau siapa seseorang itu?"
"Maksud kamu apa Van?"tanya Gibran.
"Iya! Semua ini terjadi, bahkan orang yang menculik kalian orang itu sendiri yang tak lain adalah orang suruhan Revi! Jujur aku masih belum tau alasan jelas kenapa dia merencanakan semua ini, tapi aku janji aku akan mengurusnya jadi kalian tenanglah!"
"Revan! Bagaimana kami bisa tenang jika kita hanya punya waktu kurang dari 15 menit, mereka memaksa kita untuk menikah karena jebakan ini jadi bagaimana mungkin kami bisa tenang?"
"Putri yakinlah rencana-ku ini bakal berhasil. Ikuti saja saran aku, aku yakin kalian akan terlepas dari masalah ini aku yakin?"
"Revan Jika kamu memang ada cara apa? Jangan menambah kita malah harus untuk berfikir, mereka semua terus saja berteriak jadi apa yang harus kita lakukan?"
"Menikahlah! Menikahlah secara pura-pura agar kalian terbebas dari masalah ini, mereka bukanlah kerabat atau pun tetangga satu kota dengan kita jadi mereka pasti tidaklah kenal dengan kalian. Sedangkan dari mereka ada satu anak buah utusan Revi untuk menindak lanjuti perkara ini termasuk biang kerok utama dari terjadinya masalah ini, jadi aku mohon berpura-pura lah menikah jika kalian ingin terbebas aku mohon?"
"Apa kamu yakin cara kamu akan berhasil?"
"Iya aku yakin!"
__ADS_1
Keduanya yang saling terduduk berhadapan pada salah satu penghulu untuk melakukan ijab kabulnya. Tangan penghulu mau pun Gibran sudah sama-sama berjabat tangan, tingal selangkah bahkan sedetik Gibran hendak akan melafalkan ijab kabul tersebut, hantaman bahkan pukulan seketika seseorang layangkan tepat pada arahnya yang spontan itu juga Gibran yang mendapatkan dugeman itu pun tersungkur jauh.
Hadirnya Bimo yang tiba-tiba memukulnya. Pandangan semua orang seketika bangkit, penghulu bahkan para tamu atau pun saksi seketika bangkit dari tempat duduknya suasana yang sedikit sunyi itu pun seketika berubah menjadi riuh.
"Bimo! Apa yang kamu lakukan kenapa kamu malah memukul Gibran?"
"Dalam keadaan terdesak pun kamu masih bisa-bisanya membela pria ini? Apa sampai segitunya kamu sangat mencintainya sampai-sampai kamu lupakan aku yang jelas-jelas aku adalah kekasih bahkan tunangan kamu sendiri?" gertak Bimo dengan tatapan tajamnya.
"Ternyata selama ini dugaan-ku memang benar kan? Jika selama ini kamu memang masih mencintainya. Bahkan hubungan yang warga pergoki itu sungguh-sungguh terjadi kan?"bentak Bimo dengan kemarahannya.
"Bimo aku mohon percaya pada kami, kami tidak pernah melakukan tindakan se'keji itu kami mohon kami percaya pada kami, aku mohon!"
"Apa lagi yang ingin aku percayai. Bahkan aku sendiri sudah tahu seperti apa kelakuan kalian dibelakang-ku. Tapi sayangnya aku sudah terlanjur sangat mencintai kamu. Dan sangat terobsesi untuk memiliki mu jadi selain aku! Aku pastikan tidak akan ada orang lain lagi yang akan mendapatkan kamu. Dan jika kamu harus ternodai akulah yang terlebih dulu akan menguasai kamu jadi ayo kita pergi sekarang!"
Menarik tangan Putri dengan kasarnya, Putri yang merintih sakit akibat cengkeraman Bimo yang kasar membuat Gibran mau pun kedua temannya seketika langsung menghalanginya
"Apa seperti ini cara kamu memperlakukan Putri yang tak lain dia itu pacar kamu? Kalian bahkan baru pacaran satu bulan bahkan bertunangan kalian hanya bertukar satu cincin apa kamu sudah punya hak untuk menyiksanya seperti ini?"tegas Gibran yang tak terima.
"Yang Gibran katakan memanglah benar! Kalian hanya berstatus tunangan apa seperti ini cara kamu memperlakukan Putri? Dia wanita apa kamu punya hak untuk menyiksanya? Bahkan dihadapan banyak orang kamu mampu menyiksanya gimana jadinya jika kalian hanya berdua apa kamu tidak sekalian akan membunuhnya dengan tangan kamu sendiri?"timpal Revan yang ikut tidak terima.
"Punya hak apa kalian bisa mengatakan semua ucapan itu? Aku kekasihnya aku akui kita hanya bertunangan tapi aku rasa dengan cara ini Putri mampu sadar agar dia tidak terlalu terobsesi untuk bisa kembali pada laki-laki ini jadi cepat ayo jalan!"
"Bimo sakit! Lepaskan tangan aku! Lepaskan tangan aku, sakit!"
"Diam! Apa kamu tidak bisa diam, apa kamu ingin aku tambah kasar lebih dari ini?"
"Kenapa Bim? Kenapa kamu se'kasar ini sama aku apa alasannya? Apa alasan yang membuat kamu berubah apa?"
"Apa kamu masih bertanya juga? Bukankah perubahan yang aku tunjukkan ini kamu sendiri yang menyebabkannya? Aku sudah tulus bahkan menunggumu sejak sedari lama, disaat kamu sudah mulai memberikan aku kesempatan tapi apa? Apa yang kamu lakukan selanjutnya nyatanya kamu malah membohongiku seolah-olah kamu perduli bahkan aslinya kamu hanya merasa kasihan kenapa? Kenapa kamu tidak berkata jujur waktu itu, kenapa?"
"Jika aku tau sifat asli kamu seperti ini harusnya aku menolak-mu pada waktu itu? Jika aku tau aslinya kamu memang tidak sungguh-sungguh cinta sama aku harusnya aku menolak-mu secara langsung! Waktu itu aku menerima kamu karena aku yakin dengan menerimamu aku yakin secara perlahan aku akan mampu untuk mencintai kamu tapi apa? Dalam satu bulan kamu sudah menunjukkan sifat asli kamu, mendengar bahkan hanya termakan akan omongan orang yang langsung percaya seolah-olah aku mengkhianati kamu, kamu berubah Bimo kamu sudah berubah!"
"Baiklah jadi maksud kamu? Kamu menyesal karena sudah menerima cintaku pada waktu itu? Aku sadar aku memang egois karena hanya memikirkan keadaan dan kebahagiaan ku sendiri tapi apa kamu sadar atas kesalahan apa yang akan terjadi jika kita sampai putus? Apa kamu bersedia bahkan melihat langsung Perusahaan Papa kamu yang selama ini ia kembangkan dengan kerja keras akan jatuh runtuh tepat dihadapan kamu! Apa kamu sudah siap jika kalian akan bangkrut dan kamulah orang pertama yang sudah bikin Perusahaan itu hancur?"
"Sudah aku duga kamulah orang pertama dalang dari kekacauan ini? Harusnya aku paham dan sadar dengan siapa aku berhadapan, kamu terlalu licik Bim! Kamu terlalu licik! Sekarang aku tanya apa mau kamu? Jika kamu ingin menghancurkan aku kenapa juga kamu harus menyatakan cinta bahkan bersikap baik padaku apa alasannya?"
"Sudah aku tidak cukup banyak waktu. Aku kasih kamu kesempatan 10 menit untuk berfikir, jika kamu sungguh-sungguh lebih memilih melepaskan aku! Sadarlah keputusan kamu akan berakibat fatal aku pikirkan!"
"Gak Put! Kamu tidak bisa mengorbankan kebahagiaan kamu sendiri demi keluarga kamu, kamu berhak untuk bahagia Jangan lakukan itu aku mohon jangan!"
Bisikan terus saja menghantuinya. Ingat akan bayang-bayang ucapan Dokter pada waktu itu, sekejap air matanya mulai mengalir.
"Baiklah aku sudah putuskan aku mau menikah denganmu!" Satu ucapan yang akhirnya terlontar dari mulut wanita manis lan cantik ini. Air matanya tak henti-hentinya mengalir bersamaan dengan ucapan yang barusan diucapkannya tadi. Gibran maupun kedua temannya yang terkejut akan ucapan yang dikatakan mereka tak percaya dengan keputusan apa yang mereka ambil ini.
"Put! Kamu tidak bisa menyiksa diri kamu seperti ini tidak bisa!"
"Iya Put katakan apa yang kamu katakan tidaklah benar kan? Katakan apa yang barusan kamu katakan hanyalah tipuan untuknya?"
"Aku sudah memutuskan seperti apa keputusan yang kamu pilih. Aku bersedia menikah denganmu jadi terserah kapan kamu ingin menikahi ku aku sudah siap! Aku sudah siap apa kamu puas!"
"Ternyata semudah ini kamu memutuskannya. Aku kira kamu akan memberikan kesempatan pada Pria ini tapi nyatanya tidak! Baguslah aku akan bicara pada Papa dan Mama kamu untuk mempercepat rencana pernikahan kita jadi kita pergilah sekarang!"
Hanya menuruti apa yang dia mau, Putri yang hanya nampak pasrah dirinya hanya mengikuti ketika Bimo mengandeng tangannya dan memasukannya kedalam mobil tanpa menghiraukan akan ucapan yang dikatakan ketiga temannya.
BERSAMBUNG.
__ADS_1