
"Tolong tahan sebentar ya ... Kalau kita tidak melakukannya, mama tidak akan berhenti mengomel." Ardi memeluk Ruby dan mencium pipinya.
Ruby berusaha santai untuk menghapus kecanggungan yang ada. Ia tersenyum ke arah kamera. Sesekali ia membuat gaya-gaya konyol yang membuatnya tertawa sendiri. Ardi sampai menepuk jidat dengan kelakuannya. Sementara, Tante Sukma justru kegirangan melihat kelakuan Ruby.
Ardi hanya bisa menggelengkan kepala, melihat Ruby dan ibunya yang se-frekuensi. Keduanya sama-sama suka kekonyolan. Ruby bisa menghidupkan suasana, mengubah kecanggungan menjadi lawakan.
Matanya tak bisa lepas dari wanita itu. Semakin dilihat, semakin ia merasa sulit untuk menyerah padanya. Ardi mulai berpikir, apakah ia akan menjadi seorang yang kejam, memanfaatkan niat baik wanita itu untuk membuatnya tetap bertahan berada di sisinya.
Ardi menggenggam tangan Ruby, membuat wanita itu seketika menghentikan tawanya. Ia menatap Ardi sembari menyunggingkan senyum, sepertinya ada hal yang ingin diucapkannya.
"Kenapa?" tanyanya.
"Sepertinya aku mulai serakah," ucapnya sembari menatap penuh arti pada Ruby.
Ruby hanya tersenyum, tak mengerti apa maksud ucapan Ardi.
"Kenapa keberadaanmu semakin membuatku memiliki harapan yang besar? Aku menjadi ingin hidup dan menua bersamamu." Matanya menyiratkan sebuah keseriusan.
Senyum di wajah Ruby perlahan memudar mendengarkan perkataan Ardi yang terlihat serius.
"Menggenggam tanganmu seperti ini sampai kita sama-sama menjadi keriput."
Ruby menghela nafas, "Kak ... kamu sudah tahu kalau aku tidak bisa melakukannya."
Ardi tersenyum dan menepuk kepalanya, "Aku hanya bercanda. Kenapa wajahmu jadi serius seperti itu?" katanya, seolah semua ucapannya hanya omong kosong. "Cepat ganti bajumu dan hapus make up-mu. Setelah ini kita akan makan malam."
Ruby menjadi lega. Terkadang candaan yang dilontarkan Ardi terdengar serius dan membuatnya bingung untuk meresponnya.
Setelah menyelesaikan urusan di butik, mereka pergi makan malam di sebuah hotel. Ruby didampingi oleh ayah dan Rei, sementara Ardi didampingi ayah dan ibunya.
"Jadi, tidak apa-apa kalau Ruby yang akan menikah lebih dulu daripada kamu, Rei?" tanya Pak Raharja.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Om." Ardi menjawab dengan seulas senyuman. Awalnya dia menolak untuk datang karena pasti akan terasa kikuk. Dia menghadiri acara makan malam saudaranya yang akan menikah dengan sahabat baiknya. Rasanya sangat tidak nyaman.
"Pacarnya Rei masih kuliah, orang tuanya juga pasti menginginkan putrinya menuntaskan sekolahnya lebih dulu." jawab Pak Wijaya.
"Aku dengar pacarnya Rei itu anaknya Bayu Bagaskara, pemilik klab malam terkenal di kota ini, kan?"
Pertanyaan dari Pak Raharja membuat selera makan Rei menjadi buruk. Sebenarnya itu salah satu hal yang menjadi penghambat hubungan mereka. Ayahnya agak keberatan kalau dia berhubungan dengan Livy.
"Bayu Bagaskara ayah sambungnya Livy, Om. Ayah kandungnya adalah Ayash Hartadi, pemilik PT Prayoga Jaya." Rei berusaha tetap menjawab dengan tenang dan tersenyum. Ia melirik ke arah ayahnya, tampaknya dia juga kurang menyukai pembahasan malam itu.
Selain terhalang masa lalu ayah sambung Livy, mereka berdua juga memiliki keyakinan agama yang berbeda. Tuhan mereka berbeda. Ayahnya menginginkan ia kalau bisa mencari pendamping hidup yang seiman. Meskipun tidak melarang mereka berhubungan, tapi sepertinya Pak Wijaya memang sedikit tidak setuju.
"Ehm! Pa, tadi aku sudah mencoba gaun pengantin dengan Tante Sukma." Ruby berusaha mengalihkan pembicaraan.
Sebagai saudara kembar, meskipun sering bertengkar, terkadang mereka juga bisa peka satu sama lain. Rei pernah mengatakan tentang masalahnya, jadi Ruby bisa mengerti. Ia juga pernah mendengar saat ayahnya memberi Rei nasihat tentang hubungan Rei dengan Livy.
"Oh, iya? Bagaimana, papa jadi ingin melihatnya." Pak Wijaya tampak antusias ingin mendengar.
"Hahaha ... tentu saja kamu merasa tidak sabar karena setelah menikah Ruby akan jadi anakmu dan tinggal bersamamu." Tampaknya Wijaya menjawabnya dengan nada sedikit kesal.
"Apa kamu belum siap kehilangan putrimu?" sahut Raharja.
"Yah, aku yang bersusah payah membesarkan dia, tapi kalian yang akan mendapatkannya," kesal Wijaya.
Ruby tersenyum, ia meraih lengan ayahnya dan menyandarkan kepalanya di sana. "Sampai kapanpun aku akan menjadi anak Papa, kok .... " ucapnya manja.
"Resiko memiliki anak perempuan, harus siap diambil oleh suaminya." Wijaya hanya bisa menggelengkan kepala.
"Kedua anak lelakiku, mereka memilih tinggal di luar negeri bersama keluarganya. Sekarang tinggal Ardi yang masih bersama kami. Dia sudah seperti anak tunggal karena yang paling lama tinggal bersama kami. Nanti kamu juga bisa meminta istri Rei untuk ikut tinggal bersamamu, Haidar," kata Raharja.
Kedua kakak Ardi yang sekarang tinggal di luar negeri merupakan anak dari istri pertamanya yang telah meninggal. Setelah ia menikah dengan Sukma, ia menjadi ibu sambung bagi kedua anaknya. Meskipun demikian, hubungan mereka tetap baik. Bahkan setelah Ardi lahir, mereka bisa menjadi kakak yang baik.
__ADS_1
Saat semakin beranjak dewasa, mereka lebih memilih tinggal sendiri di apartemen. Semua gara-gara provokasi dari keluarga mantan istrinya. Hubungan mereka sedikit kurang baik. Sampai mereka memutuskan untuk tinggal di luar negeri setelah menikah dan sangat jarang pulang.
"Kalau Ruby sudah menikah, kita akan membagi jadwal kunjungan, kok! Iya kan, Kak Ardi?" Ruby kembali berusaha mencairkan situasi.
Ardi hanya mengangguk dan tersenyum.
"Kalian yakin mau mengadakan pernikahan yang sederhana saja? Cukup akad nikah, tidak perlu resepsi?" tanya Wijaya memastikan.
Rasanya masih tidak percaya anak perempuan satu-satunya dan juga kesayangannya menginginkan pernikahan yang biasa. Umumnya anak perempuan pasti menginginkan menjadi princess tercantik di hari pernikahan dengan pesta dan dekorasi yang sangat mewah.
"Memangnya kenapa, Pa? Bukankah yang penting sah dan seluruh keluarga besar tahu?" Ruby menjawabnya dengan sikap santai. Pernikahan yang akan dilakukannya hanya sebatas pernikahan di atas kertas, baginya tak perlu mewah-mewah untuk suatu kepura-puraan.
"Aku juga heran dengan keinginan mereka, Haidar." sambung Sukma. "Orang-orang akan mengira kalau kita tidak mampu membiayai pernikahan mereka. Aneh sekali pemikiran anak-anak ini." Sukma menggeleng-gelengkan kepala tak percaya.
"Calon menantu Mama ini terlalu cantik, takutnya banyak yang iri kalau terlalu banyak mengundang orang, Ma!" kata Ardi. Seketika tawa pecah dengan perkataannya.
"Kalau Papa, Om dan Tante merasa terlalu ringan membiayai pernikahan kami, berikan saja mentahannya. Kami siap menggunakan uang kalian untuk membuka perusahaan baru."
"Nah, cocok itu. Aku setuju dengan ide Ruby. Daripada pesta pernikahan mewah, lebih baik hadiahnya perusahaan." Ardi mengamini ucapan Ruby.
"Kedua anak ini memang punya jiwa bisnis yang tinggi." ucap Sukma kepada suaminya.
"Bagaimana ini, Haidar, kamu mau memberikan perusahaan yang mana kepada calon pengantin baru kita?" tantang Raharja.
"Aku sudah tidak punya perusahaan, semua sudah dipegang Rei. Sekarang aku hanya seorang pengangguran," kata Wijaya merendah. "Bagaimana, Rei, mana yang mau kamu berikan kepada adikmu?"
"Barang yang sudah diberikan tidak boleh diminta kembali, Pa!" ucap Rei dengan tegas. "Dulu Ruby suka berpura-pura jadi miskin, biar jadi miskin sungguhan." Rei melemparkan lirikan mautnya.
Ruby memanyunkan bibirnya kepada Rei.
*****
__ADS_1