PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
MALAM INI 2


__ADS_3

Melvi sudah tak bisa mundur lagi. Ia tak bisa jika tak menuntaskan malam ini. Tapi, melihat wanita yang dicintainya merasa tidak nyaman, ia merasa sedikit bersalah.


Diusapnya wajah Ruby dengan lembut. Ia ingin wanita itu bisa rileks dan menikmati malam pertama mereka dengan bahagia.


"Kamu sangat cantik malam ini sampai aku merasa tidak puas untuk merengkuhmu. Terima kasih sudah mengizinkanku menyentuhmu malam ini. I love you, Sayang." Ia memberikan kata-kata yang mampu menenangkan perasaan istrinya.


Melvin kembali mengajak istrinya berciuman. Tangannya memanjakan kedua bukit indah dengan gerakan lembut. Ia ingin mengalihkan rasa sakit menjadi sensasi yang menyenangkan.


Usaha yang Melvin lakukan membuahkan hasil. Tubuh Ruby menjadi lebih rileks. Saat momen itu tiba, Melvin kembali menghentakkan miliknya dengan gerakkan yang kuat hingga seluruhnya berhasil masuk ke dalam secara sempurna.


Air mata Ruby kembali menetes. Ia merasakan perih yang luar biasa untuk pertama kalinya. Milik suaminya melesak seperti menyayat miliknya. Ruby tak pernah menyangka jika hubungan in*tim akan terasa sesakit itu.


Melvin membiarkan miliknya di dalam sana memberi waktu kepada tubuh Ruby menyesuaikan diri dengan miliknya. Ia tetap membelai sang istri dengan lembut agar perasaan istrinya tetap tenang.


"Sakit ...," rengek Ruby.


"Sakitnya sebentar kok. Lama kelamaan nanti tidak terasa sakit lagi. Jangan nangis, ya!" Melvin mengusap sisa-sisa air mata di pipi Ruby.


"Lepas,"


"Eh, jangan! Masuknya susah nanti kalau dilepas punyamu rapet lagi, susah dimasuki."


"Jahat banget sih!" Ruby memasang wajah memelas."

__ADS_1


"Sebentar kok, Sayang ... biarkan mereka berkenalan dulu. Biar punyamu hafal ukuran milik suamimu yang akan keluar masuk seumur hidupmu ke depan." Melvin masih sempat bercanda padahal istrinya merajuk ingin menyudahi aktivitas yang mereka lakukan.


Melvin tidak bisa, miliknya masih tegang di dalam sana. Apalagi milik istrinya tak henti-hentinya memijit miliknya. Kalau dia tak memikirkan istrinya, mungkin ia sudah berbuat sesuka hati untuk mencapai kli*maksnya sendiri.


"Harusnya aku mabuk saja biar nggak merasa sakit."


"Nggak boleh mabuk. Itu haram." Tiba-giba Melvin jadi sok menjadi penceramah, padahal dulu dia juga hobi mabuk-mabukan. "Lagipula, sakitnya kan hanya sedikit. Nanti jadi enak kok."


"Sedikit apa? Sakit banget kayak diiris-iris." Ruby memanyunkan bibirnya.


"Siapa yang ngiris? Aku cuma nusuk kok."


"Ha ah ... Kak!" Ruby jadi kesal karena Melvin tidak serius menanggapi keluhannya.


"Maaf, Sayang ... maaf! Tapi, ini sudah tidak sakit, kan? Bagaimana rasanya di dalam"


Wajah Ruby memerah, "Nggak sakit, sih... cuma terasa penuh saja di dalam," ucapnya sambil malu-malu.


Melvin merasakan area bawah istrinya sudah lebih rileks, sudah waktunya ia melakukan tahap berikutnya. "Sayang, boleh aku gerakkan, ya .... " Ia kembali meminta izin. Ia sudah cukup tersiksa menahan diri di dalam sana.


"Nanti sakit .... "


"Tidak ... kamu jangan fokus terus ke yang di bawah. Perasaanmu harus tenang dan santai, pikirkan saja tentang rasa cinta yang kita miliki satu sama lain." Melvin kembali mengusap wajah Ruby.

__ADS_1


"Tapi pelan-pelan," pintanya.


"Iya, Sayang."


Melvin menyatukan bibir mereka, memulai ciuman lembut dan sedikit menuntut. Ruby ikut mencoba menikmati ciuman yang dilakukan suaminya. Ia merasakan kedua tangan suaminya turut memijit payu*daranya dengan gerakan yang lembut. Sesekali puncakny dimainkan oleh jemari-jemari nakal itu. Ruby mengeluarkan suara lengkuhan menandakan ia merasa terang*sang.


Di saat yang bersamaan, Ia merasa sesuatu mulai digerakkan keluar masuk dari tubuhnya dengan gerakkan yang lembut. Meskipun masih terasa perih, rasa sakit yang terasa hanya sedikit. Bagian bawahnya mulai merasakan kenikmati dari setiap gesekan kedua benda itu.


Melvin mesih memompa miliknya dengan gerakan yang teratur. Sesekali ia memejamkan mata meresapi kenikmatan luar biasa yang pertama kali ia rasakan seumur hidup. Ia harus terus bersabar mengikuti tempo istrinya yang terlihat mulai bisa mengikuti permainannya. Ruby tak henti-hentinya menge*rang di bawahnya. Tak ada lagi rengekkan kesakitan yang sedari tadi ia dengar.


Merasa puncak kli*maksnya semakin dekat, Melvin semakin mempercepat gerakkannya. Rasanya benar-benar luar biasa. Ruby sampai menjerit keras ketika setiap kali ia beri dorongan yang kuat. Tangan Ruby mencengkeram erat punggungnya seakan meminta ampun dan berharap segera dipuaskan.


Pada saatnya tiba, keduanya sama-sama melengkuh panjang ketika menikmati kli*maks bersama yang luar biasa. Melvin menyemprotkan banyak cairannya di dalam dengan perasaan puas. Ia mencoba menetralkan nafasnya yang masih memburu setelah kli*maks.


Sementara, Ruby sudah tergolek lemas tak berdaya di bawahnya. Sepertinya dia sudah tidak punya tenaga lagi setelah melayani keinginan suaminya.


"Kak, aku mengantuk," ucap Ruby dengan nada suara lemah.


"Iya, Sayang. Kamu boleh tidur lebih dulu. Terima kasih, ya ... malam ini kamu sudah membuat aku menjadi orang yang paling bahagia di bumi ini." Melvin mendaratkan satu kecupan di kening Ruby.


Tampa butuh waktu lama, tampaknya Ruby langsung terlelap saking kelelahannya. Melvin hanya bisa memandangi wajah polos istrinya yang malam ini telah membuat hatinya berbunga-bunga. Ia serasa jatuh cinta lagi kepada orang yang sama.


Melvin melepas penyatuannya. Meskipun miliknya masih tegang dan ingin mengulanginya lagi, namun ia tidak tega dengan istrinya yang terlihat sangat kelelahan.

__ADS_1


Saat penyatuan terlepas, cairan bercampur noda darah keluar dari milik sang istri. Melvin menyunggingkan senyum karena malam ini ia sudah berhasil menjebol istrinya sendiri.


Melvin memilih berbaring di samping sang istri dalam kondisi sama-sama tanpa pakaian. Hanya selembar selimut tebal yang menutupi tubuh mereka.


__ADS_2