
"Ardi ... apa yang kamu bicarakan?" tanya Pak Raharja.
Beliau tidak diberitahu sebelumnya oleh Ardi ketika akan datang ke sana. Ardi bilang ingin membahas tentang kelanjutan persiapan pernikahannya yang otomatis tertunda karena meninggalnya Tante Sukma.
"Maaf, Pa. Aku belum sempat memberitahumu tentang ini. Tapi, aku tidak ingin menikah dengan Ruby." Ardi berbicara dengan sangat tenang. Setelah tiga minggu masa berkabung, ia sudah mulai bisa menerima kenyataan.
"Kamu tidak ingat pesan ibumu?" Pak Raharja tersenyum kecut. Dia jadi merasa canggung di hadapan Pak Wijaya.
"Mama sudah meninggal, Pa. Dan sepertinya aku tidak bisa memenuhi keinginan mama untuk menikahi Ruby. Aku minta maaf jika mengecewakan kalian."
"Apa alasannya, Ardi? Apa Ruby membuat kesalahan?" tanya Pak Wijaya.
Ruby menunduk. Ia memainkan jemarinya karena merasa tidak nyaman dengan pembahasan itu. Memang, Ardi mau melepaskannya karena ia tidak bisa bersama Ardi.
"Tidak, Om. Saya yang salah. Saya menyukai wanita lain. Maafkan saya."
Pak Wijaya terkejut dengan kejujuran Ardi. Terlebih Pak Raharja, ia terkejut sekaligus kecewa putranya seperti itu.
"Ardi, berani-beraninya kamu .... " saking kesalnya, Pak Raharja tak sanggup untuk melanjutkan kalimatnya. Ia malu kepada Ruby dan Pak Wijaya.
"Saya merasa tidak akan bisa membina rumah tangga jika hati ini berada di tempat lain. Saya harap Ruby juga bisa bertemu dengan orang yang lebih baik dari saya dan bisa membahagiakannya."
"Ardi, apa kamu tidak bisa mempertimbangkannya lagi? Bisa saja setelah menikah rasa cinta akan tumbuh di antara kalian." Pak Wijaya berusaha memberi nasihat. Dulu, dia juga tidak langsung bisa mencintai istrinya. Tapi, setelah menikah rasa cinta itu perlahan tumbuh.
"Saya tidak berani berspekulasi, Om. Ruby adalah anak Om, saya tidak mau menikahinya jika tidak bisa menjamin bisa mencintainya."
Tentu saja Pak Wijaya kecewa dengan keputusan Ardi. Ia melirik ke arah putrinya yang sejak tadi diam. Mungkin juga saat ini hatinya sedang terluka karena keputusan Ardi.
"Ruby, bagaimana dengan pendapatmu?" Pak Wijaya menanyakan tanggapan.
"Aku juga belum terlalu yakin bisa menikah dengan Kak Ardi, Pa." jawab Ruby.
Membuat Ardi mengatakan hal yang berkebalikan sudah sangat membuat Ruby merasa bersalah. Ardi melakukan itu demi kebaikannya. Dia lebih memilih menjadi orang yang terlihat salah daripada melihat Ruby yang disalahkan.
__ADS_1
Ruby yang menyukai orang lain, Bukan Ardi. Ruby yang tidak bisa menikah karena hatinya ada pada orang lain. Ardi menggantikan tempatnya dan menanggung resiko dari ucapannya untuk mendapatkan kebencian.
"Kami berkenalan karena perjodohan. Wajar kalau ada rasa ketidakcocokan. Aku tidak marah Kak Ardi membatalkan pernikahan, Pa." Ruby mencoba mendinginkan suasana.
Pak Raharja tampak memegangi kepalanya. Ada banyak hal yang ia pikirkan jika pernikahan itu gagal, termasuk membuat Ardi bisa diterima di keluarganya.
"Ruby harap hubungan Om Raharja dan Papa bisa tetap terjaga dengan baik meskipun kami tidak jadi menikah. Saya dan Kak Ardi juga akan tetap berteman."
Pak Wijaya menghela nafas, "Baiklah, kalau itu memang sudah keputusan kalian. Sebenarnya kami sebagai orang tua tentu saja merasa kecewa. Tapi, kalau kalian sudah memutuskan seperti itu, tidak ada yang bisa kami lakukan," ucapnya bijak.
"Terima kasih, Om atas pengertiannya."
Selesai perbincangan itu, Ardi dan ayahnya pamit pulang.
"Kak, terima kasih," ucap Ruby sebelum Ardi masuk ke dalam mobil.
Ardi menyunggingkan senyum seraya menepuk puncak kepala Ruby. Ia tak mengatakan apapun setelah itu. Ardi kembali masuk ke dalam mobil bersama ayahnya.
"Papa masih tidak mengerti dengan keputusanmu." Pak Raharja mulai buka suara ketika mobil yang mereka naiki telah meninggalkan kediaman keluarga Wijaya.
Ardi terdiam. Setiap mengingat ibunya, ia jadi sedih. Meskipun ia telah dewasa, sebagai anak bungsu, ia selalu menjadi anak kecil yang suka memanja dengan ibunya. Ia ingin membahagiakan wanita yang disayanginya, selain ibunya, wanita itu adalah Ruby. Sebesar apapun dia mencintainya, Ruby tidak akan bahagia bersamanya.
"Mamamu di akhir hidupnya banyak menghabiskan waktu untuk mewujudkan pernikahan kalian. Tapi, kamu dengan mudahnya membatalkan hal itu." Pak Raharja terus mengomel sepanjang perjalanan.
"Pa, aku akan menikah dengan wanita yang aku cintai."
"Hah!" Pak Raharja ingin tertawa dengan kisah cinta kekanak-kanakan.
Baginya, pernikahan bukan sekedar urusan hati, tapi juga ada banyak hal lain yang perlu dipertimbangkan, termasuk masalah bibit, bebet, dan bobot. Sudah jelas jika Ardi menikahi Ruby, perjalanan bisnisnya akan semakin mudah. Tapi, dengan santainya ia membatalkan pernikahan itu.
"Papa jadi ingin tahu wanita seperti apa yang kamu inginkan sampai berani melepaskan Ruby."
"Seharusnya kamu merasa beruntung, mendapatkan calon istri seperti Ruby. Dia cantik, cerdas, dan berasal dari keluarga yang terpandang. Setara denganmu. Dimana lagi kamu akan menemukan orang sesempurna itu."
__ADS_1
Ardi tahu itu. Kalau tujuannya hanya untuk bisnis, ia akan melanjutkan pernikahan itu. Tapi, Ardi mencintainya. Dia tidak ingin membuat orang yang dicintainya merasa menderita hanya untuk kebahagiaannya.
"Apa kamu tidak peduli dengan karir bisnismu?"
"Pa, aku sudah cukup dewasa untuk menentukan masa depanku. Aku yakin tidak akan menyesal dengan keputusanku. Sekalipun keluarga besar akan menyingkirkan aku, aku sudah siap. Aku akan berusaha lagi dari bawah semampuku, Pa."
"Aku tidak menyangka akan memiliki anak sebodoh dirimu." Pak raharja membuang pandangannya ke samping, memandangi jajaran pepohonan di sepanjang pinggir jalan.
"Aku sudah memutuskan untuk tidak terlibat dalam perebutan harta warisan, Pa."
Pak Raharja menghela nafas, "Apa gunanya aku mendidikmu selama ini jika akhirnya jadi begini? Bagaimana caraku nanti menjelaskan kepada ibumu? Aku semakin tua dan suatu saat juga akan meninggal menyusul ibumu. Kalau kamu belum bisa menjadi pengusaha yang sukses, sepertinya aku tidak akan bisa mati dengan tenang."
"Tenang, Pak. Ardi yakin bisa sukses. Berikan saja kepercayaan Papa kepada Ardi."
"Hah ... entahlah! Keputusanmu yang seperti ini juga akan berimbas pada perusahaan. Aku pasti akan diserbu pertanyaan oleh paman dan bibimu."
"Belum lagi, berita tentang kegagalan pernikahan kalian pasti akan muncul."
"Baru seperti ini saja aku rasanya tidak sanggup untuk tetap bekerja bersama Haidar. Aku terlalu malu karena perbuatanmu."
"Ardi rasa Om Wijaya bukan tipe orang seperti itu."
"Ya, papa tahu. Mengingat kamu menjadi pihak yang membatalkan perjodohan, papa jadi merasa bersalah saja. Rekan bisnis Haidar yang lain juga pasti akan bertanya-tanya tentang hal ini."
"Dapatkan sendiri wanita yang lebih baik dari Ruby kalau kamu ingin menyelamatkan wajah papa."
*****
Sambil menunggu update berikutnya, mampir sini ya 😘
Judul : Sahabat jadi Nikah
Author : Zafa
__ADS_1