
Ruby berjalan dengan langkah cepat melewati lorong koridor sembari memperhatikan nomor kamar yang tertera di depan pintu. Ia ingin segera melihat kondisi Melvin. Ketika menemukan nomor bertuliskan 303, ia membelokkan langkah dan membuka pintu ruangan itu. Tampak Tomi sedang duduk di samping ranjang Melvin. Suaminya terbaring di sana tak sadarkan diri dengan selang infus yang terpasang di tangan.
Tanpa menghiraukan keberadaan Tomi, Ruby memeluk tubuh suaminya. Kalau saja tidak ada orang di sana mungkin ia sudah menangis. Perasaannya campur aduk antara khawatir, kesal dan ingin marah. Seharusnya tadi pagi ia mengikat Melvin agar tidak pergi kemana-mana.
"Kenapa bisa jadi seperti ini?"
"Setelah rapat dengan client, Pak Melvin tiba-tiba muntah-muntah lalu pingsan, Bu. Saya khawatir jadi langsung membawanya ke sini."
"Apa kata dokter tadi, Tom?" Ruby memegangi tangan dingin suaminya. Sesekali ia tempelkan pada pipinya.
"Katanya asam lambungnya naik, Bu. Tapi sepertinya tadi sudah diberi obat. Saya juga tidak terlalu paham."
"Terima kasih, Tom. Kamu sudah menjaga Pak Melvin. Tolong kamu temui karyawan dari divisi pemasaran di tempat syuting iklan. Aku khawatir mereka kebingungan karena aku tinggal ke sini."
"Apa tidak apa-apa saya tinggalkan Ibu sendirian menjaga Pak Melvin?"
"Tidak apa-apa, aku bisa memanggil perawat jika butuh bantuan."
"Baik, Bu. Kalau begitu saya permisi dulu." Tomi undur diri dari sana.
Ruby kembali memeluk suaminya, membelai perlahan sisi wajah lelaki yang terdiam di tempat tidurnya. "Kak, kamu membuatku khawatir."
Lama ia menemani suaminya yang terbaring pingsan di atas ranjang. Sudah satu jam di sana belum ada tanda-tanda Melvin akan kembali bangun. Ia memutuskan untuk bangkit dari bangkunya untuk mengambil minum di bagian pantry.
"Ughh ...." Mendengar suara rintihan dari Melvin, Ruby segera menyudahi minumnya dan berlari menghampiri.
"Kak ...." Ruby mendekat, berdiri di sisi ranjang. Melvin tampak memegangi kepalanya yang masih terasa berat.
"Sayang, kamu di sini?" Seingat Melvin, terakhir kali hanya ada Tomi di sisinya sementara istrinya bekerja di luar kantor. Pandangannya sedikit demi sedikit kembali, ia menyadari kini tengah berada di ruang perawatan rumah sakit.
"Kata Tomi kamu pingsan, jadi aku buru-buru datang kemari."
Melvin meraih tangan istrinya agar memeluk dirinya yang hanya bisa terbaring di atas ranjang. "Senangnya, saat terbangun kamu menjadi orang pertama yang aku lihat." gumam Melvin. Kehadiran istrinya membuatnya sejenak lupa bahwa saat ini ia sedang sakit.
__ADS_1
"Coba jangan peluk-peluk! Aku sedang sangat marah! Kakak sangat bandel, aku bilang tidak usah kerja tapi tetap nekad pergi. Begini kan jadinya?"
Melvin hanya tersenyum. Ia tahu omelan yang meluncur dari mulut istrinya merupakan bentuk kekhawatiran terhadapnya. "Aku tidak apa-apa, kok. Tadi rasanya hanya lemas saja, mungkin aku kelelahan."
"Jangan diulangi lagi, Kak! Kalau tidak enak badan, istirahat yang cukup."
"Iya, mana berani aku membantah istriku yang cantik." Sisi kebucinan Melvin muncul.
"Permisi ...." Suara pintu terbuka dan langkah kaki dokter dan asistennya yang masuk membuat Ruby terhenyak reflek melepaskan pelukan Melvin.
"Santai saja, Bu. Kami hanya akan melakukan pemeriksaan sebentar."
Ruby jadi merasa tersindir. "Silakan dokter, kalau mau memeriksa suami saya." Ia memberikan ruang agar sang dokter bisa bertanya secara langsung kepada pasiennya.
"Apa yang masih Anda rasakan? Apakah masih merasa mual dan pusing?" tanya sang dokter.
Melvin mengangguk.
"Kira-kira sudah berapa lama merasakan gejala tersebut?"
Ruby agak terkejut mendengar pengakuan suaminya. Sudah seminggu suaminya merasa tidak nyaman dengan kondisi tubuhya, akan tetapi tidak memberitahukan kepada Ruby. Sebagai istri, ia merasa gagal menjaga kondisi kesehatan suaminya sendiri. Padahal, setiap pagi ia sudah berusaha untuk tepat waktu menyiapkan sarapan.
"Apa Anda juga merasakan kecemasan berlebihan serta mudah lelah akhir-akhir ini?"
"Iya, Dok. Mungkin karena pekerjaan yang menumpuk serta sering begadang jadi ada pikiran-pikiran aneh yang kadang muncul di otak."
Dokter Hermawan mangguk-mangguk. Asistennya sibuk memcatat hasil diagnosis dari perbincangan mereka.
"Kalau boleh tahu, apa Ibu sedang hamil?"
Ruby langsung ternganga ketika sang dokter menghadapnya sembari menanyakan hal itu. "Tidak, Dok. Saya tidak sedang hamil."
Ruby dan Melvin saling berpandangan. Mereka tidak paham apa hubungannya antara kehamilan dengan sakit maag yang diderita oleh Melvin.
__ADS_1
"Suster Emi, tolong kamu bawa Ibu Ruby ke bagian poli kandungan, ya!" pinta Pak Dokter.
"Baik, Dok."
"Tunggu sebentar!" Ruby masih belum paham apa maksud dokter itu. Ia menolak untuk dibawa pergi dari ruangan perawatan suaminya. "Maksudnya apa, Dok? Saya kan tidak hamil ...." protes Ruby. Bagaimana seorang dokter menganggapnya hamil padahal kondisi perutnya saja masih rata dan dia tidak merasakan apa-apa.
"Memang Pak Melvin memiliki riwayat sakit maag yang cukup kronis. Akan tetapi, penyebab kambuhnya kali ini saya rasa bukan karena telat makan, melainkan karena gejala-gejala kehamilan."
"Hah! Saya hamil, dok?" tanya Melvin kaget. Ia yang sebelumnya terbaring langsung bisa duduk saking kagetnya.
Dokter dan perawat itu tertawa terbahak-bahak. "Bukan begitu maksud saya. Terkadang, ada seorang istri yang hamil, namun suami yang merasakan beratnya gejala kehamilan yang seharusnya dialami oleh seorang wanita. Istilahnya, suami mengalami sindrom kehamilan simpati karena rasa sayangnya yang besar terhadap istri."
"Tapi, istri saya tidak sedang hamil, dok ...."
"Memangnya kalian sudah memeriksakannya?"
"Belum sih, Dok. Tapi, masa perut sekecil itu dibilang hamil?"
"Itu bisa saja terjadi. Istri santai tidak merasakan apa-apa, tapi suami yang mati-matian merasakan ngidam. Makanya kami ingin memeriksa Ibu Ruby membuktikannya."
"Ya sudah, Dokter. Saya mau diperiksa." Setelah mendengar penjelasan dokter, Ruby akhirnya memutuskan untuk mematuhi saran dokter. Ia mengikuti perawat itu keluar dari ruangan.
"Dok, memangnya mungkin ya, jika seorang lelaki bisa merasakan kehamilan istrinya?" Melvin masih penasaran dengan perkataan dokter.
"Ada. Namanya Syndrome Couvade atau sindrom ayah hamil. Biasanya ditandai dengan maag, gangguan pencernaan, gelisah, sulit tidur, dan libido menurun."
"Ah! Aku rasa ciri terakhir itu memang benar, Dok. Saya yang biasa melakukan bisa tiga kali sehari, beberapa hari terakhir ini tidak ada keinginan untuk berhubungan."
"Hah, tiga kali sehari?" Dokter terkejut.
"Memangnya kenapa, Dok. Itu juga angka minimalnya. Kami kan pengantin baru, wajar jika masih menggebu-gebu."
Tak berapa lama kemudian, Ruby kembali sembari memperlihatkan dua garis merah pada alat tes kehamilan yang dibawanya. Melvin sangat kegirangan mendapat berita bahagia dari Ruby. Keduanya kembali berpelukan mesra seakan tidak ada orang lain di sana.
__ADS_1
Melvin tak menyangka dirinya sakit karena kehamilan istrinya. Ia setiap hari ingin mual-mual seperti keracunan makanan. Tak disangka, ternyata istrinya tengah hamil. Meskipun yang hamil hanya Ruby, tapi rasanya mereka sedang hampir bersama.