
"Apa yang ingin Bapak katakan?" Meka tak mau berbasa-basi lagi.
Harun menyeringai, "Apa aku harus langsung ke topik utama?"
Harun mulai maju mendekati Meka. Sementara Meka bergerak mundur seiring pergerakan yang dilakukan Harun.
"Aku ingin bertanya satu hal. Apa kamu ingin bekerja di sini dengan tenang?" tanyanya.
"Kamu bisa nyaman bekerja di kantor ini tanpa harus kelelahan, aku akan mengurangi beban kerjamu, kalau perlu kamu tidak perlu mengerjakan apa-apa, cukup kamu duduk manis saja."
Senyuman yang Harun tunjukkan membuat Meka semakin tidak nyaman. Jika boleh memilih, ia ingin orang itu tetap bersikap kasar dan angkuh kepadanya. Sikap baiknya terus terang membuatnya ketakutan. Pasti ada maksud di balik perubahan sikap itu.
"Pak, saya ingin bekerja seperti biasanya saja." Meka menunduk. Ia tak berani menatap Harun yang memiliki pandangan lain terhadapnya.
"Benarkah? Kamu tidak kelelahan bekerja dari pagi sampai sore? Belum lagi kamu harus mengurusi anakmu yang masih kecil."
Meka terhenyak mendengar Harun membahas tentang anaknya. Seharusnya tidak ada yang tahu tentang masalah pribadinya selain Ruby dan Jonathan. Bahkan rekan kerja satu divisi tidak tahu kalau sebenarnya dia sudah memiliki seorang anak.
"Kamu pasti kaget kan, aku mengetahui rahasiamu? Hahaha .... " Harun tertawa puas seakan dia telah menang.
"Meka, Meka ... awalnya aku kira kamu gadis baik-baik. Ternyata ... ck! Ah, sudahlah! Memang sulit menemukan wanita polos jaman sekarang."
"Bahkan aku rasa, kamu sudah sangat berpengalaman dengan banyak lelaki. Sampai punya anak tanpa memiliki suami. Luar biasa sekali kebohonganmu."
"Ini adalah suatu aib yang besar. Bagaimana nasib perusahaan jika mengetahui ada karyawannya yang telah memiliki anak tanpa menikah? Memalsukan data riwayat hidup juga merupakan kesalahan yang tidak bisa ditolerir, kamu seharusnya telah dipecat dan harus mengembalikan seluruh gaji yang pernah diterima. Ditambah dengan ganti rugi karena telah membohongi perusahaan. Kamu juga bisa dituntut secara hukum dan masuk penjara. Pastinya kamu sudah mengetahui resiko itu."
Meka hanya terdiam mendengar ancaman dari Harun. Semua perkataannya memang benar.
__ADS_1
"Apa kamu siap menghadapinya sendiri?" Harun benar-benar licik menggunakan kelemahan seseorang untuk kepentingannya sendiri.
"Tapi, kalau kamu tidak mau semua hal itu terjadi, aku bisa melindungimu." Harun mulai mengeluarkan jurus rayuannya. Semua orang yang berada di bawah ancaman biasanya lebih mudah dibujuk untuk mengikuti kemauan seseorang.
"Apa yang Bapak inginkan dari saya?" tanya Meka dengan nada lirih. Dia tahu, tidak mungkin Harun akan memberikan pertolongan tanpa meminta imbalan apapun.
"Permintaanku tidak sulit, kamu pasti bisa menurutinya. Lagipula kamu juga sudah terbiasa melayani lelaki yang haus kasih sayang, kan?" ucapan Harun sangat melecehkan Meka. Sudah jelas perkataannya bertujuan untuk merendahkan Meka yang telah memiliki anak tanpa menikah.
"Jadilah teman tidur saya seminggu sekali saja. Aku jamin kamu bisa bekerja dengan tenang tanpa masalah di sini. Bukankah aku sangat baik hati? Kamu hanya perlu meluangkan waktu di akhir pekan untukku."
Meka menggigit bibirnya. Ingin rasanya ia berteriak kencang terhadap dunia yang memberikan cobaan kehidupan begitu berat baginya. Ia hanya ingin hidup tenang dengan anaknya, tapi ada saja masalah yang menimpa. Semua orang menganggapnya wanita murahan karena memiliki anak tanpa pernikahan. Apakah seharusnya dulu ia mengguggurkan anaknya sesuai keinginan Ferdian? Orang pasti tidak akan ada yang menghinanya.
Meka hanya ingin memperbaiki hidup, memperbaiki kesalahan yang pernah dilakukannya. Anaknya tidak bersalah, bahkan ia tak pernah menginginkan untuk dilahirkan oleh seorang ibu tidak sempurna seperti dirinya.
"Saya tidak bisa melakukannya!" tegas Meka. "Anda sudah memiliki keluarga, ada istri yang setia menanti kepulangan Anda, dan anak-anak yang menghormati Anda sebagai ayahnya. Bahkan setahu saya, putri tertua Anda seumuran dengan saya. Apa Anda tidak memikirkan, jika dia mengetahui bahwa ayahnya ingin tidur dengan wanita yang seumuran dengan anaknya?"
"Wanita sepertimu hanya dijadikan sebagai tempat sampah, bukan untuk suatu hal yang serius. Tentu saja aku tetap akan berperan sebagai ayah dan suami yang baik bagi keluarga."
"Namanya lelaki, kadang pasti ada rasa bosan dan ingin bermain-main di luar rumah. Setelah puas bermain, barulah pulang ke rumah menjalani kodratnya kembali sebagai kepala rumah tangga."
Meka tidak menyangka jika Pak Harun merupakan lelaki semacam itu. Selama bekerja dengannya, dia kira Pak Harun hanyalah seorang yang tegas, keras kepala, dan angkuh kepada bawahannya. Tidak pernah sekalipun ia menunjukkan gelagat suka melecehkan wanita.
Hari ini, semuanya terungkap. Pak Harun tidak selurus itu. Ia bahkan tega mengancam demi memuluskan tujuannya.
"Kamu hanya memiliki dua pilihan, menerima atau menolak! Jika kamu menerima, semua kesenangan akan aku berikan padamu, termasuk kesenangan batin. Kamu tidak akan kesepian lagi, aku bisa menghangatkan ranjangmu di malam hari."
Meka merinding mendengarkan perkataannya. Lelaki tua yang menyukai wanita seumuran dengan anaknya seperti lelaki pedofil.
__ADS_1
"Tapi, jika kamu menolak ... aku akan membocorkan rahasia gelapmu terhadap pihak perusahaan. Apa kamu sudah menyiapkan materi dan mental untuk menantangku?"
Meka terus mundur ke belakang karena Harun semakin maju mendekatinya. Sampai akhirnya punggung Meka membentur rak kayu. Ia tidak sudi disentuh oleh lelaki bang*sat seperti dia.
Harun sudah bisa meraih Meka. Tangan nakalnya mulai memegang pundak Meka.
"Daripada pusing berpikir bagaimana cara mengembalikan uang perusahaan bukankah lebih mudah jika kamu mau menerimaku? Meskipun aku sudah tua, tenagaku tidak perlu diragukan lagi Aku pasti juga bisa memuaskanmu." Harun mengusap pipi Meka dengan penuh naf*su.
"Kamu bisa fokus merawat anakmu, jika ada kekurangan uang, aku juga akan memberikannya. Anakmu akan hidup berkecukupan dan kamu juga akan selalu hidup senang."
Meka masih memikirkan jawaban yang hendak diberikan. Ia seakan dipaksa untuk mengiyakan permintaan Harun dengan mempertimbangan segala resiko yang sangat merugikannya.
"Tolong pecat saya!" tegas Meka. Ia mendorong tubuh Harun menjauh darinya.
Lelaki itu sedikit terkejut, rasanya tidak mungkin jika Meka menolaknya. "Apa aku tidak salah dengar?" tanyanya.
"Lebih baik saya dipecat daripada mengikuti kemauan Bapak!"
Meka berjalan pergi ke arah pintu. Sebelum ia berhasil membukanya, Harun lebih dulu mencegahnya. Lelaki itu sangat nekad, meskipun sudah ditolak ia tetap ingin memaksa.
"Lepas! Lepaskan aku!" Meka berteriak histeris menghadapi Harun yang berusaha untuk memper*kosnya.
"Tolong ... tolong aku .... " Meka berusaha berteriak sekencang-kencangnya sembari terus memberikan perlawanan.
"Hahaha ... tempat ini sepi, sekeras apapun kamu berteriak, tidak ada yang akan mendengarkanmu." Harun berusaha menggerayangi tubuh Meka meskipun wanita itu terus berusaha menolaknya.
"Tolong ... tolong ... tolong .... !" Meka berteriak dengan nada putus asa. Air matanya jatuh meratapi betapa miris kehidupan yang harus dijalaninya.
__ADS_1
*****