PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
CANDAAN GIBRAN.


__ADS_3

Maaf bik, bibik kayaknya salah karena saya ini bukan teman dekat dari Putri. Dan jika bibik menganggap jika saya ini teman terdekatnya semua itu sangatlah salah, jadi maaf saya tidak bisa membantu Bibik, maafkan saya, saya harus pergi sekarang!" balas Gibran yang kemudian dia pun segera masuk kedalam mobilnya. Dan spontan membuat bibik Minah pun terkejut, tidak mampu untuk mengatakan apa-apa lagi.


"Aku tidak egois kan, kan Putri itu bukanlah teman apalagi pacarku, jadi aku bebas kan memberi pendapat seperti ini? Tindakan yang aku lakukan ini juga tidak salah kan?" ucap Gibran yang terus bertanya- tanya pada dirinya sendiri yang akhirnya malah membuatnya menjadi malah semakin bingung.


"Sudahlah kenapa aku merasa jadi tidak enak kaya gini, sudahlah mendingan sekarang aku segera pergi ke Restoran. Karena disana Verrel pasti sudah menungguku!" ucap Gibran yang kemudian tanpa berkata lagi, dia pun akhirnya menyalakan laju mobilnya.


"Baiklah jika aden itu tidak mau membantu non Putri,"ucap Bibik yang merasa bersedih.


Tidak menunggu waktu lebih lama. Akhirnya tak berapa lama kemudian Gibran pun telah sampai juga di Restoran, dimana Verrel sudah sedari tadi telah menunggunya.


Tanpa berfikir lama, Gibran pun langsung menghampiri temannya yang mukanya sudah sangat cemberut seperti pakaian yang belum disetrika.


"Sorry ya Ver, aku telat datangnya?"


"Udah kebiasaan kamu sejak dulu kali, jadi aku gak heran soal itu,"balasnya sambil cemberut.


"Kamu punya setrika gak?"tanya Gibran yang kemudian membuat Verrel pun terkejut.


"Untuk apa kamu mencari setrika disini?" tanya balik Verrel.


"Untuk menyetrika wajah kamu agar kembali seperti semula, sudahlah itu muka jangan di lembekkin gitu kenapa? Kaya pakaian yang belum disetrika saja?"gurau Gibran.


"Ya sudah apa kamu udah memesan makanan?" tanya Gibran.


"Kami gak lihat apa yang ada dimeja hadapan kami saat ini?"balas Verrel dengan menunjuk beberapa makanan yang ternyata sudah tersaji dimeja.


"Ooo jadi kamu sudah memesannya ternyata,"balas Gibran.


"Memangnya apa yang kamu lihat sedari tadi? Apa sih yang lagi kamu pikirkan saat ini, kenapa aku merasa kamu lagi memikirkan sesuatu, apa kamu ada masalah?" tanya Verrel.


"Sudahlah jangan bahas soal itu, mendingan sekarang kita makan saja, kan tujuanku datang kesini untuk makan!"balas Gibran yang kemudian dia pun akhirnya terduduk.


"Hm baiklah!"

__ADS_1


Akan tetapi sesampainya Gibran bertemu dengan Verrel, tiba-tiba pikiran Gibran terfokus dengan perkataan sang Bibik katakan tadi, yang akhirnya membuatnya malah jadi melamun tidak terdengar suara maupun candaan yang biasanya terdengar diantara mereka berdua.


Mulut Gibran serasa terkunci dan tidak mampu untuk mengatakan hal apa-apa. Karena yang ada dipikiran Gibran saat ini, dia seperti sedang memikirkan sesuatu yang akhirnya membuatnya menjadi melamun tanpa henti.


"Orang kaya seperti dia ternyata bisa juga melakukan hal yang seperti itu, bahkan lebih parahnya dia sampai berniat inggin melakukan bunuh diri segala apa sampai se'menderita itu penderitaannya? Pantesan pada saat aku berkata pada waktu itu, dia seperti sedang tersinggung oleh perkataanku, rupanya tanpa aku sengaja aku telah melukai perasaanya.


Dan kenapa sekarang aku jadi merasa aneh gini ya perasaanku, kenapa aku merasa agak sedikit sakit setelah mendengar curhatan yang sedang bibik katakan mengenai masalah Putri!"batin Gibran yang terus menerus melamun tanpa henti.


Dan Verrel yang menjadi teman disampingnya dia pun sudah seperti pajangan yang diabaikan oleh Gibran, lantaran sedari tadi Verrel mengucapkan sesuatu, Gibran tidak sedikit pun membalas perkataanya yang akhirnya membuat Verrel tambah merasa kesal. Dan akhirnya malah mengerjainya.


"Woy Gibran ... Gibran ...?"ucap Verrel.


"Lah dia ternyata melamun pantesan aku diabaikan seperti ini, aku ini sebenarnya teman atau pajangan sih. Sudah capek lama-lama menunggu setelah datang dia malah mengabaikan seperti ini?" Woy Gibran! Kamu budek ya, Gib?"


"Ini orang mungkin udah budek banget ya, aku ngoceh-ngoceh gini sama sekali gak dihargai olehnya nasib ... Nasib ... punya temen gini amat!"batin Verrel sambil mengelus dadanya.


"Baiklah aku kerjain aja dia?" batin Verrel dengan menunjukkan senyuman sinisnya.


"Wah lumayan nih, lezat kayaknya?" ucap Verrel yang kemudian langsung menggigit ayam tersebut.


Dan tidak menunggu waktu lebih lama lamunan Gibran pun seketika kembali tersadar setelah ada seorang pelayan laki-laki yang tidak sengaja menjatuhkan sebuah nampan yang dibawanya tepat disamping Gibran, lantaran tak sengaja tersenggol dengan seseorang yang baru saja lewat dihadapannya.


PYARRRR...


"Astaga maaf-maaf saya tidak sengaja..maaf!"ucap pelayan sembari meminta maaf.


"Iya gak papa!"balasnya seseorang itu yang kemudian dia pun berlalu pergi.


"Astaga apa itu tadi?"ucap Gibran yang spontan langsung terkejut.


"Ada apa Gib?" tanya Verrel.


"Gak! Gak ada apa-apa?"

__ADS_1


Setelah tersadar, Gibran yang hendak akan menyantap ayam kesukaannya itu pun, spontan dibuat terkejut lantaran ayam yang tadinya ada diatas piringnya, seketika lenyap tanpa sisa.


"Loh?" ucap Gibran yang terkejut setelah dia melihat kearah piring.


"Kenapa Gib kamu kok kaya terkejut gitu?"


"Kok ngilang?"


"Apanya?"


"Ini ayam-ku kok bisa ngilang tadi bukannya ada diatas piring, tapi kenapa sekarang kok bisa tidak ada, kamu tahu kan larinya kemana itu ayam?"


"Itu lari kearah sono, gila kali mana ada ayam chicken yang lari ada-ada aja kamu?"


"Tapi jujur perasaan tadi aku belum makan itu ayam, tapi kenapa ayamnya sudah main ngambek aja pake acara kabur segala?"


"Mas? Mas tahu gak ayam yang ada di piring ku ini kemana perginya, dia belum pamitan soalnya?"ucap Gibran ngawur.


"Mungkin ayamnya lari. Karena lagi merindukan kasih sayang mas, makanya ayamnya main pulang tanpa pamit mas!"jawab pelayan yang ikut ngawur.


"Serius? Saya ini tanya serius?"tanya Gibran.


"Saya juga balasnya serius lagi mas, kalau mas pengen tahu itu ayamnya ada dimana, mendingan mas tanya aja sama temen mas yang satu ini, mungkin dia yang sudah tega merebut ayam mas ini,"balas pelayan yang seketika membuat Gibran pun berganti balik menatap kearah Verrel yang lagi asyiknya makan.


"Verrel jawab apa bener kamu orang yang menggambil ayam-ku?"tanya Gibran.


"Hmmm iya,"balas Verrel dengan ekpresi wajah nyengirnya.


"Verrel ...."teriak Gibran yang langsung menjewer kuping Verrel tanpa henti.


"Aw ...."teriak Verrel sembari memegang dan menahan sakit akibat jeweran tersebut


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2