PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
MENGASUH DAVIN


__ADS_3

"Davin .... " Ruby dengan penuh antusias berlari memeluk anak Meka.


Akhir pekan ini, Ruby datang berkunjung ke rumah Meka. Kali ini tidak ditemani Ardi, melainkan Melvin. Lelaki itu memaksa ingin mengantar kemana Ruby akan pergi.


Ruby mengatakan ia ingin berkunjung ke rumah Meka karena sudah lama tidak main ke sana dan Melvin tetap mau ikut.


Meka dan Davin sudah berdandan rapi dan menyambut mereka di teras rumah. Meka bilang hari ini ada acara yang tidak memungkinkan untuk mengajak Davin.


"Kamu datang juga, Vin?" Meka cukup kaget melihat Melvin ikut berkunjung ke rumahnya.


"Memangnya tidak boleh, ya?" Melvin masih berdiri di samping mobilnya belum ikut masuk ke halaman rumah Meka.


"Hari ini aku mau minta tolong menjaga Davin karena aku harus pergi ke acara hajatan dengan tetangga. Apa kamu tidak apa-apa?" Meka sedikit tak enak hati kepada Melvin. Akhir pekan pasti mereka berdua ada acara berdua, tapi ia keburu meminta Ruby untuk menolongnya mengasuh Davin. Tetangga yang sering membantunya menjaga Davin sedang punya acara, Meka tidak enak jika tidak ikut membantu.


"Kenapa kamu jadi minta izin padanya? Ini bukan kantor, kamu tidak perlu sungkan padanya. Lagipula kan aku yang setuju untuk menghabiskan waktu bersama Davin ... orang itu hanya ikut-ikutan saja." Ruby sibuk menggendong dan memutar-mutar Davin seperti sedang bermain dengan seorang adik.


"Bagaimanapun juga kan dia pawangmu, tetap saja aku sungkan." lirik Meka.


"Ya sudah, Davin aku ajak jalan-jalan dulu, ya! Aku pulangkan sore atau malam boleh, kan .... " izin Ruby.


Meka tertawa kecil. "Itu kalau Davin betah denganmu selama itu, aku akan sangat bersyukur, Ruby. Aku bisa bersantai dan merepotkanmu."


"Tenang saja, aku pasti bisa menjaga anak kecil dengan baik! Impianku sejak dulu memang memiliki adik kecil tapi tidak pernah terwujud."


"Sudah bukan waktumu punya adik, tapi punya anak, Ruby .... " Meka menggeleng-gelengkan kepala.


"Heh, Meka! Menyuruh GM dan CEO untuk menjadi pengasuh anakmu bayarannya tidak murah, ya! Kamu tidak akan gajian selama tiga bulan!" seru Melvin.


Meka memasang muka cemberut. "Kalau aku dan anakku mati kelaparan, tolong jebloskan dia ke penjara, Ruby."


"Tenang Kak Meka, kartu warna hitam miliknya aku yang pegang." Ruby mengerlingkan sebelah matanya.


"Hah ... kalah aku kalau melawan wanita." Melvin menyerah.

__ADS_1


"Kami pergi dulu .... " Ruby melambaikan tangan ke arah Meka, Davin mengikutinya.


Ia masuk ke dalam mobil Melvin dengan membawa Davin di pangkuannya. Melvin melihat iri dengan anak laki-laki kecil itu. Seharusnya akhir pekan ini tempat nyaman itu ia kuasai. Ia ingin merebahkan kepala di pangkuan Ruby sembari memejamkan mata dan terlelap tidur di sana.


"Karena kita membawa anak kecil, acara jalan-jalannya kita alihkan ke Dunia Air saja, ya!" pinta Ruby.


Seharusnya akhir pekan ini mereka akan pergi ke taman hiburan, menjajal berbagai wahana yang memacu adrenalin. Akan tetapi, tiba-tiba Ruby mengabari bahwa ia tidak bisa pergi dengannya. Dia harus menjaga Davin anak Meka. Daripada Melvin tidak bertemu sama sekali dengan Ruby, terlaksa ia menyetujui bahwa mereka akan pergi dengan membawa Davin.


"Tante, dia siapa?" tanya Davin malu-malu. Pandangannya terus mengarah pada Melvin yang baru dilihatnya.


"Aku pacarnya orang yang sedang memangkumu." celetuk Melvin sembari fokus mengemudikan mobilnya.


Davin memandang keheranan ke arah Ruby seakan meminta penjelasan. "Dia Om Melvin. Kamu bisa memanggilnya Om." Ruby berusaha menjelaskan dengan bahasa paling sederhana.


"Om? Om .... " Davin mangguk-mangguk seolah mengerti apa yang Ruby katakan.


"Anak ini sangat mirip dengan ayahnya," ucap Melvin.


"Aku rasa tidak! Dia mirip Meka. Mana mungkin Davin mirip dengan orang gila sialan itu." Ruby mencubit gemas pipi Davin. Ia memberikan biskuit kepada Davin.


"Pasti kamu tahu kabar tentang si brengsek itu, ya?" tanya Ruby penasaran.


"Dia sudah menikah dengan Renata. Dan mereka sudah memiliki seorang anak perempuan." nada bicara Melvin terdengar santai.


Sementara Ruby yang mendengarnya begitu terkejut. "Serius, Kak? Bukannya kamu belum lama menceraikan Renata?"


"Cerai resmi memang baru setahun terakhir, tapi sejak awal aku sudah menceraikannya. Butuh waktu lama membuat dia akhirnya mau menandatangani surat cerai."


Ruby terdiam mendengar kenyataan yang Melvin sampaikan.


"Dia mau bercerai karena hamil duluan."


Ruby kembali menatap ke arah Melvin.

__ADS_1


"Bukan anakku, tapi anak Ferdian." Melvin memberikan penegasan sebelum Ruby jadi salah paham.


"Mereka membuat anak saat Renata belum resmi bercerai dengan Kakak?" cerita seperti itu sulit dicerna oleh Ruby.


"Kenapa kaget begitu ... yang mengalami juga biasa saja. Kamu mau juga? Ayo kita buat?" goda Melvin.


Ruby mendelik, "Ada anak kecil, Kak!" serunya.


"Memangnya dia paham? Dia kan masih kecil."


Davin menatap Ruby dan Melvin bergantian karena tidak paham dengan apa yang sedang mereka bicarakan.


"Aku tidak habis pikir Renata bisa seperti itu ... padahal kelihatannya dia sangat menyukai Kakak."


Melvin tersenyum, "Dia sudah biasa melakukannya dengan Ferdian sejak masih SMA."


Ruby semakin ternganga, "Kalau Kakak sudah tahu, kenapa masih tetap mau melanjutkan hubungan dengan dia?"


"Bukan aku yang mau ... itu kan urusan keluargaku. Kalau aku boleh bertindak semauku, aku juga akan memilihmu. Dulu kamu tahu sendiri, kan ... aku masih tidak punya apa-apa."


"Oh jadi sekarang kamu sudah punya apa-apa?"


"Jelas, lah! Kartu yang kamu bawa itu apa kalau bukan hasil kerja kerasku demi kamu." Melvin berbicara sedikit menyombongkan diri.


"Sudah kerja keras bagai kuda, pulang-pulang pacar mau nikah dengan orang lain."


Ruby bukannya merasa bersalah malah menertawakan ucapan Melvin.


"Apa kata orang kalau ada yang lihat, sudah mau menikah malah jalan dengan Kakak. Aku yakin di kantor juga sudah pada mulai curiga dengan hubungan kita." Tawa Ruby kian memudar jika mengingat kejadian beberapa hari yang lalu saat Pak Harun tertangkap. Sepertinya ia juga ikut tertangkap mata oleh netizen sedang berduaan dengan bos.


"Yang berani membicarakan kita, akan aku pecat!" ucap Melvin tegas.


"Ck! Itu kan bukan salah mereka, yang salah kita." Ruby kurang suka mendengar Melvin sedikit-sedikit membahas tentang pemecatan.

__ADS_1


"Jadi kamu sudah siap dengan segala resiko punya hubungan khusus dengan atasanmu secara diam-diam?" sesekali Melvin menengok ke arah Ruby.


"Sudah resikonya, kan? Mau bagaimana lagi ... aku maunya kita tidak terlalu dekat, tapi Kakak tidak henti-henti memanggilku terus." Ruby kesal juga setiap mengingat harus mondar-mandir ke ruangan CEO. Menurut firasatnya, pasti sudah ada yang mulai curiga dengan hubungan mereka.


__ADS_2