PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
PERTEMUAN TERAKHIR


__ADS_3

"Bu Ana, bisa kita bicara sebentar?"


Meka menemui Bu Ana, salah seorang pengasuh di daycare tempat ia biasa menitipkan Davin. Pagi itu, ia sengaja lebih pagi membawa Davin ke sana agar bisa berbicara dengan orang yang bertanggung jawab menjaga Davin.


"Silakan masuk, kita bicara di dalam saja." Bu Ana mempersilakan Meka masuk ke dalam ruangannya. "Ada perlu apa sampai Ibunya Davin datang lebih awal ke sini?"


"Saya ingin meminta tolong," ucap Meka. Ia mengeluarkan ponselnya seraya memperlihatkan foto Ferdian yang ada di galerinya. "Dia papanya Davin, tapi hubungan kami tidak terlalu baik. Jika dia datang ke sini ingin menemui Davin, tolong tahan dia dan hubungi saya. Jangan izinkan dia pergi membawa Davin. Kalau perlu, Ibu Ana sembunyikan saja Davin sampai saya datang."


Meskipun belum tentu terjadi, Meka sudah memasang sikap waspada setelah semalam Ferdian tiba-tiba datang ke rumahnya. Tidak mungkin lelaki itu datang kalau tidak ada maksud tertentu.


Semalam sikap lelaki itu begitu terlihat baik. Ia menemani Davin bermain sementara dirinya menyelesaikan pekerjaan membungkus donat yang hari ini ia bawa untuk teman-temannya. Bahkan, Ferdian sampai menunggu Davin tertidur baru dia mau pulang.


Ferdian mengatakan bahwa sewaktu-waktu ia akan datang kembali untuk berkunjung. Rasanya Meka ingin tertawa. Setelah sekian tahun dibuang begitu saja, sekarang dia jadi peduli dengan kehidupannya. Ia takut Ferdian akan mengambil Davin darinya.


"Baik, Bu. Akan saya lakukan," jawab Bu Ana.


"Kalau begitu, saya pamit mau berangkat kerja. Tolong jaga Davin dengan baik."


Bu Ana mengangguk.


Meka mencium dan memeluk Davin. "Sayang, mama berangkat kerja dulu, ya ... jadi anak baik dan pintar dengan ibu guru."


"Iya, Ma."


Setelah berpamitan dengan Davin, Meka pergi meninggalkannya bersama Bu Ana. Dintangannya ada sekantong besar bingkisan yang nantinya akan ia berikan kepada teman-temannya.


Meskipun merasa khawatir dengan Davin, Meka tidak punya pilihan untuk tetap menitipkannya di sana. Sebagai orangtua tunggal, ia harus bekerja keras untuk membesarkannya sendirian.


Davin tidak pernah meminta untuk dilahirkan ke dunia. Tapi, Meka yang memutuskan untuk memiliki anak. Dia harus mempertanggungjawabkan apa yang menjadi pilihannya.


*****


Ardi menunggu Ruby di area lobi. Siang ini, ia ingin menjemput Ruby dan mengajaknya pergi ke rumah sakit untuk bertemu dengan ibunya. Sukma sudah meminta Ardi membawa Ruby bersamanya.


"Ardi?" sapa Meka ketika ia baru saja turun hendak pergi ke kafe di depan kantor.


Ardi menoleh ke arah datangnya suara. "Oh, Meka. Mau kemana?"


Meka berjalan mendekat ke arah Ardi. "Mau membeli minuman di depan. Kamu sedang menunggu Ruby, ya?"

__ADS_1


Ardi mengangguk.


"Apa sudah menghubunginya? Atau perlu aku memanggilnya?" Meka menawarkan bantuan.


"Tidak usah, katanya sebentar lagi dia akan turun."


"Bagaimana dengan kondisi Tante Sukma?"


"Mamaku sudah siuman."


"Syukurlah, aku ikut lega mendengarnya. Maaf, aku belum bisa menjenguk Tante Sukma lagi."


"Iya, tidak apa-apa."


"Ah, ini ada kue buatanku sendiri. Bawalah ke rumah sakit untukmu dan Ruby." Meka menyodorkan tas berisi donat yang semalam ia buat. Niatnya tadi ia akan memberikan kepada pelayan di kafe depan karena bawaannya kelebihan setelah dibagi-bagikan kepada temannya.


"Terima kasih." Ardi menerima pemberian Meka.


"Kalau begitu, aku pergi dulu," pamitnya.


Ardi mengangguk. Ia memperhatikan punggung Meka yang berjalan meninggalkannya.


Suara yang datang kemudian mengalihkan perhatian Ardi. Ia tersenyum melihat Ruby sudah ada di sana, masih mengenakan setelan kerja yang rapi. Roknya yang sekarang berukuran panjang di bawah lutut, tidak seperti sebelumnya. Meskipun begitu, dia masih terlihat cantik sebagai seorang wanita kantoran.


"Tidak, aku baru saja sampai," kilahnya. Padahal sudah sekitar 15 menit ia menunggu di sana.


"Kalau begitu, kita pergi sekarang saja, ya!" ajak Ruby.


Ardi bangkit dari duduknya, menggandeng tangan Ruby bersamanya. Mereka berjalan menuju area parkir depan tempat Ardi memarkirkan mobilnya.


"Tante Sukma mau dibawakan apa ya, kira-kira?" Ruby memasang sabuk pengaman di badannya.


"Sepertinya mamaku tidak menginginkan hal lain selain dirimu."


Ruby tertawa kecil.


"Saat pertama kali sadar, namamu yang lebih dulu ditanyakan. Aku sampai iri mendengarnya. Serasa kamu adalah anak kandungnya, bukan aku."


"Hahaha ... aku senang sekali dicari-cari Tante Sukma lagi. Senang mendengarnya sudah siuman." Ruby sempat khawatir dengan kondisinya. "Jadi, kita mau beli apa untuk tante?"

__ADS_1


Ardi memandang ruby dengan tersenyum, "Tidak usah, aku hanya perlu membawamu saja."


Mobil melaju dengan kecepatan sedang melewati jalanan ibu kota yang cukup padat siang itu. Banyak lampu lalu lintas yang harus sabar mereka lewati karena kemacetan. Setelah sekitar setengah jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah sakit.


"Aku jadi tidak enak hati datang dengan tangan kosong," ucap Ruby.


"Sudahlah, aku bilang tidak apa-apa berarti tidak jadi masalah yang penting kamu datang."


Mereka berjalan melewati koridor rumah sakit area lantai teratas kelas VVIP. Sebelum sampai di ruang perawatan Tante Sukma, mereka heran melihat suasana yang tampak gaduh dari ruang perawatan Tante Sukma.


Beberapa orang perawat tampak berlari ada yang keluar dan masuk ke dalam ruangan itu. Ardi dan Ruby saling berpandangan. Mereka jadi merasa khawatir, terjadi sesuatu di dalam saja.


Tanpa pikir panjang lagi, Ardi dan ruby langsung berlari menghampiri ruang perawatan Tante Sukma.


Sesampainya di dalam, rasa khawatir Ardi semakin besar. Di sana sudah terdapat banyak orang. Ayahnya turut berada di sana menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Sementara, dokter dan para perawat berkerumun menangani ibunya.


Beberapa saat kemudian, sang dokter tampak menghentikan usahanya. Wajahnya murah menunjukkan kesedihan. Dengan gelengan kepala yang ia tujukan kepada ayahnya, membuat ayahnya langsung bersimpuh dan menangis sejadi-jadinya.


Para perawat mulai melepaskan peralatan medis yang terpasang di tubuh ibunya. Tubuh Ardi seakan bergetar, perlahan ia melangkahkan kaki dengan ragu mendekati ibunya. Suara tangis ayahnya semakin membuat hatinya terasa remuk.


"Nak Ardi, maafkan saya. Ibu Sukma telah meninggal."


Ucapan dokter meruntuhkan ketegarannya. Air mata mengalir membasahi pipi menatap wajah ibunya yang sangat pucat dengan mata terpejam.


"Ma ... Mama ... Mama .... " Ardi memeluk erat jasad ibunya. Tangisannya pecah, suaranya menguar ke seluruh ruangan. Kesedihan yang ia rasakan sudah tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Wanita yang sangat dihormati dan disayanginya kini telah meninggalkannya untuk selama-lamanya.


"Ma, bangun ... aku membawa Ruby ke sini ... katanya ingin bertemu dengannya ... bangun, Ma... Ardi mohon .... " Ardi masih berusaha berbicara dengan nada suara yang bergetar.


Di belakangnya, Ruby turut menangis tersedu-sedu. Ia tidak menyangka bahwa hari ini menjadi hari terakhir pertemuan mereka.


Saat Ardi mengabarinya jika Tante Sukma telah sadar, Ruby ikut merasa senang. Makanya ia secepat mungkin menyelesaikan pekerjaannya karena Ardi akan menjemputnya untuk menemui Tante Sukma. Ia senang Tante Sukma ingin bertemu dengannya lagi, artinya beliau tidak marah dengan kejadian yang lalu. Namun, takdir ternyata berkata lain. Tante Sukma lebih dulu meninggal sebelum ia mengucapkan permintaan maaf.


*****


Sambil galau, bisa mampir juga ke sini 😘


Judul : Begitulah Takdir


Author : Yuthika Sarah

__ADS_1



__ADS_2