
Gita keluar dari ruang ganti telah mengenakan pakaian santai. Pekerjaannya telah selesai, waktunya ia pulang untuk beristirahat. Tangannya diregangkan agar rasa pegal di tubuhnya bisa berkurang.
Semenjak bekerja menjadi seorang cleaning service, hampir setiap hari merasa pegal-pegal. Mau mengeluh susah, tapi hidupnya memang sudah biasa susah. Rasanya seperti ia memang ditakdirkan untuk hidup menderita sepanjang hayat.
Kerja dari matahari terbit hingga matahari terbenam selama lima hari dalam seminggu. Ia hanya punya waktu bersantai saat akhir pekan. Itupun tidak benar-benar santai. Sebagai orang yang tinggal menumpang di rumah orang, ia harus tahu diri untuk membantu Ririn membereskan dan membersihkan rumah.
"Sudah mau pulang?" Tangan yang tiba-tiba menjulur di depannya hampir membuat jantungnya melompat dari tempatnya. Ternyata itu ulah bosnya yang mengagetkannya. Ia menyodorkan kantong berisi makanan dan minuman.
"Pak, Anda belum pulang?" Gita mengelus dada untuk menenangkan jantungnya yang masih berdebar kencang.
"Saya juga mau pulang. Ambil ini!" Rei kembali menyodorkan bungkusan yang dibawanya.
"Terima kasih, Pak." Gita dengan senang hati menerimanya. Pemberian dari bosnya lumayan menghemat pengeluarannya malam ini. Bosnya walaupun menyebalkan kadang juga baik hati, terutama soal makanan, ia sangat royal.
"Mau pulang bareng?"
Gita menatap aneh ke arah Rei. "Maaf Pak, tidak usah. Tapi, terima kasih untuk tawarannya. Saya pulang sendiri saja."
"Ini sudah malam."
"Saya juga tahu, Pak. Namanya juga lembur, dari kemarin juga begitu. Sudah ya, saya pulang dulu. Terima kasih juga untuk makanannya." Gita tersenyum sembari mengangkat kantong makanannya. Kemudian ia buru-buru pergi dari sana. Ia memilih kabur daripada nanti jadi canggung jika terus bersama Rei.
Tidak setiap hari Gita pulang malam, hanya saat tertentu saja kalau diberi pekerjaan tambahan. Tempat tinggal Ririn juga tak terlalu jauh dari tempatnya bekerja, jalan yang ia lewati selalu ramai, asalkan belum sampai tengah malam.
Gita selalu menikmati suasana sepanjang jalan yang ia lewati. Apalagi saat malam hari, udara terasa lebih dingin dibandingkan saat siang hari. Jalanan cukup ramai dengan lalu lalang kendaraan, sementara di trotoar juga banyak para pejalan kaki yang menikmati malam mereka untuk bersenang-senang.
"Gita!" Terpaksa langkahnya terhenti karena ada Jimmy di hadapannya. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan mantan pacarnya malam itu. Dulu, dia sangat mencintainya. Setelah semua yang terjadi, bahkan untuk sekedar berpura-pura mengenalnya ia tidak sudi. Setiap kali memandang wajah Jimmy, ia hanya ingin membunuhnya dengan keji.
__ADS_1
Rasanya ada penyesalan telah menolak ajakan dari Rei untuk pulang bersama. Seandainya tadi ia mengiyakan ajakannya, Gita tak perlu bertemu dengan Jimmy. Bosnya memang menyebalkan, tapi tidak sampai sebangsat lelaki yang ada di hadapannya.
"Aku ingin bicara berdua denganmu."
Gita ingin tertawa. Setelah apa yang lelaki itu lakukan padanya, masih bisa Jimmy menemuinya tanpa rasa malu sedikitpun. "Aku sudah tidak punya apa-apa, Jim. Mau merampok apa lagi kamu dariku?" sindirnya kasar.
Wajah Jimmy menegang mendengar ucapan tidak mengenakkan dari Gita. Tujuannya datang untuk memperbaiki hubungan mereka yang sedang kacau. Akan tetapi, respon yang didapatkannya sangat berbeda dari yang ia harapkan.
"Ikut aku secara baik-baik, atau aku harus memaksamu? Aku mau bicara!" Dengan tegas Jimmy mencekal pergelangan tangan Gita dan menekankan kata-katanya. Padahal, mereka ada di tempat umum. Lelaki itu sama sekali tidak malu menjadi pusat perhatian orang-orang yang lewat.
Jimmy menarik tangan Gita agar ikut bersamanya masuk ke dalam motel yang disewanya.
"Kenapa kita harus masuk ke tempat seperti ini?" protes Gita.
"Setidaknya kita akan bertengkar di ruang tertutup, bukan di tempat umum seperti tadi!"
"Kita ke sini untuk bicara, kan? Bukan untuk melakukan hal yang macam-macam?" tegas Gita. Ia menyingkirkan tangannya agar tidak disentuh oleh Jimmy. Gita memasang wajah kesalnya.
"Apa tidak ada kesempatan untuk memaafkanku?"
"Aku sudah memaafkanmu. Tapi, bukan berarti aku mau balikan denganmu."
"Gita ...." Jimmy masih tidak terima dengan keputusan Gita.
"Mau kamu apa lagi, Jim? Seluruh hartaku, bahkan kepercayaanku sudah kamu ambil. Sekarang saja aku sedang berusaha untuk tidak marah padamu."
"Kenapa sih kamu santai sekali mendatangiku? Aku saja masih perlu waktu menata hati. Sulit sekali melupakan pengkhianatanmu di belakangku. Kamu tidur dengan wanita lain di apartemenku, lalu kamu juga mengambil alih apartemen dan membuat aku jadi gelandangan. Kamu mau aku bagaimana lagi? Apa tidak cukup penderitaan yang sudah kamu berikan?"
__ADS_1
Jimmy bersimpuh di hadapan Gita. Ia berlutut sembari menundukkan pandangannya. Jimmy tak menyangkal kalau dirinya telah bersalah.
"Gita, aku tidak sungguh-sungguh untuk mengambil semua milikmu. Aku akan mengembalikannya. Ayo, kita mulai semuanya dari awal. Aku berjanji tidak akan mengecewakanmu."
Rasanya sangat terlambat melakukan hal itu sekarang. Kemana saja Jimmy saat ia begitu terpuruk. "Sudah aku bilang aku sudah memaafkanmu, tapi aku tidak bisa kembali padamu."
"Kenapa?"
"Semua bisa aku maafkan kecuali perselingkuhan." Mata Gita berkaca-kaca. Hal yang paling menyakitkan dari perbuatan Jimmy kepadanya adalah ketika ia menyaksikan mereka sedang bercinta secara langsung dengan mata kepalanya sendiri. Jimmy telah menghancurkan kepercayaan yang telah lama dibangunnya dalam semalam.
"Sebenarnya aku melakukannya karena suatu alasan. Entah kamu akan percaya atau tidak."
Gita tertawa kecil. Apapun alasannya, sudah jelas Jimmy dan Glenka benar-benar telah melakukannya. Jimmy bahkan menyalahkannya sebagai penyebab perselingkuhan itu.
"Aku melakukannya agar posisimu di perusahaan bisa naik. Glenka bilang akan membantumu. Saat itu ia hanya sedang bersedih setelah putus dari pacarnya. Ia memintaku untuk menghiburnya. Sebagai gantinya, karirmu akan terus meningkat di perusahaan." Jimmy masih berlutut sembari menunduk di hadapan Gita.
"Menghibur dengan tubuhmu? Apa kamu sudah jadi pela*curnya? Sudah berapa kali kalian melakukannya tanpa sepengetahuanku?"
Jimmy terdiam mendengar pertanyaan dari Gita. Ia tak bisa menjawabnya.
"Aku tidak bisa menerimamu kembali. Bahkan untuk sekedar berteman saja aku sudah tidak bisa. Tolong, jangan ganggu hidupku lagi." Gita beranjak dari duduknya.
Jimmy memegangi tangannya supaya tidak pergi. "Kalau alasanmu tidak mau menerimaku hanya karena aku sudah pernah tidur dengan wanita lain, aku akan mengizinkanmu melakukan hal yang sama."
Gita mengerutkan dahinya, "Maksudnya?" Ucapan Jimmy tiba-tiba menjadi sangat sulit untuk dimengerti.
"Kamu boleh mencoba tidur dengan lelaki lain sesukamu. Setelah itu, kembalilah padaku. Kita mulai semuanya dari awal."
__ADS_1