
Mendengar ucapan yang dikatakan Reza kepada Gibran, tidak membuat Gibran merasa takut ataupun kalah dengan ancaman yang diberikan oleh Reza barusan.
Dengan menunjukkan sikap santai yang Gibran berikan kepada Reza, bahkan dengan beraninya Gibran pun mengatakan hal yang akhirnya membuat Reza mulai memanas.
"Hm apa kamu sepede itu jadi orang? Apa kamu pikir dengan rencana kamu ingin mendekati Putri, dia akan langsung jatuh hati gitu sama kamu, aku rasa semua itu gak akan pernah terjadi karena menurutku sekaligus menurut penerawangan-ku, kayaknya Putri gak akan mungkin jatuh hati sama kamu. Karena dia juga tahu kamu itu laki-laki seperti apa.
Jadi daripada kamu buang-buang waktu, mendingan kamu simpan baik-baik rencana busuk kamu itu. Dan jika rencana kamu memang berhasil, ya kamu beruntung karena kamu bisa mendapat seorang wanita seperti Putri apalagi dia itu anak dari seorang miliader, tapi kalau menurut aku itu kemungkinan sangat tipis aku rasa kamu gak akan pernah berhasil!"balas Gibran dengan menunjukkan senyuman sinisnya.
Tatapan demi tatapan telah mereka lakukan saat ini, bahkan tatapan mereka bagaikan seperti mata burung hantu yang tidak terlihat menunjukkan satu kedipan dari mata mereka masing-masing. Suasana tegang akibat perdebatan mereka pun akhirnya telah terlerai setelah ada seorang pelayan yang menghentikan perdebatan mereka ini.
"Mas, mas ini kalau mau berdebat jangan ditempat ini, apa mas tidak tahu akibat ulah kalian ini, ada pelanggan yang malah pergi dari tempat ini. Jadi mendingan mas sekarang pergi dari sini sekarang!" perintah seorang pelayan laki-laki tersebut.
"Ayo mas cepat pergi, apa mas inggin saya memanggil pak satpam untuk menyeret kalian untuk pergi dari sini sekarang!" perintah sang pelayan.
"Baik saya akan pergi sekarang!" balas Gibran yang dengan pasrahnya mengikuti kemauan dari pelayan tersebut.
Bukan hanya Gibran saja yang akhirnya pergi dari Restoran ini, tapi Reza juga ikut pergi dari Restoran ini, lantaran perdebatan mereka tadi.
"Apa kamu sudah puas! Ini kan yang kami mau, memang dari awal kamu itu memang berniat ingin menggagalkan kencan-ku ini?" bentak Reza tapi tidak dihiraukan oleh Gibran.
"Bodoh!"balas Gibran yang baru aja berniat akan pergi, dia pun dibuat terkejut lantaran mendapat pukulan tak terduga yang dilakukan oleh Reza. Setelah Reza tidak terima dengan perkataan yang dilontarkan Gibran barusan.
"Rasakan itu, kamu memang pantas mendapat pukulan itu!"
"Sebenarnya mau kamu itu apa sih?" balas Gibran sambil memegang bibirnya yang terluka akibat pukulan tersebut, tanpa menunggu lagi, dia pun akhirnya membalas dengan memberikan pukulannya tepat mengenai sebelah bibir Reza.
"Berani kamu memukulku?"
"Iya kenapa? Memangnya kamu pikir aku takut apa sama kamu, aku tuh bosen kali lihat sifat-mu yang kekanak-kanakkan seperti ini, jadi ayo maju kalau berani, biar aku tambahin pukulan lagi ayo maju!" ucap Gibran malah menantang Reza.
"Berani kamu menantang-ku?" balas Reza dengan tatapan sinisnya.
__ADS_1
Baru aja Reza mau memberikan pukulan lagi buat Gibran,seketika Putri pun datang menghalangi pukulan Reza yang ingin mengenai Gibran.
"Stop!"teriak Putri yang seketika membuat Reza maupun Gibran pun terkejut.
"Putri apa yang kamu lakukan, kenapa kamu membela dia?" tanya Reza dengan sinisnya.
"Siapa yang bilang kalau aku lagi membela dia, aku itu membela kalian, kalian ini kenapa sih ada apa dengan kalian ini? Apa kalian sadar sifat kalian ini sangat kekanak-kanakan!"
Gak harusnya kalian menyelesaikan masalah dengan cara seperti ini, tunjukkan diri kalian kalau kalian ini adalah seorang pelajar, jadi harusnya kalian itu menyelesaikan masalah dengan kepala dingin, dengan cara yang tepat bukan menggunakan cara kekerasan seperti ini.
Kalian ini pengecut. Karena hanya bisa menyelesaikan masalah dengan kekerasan.
"Apa maksud kamu barusan? Kamu kata'in kita pengecut! Apa kamu sadar kamu itu sudah merendahkan harga diri kita?"
"Kenapa? Apa aku salah, pada kenyataanya yang aku katakan ini memanglah benar, kalian ini sama seperti anak kecil yang hanya bisa bertarung menggunakan otot dan tenaga ya kan yang aku katakan ini memanglah benar kan?" ucapan Putri yang seketika membuat Reza maupun Gibran pun hanya bisa terdiam.
"Tunggu sekarang kok malah kamu sih yang jadi marah. Harusnya yang marah kan kita bukan kamu?" sahut Gibran.
"Kamu mau bawa kita kemana?" tanya Gibran.
"Jangan tanya nanti kalian juga akan tahu!"balas Putri dengan tersenyum.
Sesaat kemudian akhirnya Putri pun sampai juga membawa kedua pangeran itu untuk pergi dengannya, tapi bukan didalam kerajaan ataupun istana yang sangat mewah, melainkan Putri membawa mereka disalah satu tempat makan yang letaknya tak jauh dari tempat mereka tadi.
Dan tempat itu yang tak lain adalah sebuah warung bakso yang menyajikan menunya dengan menu yang sangat spesial, yaitu menu Bakso petir.
"Ini adalah makanan kesukaanku, jadi aku sengaja membawa kalian kesini. Karena aku Inggin bukti seberapa hebat dan tangguh sih kalian berdua ini ayo makan!"ucap Putri yang membuat Gibran dan juga Reza masih bingung.
"Tunggu maksud kamu apa?" Kamu nyuruh kita untuk makan nih bakso petir ini?" tanya Gibran dengan wajah tidak percayanya.
"Iya!"balas Putri yang seketika membuat wajah Gibran dan juga Reza pun memerah.
__ADS_1
"Gak, aku gak mau lagian ini makanan apa, aku gak doyan lagi makanan yang kaya gini!"sahut Reza yang mencoba untuk mengelaknya.
"Ya elah bilang aja kalau kamu takut sama pedesnya gitu aja repot!"sindir Gibran.
"Gak! Ngapain juga aku harus takut sama ginian, seorang Reza antonio gak ada lagi yang namanya takut apalagi sama bakso petir kaya gini, sini kalau bisa aku borong semua tuh menu baksonya!"ucap Reza dengan berbangga diri.
"Kamu mau makan semuanya?" tanya Putri.
"Ya enggaklah, aku mau kasih ke Rendy dan juga David!"balas Reza yang seketika membuat Gibran maupun Putri hanya bisa nyengir.
"Aku kirain apa?"sindir Gibran.
"Ya sudah tunggu apa lagi, ayo cepat kalian makan!"ucap Putri yang tidak sabaran.
"Kamu serius mau menghukum kita kaya gini? Kamu gak kasihan apa sama cacing-cacing yang ada diperut aku ini, kalau mereka sakit perut gimana?" ucap Gibran mencoba untuk menolaknya.
"Gak! Gak bisa ayo cepat makan, jangan banyak alasan!"balas Putri.
"Baru lihat aja sudah panas gini, gimana kalau bakso ini masuk kedalam perut-ku, bisa-bisa pada dangdutan dadakan nih didalam perut gue nanti?" ucap Reza yang mulai was-was ketika melihat musuh yang lebih besar yang ada dihadapannya saat ini.
"Bapak bakso ini kalau bikin menu jangan separah ini kenapa pak, ini cabe atau apa kenapa sebanyak ini, pantesan sekarang cabe mahal, tahu-tahu bapak jadikan petir didalam bakso ini?" ucap Gibran yang mulai ngelawak.
"Ayo cepat makan, kenapa kalian ini banyak banget sih alasannya, tinggal makan aja lagi!"kesal Putri.
Dengan perasaan was-was akhirnya perlahan-lahan Gibran maupun Reza pun satu persatu menyantap menu bakso petir tersebut. Dan memasukkannya kedalam mulut mereka masing-masing.
Dan setelah memasukkan seperti ada ledakan yang terjadi didalam mulut mereka. Bahkan wajah mereka seketika berubah menjadi memerah seperti habis mendapat tamparan berkali-kali, keringat yang keluar dari tubuh mereka masing-masing membuat mereka seperti habis melakukan lari maraton.
Merasa tidak kuat dengan level yang ditunjukkan pada bakso tersebut. Akhirnya membuat mereka menyerah. Dan berhenti memakan bakso petir tersebut.
BERSAMBUNG....
__ADS_1