PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
MENGHADAPI PAK WIJAYA


__ADS_3

"Om, bisa kita bicara berdua? Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan." Melvin masih berusaha untuk mengambil hati orang yang ia harapkan menjadi ayah mertuanya. "Ruby, tolong kamu pergi dulu .... " ia meminta Ruby untuk meninggalkan Melvin dengan Pak Wijaya.


"Biarkan Ruby tetap di sini. Kamu juga bicara saja sekarang."


Ruby yang hendak bangkit dari kursinya urung setelah sang ayah melarang. Ia tetap duduk di sofa sementara ayahnya dan Melvin masih berdiri si sana seperti orang yang akan berduel.


"Kalau kamu bukan dari keluarga Adinata, mungkin saya sudah memenjarakanmu." Wijaya menatapnya tajam. "Saya tahu kamu seorang pebisnis muda yang hebat, karir bagus, pernah punya pengalaman di luar negeri. Mungkin memang gaya hidupmu bebas, bahkan pernah menikah. Tapi, bukan berarti kamu bisa menularkan kebebasanmu dalam kehidupan putriku. Terus terang ini sangat membuat saya kecewa."


Ruby mere*mas pakaiannya sendiri. Ia tak berani menegakkan kepala. Ayahnya terlihat sangat marah mengetahui hubungan mereka.


Melvin merendahkan dirinya. Ia berlutut di hadapan Pak Wijaya dengan pandangan tertunduk.


"Saya tidak ingin membela diri. Saya mengaku salah, Om. Sebenarnya kami memang telah lama menjalin hubungan, bahkan sebelum saya menikah. Maaf, kami telah menyembunyikan hubungan ini dari Om Wijaya."


Pak Wijaya tampak terkejut mendengar pengakuan darinya. Ternyata sudah lama putrinya memiliki hubungan dengan putra Kennedy. Ia melirik ke arah Ruby yang masih tertunduk di tempatnya.


"Cara kami mengekspresikan perasaan sayang memang sudah kelewat batas, Om. Saya tidak memungkirinya. Tapi, saya masih berusaha untuk menjaga Ruby. Kami tidak pernah sejauh itu melakukan yang Om tuduhkan."


"Sejak lama saya ingin menikahi Ruby. Akan tetapi, banyak sekali halangan yang harus dihadapi. Termasuk saya yang tidak bisa menolak perjodohan yang diatur keluarga. Lalu, ketika saya sudah bisa terlepas dari pernikahan yang tidak pernah diinginkan, ternyata Ruby telah dijodohkan dengan sahabat saya, Ardi. Kami tidak punya pilihan lain kecuali merahasiakan hubungan kami dari orang lain termasuk Om."


Melvin tidak tahu lagi harus melakukan apa. Ia hanya berharap Pak Wijaya akan memahami kondisi mereka.


"Ruby, sepertinya papa ingat kamu pernah bilang sedang menyukai suami orang. Apa yang kamu maksud adalah Melvin?" tanya Pak Wijaya.


Ruby tak bisa menahan tangisnya. Mendengar kejujuran Melvin di hadapan ayahnya sudah membuat ia menitihkan air mata. Ia sedih membayangkan betapa beratnya jalan yang harus dilalui hanya untuk bisa bersama.


Ruby memberikan anggukan terhadap pertanyaan ayahnya sembari berusaha mengusap air matanya.


"Papa juga sering melihatmu menangis tanpa sebab yang jelas ketika awal-awal pulang ke rumah. Apa itu juga karena dia?"


Tangisan Ruby semakin menjadi-jadi. Dadanya turut sesak untuk mengatakan yang sejujurnya.


"Aku minta maaf, Pa ... aku sangat mencintai Kak Melvin." Ruby berusaha mengusap air mata yang terus mengucur tanpa henti.


"Saya juga sangat mencintai Ruby, Om." sahut Melvin.

__ADS_1


"Kalau kamu mencintainya, kenapa kamu membuat anak saya menangis? Entah beberapa minggu dia selalu menangis sendiri di kamarnya gara-gara kamu."


Melvin tidak tahu menahu tentang hal itu. Keputusannya untuk menikahi Renata pasti memang menyakiti hati Ruby.


"Saya minta maaf atas kesalahan saya yang dulu. Saya berjanji hal itu tidak akan terulang lagi di masa depan. Saya mohon Om Wijaya bisa merestui hubungan kami."


"Ruby belum lama gagal menikah. Bagaimana bisa kamu mengharapkan saya merestui hubungan Ruby dengan orang yang juga pernah gagal dalam pernikahannya?" Pak Wijaya cukup salut dengan keberanian sikap Melvin menghadapinya.


Melvin terdiam sejenak. Pak Wijaya bukanlah orang yang mudah diambil hatinya. Sikapnya yang demikian mencerminkan betapa sayangnya ia kepada Ruby.


"Saya tidak bisa menjanjikan apapun. Tapi, saya akan berusaha menjadi yang terbaik untuk Ruby." Melvin masih berlutut di hadapan ayah Ruby sembari menunduk.


"Apa kamu yakin dengan ucapanmu?" tanya Pak Wijaya meyakinkan.


"Saya yakin." jawab Melvin mantap.


Kali ini pandangan Pak Wijaya kembali tertuju pada Ruby yang masih menangis.


"Ruby, apa kamu juga yakin dengan yang Melvin katakan? Apa kamu benar-benar mau bersamanya?"


Sekeras apapun sifat seorang ayah, melihat tangisan putri kesayangannya membuat hatinya tidak tega. Selama ini, hanya tawa dan senyum ceria yang selalu Ruby perlihatkan di hadapannya.


Semua berubah setelah ia memutuskan untuk hidup sendiri. Mulai saat itu, ia menjadi lebih tertutup. Dan pada beberapa kesempatan, Ruby tampak menangis diam-diam tanpa may menceritakan apa yang sebenarnya terjadi padanya.


"Baiklah, kalau memang kamu serius dengan Ruby ... besok malam, datanglah ke rumah bersama orang tuamu. Saya akan langsung menikahkan kalian berdua."


Melvin langsung mengangkat kepala mendengar perkataan ayah Ruby. Ia tidak menyangka bahwa akhirnya hubungan mereka akan direstui.


"Kamu dengar kan apa yang baru saja saya katakan."


"I ... iya, Om. Saya mendengarnya." Melvin sampai tergagap saking tidak percayanya.


"Kamu siap kalau besok langsung menikah?" Pak Wijaya mengatakannya dengan nada bicara serius.


Melvin mengangguk. "Saya siap! Saya sangat siap bahkan kalau Om Wijaya memintanya sekarang."

__ADS_1


Pak Wijaya berdecih, "Terlihat sekali kalau kami sangat menginginkan putriku." Pak Wijaya jadi kesal melihat semangat membara Melvin yang akan mengambil putri kesayangannya dari sisinya. Tapi, melihat Ruby yang berhenti menangis serta tersenyum ke arahnya, lagi-lagi membuat hatinya luluh. "Sekarang berdiri!" perintahnya.


Melvin menuruti kemauan ayah Ruby. Ia tak bisa berhenti tersenyum setelah mendapat lampu hijau untuk menikahi Ruby. Bahkan, prosesnya lebih cepat dari yang ia bayangkan. Besok mereka akan menikah.


Plak!


Sekali lagi Pak Wijaya menamparnya keras. Melvin tentu saja kaget. Baru saja ia dibuat senang karena restu yang didapat, tapi calon mertuanya kembali menamparnya.


"Itu balasan karena pernah membuat putriku menangis." ucap Pak Wijaya. Ruby tersenyum puas melihat ayahnya membalaskan kesedihannya saat itu.


"Untung ini bukan di kantor. Apa jadinya kalau para karyawan melihat presdir mereka seperti ini?" ledek Pak Wijaya.


"Aduh, Om ... kenapa harus menampar saya terus. Bagaimana kalau pipiku bengkak padahal besok harus menikah dengan Ruby." protes Melvin.


"Itu masih mending daripada saya buat kamu babak belur."


"Iya, Om. Iya, maaf." Melvin memegangi sudut pipinya yang terluka.


"Sekarang, pulanglah! Katakan pesanku kepada orangtuamu!"


"Baik, Om."


Melvin meraih tangan tangan Pak Wijaya lalu menciumnya. Setelah berpamitan dengan Pak Wijaya, ia menghampiri Ruby untuk pamit dengannya juga.


Ia mengusap air mata yang menetes di pipi Ruby, "Aku pamit dulu, ya! Tunggu aku besok malam di rumah." ucapnya dengan tersenyum.


Ruby mengangguk sembari tersenyum.


"Ehem!"


Melvin mengurungkan niat untuk memeluk Ruby karena kode dari Pak Wijaya. Akhirnya, mereka hanya bisa berjabat tangan. Melvin keluar meninggalkan apartemen Ruby dengan hati bahagia meskipun malam itu mereka gagal untuk bermesraan.


*****


Kalau di sinetron biasanya dibuat kecelakaan laly amnesia supaya pernikahan mereka gagal. 😅

__ADS_1


__ADS_2