
Pagi ini Melvin mengantarkan Ruby ke rumah sakit untuk menemui Dokter Ester, dokter kandungan yang sekarang menangani Ruby. Tidak ada yang salah dengan kehamilan istrinya, janin mereka tumbuh dengan sehat dan bertambah besar hari demi hari. Mereka sengaja mengunjungi Dokter Ester untuk meminta saran karena berencana melakukan perjalanan jauh untuk merayakan babymoon di Dubai. Ya, akhirnya mereka memutuskan pergi ke Dubai, hanya berdua, tak mengajak siapapun.
Babymoon merupakan istilah yang sedang populer di kalangan calon mama muda, dimana pasangan pergi liburan dalam kondisi istri yang sedang hamil. Tujuannya agar pasangan bisa menikmati waktu berdua, mempererat kedekatan dan cinta sebelum nanti mereka akan disibukkan dengan kehadiran buah hati. Setelah bayi teelahir, pastilah momen untuk berduaan akan berkurang.
Seharusnya mereka melakukan babymoon saat kandungan Ruby masih 6 bulanan, namun karena ada acara resepsi pernikahan, sehingga rencana mereka mundur sampai usia kehamilan Ruby telah memasuki 30 minggu. Mengingat rencana mereka yang telat dan dalam kondisi hamil kembar, tentu saja perlu meminta pendapat dari Dokter Ester.
"Jadi, rencananya sudah fix mau ke Dubai?" tanya Dokter Ester saat Melvin dan Ruby berada di ruangan.
"Iya, Dokter. Kalau ke Italia, Jerman, atau Perancis aku sudah pernah semua."
"Tapi kan liburan bareng suami ke sana belum pernah," sahut Melvin yang sebenarnya lebih berharap liburannya ke Eropa supaya bisa sekalian berkunjung ke beberapa negara.
"Kalau ada yang belum pernah didatangi, kenapa pilih ke sana lagi? Aku maunya ke Dubai." Ruby tepat pada pendiriannya.
"Nah, itu, Dokter. Sepertinya dia sedang ngidam ketemu onta sampai nggak mau aku tawari keliling ke 10 negara di Eropa."
Dokter Ester tersenyum. "Mengalah saja, Pak Melvin. Kalau istri senang, bayinya juga di dalam bisa tumbuh dengan baik."
"Dengar nasihat Dokter Ester, Kak." Ruby menyombongkan diri karena sudah dibela oleh dokternya.
"Ibu Ruby, silakan tiduran dulu di ranjang biar saya cek kandungannya."
Ruby lantas beranjak dari kursinya dan naik berbaring di atas tempat tidur pasien. Dokter Ester membuka blouse yang menutupi perut Ruby, mengoleskan semacam gel bening di atas perut. Diambilnya sebuah alat berbentuk seperti microfon lalu disentuhkan ke atas perut yang telah diolesi gel tadi. Layar monitor yang ada di ruangan Dokter Ester menampilkan kondisi bayi Ruby yang ada di dalam perut.
"Wah, mereka terlihat sekat sekali. Sepertinya tahu kalau mau diajak liburan oleh mama papanya," ucap Dokter Ester sembari memperhatikan tampilan di layar.
"Panjang badannya sudah mencapai 40 cm. Berat badan bayi yang satu 1,3 kilogram dan satunya lebih kecil, ya ... baru 1,1 kilogram. Tapi tidak perlu khawatir, hal ini normal terjadi pada kehamilan kembar, salah satu bayi lebih kecil. Nanti saya tambahkan suplemen agar pertumbuhan dan perkembabgan mereka semakin baik. Jangan lupa juga untuk tetap menjaga pola makan teratur."
"Dokter, akhir-akhir ini saya merasa nyeri di bagian ulu hati terutama saat malam. Apa ini ada hubungannya dengan kehamilan?"
"Oh, itu namanya herartburn. Untuk mengurangi gejala nyari ulu hati, hindari makan dua jam sebelum tidur dan posisi tidurnya miring saja, jangan terlentang."
__ADS_1
"Masih tetap boleh berhubungan kan, Dok?" celetuk Melvin yang masih duduk di sofa sudut ruangan.
Ruby memutar malas matanya. Sementara dokter Ester tertawa geli mendengar pertanyaan dari calon papa muda itu.
"Boleh, Pak. Asal caranya lembut, ya ... kasihan Bu Ruby sudah cukup berat membawa dua bayi."
"Oh, itu serahkan saja kepada saya. Saya sudah ahli membuat istri merasa nyaman."
Dokter Ester kembali tertawa. Baru kali ini ia mendapat client yang lucu. Ia meletakkan kembali alat yang tadi digunakannya. Gel yang masih melekat di perut Ruby ia bersihkan dengan tisu.
"Anda boleh turun," ucapnya kepada Ruby.
Dokter Ester duduk di mejanya, menuliskan sesuatu pada lembaran kertas di hadapannya. "Saya buatkan surat kelayakan terbang, ya. Nanti kalian bisa memberikannya kepada petugas check in bandara supaya ibu hamil bisa mendapatkan perhatian yang lebih dari awak kabin yang bertugas."
"Surat ini hanya berlaku maksimal satu minggu dari waktu check up. Jadi, kalau rencana liburan lebih dari seminggu, usahakan di destinasi babymoon untuk menyempatkan diri mampir ke dokter kandungan dan minta surat layak terbang juga ya biar bisa terbang kembali ke rumah dengan selamat dan tanpa halangan."
"Baik, Dokter." jawab Ruby.
"Repot juga ternyata mengajak ibu hamil liburan ya, Dok."
"Hahaha ...." ucapan Melvin kembali membuat Dokter Ester tertawa.
"Siapa coba yang sudah membuat perutku besar seperti ini?" Ruby memanyunkan bibirnya kepada Melvin.
"Harus tanggung jawab, Pak Melvin. Berani menghamili, berani direpoti."
"Siap, Dokter. Saya akan selalu menjadi suami yang siaga sampai anak-anak ini lahir." Melvin mengelus-elus perut istrinya.
"Jaga kondisi Bu Ruby agar tidak kelelahan dan stres selama di perjalanan. Pastikan untuk cukup minum dan istirahat, tidak perlu dipaksakan hanya karena liburan."
"Tujuan babymoon kan untuk menikmati masa-masa kehamilan bersama pasangan, jadi jangan sampai malah jatuh sakit ya!"
__ADS_1
"Bila merasa ada yang tidak nyaman dengan janin segera pergi ke dokter kandungan untuk diperiksa. Usahakan menginap di hotel yang dekat dengan rumah sakit atau klinik."
"Baik, Dokter. Sarannya pasti akan saya ingat."
"Ini suratnya dan selamat liburan."
Dokter Ester menyerahkan surat yang sudah dibuatnya. Ruby dan Melvin berpamitan dan keluar dari ruangan dokter Ester.
"Mau kemana kita sekarang?" tanya Melvin saat mereka telah masuk ke dalam mobil
"Bagaimana kalau kita ke laut?"
"Oke."
Melvin melajukan mobilnya menuju laut sesuai keinginan sang istri. Matahari cukup terik, ia memakaikan topi di kepala Ruby, membawanya duduk di tepi pantai di bawah payung yang telah disediakan di sana. Melihat putihnya pasir laut yang dihempas ombak-ombak kecil serta pantulan kilau dari sinar matahari dan angin yang berhembus semilir membuat perasaan terasa nyaman.
Ruby menyandarkan kepalanya di bahu Melvin. Rasanya sangat nyaman bisa menghabiskan waktu bersama kesayangan. Meskipun telah banyak rintangan yang mereka hadapi, semua itu terlupakan dengan kebahagiaan yang telah diraih.
"Kenapa aku bisa menikah dengan seorang duda," gumam Ruby sekaligus sedang meledek Melvin.
Melvin yang merasa sedang disinggung tentu saja tidak terima. "Ada masalah? Yang jelas aku duda perjaka."
"Kalau aku ingat-ingat lagi masa lalu, seharusnya aku membencimu. Berani-beraninya meninggalkanku demi menikahi wanita lain." Ruby tersenyum-senyum. Akhirnya ia bisa merasakan bahwa status seseorang tidak begitu penting saat mereka jatuh cinta.
*****
Sambil menunggu extra chapter, kalian bisa mampir ke sini ya 😘
Judul: Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Author: JBlack
__ADS_1