PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
PERPISAHAN


__ADS_3

"Om mengatakan ini bukan karena tidak menyukaimu, Livy. Om tahu kamu anak yang baik. Om hanya sekedar memberikan nasihat karena jika kalian meneruskannya, ke depan kehidupan kalian akan semakin rumit."


"Apakah kalian rela menanggalkan keimanan hanya karena cinta kepada manusia?"


"Orang yang berbeda agama tidak bisa disebut sebagai pasangan sejati. Cinta mereka hanya di dunia saja, tidak dibawa sampai mati."


"Kenapa seperti itu, Om?" Tanya Livy penasaran.


"Karena akhirat mereka berbeda, maka mereka tidak bisa bersama di sana."


Perkataan Om Wijaya sangat masuk akal. Tuhan yang mereka sembah saja berbeda, berarti akhirat untuk mereka juga tak sama. Mereka hanya akan bertemu di dunia, bukan bersatu di akhirat.


Livy memilih pergi karena merasa dalam hubungan mereka tidak ada kejelasan dan masa depan. Rei selalu bilang untuk menjalaninya saja. Tapi, hubungan mereka tak selamanya hanya pacaran. Sekalipun harus menikah, akan menggunakan kepercayaan siapa? Lalu, bagaimana kehidupan pernikahan mereka selanjutnya? Setelah memiliki anak, anak mereka akan dididik dengan kepercayaan yang mana? Dia harus mengikuti ayah atau ibunya?


Jika salah satu mau mengalah mengikuti kepercayaan yang lain, apakah pihak salah satu keluarga akan menerima? Itu tidak mungkin. Kehidupan pernikahan yang diharapkan akan memberikan kebahagiaan, justru akan menyajikan beragam permasalahan.


"Kakak tidak bisa menjawab, kan?"


Rei mengepalkan tangannya. Ia bingung Harus menjawab apa. Selama ini ia mengelak untuk membahas karena belum menemukan solusi terbaiknya.


"Kita akhiri saja hubungan ini."


Rei menarik tubuh Livy ke dalam pelukannya seolah ingin mengungkapkan bahwa ia tidak ingin kehilangan dirinya. "Jangan mengatakan hal itu."


"Untuk apa kita bertahan dalam hubungan yang tidak punya masa depan?" Livy menegarkan hatinya agar tidak menangis. Pelukan Rei terasa erat. Lelaki itu tak berbicara lagi. Ia hanya memeluknya dalam waktu yang lama.

__ADS_1


"Kak Rei ...." Livy berusaha memancing Rei agar mau bicara.


"Aku tidak mau putus," jawab Rei singkat.


"Lalu, Kakak maunya kita bagaimana?"


Rei kembali terdiam tak bisa menjawab.


"Kita berdua tak ada yang mau mengalah. Bukankah sudah sewajarnya kalau kita menyerah?"


"Aku ingin mengakhiri semua ini karena mencintaimu, Kak. Aku ingin kamu tetap teguh dengan keimananmu, begitu pula denganku. Mari kita sama-sama kembali ke jalan yang benar sesuai dengan keyakinan kita." Livy melepaskan pelukan Rei. Lelaki itu tampak syok dengan keputusan yang Livy ambil. Sementara, ia tak bisa mengambil keputusan dengan tegas.


"Aku harus segera kembali ke rumah sebelum Oma marah-marah lagi. Jika Kakak mau datang bertamu, datanglah kapanpun. Aku masih berharap setidaknya kita bisa berteman."


Livy bangkit dari duduknya, meninggalkan Rei yang tertunduk lesu di tempatnya. Air mata Livy kembali menetes. Sepanjang jalur pantai yang ia telusuri diiringi isakan tangis yang tertatan. Livy sangat sedih, bahkan hatinya terasa sakit. Akan tetapi, di balik kesakitannya masih ada kelegaan. Akhirnya ia bisa mengakhirinya dengan baik, tanpa perlu melarikan diri lagi. Cara terbaik menyelesaikan masalah adalah dengan menghadapinya, bukan dengan meninggalkannya.


Rei meraih tengkuk Livy, memagut bibir tipis itu dalam satu pagutan. Rasa sedih yang dirasakan membuat keduanya terhanyut dalam sisa-sisa cinta yang pernah dirasakan. Seakan itu akan menjadi momen terakhir, mereka berciuman dengan buliran air mata yang berjatuhan. Mereka harus berpisah justru karena saling mencintai.


"Aku antar kamu pulang," ucap Rei.


Livy mengangguk seraya mengulaskan senyum di bibirnya meskipun air matanya masih mengalir. Keduanya bergandengan tangan, menyusuri pantai di tengah terik matahari yang menyengat. Sampai mereka sampai di tempat Rei memarkirkan mobilnya. Rei kembali mengantarkan Livy ke rumah Oma Maya.


"Hati-hati di jalan, Kak. Terima kasih sudah mengantar," ucap Livy ketika mereka telah sampai di kediaman Oma Maya.


"Iya. Terima kasih sudah mau menemuiku. Sampai jumpa." Rei menyunggingkan senyum lalu melajukan mobilnya semakin menjauhi arah Livy.

__ADS_1


Livy menghela napas. Mobil Rei sudah tidak terlihat lagi. Ia kembali mengusap air matanya yang jatuh membasahi pipi.


"Livy, apa dia membuat kamu menangis lagi?" tanya Oma Maya saat Livy masuk ke dalam rumahnya.


"Maaf, Oma. Livy mau sendiri dulu. Kalau sudah tenang, baru Livy akan cerita." Livy melewati neneknya begitu saja. Ia mempercepat langkahnya menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua.


Livy membanting tubuhnya di atas ranjang dan menangis sejadi-jadinya. Ia luapkan kesedihan yang dirasakan sendirian di dalam kamar. Setelah menghindari rasa sakit itu, akhirnya ia tetap harus merasakannya. Kembali ia mengingat kenangan-kenangan indah yang pernah dilalui.


*****


Rei mengemudikan mobilnya dengan kencang seperti orang kesetanan. Untunglah jalanan yang dilewati termasuk sepi. Ia seakan tidak peduli dengan keselamatannya sendiri. Jauh-jauh ia datang menemui Livy untuk memperbaiki hubungan mereka. Apa yang ia dapatkan ternyata keputusan Livy yang meminta untuk mengakhiri semuanya.


Perpisahan itu bukan salah Livy atau siapa-siapa. Mungkin dia sendiri yang salah. Setiap kali ditanya tentang siapa yang akan mengalah, maka dirinya selalu diam. Seperti yang Livy katakan, di antara keduanya tak ada yang berkeinginan untuk mengalah.


Suasana telah berganti malam ketika ia kembali tiba di kotanya. Rei tidak lantas pulang ke rumah. Dengan nekadnya ia mampir ke sebuah klab malam membawa rasa frustasinya.


Ini pertama kali baginya memilih masuk ke tempat seperti itu. Tempat yang bising, penuh orang dan bau alkohol di setiap sudutnya. Rei merasa datang ke tempat itu akan membuatnya merasa tidak kesepian. Ternyata, tetap saja ia merasakan kehampaan berada di sana.


"Minuman non alkoholnya satu, ya!" Rei duduk di depan seorang bartender. Meskipun sudah berani masuk ke tempat seperti itu, Rei tidak berani mabuk. Ia harus membawa mobilnya sendiri, jadi tidak boleh sampai mabuk.


Tak lama setelah memesan, segelas minuman yang tampak segar tersaji di hadapannya. Ia segera meneguk gelas minumannya sembari sesekali mengarahkan pandangan ke sekeliling.


"Selamat malam ...." Seorang wanita berpenampilan anggun dengan senyuman manisnya tiba-tiba datang dan duduk di sebelah Rei. "Sepertinya aku merasa beruntung malam ini bisa menemukan lelaki tampan yang sesuai keinginanku," ucapnya.


Rei benar-benar tidak paham apa maksud perkataan wanita itu. "Maksud kamu apa?" tanyanya.

__ADS_1


"Aku rasa kamu orang yang tepat untuk rencanaku." Wanita itu begitu percaya diri berbicara kepadanya. Jika dilihat dari sifatnya, tidak berbeda jauh dengan Livy yang suka berbuat seenaknya.


*****


__ADS_2